"Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah "

"Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah "
Kembali Pulang


__ADS_3

Pantai Sanur, Legian, Kuta bahkan Tanah Lot sudah Elang singgahi untuk mengabulkan keinginan Sya, anak tercinta.



"El, kayanya aku harus kembali duluan ke Jakarta. Ada tugas negara yang tidak bisa diwakilkan oleh siapapun," ujar Bintang tidak enak, mengakhiri kebersamaannya di Bali bersama Elang dan anak istrinya.



"Tidak apa-apa, Mas. Kembalilah, aku sama anak istri masih ada dua hari untuk bersenang-senang di sini. Hati-hati dalam perjalanan. Aku tidak bisa mengantar sampai bandara, dan sampaikan salam kami pada istrimu," balas Elang.



"Aku pamit ya. Sya, kakak Rafa dan om pamit ya. Sya, nikmatilah liburan Sya yang masih tersisa." Bintang berpamitan dan mencium Sya dengan gemas.


"Kenapa Om Bintang pulang duluan, Sya jadinya sendiri dong tidak ada teman lagi," rajuk Sya.


"Tidak apa-apa, Sayang. Nanti di Jakarta kita pasti bertemu lagi. Sya, bisa bertemu Kak Rafa lagi. OK, Sya, kami pamit ya," ulang Bintang Negara. Sya berpelukan dengan Rafa, seakan sedih akan berpisah dengan Rafa.


"Sya, Kak Rafa pulang dulu, ya." Rafa memeluk seperti seorang kakak pada adiknya. Sya seperti ingin menangis, akan tetapi Elang segera merangkulnya membawa ke dalam pelukannya.



Bintang Negara dan Rafa memasuki mobil yang menjemputnya untuk mengantarkan ke Bandara Ngurah Rai. "Dadahhhhh, Kak Rafa." Sya melambaikan tangannya sebagai salam perpisahan.



"Sudah, Sya. Ayo kita masuk!" Sya masuk diikuti Nada di belakangnya. Sejak Nada ketahuan menerima telpon dari Nadie, Elang nampak dingin pada Nada. Nada tahu dia salah, kenapa waktu itu dia harus mengangkat telpon dari Nadie.



Malam menjelang, Elang mengajak Sya dan Nada makan malam di restoran dekat Tabanan. Namun sepertinya Nada sedang tidak enak badan. Sejak sore Nada terbaring. Nada sakit tenggorokan dan menelan. Tapi, karena Elang sedang dingin padanya, Nada tidak bilang bahwa dia sedang sakit.



Elang nampaknya curiga melihat gelagat Nada yang diam dan terbaring terus, lantas Elang menghampiri Nada dan meraba kening Nada. Saat diraba, rupanya kening Nada panas. Elang terkejut dan merasa khawatir.



"Duhh, kamu panas pula." Elang berguman dengan wajah yang nampak panik.


"Sya, kayaknya malam ini kita tidak jadi makan di luar, Bunda demam," berita Elang.


"Bunda, demam. Bunda sakit?" Sya menghampiri Nada sambil meraba kening Nada, seketika Sya menarik tangannya karena merasakan sensasi panas di tangannya.


"Papaaa, cepat obatin Bunda, kening Bunda panas," teriak Sya khawatir.


"Iya, Sayang, Papa tahu. Ini sedang membuat kompres dulu. Papa tidak sembarangan belikan Bunda obat, sebab Bunda sedang hamil."


Dengan sigap Elang memberikan Nada kain kompres yang sudah dimasukkan ke dalam air dingin. Elang menghampiri Nada yang terbaring. Lalu menempelkan kompresan pada kening Nada.



Nada menghadap ke arah Elang dengan wajah yang pucat. Elang khawatir dan berpikir, jangan-jangan Nada sakit karena memikirkan sikapnya yang dingin, gara-gara memergoki Nada menerima telpon dari Nadie.

__ADS_1



"Aku minta maaf, gara-gara aku bersikap dingin sama kamu, kamu malah jadi sakit." Elang akhirnya memilih minta maaf atas sikapnya kemarin yang sempat mendinginkan Nada.



Nada tersenyum seraya meraih tangan Elang dengan cepat. "Terimakasih banyak, Mas," ucapnya sambil memeluk erat jemari Elang dan disimpannya di dadanya yang masih panas.



"Bunda, cepat sembuh demamnya. Sya besok masih pengen jalan-jalan lagi mencari oleh-oleh buat semua orang di rumah," ujar Sya perhatian. Nada terharu dan meraih jemari Sya sekilas.



"Sya tidak boleh dekat-dekat dulu dengan bunda ya, bunda sedang demam." Sya, patuh dan menjauh.


"Mas!" Nada memanggil Elang. Elang yang sedang memainkan Hpnya menoleh dan mendongak menghampiri Nada.


"Mas, Nada minta maaf," ujarnya pendek dengan mata yang sendu.


Elang paham, dengan cepat dia meraih tangan Nada dan menggenggamnya.


"Sudahlah jangan pikirkan itu lagi, Mas sudah lupakan." Ucapan Elang sedikit melegakan Nada.


"Sekarang yang harus kamu pikirkan adalah kesehatan kamu, besok Sya masih pengen jalan-jalan bersama kamu untuk mencari oleh-oleh," ujar Elang membuat Nada bertekad untuk cepat sembuh.




"Aku keluar sebentar dengan Sya, untuk mencari obat dan makanan. Kamu mau makan apa?" tanya Elang perhatian, sikap dingin kemarin yang ditunjukkannya kini sirna terganti dengan kehangatan.



"Nada ingin makan sop buntut, Mas," ujarnya.


"Ada lagi?"


"Rujak dan es krim."


"Ok, aku tinggal dulu. Kami tidak akan lama." Elang bergegas bersama Sya meninggalkan homestay.


*


Sementara itu di kediaman Elang, Bu Sri yang kini sedang diterapi rutin satu minggu tiga kali, sudah mulai menunjukkan perkembangan yang sangat pesat. Tangannya sudah mulai normal kembali. Tinggal kaki yang masih harus terus rutin diterapi.



Perawat Vera yang ditugaskan Elang untuk merawat Bu Sri, melakukan tugasnya dengan baik. Terlebih dia digaji yang lumayan oleh Elang, sehingga dia dengan sepenuh hati merawat Bu Sri. Dengan kesabaran dan ketelatenan memandikan dan membersihkan kotoran Bu Sri sudah tidak merasa jijik lagi. Ini resiko bagi Perawat Vera, yang dengan sadar sebagai Perawat khusus jompo, harus menerima resiko berat sekalipun.



"Vera, apakah anak dan menantu saya belum datang?"

__ADS_1


"Belum, Bu. Katanya sih besok.


"Vera, apakah kamu jijik merawat saya?" Bu Sri tiba-tiba bertanya seperti itu. Perawat Vera menjawab dengan lugas.


"Saya sudah tidak jijik lagi, Bu. Ini sudah resiko saya sebagai Perawat jompo. Mengurus mandi dan kotorannya sudah tugas saya. Kalau saya tidak tahan dan jijikan, maka saya tidak akan punya uang dong, Bu."



"Terimakasih, Vera sudah mau merawat saya dengan baik dan sabar."


"Ibu, jangan terimakasih pada saya, tapi pada anak Ibu, Pak Elang. Dia sudah membayar saya dengan gaji yang pantas," tukas Perawar Vera.


Tidak lama dari itu, sebuah panggilan vidio call masuk di HP Bu Sri, rupanya Elang yang vidio call. Perawat Vera menempatkan HP Bu Sri di depan Bu Sri, dengan disandarkan di meja rias. Sehingga Elang bisa langsung melihat Bu Sri tanpa memegangi HP.



Nampak di sebrang sana Elang dan Sya menyapa Bu Sri dengan gembira. Namun Nada tidak kelihatan. Bu Sri ingin menanyakan Nada, akan tetapi rasa ragu masih saja menguasainya.


"Nenek, mau dibawakan oleh-oleh apa?" Sya tiba-tiba menyela omongan Elang.


Bu Sri terharu, cucunya yang masih 6 tahun itu, sempat memikirkan oleh-oleh untuknya. Sedangkan dia, selama ini hampir tidak pernah memikirkan oleh-oleh untuk anak dan menantunya.



"El, di mana istri kamu?" Tiba-tiba pertanyaan itu terlontar dari mulut Bu Sri.


"Nada sedang baring, Ma. Dia demam. Tapi sudah Elang minumkan obat dan kompres. Semoga demamnya malam ini sembuh." Bu Sri terhenyak mendengar Nada demam.


Bu Sri tidak bicara lagi, dia ingin menyudahi hubungan vidio call dengan menyuruh Perawat Vera mematikannya. Padahal hatinya risau dengan keadaan Nada yang sedang demam. Namun, Bu Sri belum berani berkata banyak pada Nada.


*


*


Sementara itu di Tabanan, di homestay milik Nada, ketika Elang sedang menghubungi Bu Sri via VC, sebenarnya Nada belum benar-benar tertidur. Dia mendengar semua percakapan antara suaminya dan mertuanya. Ada rasa bahagia terselip sedikit di dalam hatinya, yaitu ketika Bu Sri menanyakan keberadaan Nada.


Nada merasa bahagia mendengar Bu Sri tadi menanyakan dirinya. Nada yakin, seiring berjalannya waktu sikap kaku Bu Sri akan berubah dan menjadi lebih baik dalam memperlakukan Nada.



Lusanya, kepulangan Elang sudah tiba. Kebetulan Nada sudah sehat dari demam yang kemarin dideritanya. Elang mengecek semua kelengkapan penerbangannya. Setelah semua siap dan beres, Elang menitipkan kunci homestay pada seorang pegawai yang kini dipekerjakan di *Nada Homestay n Cafe*.



"Pak Made, saya pamit dulu. Dan Ini titip kunci homestaynya. Jika ada apa-apa segera hubungi saya," pesan Elang pada Pak Made, penjaga homestay yang jadi kepercayaan Elang.



Tidak berapa lama mobil yang akan mengantar Elang, Nada dan Sya ke Bandara Ngurah Rai, telah sampai di depan homestay. Elang segera menggiring Sya dan Nada masuk mobil. Mobilpun berlalu dari halaman homestay dan semakin jauh sehingga tiba di Bandara Ngurah Rai dengan selamat. Tanpa hambatan apapun, pesawat yang ditumpangi Elang, Nada, dan Sya tiba dengan selamat di Bandara Soekarno-Hatta.



"Assalamu'alaikum!" Elang mengucapkan salam ketika mereka bertiga telah sampai di depan pintu ruman Elang. Ibu Sri yang sedang makan siang sontak terperanjat dan merasa bahagia anak dan menantunya sudah tiba dengan selamat.

__ADS_1


__ADS_2