
Elang mengajak Sya dan Nada menuju *foodcourt* Mall Pioneer. Mereka menaiki tangga berjalan menuju lantai lima. Tiba di *food court*, Elang mencari meja kosong yang letaknya strategis. Beruntung ada satu meja yang masih kosong yang kebetulan berada di paling ujung. Elang segera mengarahkan Sya dan Nada ke meja itu.
"Kalian tunggu di sini ya, kita pesannya harus ke stand langsung. Biar Mas saja yang ke sana. Kalian sebutkan pesanannya apa saja?"
Nada dan Sya menyebutkan pesanan mereka lewat Elang, dan Elang yang menyampaikan pesanannya ke stand makanan. Bergegas Elang menuju stand dan memesan makanan yang mereka pesan.
Elang kembali lagi dengan membawa es campur tiga cawan. Sedangkan pesanan yang lain akan diantar Pelayan *food court* ke meja pemesan. Sepuluh menit kemudian, pesanan mereka bertiga datang. Akhirnya keluarga kecil itu makan bersama di *food court* mall, mengisi perut dulu sebelum mengelilingi mall ini. Sebab Elang hari ini rencananya ingin membiarkan Sya dan Nada berbelanja apa yang mereka mau.
"Sayang, aku ke toilet dulu ya, aku kebelet. Jagain dulu Sya, ya." Setelah menyudahi makannya, Elang pamit ke toilet karena ingin menuntaskan panggilan alam yang tiba-tiba mendera.
"Ohhh, ok, Mas." Nada menyahuti sambil menyuap sisa makanan di piringnya.
Tidak berapa lama, Elang sudah datang dari toilet. Nada dan Sya tengah menikmati es campur yang dibelikan Elang tadi. "Sudah, Pah?" Sya bertanya.
"Sudah, Sya. Wahhh, Papa jadi ringan dan plong. Sya mau pipis dulu, tidak?" tanya Elang.
"Tidak Papa, Sya tidak kebelet pipis," sahutnya sambil menghabiskan sisa es campurnya.
"Sayang, mau ke toilet dulu, tidak?" Elang bertanya pada Nada.
"Iya deh, Mas, kayaknya Nada mau pipis dulu, habis makan es campur jadi kebelet pipis."
"Ya, sudah kamu ke toilet dulu. Kami tunggu di sini." Nada bergegas meninggalkan meja food court dan berjalan menuju toilet mall tersebut.
"Papa, Sya masih pengen makan, tapi makannya es krim, boleh?" Sya bertanya dengan hati-hati, karena takut dilarang Elang.
"Ohhh, boleh. Kali ini Sya boleh makan yang manis lebih dari satu," ucap Elang mengijinkan, lantas segera menghampiri stand es krim yang sangat menggiurkan.
"Ini, makanlah, Sayang." Elang menyodorkan secawan es krim buah ke hadapan Sya.
Sementara itu, Nada yang kini menuju toilet sudah tidak sabar ingin segera membuang beban derita di kantung kemihnya. Nada masuk dan masih menunggu giliran, sebab pengunjung toilet lumayan banyak. Beberapa menit kemudian Nada baru dapat giliran, dan segera masuk WC lalu membuang yang menjadi bebannya.
Tuntas sudah Nada membuang beban kantung kemihnya. Sebelum meninggalkan toilet, Nada bercermin, merapikan rambut acak-acakan, dan membubuhkan dulu lipstik dan bedak padat tipis-tipis ke wajahnya. Sempurna, Nada benar-benar kelihatan segar lagi dan nampak lebih cantik.
__ADS_1
Saat Nada keluar dari toilet, tidak diduga Nada bertemu dengan Mayang mantan istri pertama Elang. Nada cukup terhenyak dan seketika kesal mengingat Mayang yang sebulan lalu berbuat onar ke rumah suaminya.
"Mbak Mayang?" kejutnya seraya berniat segera menjauh, karena Nada tahu sepak terjang Mayang. Nada hanya takut keselamatan janinnya terancam. Namun Nada berusaha tenang menghadapi Mayang.
"Kamu, kebetulan sekali kita bertemu di sini. Ayo, ikut aku!" tariknya menuju lorong gudang mall tersebut, yang kebetulan selalu sepi.
Nada berusaha menolak dan menahan tubuhnya di dekat toilet yang banyak orang.
"Ayo ikut aku!" seretnya, dan alhasil Nada terbawa oleh tarikan tangan Mayang yang sepertinya mengeluarkan tenaganya sekuat mungkin.
"Lepaskan Mbak Mayang! Tolong jangan sakiti tangan saya, tangan saya sakit. Kalau mau bicara, di sini saja jangan di tempat sepi," pinta Nada memaksa. Mayang tidak mau kalah, dia terus menarik lengan Nada. Sampai pada lorong mall yang sepi, Mayang berhenti.
"Kenapa Mbak Mayang ajak saya ke sini, apa mau Mbak Mayang?" tanya Nada heran.
"Tidak usah banyak bacot Nada. Aku membawamu kesini untuk mengatakan satu hal," ucapnya garang.
"Apa maksud Mbak Mayang? Saya tidak perlu diperingatkan oleh siapapun tentang Sya, dia anak patuh dan penurut juga cerdas, jadi tidak perlu saya pengaruhi dengan hal-hal lain yang negatif. Lagipula saya menyayangi Sya, tulus. Dia tetap anak kandung Mbak Mayang. Jadi, jangan takut posisi Ibu kandung saya rebut, karena sampai kapanpun ibu kandungnya adalah Mbak. Jadi Mbak Mayang tidak usah ketakutan." Nada membela diri.
"Baguslah itu, tetaplah jadi ibu sambung dan jangan berusaha merebut posisiku!" peringatnya ketus. Nada berusaha menghindar lagipula omongan Mayang tidak nyambung dengan keadaan dirinya yang sebagai ibu sambung, dan tanpa diperingatkan Mayang, Nadapun tahu diri. Dia cukup jadi ibu sambung yang berusaha berperan sebagai ibu kandung. Walaupun pada kenyataannya dia bukan ibu kandung.
"Maaf, Mbak, kalau tidak ada hal lain yang lebih penting, sebaiknya saya pergi dari sini. Saya pikir, saya diajak mojok di sini karena ada hal penting. Masalah posisi Mbak, sekali lagi jangan takut, saya tahu posisi saya," tekan Nada seraya akan beranjak, namun Mayang berusaha menghalangi.
Langkah kaki Nada tertahan oleh badan Mayang yang menghadang, untung saja Nada sigap menghalangi perut oleh kedua tangannya supaya tidak terjadi hantaman. Nada mengerut sengit.
"Menyingkirlah, saya tidak pernah ada urusan dengan Mbak Mayang. Harusnya Mbak pandai jalin silaturahmi bukan cari musuh," sela Nada sengit, dia tidak terima jalannya dihalangi.
__ADS_1
"Jangan besar kepala dan tinggi hati dulu Nada, aku tahu kamu sama saja seperti perempuan-perempuan lain yang silau akan harta. Pasti kamu juga iri dengan keadaan aku saat dulu jadi istrinya Elang, kan? Aku selalu dimanja dan diberikan fasilitas mewah dan aset yang banyak, sedangkan kamu? Kamu hanya dijadikan pelampiasan nafsunya yang besar saja. Sayang banget, sia-sia hidupmu jadi istri Elang," cetus Mayang berusaha mengompori hati Nada supaya panas.
"Sekali lagi saya tekankan, saya tidak sama dengan Mbak Mayang yang gila harta, setelah harta dan asetnya Mbak kuasai, kemudian Mbak kabur dan menggondol semua aset bersama pria lain, bukankah begitu Mbak? Saya tidak sama, dan jelas beda. Saya perempuan yang tahu diri dan menghargai kehormatan suami. Suami saya tidak memberikan aset apapun tidak masalah, asal dia mencintai saya sepenuh hatinya, itu sudah luar biasa buat saya. Menyingkirlah, saya mau lewat!' tandas Nada membuat Mayang berbalik kepanasan.
"Sombong sekali kamu perempuan miskin! Tibang tinggalin Elang saja susah. Kamu itu masih muda dan cantik, lepas dari Elang akan banyak pria-pria kaya yang berlomba ingin mendapatkanmu," rayu Mayang berusaha memprovokasi. Nada mengerutkan keningnya, heran dengan ucapan Mayang yang mencoba memprovokasinya.
"Kenapa Mbak Mayang memprovokasi saya supaya saya meninggalkan Mas Elang? Jangan-jangan Mbak Mayang masih ingin kembali dengan Mas Elang, iya kan? Mbak Mayang rupanya belum move on dari Mas Elang, tapi sayang sekali Mas Elang kayaknya pantang kembali dengan pengkhianat," ujar Nada memberikan balasan yang menohok.
"Kurang ajar kamu Nada, kamu akan menyesal telah mengolok-olok aku, lihat saja nanti kamu tidak akan lama menjadi istri Elang," sungutnya semakin menjadi.
"Maaf, saya tidak mengolok-olok Anda, tapi itu fakta. Mbak Mayang ingin kembali pada Mas Elang, namun sayang sekali Mas Elang pantang kembali ke tangan pengkhianat seperti Mbak Mayang," tandas Nada menyudahi perdebatan panasnya dengan Mayang.
"Dasar perempuan munafik!"
"Awwwww .... " Nada menjerit saat rambutnya berhasil dijenggut oleh tangan Mayang, langkah Nada pun terhenti, dia kesakitan menahan rambutnya yang dijambak Mayang.
"Mayang .... "
"Nada .... " Teriakan dia orang lelaki itu menghentikan aksi Mayang.
Bersambung
Mampir juga ke karya Author yang lain ya
Dijebak Nikah Paksa
Jangan Sebut Aku Pelakor
__ADS_1