
POV Author
Sementara itu di rumah Elang, Bu Sri mamanya Elang tiba di rumah Elang saat jam menunjukkan pukul 7.30 malam. Bu Sri masuk setelah mobil terparkir dengan baik. Dia tergesa dengan wajah yang benar-benar resah. Ada apa dengan Bu Sri, biasanya wajah datar tanpa dosa selalu terpasang di raut mukanya.
"Assalamualaikum... El, Elang....!" panggil Bu Sri seraya menaiki tangga. Bi Narti yang sedang memangku Sya mencegat Bu Sri.
"Maaf Nyah, Den Elang sedang marah. Non Nada pergi, mereka tadi bertengkar," lapor Bi Narti dengan muka yang sedih. Sya yang sedang dalam pelukan Bi Narti memeluk kuat leher Bi Narti seakan merasa ketakutan. Bu Sri tertegun seakan kaget.
"*Nada pergi, Elang marah*?" gumannya penuh tanya. Bu Sri segera bergegas menuju tangga dan menghampiri kamar Elang. Tiba di depan pintu kamar, Bu Sri melihat keadaan kamar yang sangat berantakan bak kapal pecah. Bu Sri terkesima. Dia tidak percaya dengan keadaan yang dilihatnya barusan. Bu Sri heran apa yang membuat Elang sampai marah sebegitunya? Pertengkaran seperti apa yang membuat Elang marah?
Setahunya anak semata wayangnya itu, tidak pernah terlihat ngamuk sekalipun dikhianati sekelas Mayang waktu itu. Dia cukup menyembunyikan kemarahannya dengan diam dan tindakan tegas. Tapi kini, ketika melihat Elang marah dan membanting barang yang ada, Bu Sri merasa tidak biasa.
"*El, apa yang terjadi? Tidak biasanya kamu* *marah sekalipun Mama melakukan kesalahan*?" benak Bu Sri bertanya heran. Baru kali ini dadanya yang selalu membusung, terasa sesak dan merasa bersalah.
"El....!" tegur Bu Sri ragu. Padahal selama ini Bu Sri selalu merasa punya kuasa atas Elang, namun kini dia seolah tertohok oleh keadaan Elang yang penuh amarah dan berantakan.
"Apa yang kamu lakukan Nada, sehingga anakku seperti ini? Anakku terlalu mencintaimu namun dia tidak berani melukaiku sebagai ibu kandungnya. Kamu harus bertanggungjawab atas keadaan Elang ini." Batin Bu Sri berkata-kata. Bu Sri masih mempersalahkan keadaan Elang seperti ini karena Nada.
__ADS_1
"*Pergi kemana kamu Nada? Bukankah kamu* *mencintai anakku? Tapi kini pergi dan Elang* *seperti orang yang hilang arah*?" Bu Sri berkata-kata lagi dalam benaknya.
"El....!" Bu Sri mencoba memanggil kembali anaknya yang sedang diliputi amarah. Elang berbalik dan menatap ke arah Bu Sri yang baru disadarinya. Tatapan mata Elang tajam dan benar-benar dirasuki rasa marah, sehingga membuat Bu Sri sedikit takut.
"El... ada apa?" Masih mencoba melemahkan kemarahan Elang, Bu Sri sedikit mendekat.
"Ini semua karena Mama, Mama selalu menyakiti perasaan Nada. Sekarang Nada pergi dan benar-benar pergi." Elang mempersalahkan Bu Sri, nafasnya turun naik.
"El... Mama yakin Nada tidak akan jauh perginya. Dia pasti akan kembali," ucap Bu Sri penuh keyakinan.
"Dari mana Mama tahu, Nada akan pulang lagi?"
"Dia kali ini benar-benar akan meninggalkan Elang, Ma. Ini semua gara-gara Mama. Mama sering menyakitinya dengan terus mencemoohnya. Di depan teman-teman Mama bahkan di depan ART. Mama terlalu menganggap remeh Nada. Elang tahu Mama hanya menganggap Nada orang biasa yang menikah dengan Elang karena harta Elang. Tapi Mama salah, tidak sepeserpun Nada menggunakan uang atau harta Elang, bahkan Elang pernah memberi kartu ATM padanya, besoknya dia kembalikan. Lalu saat El memberikan hadiah permintaan maaf berupa cincin berlian untuk pertama kalinya, dia menolak. Apa itu yang Mama sebut Nada hanya ingin harta Elang? Apa iya seperti itu Ma?" sentak Elang berapi-api, dadanya turun naik. Baru kali ini Bu Sri melihat Elang meluapkan segala amarah dan unek-unek di hadapannya dengan nada tinggi.
Bu Sri terkesima dengan semua pernyataan Elang, sekarang Elang sudah berani berbicara tinggi padanya. Itu artinya sebuah kemarahan Elang sudah pada puncaknya. Bu Sri menunduk, dia mengingat satu persatu perbuatannya pada Nada. Apa iya dia begitu kejam, hanya karena tidak mendapatkan menantu yang lebih tinggi status sosialnya dari mantan menantunya terdahulu, lalu Nada menjadi sasaran kebenciannya?
"*Nada... iya betul aku membenci kamu karena* *kamu hanya orang sederhana yang hadir dalam kehidupan anakku, Elang. Tadinya aku pikir, jika aku bisa mendapat menantu yang status sosialnya lebih tinggi dari si Mayang, maka aku bisa pamer dan menyakiti si Mayang dengan memperlihatkan menantu baruku ini lebih kaya dan segalanya dari Si Mayang. Tapi... ketika Elang mendapatkan kamu, saat itu harga diriku seakan jatuh, karena Mayang yang masih selalu menjatuhkan aku, karena hanya mempunyai menantu yang tidak lebih kaya dari dia
Nada... apakah aku salah benci padamu karena kamu tidak bisa aku banggakan di depan orang lain terlebih si Mayang karena status sosial kamu?" Batin Bu Sri berkata-kata tentang yang sebenarnya kenapa ia begitu benci kepada Nada*.
__ADS_1
"Dia tidak akan kembali, Ma! Jangankan harta, diri aku saja bisa Nada tinggalkan. Nada sama sekali tidak membawa harta apapun dari Elang. Elang yakin, tidak ada yang memberatkan dia untuk tetap bersama Elang!" tandas Elang menggebu-gebu. Bu Sri terhenyak mendengar ucapan Elang barusan, tidak biasanya dia seperti itu yang datar dan tanpa dosa.
"Ini semua gara-gara Mama, Elang benci sikap Mama. Mama harusnya sadar, kenapa El selalu memaafkan perlakuan Mama dan mengabaikan perasaan Nada. Itu karena El masih memberikan kesempatan buat Mama untuk menyadari setiap kata-kata kasar dan menghina Mama terhadap Nada. El tidak mau berkata kasar dan bertidak keras terhadap Mama, itu semata-mata ingin membuat Mama menyadari kesalahan Mama terhadap Nada. Tapi apa? Mama malah semakin asik menyakiti Nada dengan cemoohan-cemoohan yang lebih gila, dengan mempermalukan Nada di depan teman-teman Mama." Elang menjeda ucapannya sejenak dan mengatur nafasnya.
"Sekarang tidak ada lagi Nada yang bisa Mama hina seenaknya di depan teman-teman Mama. Puas Ma, Mama puas kan?" Elang mengakhiri kata-katanya yang tinggi diiringi isak tangis, lalu menggelosorkan tubuhnya di bawah ranjang. Ranjang yang selalu penuh kehangatan cinta dari Nada istri yang sangat dia cinta. Namun kini sudah tidak ada.
Elang kini benar-benar terpuruk atas kepergian Nada, entah kenapa rasanya kini Nada akan benar-benar pergi meninggalkannya.
Bu Sri merasa teriris dengan keadaan Elang yang terpuruk gara-gara kepergian Nada. Yang mampu dia lakukan kini menatap Elang dengan mata yang tiba-tiba berkaca-kaca. Hal yang sama sekali hampir tidak pernah Bu Sri lakukan. Namun kini, anak semata wayangnya mampu berkata-kata tinggi di hadapannya hanya karena Nada.
"*Karenamu Nada, Elangku berani berkata tinggi* *padaku. Dan karenamu, Elang kini seperti seorang* *yang kehilangan arah. Kamu harus kembali demi* *Elang, Elang harus mengembalikan rasa hormat* *padaku*." Batin Bu Sri sesumbar.
"Tenang El... Nada pasti kembali, dia pasti kembali. Besok kita mulai mencari Nada di rumah mertuamu," bujuk Bu Sri dengan nada risau.
__ADS_1
"Nada tidak akan kembali, Ma. Dan itu karena Mama, semua karena Mama. Sekarang Mama pergi dari hadapan Elang! Pergiii....!?" Elang berteriak seakan lupa siapa dirinya dan mengusir Bu Sri.