"Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah "

"Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah "
Mengajak Sya Jalan-jalan ke Mall


__ADS_3

Keluar dari rumah sakit, Elang mengajak Nada dan Sya jalan-jalan di Mall. Kebetulan Sya ingin bermain dan naik bianglala yang selama ini belum pernah dinaikinya.



"Memangnya Sya mau naik apa ke tempat permainan?" tanya Elang.


"Sya, pengen naik bianglala, Pah."


"Bianglala?"


"Iya, kata teman-teman si mall ini ada permainan bianglala."


"Ok, kita menuju ke sana. Cabutttt!" ujar Elang seraya melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Tidak berapa lama, Pajira yang di kemudikan Elang tiba di Mall Pioneer. Sya sangat bahagia, dia sampai berlari ke dalam mall saking tidak sabar ingin segera menaiki bianglala. "Sya, hati-hati! Jangan buru-buru, Sayang!" cegah Elang khawatir.



"Ayo, Pah, cepat!" Sya sepertinya sudah tidak sabar untuk main di mall ini. Sya memang jarang diajak main oleh Elang. Karena kesibukannya, Elang sampai tidak ada waktu untuk sekedar jalan-jalan mengajak Sya ke mall.



"Sabar, Sayang. Tempat permainannya juga dilantai empat. Memangnya Sya berani naik lift sendiri ke tempat permainan?"


"Tidak, Sya tidak berani naik lift sendiri. Sya naik liftnya bareng Papa dan Bunda." Akhirnya Sya patuh dan mengikuti arahan Elang. Mereka berjalan beriringan dan naik lift bersama menuju tempat permainan.


Saat tiba di lantai atas, Sya sangat tidak sabar dan ingin berlari saja yg mendahului Elang dan Nada, untungnya tangan Sya ditahan Elang.


"Sabar Sayang, jangan terburu-buru nanti menabrak orang!" peringat Elang.


"Nah, kita akhirnya sampai. Silahkan Pangeran Sya mau main apa dulu, bianglala atau kereta api?"


"Sya, mau bianglala saja, kereta api bosan," ujarnya seraya menarik tangan Elang.


"Sya kita harus antri dulu, lihat orang-orang itu masih berada di atasnya. Mereka masih main. Sya tunggu giliran mereka," ujar Elang memberitahu.


Sya dengan wajah tidak sabar terus memandangi orang-orang yang masih berputar naik bianglala.


"Bunda, naik saja dengan Sya ya, temanin Sya naik bianglala!" pintanya pada Nada. Nada sontak menggeleng karena dia sedang hamil dan tidak kuat naik permainan yang memacu adrenalin.


"Bunda tidak bisa Sya, Bunda kalau naik permainan yang memutar-mutar, suka sakit kepala dan mual. Jadi, Bunda di sini saja ngawasin Sya, ya," bujuk Nada menolak secara halus.


"Ahhhh, kok begitu sih Bunda.Masa Sya sendiri naiknya," protes Sya kecewa.


__ADS_1


"Elang, kamu di sini, ya. Tumben kamu ajak Sya jalan-jalan ke mall. Biasanya kamu super sibuk El." Seorang wanita dewasa menegur Elang, dan rupanya dia Windi teman kuliahnya dulu yang kebetulan membawa anaknya juga ke mall ini untuk bermain.



"Windi, kamu di sini juga. Kamu sama siapa?"


"Aku sama anak aku berdua, kalau suami aku kan kerja kantoran, jadi tidak mungkin jam segini ada di mall seperti kamu. Kamu kan beda, pengusaha kuliner tidak terikat waktu. Jadi, ngantar anak bermain juga bebas dan banyak waktu," ujar Windi.


"Iya Win, aku juga baru kali ini ngajak Sya main. Anak kamunya mana?"


"Dia tak sedang naik kereta api, tapi habis ini dia ingin naik bianglala."


"Wah kalau begitu, Sya naik bianglalanya sama anak kamu saja, Rindi, biar ada teman." Elang memberi usul.


"Ohhh, boleh. Aku juga dari tadi pinginnya saat naik bianglala dia ada teman, dan kebetulan ada Sya dan ketemu kamu di sini. Ehhh ngomong-ngomong kamu sama istri kamu, kan?"


"Iya, aku ajak istri aku. Tuhhh, dia lagi nungguin Sya yang ingin naik bianglala. Sya tadi minta naiknya sama istri aku, tapi istri aku tidak mau karena dia lagi hamil muda dan tidak suka permainan yang berputar seperti bianglala dan lain-lain."


"Ya sudah, nanti naiknya Sya sama Rindi saja ya, El." Elang menyetujui ajakan Windi teman akrab semasa kuliahnya dulu, dan kebetulan anaknya berteman dengan Sya.



"Oh ya, El, aku tadi ketemu Mayang di mall ini, tapi dia bersama suaminya deh kalau tidak salah. Kalian janjian ketemuan mungkin, ya?" tebak Windi.


"Ah, tidak. Kami tidak janjian."


"Tidak, kami tidak ada janjian. Biarlah, aku tidak mau mengingatnya. Semoga saja kami tidak bertemu di sini," harap Elang.


"Kalian masih belum baikan m, El?"


"Mungkin kami tidak akan baikan Win, sebab saat dia datang pertama kali untuk menemui Sya, dia melakukan cara yang salah dan malah bikin keonaran. Aku tidak tahu maunya dia apa. Seandainya saja dia mau baik-baik dan tidak memancing permusuhan, mungkin saja sampai saat ini dia bisa bebas ketemu Sya."


"Jadi, bukan karena kamu yang menolak mentah-mentah kedatangan dia untuk menemui anaknya sendiri."


"Aku memang tidak ingin bertemu Mayang lagi, Win. Tapi setidaknya kalau dia ada itikad baik, masa iya aku larang ketemu anaknya. Tapi dari awal dia sudah menantang permusuhan, aku mau apalagi? Memohon dia untuk meminta kembali? Itu mustahil, karena aku pantang kembali pada penghianat, lagipula aku sudah punya keluarga baru," ucap Elang panjang.


"Iya, betul tuh prinsip kamu. Lagipula kamu dengan yang sekarang justru lebih baik, kan?"


"Insya Allah, doakan kami biar selalu bersama selamanya."


"Aamiin.... ehh, tuh, anak aku sudah turun dari kereta apinya. Dan bianglala juga sedang menunggu penumpang baru. Barengin saja El biar ada teman, kasih tahu dulu Sya." Elang setuju dan menghampiri Sya yang sedang ditemani Nada.


"Sya, naik bianglalanya mau ada teman, tidak? Kebetulan di sini ada teman Sya, Rindi namanya," berita Elang yang sontak membuat Sya senang.


"Rindi? Mau, Pah. Sya naik bianglalanya mau sama Rindi." Sya antusias.

__ADS_1


"Baiklah, tunggu sebentar Rindinya sedang kemari."


"Asikkk, Bunda, Sya naik bianglalanya sama teman, Sya. Dia ada di sini dan pengen naik bianglala juga. Jadi, Bunda tidak usah temani Sya naik bianglala," berita Sya senang. Nada yang mendengar berita itu sangat senang, sebab tadi Sya sempat memintanya untuk menemaninya naik bianglala.


"Baiklah, Bunda tunggu di kursi tunggu saja ya Sya," ucap Nada senang. Saat bersamaan, Windi teman kuliah Elang, dan Rindi anaknya tiba.


"Nada, apa kabarnya nih Nyonya Elang? Beritanya kamu sedang hamil muda, ya? Selamat, ya!" Windi memberikan ucapan selamat pada Nada atas kehamilannya


"Itu anak Mbak, si Rindi pengen naik bianglala. Kebetulan ada Sya yang ingin naik juga, jadi kebetulan banget. Kalau naik sama-sama, kan jadi ada temannya," Windi merasa senang Rindi anaknya ada teman saat naik bianglala.



"Iya, Mbak, Alhamdulillah kalau ada teman."


"Kita duduk di kursi tunggu saja yuk, Mbak, saya tidak kuat berdiri lama," ajak Nada seraya menunjuk ke arah kursi tunggu.


"Ayo." Windi setuju dan mengikuti Nada yang menuju kursi tunggu di permainan itu.


Sementara Elang tidak ikut untuk duduk di kursi tunggu, dia lebih lega melihat anak-anak dari dekat, biar sekalian diambil foto dan diabadikan sebagai kenang-kenagan.



Permainan bianglala pun usai, Sya dan Rindi turun dari permainan itu.


"Ok, El, aku duluan ya, soalnya sudah dari tadi mutar-mutar mall. Nad, saya duluan ya," pamit Windi saat Rindi dan Sya sudah berada di bawah dan turun dari permainan itu.


"Oh, ok, Mbak. Padahal kami mau makan dulu, kita makan dulu saja," ajak Nada.


"Terimakasih, Nad. Saya sudah makan tadi sebelum Rindi main. Sekarang kami langsung pulang. Kami pamit dulu, ya."


"Sya, tante sama Rindi pamit dulu, ya," Windi berpamitan sama Sya. "El, aku pamit ya."


"Ok, Win. Hati-hati ya!" ucap Elang sembari menatap kepergian Windi dan Rindi anaknya.


"Ayo, Sya, kita ke *food court* dulu, kita makan, ya. Sya, kan sudah cape bermain." Elang mengajak Sya makan dulu sebelum melanjutkan muter-mutet Mall Pioneer ini.



"Ayo, Sya juga sudah lapar." Mereka bertiga menaiki tangga berjalan menuju *food court* yang berada di lantai lima.


Mampir juga ya Gays ke Novel sy yang lain;



Dijebak Nikah Paksa

__ADS_1


Jangan Sebut Aku Pelakor, trmksh..... mampir ya!



__ADS_2