"Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah "

"Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah "
Ulah Ibu Lagi


__ADS_3

"El ... berhenti....!" teriak Ibu mengangetkan kami berdua. Mas Elang menghentikan mobilnya secara mendadak dan melihat ke arah Ibu.


"Ada apa, Ma?" tanya tanya Mas Elang heran.


"Mama ingin kembali lagi ke rumah, Mama kebelet ingin buang air besar, El," rengek Ibu mengiba.


"Apa ....?" Mas Elang kaget.


"Iya ... El, Mama ingin balik lagi, Mama kebelet, Mama ingin buang air besar, Mama sudah tidak kuat!" rengek Ibu meyakinkan.


"Tapi, Ma, ini sudah setengah jalan, masa kita harus balik lagi. Lebih baik kita ke Bidan Dina dulu, lalu Mama BAB di sana," bujuk Mas Elang berharap Mama mengerti.


"Tidak El, Mama malu kalau harus BAB di tempat orang," sergah Ibu.


"Tidak, Ma. Di Bidan Dina tidak masalah pasien ikut BAB," jelas Mas Elang.


"Iya ... tapi Mama bukan pasien Bidan Dina, Mama keluarga pasien." Ibu keukeuh dengan keinginannya, dia tetap ingin putar balik dan BAB di rumah, membuat Mas Elang kebingungan.


"Ya sudah deh Mas, Nada yang mengalah. Biar Nada turun di sini mencegat taksi menuju Bidan Dina," ucapku seraya membuka pintu mobil dan berusaha keluar. Setelah berhasil keluar aku mencoba mencegat ojeg yang mangkal. Salah satu ojeg berhenti dan menegurku.



" Bidan Dina, Pak!" ucapku memberi tahu tujuanku. Namun sebelum aku naik, Mas Elang sudah menahan tanganku.


"Sayang ... nanti saja aku yang antar, biar nanti malam ke Dokter Gilang ya, langsung ke tempat prakteknya," bujuknya seraya menarik tanganku menuju mobil.


"Tidak Mas, Nada mau ke Bidan Dina saja. Lagipula ini sudah dekat kok. Nada mau naik ojeg saja," sanggahku seraya menepis tangan Mas Elang.


"Ayo ... lebih baik nanti saja Mas antar kamu ke Dokter Gilang," bujuk Mas Elang menghalangi langkahku yang ingin mendekati Pak Ojeg.



"Ini jadi tidak ojegnya, Neng? Lama saya nunggu, bisa rugi saya!" protes Pak Ojeg kesal. Mas kahwin Elang menghampiri Pak Ojeg lalu berkata, "tidak jadi Pak, Nah pergilah." Mas Elang mengusir halus Pak Ojeg dengan selembar uang lima puluh ribu. Pak Ojeg tersenyum senang lantas pergi dari hadapan kami seraya manggut.



Aku kecewa dengan tindakan Mas Elang yang mencegah aku untuk naik ojeg. Sementara waktu hanya tinggal 15 menit lagi menuju jam 5. Bidan Dina sudah tidak menerima pasien melebihi jam 5 sore.

__ADS_1



"Mas, coba WA Bidan Dina, daftar online dulu. Biar nanti setelah Ibu di rumah, kita kembali lagi. Mungpung ini belum jam 5, daftar online masih bisa dilayani," saranku yang langsung dituruti Mas Elang. Mas Elang segera membuka WA dan membuka nomer WA layanan Bidan Dina.


"Sudah penuh, ini sudah tidak bisa, Sayang!" ucap Mas Elang dengan wajah kecewa, aku tidak kalah kecewa. Mukaku langsung kusut dan merona merah menyimpan kesal. Mas Elang meraihku dan membawa ke dalam mobil. Aku merengut terlanjur kecewa. Sementara Ibu yang tadi katanya kebelet ingin BAB di rumah, nampak santai-santai saja tanpa dosa. Tidak lagi merengek meminta kembali lagi dengan alasan ingin BAB.


"Kenapa El, apakah kalian tidak jadi ke Bidan Dinanya?" tanya Ibu benar-benar lempeng tanpa dosa membuat aku geram. Aku jadi berpikir bahwa ini hanya akal-akalan Ibu saja supaya aku tidak jadi pergi ke Bidan Dina. Sungguh terlalu dan tega, padahal dalam perut aku ini cucu tulennya, darah daging Mas Elang, tapi tega mengerjai.



"Tidak Ma, Bidan Dina sudah tidak menerima pasien lebih dari jam 5, daftar online saja sudah penuh." Mas Elang memberi alasan.


"Apa ....??" Ibu terkejut dengan muka datar. Aku yakin ini jelas akal-akalan Ibu untuk mencegah aku pergi ke Bidan Dina.


"Bidan Dina sudah tutup, Ma!" yakin Elang. "Ngomong-ngomong, bukankah tadi Mama kebelet ingin BAB dan meminta El balik lagi ke rumah. Nah ... sekarang Mama tidak kenapa-kenapa?" Mas Elang heran dan menatap Ibu dengan curiga dan sedikit kesal.


"Kenapa El, kok menatap Mama begitu? Mama tadi memang kebelet dan ingin segera BAB, tapi setelah kalian tadi turun dari mobil, kebelet Mama tiba-tiba hilang," alasan Mama tanpa dosa. Mas Elang nampak prustasi dengan semua yang dialami baru saja. Sedangkan aku sudah sejak tadi merengut karena benar-benar kecewa sama sikap Ibu yang sengaja menghalang-halangi aku untuk pergi ke Bidan Dina.



Akhirnya mobil putar balik dan kembali ke rumah. Tiba di depan rumah, aku langsung turun dari mobil tanpa menutup pintu mobil dan berlari menuju ke dalam, menaiki tangga dan masuk ke dalam kamar. Di sana aku menangis menumpahkan rasa kesalku yang sejak di jalan tadi ingin meledak. Dan aku benar-benar menangis, rasanya tega sekali Ibu mengerjai aku dengan cara seperti ini.




Aku menutupi wajahku dengan bantal, tangisku pecah merasakan sakit hati karena ulah Ibu. Aku yakin ini adalah kerjaan Ibu supaya aku tidak bisa pergi memeriksa kehamilanku ke Bidan Dina. Mas Elang meraihku dan megusap bahuku berusaha meredakan emosiku yang seketika meledak.



"Ini kan yang Mas Elang inginkan? Melihat perasaan Nada hancur dan sakit hati oleh sikap ibu. Tadi itu Nada yakin, semua itu ulah Ibu supaya Nada tidak jadi periksa ke Bidan Dina. Ibu sungguh tega ingin menyakiti Nada," tudingku dengan isak tangis yang berderai.



"Sayang, Mas minta maaf. Jika tahu begini Mas tadi tidak terbujuk oleh keinginan Mama untuk ke swlayan membeli vitaminnya." Mas Elang terus membujukku dengan mengusap-usap kepalaku. Aku terus menangis, sungguh sikap ibu yang ini membuat aku sangat sakit hati dan kecewa. Masih sakit tapi tega melakukan hal yang menyakitkan seperti itu.


__ADS_1


Aku membiarkan Mas Elang membujukku, dan rasanya tangan Mas Elang yang biasanya menenangkan, kini terasa sama bagai perlakuan ibu yang yang menyakitkan. "Pergilah Mas, jangan hiraukan Nada. Perhatikan saja Ibu, Ibu jauh lebih penting. Karena surga Mas Elang berada di telapak kakinya." Aku mengusir Mas Elang halus. Mas Elang nampak prustasi dan terlihat bingung juga kesal.



Dari sejak aku pulang dari Bidan Dina yang tidak jadi, aku terus mengurung diri di kamar dan tidak mau makan. Mas Elang nampak kecewa dengan sikap aku yang membiarkan aku kelaparan, Mas Elang mengkhawatirkan janin yang aku kandung.



"Tidak usah peduli dengan Nada maupun janin Nada, pergilah!" usirku kesal. "Biarkan Nada seperti ini, atau biarkan Nada mati sekalian bersama janin ini!" ucapku emosi, dan ketika aku tersadar aku langsung mengucap istighfar.


"Astaghfirullah....!" gumanku penuh penyesalan.


"Nada ... jaga bicaramu, kamu sedang mengandung. Tenangkan emosi kamu. Mas juga kesal dengan sikap Ibu, tolonglah ngertiin Mas! Nanti setelah Mas antar Sya sekolah, kita pergi ke Dokter Gilang dan kita periksa di sana," bujuknya.



"Tidak ... tidak perlu. Nada sudah tidak mau periksa kemana-mana lagi," tandasku seraya memasuki kamar mandi dan menangis di sana. Mas Elang terdengar mengetuk pintu dan mencoba merayuku. Namun aku tidak peduli, perasaanku benar-benar sakit saat ini. Inginnya menghindar dari Mas Elang.



"Sayang ... buka pintunya. Kita pergi nanti setelah Mas antar, Sya!" bujuknya lagi tanpa kurespon. Beberapa menit kemudian suara Mas Elang tidak lagi aku dengar, mungkin Mas Elang sudah pergi dan mengantarkan Sya.



Karena emosi dan rasa sakit hati, setelah Mas Elang pergi aku segera mengemasi sebagian pakaianku dan hal penting lainnya, termasuk kartu ATM yang pernah Mas Elang kasih ke aku tempo hari, cincin berlian, dan juga kalung pemberiannya. Yang ada dalam pikiranku saat ini adalah untuk membiayai bayiku kelak jika aku jauh dari Mas Elang ada sebagian harta yang Mas Elang beri padaku.



Kali ini aku benar-benar tidak tahan dengan sikap ibu, yang seakan sengaja menghalang-halangiku untuk memeriksakan kehamilanku ke Bidan, padahal yang aku kandung adalah cucunya, darah dagingnya. Aku bukan tidak ikhlas ibu berada di sini, namun jika ibu masih seperti ini, selalu memancing permusuhan, lebih baik aku yang mengalah. Jika mengharapkan Mas Elang, rasanya tidak mungkin, sebab Mas Elangpun masih menjaga hati ibu.



Biarlah kepergianku kali ini membawa kedamaian buat ibu. Aku sudah tidak tahan disakiti, terlebih sekarang aku sedang hamil yang harusnya disayangi dan dimanja.



Setelah semua barang-barangku selesai aku kemas, aku segera menutup pintu, perlahan menuruni tangga. Aku mendengar ibu sedang di dapur, aku segera menyelinap dan keluar dari ruang tamu. Di depan pintu gerbang Usep menegurku, namun aku hanya bilang akan pergi ke rumah bapak, dan aku sudah mendapat ijin dari. Mas Elang. Dan Useppun tidak bertanya lagi.

__ADS_1



Mencegat taksi yang lewat, aku pergi membawa hati yang kecewa menuju rumah bapak.


__ADS_2