
Nada masih meringis dan merasakan sakit yang kini hilang timbul. Tubuhnya berguling, kadang ke kanan dan kadang ke kiri.
"Awwww." Ringisan itu terdengar lagi diiringi usapan tangan Bi Narti.
"Ya Allahhh ....!" gumannya menggigit bibir bawah. Bi Narti semakin mencemaskan keadaan Nada yang kini gelisah dan meringis menahan sakit.
"Ijah, bapaknya Non Nada sudah datang, belum?"
"Belum, Narti. Kalau ada pasti langsung masuk ke sini," jawab Bi Ijah pada Bi Narti.
"Duhh, gimana ya. Aku bingung jika harus ke RS tapi belum ada laki-laki. Kalau mau minta tolong Usep, siapa yang jaga pos? Kalau mau minta tolong Pak Nanang aku takut Pak Nanang lagi quality time sama keluarganya."
"Terus tindakan kita harus apa dong Nar?" Bi Ijah bingung.
"Kita tunggu saja bapaknya Non Nada, siapa tahu segera datang," harap Bi Narti.
"Semoga saja, Nar. Kasihan Non Nada kesakitan."
Tidak berapa lama Pak Zakaria, bapaknya Nada datang. Dia segera memburu ke atas ke kamarnya Nada setelah dipersilahkan Bi Ijah.
"Bu!" sapa Pak Zakaria kepada Ibunya Elang ramah. Bu Sri membalas dengan senyuman sekilas, setelahnya Bu Sri sibuk dengan HP nya.
Menuju tangga, Pak Zakaria sedikit memikirkan Bu Sri yang ternyata sudah bisa jalan kembali. Kemarin-kemarin mendengar kabar stroke, dan kini sudah melihat Bu Sri sudah bisa berjalan seperti biasanya. Pak Zakaria bersyukur atas kesembuhan Bu Sri. Terlebih sikap Bu Sri ada yang berubah, barusan tidak sejutek saat tempo hari datang ke rumah menantunya ini. Pak Zakaria bersyukur kembali, kemungkinan anaknya bisa diterima oleh Bu Sri besar harapannya.
Tiba di kamar Nada, Pak Zakaria langsung menghampiri Nada. "Nak, apa yang terjadi, apakah ini saatnya akan melahirkan?" Pak Zakaria langsung bertanya untuk meminta kepastian Nada.
"Pak Zakaria, bawa langsung Nada ke RS Harapan Kita Semua, ini tanda-tanda melahirkan. Elang anak saya susah dihubungi, nomernya sedang tidak aktif." Tiba-tiba Bu Sri masuk ke dalam kamar dan langsung mengintruksikan untuk membawa Nada ke RS." Pak Zakaria manut dan langsung memapah Nada menuju tangga dibantu Bi Narti.
"Langsung masukin ke mobil saya, Pak! Kebetulan supir saya sudah saya hubungi tadi, dan sekarang sudah menunggu di depan," titahnya lagi. Pak Zakaria bergerak cepat dan membawa Nada ke mobil Bu Sri.
"Narti, kamu yang ikut. Kalau Ijah tidak perlu. Ijah nanti ngurus Sya di rumah," titah Bu Sri lagi.
"Baik, Nyah."
"Bu, Nada tidak mau ke RS. Nada hanya ingin . melahirkan di Bidan Dina saja. Tolong Bu, Bidan Dina dekat alamatnya di Klinik Sejati," ujar Nada meminta.
Bu Sri menatap heran menantunya, dia merasa heran kenapa Nada tidak mau dibawa ke RS.
"Sudah, kamu jangan banyak pikiran masalah melahirkan di mana. Yang penting sekarang kamu tenangkan pikiran kamu sesantai-santainya. Mengenai Elang, jangan dulu dipikirkan. Dia masih susah dihubungi, bisa jadi tempatnya tidak ada sinyal, dan jangan mikirin yang tidak-tidak," bujuk Bu Sri, baru kali ini dia sebijaksana ini.
"Tapi, Bu, Nada sudah biasa periksa di Bidan Dina," sela Nada sambil meringis. Kini rasa mulas itu datang lagi. "Ahhhhh, Ya ampunnnn sakitttt," Nada mengaduh dan meraung.
"Supri, cepat jalankan mobilnya menuju RS Harapan Kita Semua!" perintah Bu Sri tegas. Supri supirnya Bu Sri langsung tancap gas menuju RS Harapan Kita Semua.
__ADS_1
Tiba di RS, Nada dimasukkan ke IGD terlebih dahulu untuk dicek darah dan sebagainya sebelum dipindahkan ke ruang bersalin.
Tidak berapa lama Perawat keluar dari IGD dan membawa Nada dengan kursi roda ke ruang bersalin.
"Ibu Nada bukaannya masih dua, jadi untuk melahirkan masih harus menunggu bukaannya lengkap. Bu Nada bisa diajak jalan-jalan dulu supaya nanti saat melahirkan lancar," Perawat memberi saran. Nada disuruh jalan-jalan dahulu.
Nada mengikuti arahan Perawat untuk jalan-jalan dulu di sekitar lorong RS, dibantu Bi Narti. Sementara Bu Sri dan Pak Zakaria menunggu di kursi ruang tunggu tanpa obrolan dari keduanya karena jarak merekapun sedikit berjauhan.
"Bi, duduk dulu di sana Bi, saya pegal," tunjuk Nada pada sebuah pilar yang tingginya bisa diduduki. Nada mengistirahatkan sejenak tubuhnya di sana seraya mengatur nafasnya.
Nada mencoba menghubungi Elang kembali, namun lagi-lagi gagal, nomer Elang tidak aktif. Nada menghembuskan nafas kasar tanda kecewa. "*Kemana kamu, Mas, saat dibutuhkan* *begini malah nomernya tidak aktif*?"
"Ahhhhh," ringisan pelan dan panjang itu kini terdengar lagi. Bi Narti tidak tega mendengarnya dia ikut merasakan sakit yang Nonanya rasakan.
"Biiii, sakit, Bi." Keluh kesah itu keluar dari mulutnya dengan wajah yang meringis menahan sakit yang tiada terkira.
"Kita jalan lagi Bi, ke kursi ruang tunggu, saya ingin minta maaf sama Bapak dan mertua saya." Permintaan Nada dikabulkan, Bi Narti memapah Nada ke kursi ruang tunggu.
Tiba di sana, Nada di dekatkan dengan Bu Sri dan sengaja Nada meraih tangan Bu Sri, mertuanya. "Ahhh, ssshh ... Bu, se-sekiranya Nada banyak salah sama ibu, dari sejak jadi menantu hingga kini, Nada minta maaf ya, Bu. Sekali lagi Nada minta maaf," lirihnya benar-benar tulus dari hatinya terdalam. Nada meneteskan air mata dan berusaha mencium tangan Bu Sri dalam.
Entah terbawa suasana, Bu Sri juga ikut menangis saat Nada meminta maaf sambil menangis.
Setelah selesai meminta maaf dari Bu Sri, Nada memaksakan berjalan ke arah Pak Zakaria. Di sini pun sama, Nada merangkul Pak Zakaria dan meminta maafnya. Pak Zakaria mengusap lembut bahu anak perempuan satu-satunya itu penuh kasih sayang.
Maghrib tiba, Nada merasa lelah dan ingin tubuhnya dibaringkan sejenak, sementara bukaan juga sejak tadi masih dua. Nada dibaringkan oleh Bi Narti dan diselimuti.
"Gimana Narti, apa yang terjadi?" Bu Sri heran kenapa dengan Nada.
"Non Nada ngantuk dan lelah, Nyah. Sementara mulasnya hanya lima belas menit sekali, biarkan Non Nada tidur saja," ujar Bi Narti.
"Nyah, kalau menurut saya alangkah baiknya Nyonyah pulang saja, saya khawatir Nyonyah kecapean. Biar yang jaga di sini saya dan Pak Zakaria. Non. Nada bukaannya masih lama, Nyah. Paling besok bukaannya lengkap."
__ADS_1
Setelah berpikir lama akhirnya Bu Sri setuju dia pulang dulu. "Narti, nanti kalau ada apa-apa langsung hubungi saya," ucap Bu Sri. "Saya, pulang ya!" pamit Bu Sri.
"Iya, Nyah," Bi Ijah manut.
Waktu makin berputar, dan Subuhpun menjelang. Nada. dari sejak pukul dua dini hari sudah merasakan sakit kembali. Mulasnya kini kerap lima menit sekali. Bukaannya kian bertambah menjadi bukaan enam. Empat lagi kumplit.
Sementara Nada di dalam hatinya masih mengharapkan Elang ada saat dirinya mengalami sakit, untuk sekedar pegangannya. Namun sampai subuh ini Elang tidak muncul-muncul.
"Permudahkan Ya Alllah." Nada selalu berdoa meskipun rasaw sakit mendera.
Jam enam pagi, tiba-tiba HP Nada berbunyi. Saat akan mengangkatnya Perawat memanggil.
"Ibu Nada dipersilahkan ke ruangan bersalin, Dokter akan memeriksa tensi darah Anda." Kemudian Nada dibawa ke ruangan bersalin. Di sana Nada diperiksa tensi dan sebagainya. Keadaan jantung maupun tensi darah dalam keadaan normal dan bagus, jadi tidak. ada resiko atau indikasi secar.
"Bu Nada, silahkan jalan-jalan kembali untuk melancarkan proses lahiran nanti. Ini bukaannya masih enam, ini sebentar lagi juga akan siap melahirkan.
" Aduhhhh, Bi Nartiii, saya seperti ingin BAB. Tolong Bi bawa saya ke toilet," pinta Nada. Bi Narti tidak dulu menggubris permintaan Nada, Bi Narti malah memanggil Dokter dan Perawat melaporkan bahwa Nada ingin BAB.
"Wah, kayaknya Bu Nada sebentar lagi akan melahirkan. Sus, bawa segera pasien ke ruang bersalin." Dokter memerintahkan dan Perawat segera bertindak,
Nada dibawa ke ruang bersalin dan dibaringkan di bed pasien. Kemudian Nada diperiksa, dan rupanya bukaannya masih belum lengkap masih harus menunggu dua lagi.
Nada diberi minum supaya nanti tidak dehidrasi saat melahirkan.
Sementara itu di tempat lain, Elang baru mendarat di Bandara Soekarno-Hatta dari penerbangan Ngurah Rai Bali. Tadi malam pesawat yang ditumpanginya mengalami delay beberapa jam sehingga dia telat melakukan penerbangan ke Jakarta.
"Mas, kayaknya aku langsung ke RS Harapan Kita Semua, istri aku mau melahirkan, semoga saja aku masih keburu menyaksikan Nada melahirkan. Aku minta doanya, Mas," ucap Ela pada Bintang.
"Ok, Bro aku doakan persalinannya lancar dan selamat ibu dan anaknya, aamiin... " doa Bintang sebelum mengakhiri perjumpy mereka di Bandara.
Kini Elang sedang menuju RS Harapan Kita Semua untuk menemui. Nada yang aka does melahirkan. "Sayang, tunggu aku. Aku minta maaf karena lambat. Aku minta maaf Nada," jerit hati Elang berdoa getir. Dia sedih jika tidak bisa melihat perjuangan istrinya melahirkan.
Taksipun tiba di RS Harapan Kita Semua, Elang langsung menuju ke ruang bersalin di mana Nada akan melahirkan.
__ADS_1
Sementara itu Nada sedang dipersiapkan untuk melahirkan karena bukaannya tinggal satu lagi. Setelah sepuluh maka bukaannya lengkap dan Nada harus melakukan intruksi Dokter untuk mengejan.