
POV Elang
Ketika dalam perjalanan menjemput Sya ke sekolah, tiba-tiba ada telpon masuk dari rumah Mama. Aku merasa heran kenapa tiba-tiba Mama nelpon dari rumah, biasanya juga pakai HP. Saat Ku angkat rupanya Bi Inah yang telpon dan menyebutkan bahwa Mama pingsan, dan sedang dilarikan ke RS Harapan Kita. Segera aku melajukan mobilku ke sekolah Sya, menjemput Sya dan langsung ke RS yang disebutkan Bi Inah tadi.
Tiba di RS, aku langsung menuju ruangan VIP tempat Mama dirawat. Karena buru-buru aku tidak memulangkan dulu Sya. Sya aku bawa masuk ke ruangan rawat Mama meskipun harus sembunyi-sembunyi dari pihak RS, karena jelas di sana aturannya bahwa anak dibawah 12 tahun dilarang masuk. Untungnya ada Sopir Mama di sana yang tadi mengantar. Sehingga aku bisa meminta tolong untuk memulangkan Sya ke rumah. Namun Sya tidak mau, Sya menangis ketika mau aku pulangkan. Akhirnya aku nyuruh Supir Mama ngajak Sya jalan-jalan di taman RS. Dan untungnya Sya mau.
Aku melihat Mama yang sedang terbaring lemah dengan selang infus di tangannya. Sedih rasanya melihat orang yang kita sayangi dan hormati terbaring lemah tanpa daya, padahal biasanya paling kencang bersuara.
Aku dekati Mama dan aku usap pelan kening Mama yang terasa dingin, lalu aku genggam jemari kiri Mama yang tidak berselang infus dan mengecupnya. Dalam hati aku bertanya-tanya, Mama sakit apa dan kenapa? Tidak berapa lama Dokter yang merawat Mama datang dan masuk ruangan.
Saat kutanya apa sakitnya Mama, Dokter bilang Mama tekanan darahnya tinggi sampai 180/140 dan bisa mengakibatkan stroke. Hatiku mencelos saat mendengar Dokter menjelaskan tentang keadaan Mama. Saat Mama tersadar dari pingsannya, rupanya Mama tidak bisa bicara. Bukan tidak bisa bicara, namun bicaranya tidak jelas. Aku larang Mama untuk tidak memaksakan bicara supaya tidak tegang, Mamapun diam dan sesekali air matanya meleleh dari sudut mata.
Rasa sedih seketika menjalar dalam dada, hati siapa yang tidak sedih ketika melihat orang tua tercinta dalam keadaan sakit dan menderita?
Mama terkena stroke, kaki kanan dan tangannya kena. Sedih hatiku tiada tertahan sehingga tidak terasa air mataku ikut luruh.
__ADS_1
Karena Sya tidak mau diantar pulang, akhirnya aku menyewa sebuah penginapan dekat RS selama dua hari, untuk memudahkan aku bulak-balik jika Mama ada apa-apa. Aku juga menyuruh Pak Joni, Supir Mama untuk pulang dan menjemput Bi Inah supaya menunggu di RS.
Dan akhirnya aku memutuskan hari ini aku nginap di penginapan tanpa mengabari Nada istriku. Lagipula aku pikir belum saatnya memberi tahu Nada tentang keadaan Mama, kalaupun dikasih tahu belum tentu Nada mau datang menjenguk, sementara hubungan Mama sama Nada masih bersitegang.
Tiba di malam hari saat pemeriksaan Dokter selesai, aku kembali ke penginapan yang tadi sudah ditempati Sya dan Bi Inah. Kini disaat malam hari, Bi Inah yang kuberi tugas menjaga Mama di ruang rawat.
Sekitar jam 10 malam, HPku berbunyi dan rupanya Nada telpon, namun sengaja tidak aku angkat. Aku berpikir mungkin Nada khawatir akan keberadaan Sya yang belum pulang. Sebab aku sama sekali tidak memberi tahu Nada tentang keadaan Mama dan keberadaan kami.
"El, El....!" Mama terdengar memanggil namaku walaupun sedikit samar. Matanya menatap ke arahku sedih.
"Ma, El pulang dulu ya! Elang mau antar Sya sekolah dulu!" pamitku pada Mama seraya mencium tangan Mama yang tidak dipasang selang infus. Saat itu tiba-tiba HPku bunyi, Nada memanggil dengan aplikasi WA. Terpampang jelas wajah cantiknya di HPku. Wajah yang sebenarnya aku rindukan.
Aku sengaja tidak mengangkat telponnya. Biarlah dia bertanya-tanya dimana aku berada. Kesannya jahat sih, namun itu lebih baik daripada aku terus terang berada di mana hanya akan menambah kecewa, sebab aku yakin Nada tidak akan peduli. Terpaksa aku titip kembali Mama ke Bi Inah yang setia menjaga Mama.
__ADS_1
Aku pamit ke Mama, aku lihat Mama seakan sedih. Namun aku berusaha menghiburnya bahwa nanti sore aku kembali. Mama seakan pasrah dengan menundukkan kepalanya ke bawah.
Siangnya aku pulang dan mengantar Sya ke rumah. Aku tidak khawatir lagi jika Sya pulang ke rumah. Ada Nada ibu sambung yang memang menyayangi Sya, dan ada Bi Ijah yang kini selain mengurus rumah juga fokus mengurus Sya.
Pulang ke rumah, aku disambut Nada dengan baik, dia mencium tanganku dengan raut wajah yang segan. Jujur saja begitu berdekatan dengannya, rasa ingin memeluk dan mencurahkan kasih sayang begitu besar. Namun karena aku sedang mengalami kesedihan karena keadaan Mama yang sakit, jadi sikapku masih dingin dan datar, karena aku sedang mengalami kesedihan.
Sengaja Nada tidak aku kasih tahu tentang Mama, biarlah dia cari tahu sendiri. Dan aku tidak mau dianggap aku ingin cari perhatiannya tentang keadaan Mama. Bagaimanapun juga Nada dan Mama masih dalam keadaan tidak baik-baik saja. Biar saja aku tanggung sendiri kesedihan ini tanpa Nada, yang biasanya mampu membuat aku punya solusi jika mendapat masalah.
Saat hatiku dilanda sedih seperti itu, tiba-tiba Bi Narti datang dan memberikan sebuah tespek pesanan Nada. Aku kaget mendengarnya. Nada mau tes kehamilan? Ada sedikit rasa bahagia mendengar kata tespek, jangan-jangan Nada hamil. Nada tiba-tiba memelukku dari belakang dan bertanya apakah aku bahagia apabila dia hamil? Jelas aku bahagia dong, dia hamil anakku, terlebih jika Nada hamil aku akan mudah menahannya jika suatu saat Nada merajuk dan pergi.
Walaupun aku bahagia mendengar berita jika Nada hamil, namun kesedihanku lebih besar karena memikirkan Mama yang sakit. Juga sedih karena selama ini aku belum bisa mendamaikan antara Nada dan Mamaku. Dua-duanya sama berarti, namun Mama yang paling berarti bagiku.
__ADS_1
Sore itu aku harus kembali ke RS karena menemani Mama, walaupun ada Bi Inah namun Mama menginginkan aku ada di sana. Aku pamit sama Nada karena harus ke RS. Namun aku tidak bilang ke mana-mananya, biarlah Nada berpikir yang lain-lain tentang aku, sebab jika aku mengatakan yang sebenarnya aku belum siap. Nada nampak sedikit kecewa dengan sikap aku. Walaupun begitu aku tetap pergi dengan raut wajah yang masih datar dan sedih sehingga Nada menganggap aku masih belum memaafkan kesalahan dia sepenuhnya.