
Setelah Ashar, Bapak pamit pulang. Bapak sengaja mendatangiku dan pamit. Di pangkuannya Sya bergelayut manja, seakan tidak ingin Bapak pulang.
"Bapak pulang ya, Nak! Baik-baik di sini, jangan ada pertengkaran lagi dengan suami kamu. Jaga ego dan lebih baik mengalah. Mengenai Ibu mertuamu, biarkan saja. Tetap hargai dia. Jika ibu mertuamu berkata-kata yang menyakiti hatimu, berdoa sama Yang Maha Kuasa meminta kekuatan. Selama suamimu tidak berkhianat dan main tangan, Bapak ingatkan sekali lagi, jangan tinggalkan dia. Bertahanlah....!" ucap Bapak setengah berbisik.
Mendengar Bapak berpesan seperti itu, membuat rasa sedih di hatiku kian perih. Bagaimana tidak, sikap Ibu yang sinis dan jutek sama aku dan bapak, jika dibiarkan atau bahkan dipendam bisa-bisa jadi luka yang akan terus semakin dalam dan menganga. Apakah harus aku lawan? Kembali lagi ke nasihat Bapak, biarkan saja, berdoa sama Yang Maha Kuasa supaya diberi kekuatan.
Aku menarik nafas dalam melepas Bapak yang akan pulang. Aku tidak bisa mengantar sampai pintu, sebab aku tidak boleh berjalan terlalu lama. Aku hanya bisa berdiri dari jendela dan melihat bapak dari jauh.
"Tes, tes....!"
Air mataku jatuh tidak tertahan melihat tubuh ringkih bapak. Dan mengingat sikap ibu yang sama sekali tidak menganggap kami. Apa salah kami? Hanya karena kami orang biasa, ibu tidak mau bersikap baik atau ramah, setidaknya sama bapak.
Kutatap terus tubuh ringkih tapi masih kelihatan kuat itu sampai motor bebeknya menghilang di balik pintu gerbang. Walaupun bapak sudah mulai tua, untungnya bapak tidak sakit-sakitan. Sehingga aku tidak terlalu resah berjauhan dengan bapak, terlebih aku punya adik bungsu, Nadly yang Alhamdulillah sangat bertanggung dan patuh sama bapak dan tidak meresahkan bapak. Jadi aku tidak terlalu khawatir sama bapak.
Selang beberapa menit bapak pulang, ibu datang dan menghampiriku. Lalu tersenyum mengejek. Aku berusaha biasa dan menahan sesak di dada.
"Huuhh... bikin sakit kepala suara motor bapakmu itu. Kalau datang ke sini tidak usah pakai motor butut kaya gitu, suaranya BERISIK....!" tukas ibu sembari masih luntang lantung di dalam kamar kami, seraya meninggikan kata BERISIK.
"Aku ingatkan lagi sama kamu ya, anakku Elang selalu bersikap baik sama bapakmu, karena didikanku. Dan kamu yang katanya sebagai menantu, tidak pernah bersikap baik sama aku. Bisanya cuma membantah. Apa yang patut diharapkan dari menantu seperti kamu, pintarnya cuma di ranjang dan membantah," ketus ibu seraya berlalu dan meninggalkan kamar.
__ADS_1
"Tunggu Bu, sebenarnya apa salah Nada sehingga Ibu begitu benci sama Nada? Selama ini Nada merasa bersikap baik-baik saja sama Ibu. Nada tidak pernah benci sama Ibu, bahkan Nada tidak pernah dendam sama Ibu, meskipun Ibu selama ini selalu menghina dan mencemooh Nada di depan orang-orang. Apakah salah jika. Nada merasa kesal sama Ibu karena Ibu selalu menghina Nada? Tapi Nada tidak pernah berpikir untuk benci dan dendam sama Ibu. Kalau mau jujur, sebenarnya Nada sayang sama Ibu seperti Nada sayang sama bapak," selaku yang berhasil menghentikan langkah kaki ibu.
Ibu menoleh dan membalikkan badannya ke arahku lalu berkata, "jangan harap kamu dapat kasih sayang dariku, sebab aku tidak sudi dikasih sayang sama kamu, kamu bukan menantu yang aku harapkan, kamu hanyalah wanita ranjang," ketusnya lagi dan kini benar-benar berlalu meninggalkan aku yang terpuruk sedih.
Lagi-lagi wanita ranjang yang ibu lontarkan untuk menghina dan menyakiti aku. Linangan air mata tidak tertahan, dadaku sesak dan rasa sakit di perut habis kuret benar-benar terasa nyeri. Aku meringis dan menangis. Kata-kata ibu barusan sangat menusuk hatiku jauh lebih sakit dari sembilu.
Tiba-tiba Mas Elang datang bersama Sya dan menghampiri. Aku menutup muka menahan tangis yang tidak tertahan. Akhirnya tangisku tumpah dan aku tidak sanggup menahannya. Kata-kata ibu yang kasar dan menghina tadi masih terngiang-ngiang jelas di telingaku. Mas Elang merangkul bahuku dan memeluknya.
"Perut Bunda sakit lagi, jadi Sya jangan tanya-tanya dulu Bunda ya." Mas Elang memberikan alasan kenapa aku menangis. Dan ada benarnya, tangisku sebagian karena rasa sakit yang berasal dari perutku.
"Sekarang jam Bobo siang Sya, Sya Bobo siang dulu ya ditemani Bi Narti."
"Tapi... bukankah Bunda sedang sakit, Sya ingin menemani Bunda," ucapnya setengah memaksa.
__ADS_1
"Tidak... Sya harus bobo siang. Nanti kalau Bunda diganggu sakitnya malah tidak kunjung sembuh. Sya ingin Bunda lekas sembuh, bukan?" bujuk Mas Elang tidak berputus asa.
Akhirnya setelah dibujuk Mas Elang, Sya mau tidur siang ditemani Bi Narti, walaupun raut wajahnya diliputi rasa kecewa.
Tinggallah aku dan Mas Elang. Aku masih menangis dan tidak bisa berkata-kata selain menumpahkan kesedihan akibat perkataan ibu. Mas Elang berusaha menghiburku dengan mengusap-usap bahuku. Kalau saja tidak ingat nasihat bapak, ingin rasanya aku minggat lagi dari sisi Mas Elang sebagai pelampiasan rasa kecewaku oleh ibu. Namun aku tidak akan sanggup, mengingat diriku baru saja kuret tidak mungkin bisa pergi jauh.
"Sayang... tumpahkan semua kecewamu pada Mama dengan tangis, Mas tidak keberatan jadi tumpuanmu. Mas merasa bersalah, kedatangan ibu malah membuatmu semakin terpuruk dan kecewa. Mas minta maaf!" ucap Mas Elang sembari mengecup rambutku.
Mas Elang meminta maaf itu artinya dia tadi menguping perdebatan kami di sini. Aku tidak tahu apa yang akan Mas Elang perbuat terhadap ibu setelah melihat atau menguping ocehan ibu yang menghina. Yang jelas untuk waktu yang entah sampai kapan, aku belum siap jika aku harus bertemu Ibu.
Karena saking lelahnya menangis dan rasa kantuk yang berat, aku tertidur dengan Mas Elang di sampingku. Sedu sedan itu masih bersuara bersama bahuku yang ikut bergoyang. Mungkin saat ini aku sedang menangis dalam tidur. Sehingga rasa sakit dan kecewa itu terbawa ke alam mimpi.
Waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam, rupanya aku tidur lumayan lama. Aku sekilas melihat Mas Elang di sebelah kiri ranjang. Mas Elang nampak bersih dan tampan dengan baju koko dan kain sarung di bawahnya. Kayanya Mas Elang sedang berzikir dengan tasbih di tangannya. Aku merasa terharu melihat pemandangan ini, walaupun ini bukan kali pertama. Namun saat aku menatapnya seakan ada kedamaian setelah tadi melewati hujan dan badai.
Mas Elang menyadari aku yang bangun, lalu ia menghampiri dan berusaha tersenyum padaku. Aku dibantunya duduk dan menyender di kepala ranjang. Mas Elang dengan penuh perhatian mencium keningku sambil berbisik, "semoga Allah memberkahi serta memberi kesabaran seluas-luasnya untukmu dan membuka pintu maaf selebar-lebarnya di hatimu, Allah bersama kita. Dan aku selalu mencintai kamu, istriku," Mas Elang mengakhiri doanya dengan ciuman panjang di keningku.
__ADS_1