
Besok harinya keadaan Elang masih nampak kusut dan terpuruk. Dia seakan lupa kehadiran Sya yang sejak tadi malam tidak mendapatkan perhatiannya. Kepergian Nada membuat hidupnya benar-benar kehilangan arah. Elang pikir Nada tidak akan berani pergi. Karena terlalu sering mengabaikan perasaannya, akhirnya Elang harus kehilangan Nada.
"Sayang... kembalilah... aku membutuhkanmu, Sya juga membutuhkanmu. Jangan merajuk lama-lama, Nada Irama...! Aku tidak sanggup kehilanganmu!" rintihan kecil itu keluar dari mulut Elang sesekali air matanya kembali menitik. Perasaannya kini sangat hancur, hancur sehancur-hancurnya.
"Papa....!" panggilan kecil itu menyadarkan Elang yang masih sangat sedih dan terpuruk. Namun Elang masih bergeming, dia tidak peduli apapun.
"Papa....!" sekali lagi panggilan itu terdengar, namun terasa menyayat hatinya mengingat tidak ada lagi celotehan riang gembira antara anak semata wayangnya dengan istri tercintanya.
Perlahan Elang bangkit dan menuju suara Sya yang memanggil. Didekatinya bocah tampan nan imut itu, namun Sya nampak takut dan bersembunyi dibalik tembok.
Elang menarik nafasnya dalam. Ini kesalahannya. Bisa jadi tadi malam Sya mendengarnya berteriak, sehingga Sya merasa ketakutan. "Sya... ayo... sini! Maafkan Papa ya!" Elang meraih tubuh Sya lalu memeluknya. Tidak seharusnya Elang mengabaikan Sya, gara-gara kepergian Nada.
"Sya mau sekolah ya?" Sya mengangguk pelan. "Ok, Papa siapkan bajunya dulu ya!" Elang pergi menuju kamar Sya lalu menyiapkan baju dan semua perlengkapan sekolah Sya yang sudah di siapkan Bi Narti.
Tanpa bantuan Elang, Sya memakai bajunya sendiri meski masih sedikit kesusahan memasukan kancing ke lubangnya. Namun akhirnya selesai juga.
__ADS_1
"Papa... Bunda mana? Bunda pergi ya? Kenapa Bunda pergi?" Sya tiba-tiba menanyakan keberadaan Nada. Elang bingung untuk menjawab. Sejenak dia berpikir jawaban apa yang harus dia berikan pada Sya anak semata wayangnya itu.
"Bunda ke rumah kakek dulu, menengok kakek," ucap Elang mencari alasan yang masih diterima oleh pemikiran Sya.
"Ke rumah kakek? Asikkk kita ke rumah kakek ya Pah....!" serunya senang. Seketika rasa takut yang tadi diperlihatkannya mulai hilang.
Setelah itu Elang mengantarkan Sya sekolah. "Sya pergi sekolah dulu ya, nanti Papa jemput kembali seperti biasa," bujuk Elang dengan lembut. Kelembutan yang selalu ia perlihatkan kepada Sya. Sya mengangguk lalu tersenyum. Dia kini bisa tersenyum kembali setelah tadi malam merasa disisihkan oleh Elang.
Elang menghempas tubuhnya ke atas ranjang, sebelum ia pergi menyusul Nada, Elang ingin menenangkan dulu sejenak tubuh dan pikirannya yang masih kacau. Setengah jam kemudian, Elang bangkit dari ranjangnya. Ia bertekad akan membawa kembali Nada ke pangkuannya.
Namun sebelum Elang berhasil keluar rumah, tiba-tiba Marisa datang mengejutkan dengan suara khas cemprengnya.
"Assalamu'alaikum... hani, bani, sweety!" Lantang seraya masuk ke dalam tanpa menunggu persetujuan Elang sepupunya.
__ADS_1
"Wa'alaikumussalam....!" jawab Elang seraya mendekati sepupunya itu.
"Mar, ada apa? Kamu sedang hamil kan?" Marisa yang ditanya, buru-buru mengangguk dan merasa heran.
"Kenapa Kak Elang begitu murung dan sedih setelah kepergian Nada? Bukankah ini yang Kakak mau?" tekan Marisa.
"Siapa Mar yang mau kehilangan Nada. Kakak hanya bertengkar semalam namun Nada malah pergi."
"Inilah kebodohan Kak Elang, Kak Elang tidak pernah meraba perasaan Nada. Kak Elang selalu mengabaikan perasaan Nada. Jadi, jangan salahkan Nada atas kepergiannya. Dan sekarang jangan pernah menyesalinya. Terlebih Nada tidak membawa apa-apa saat keluar rumah, jadi tidak ada alasan baginya untuk tidak meninggalkan Kak Elang." Omongan Marisa malah membuat Elang dilanda putus asa.
"Kenapa sih Mar kamu seolah memojokkan Kakak?"
"Kak Elang yakin Nada masih mau kembali pada Kak Elang jika Nada ketemu? "
"Semua itu tidak akan mungkin Kak, kecuali....!"
"Kecuali apa, Mar?" Elang nampak penasaran dengan lanjutan kata-kata Marisa.
"Kecuali jika Nada H A M I L," tekannya membuat Elang terhenyak.
__ADS_1