"Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah "

"Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah "
Pura-pura tidak Melihat Ibu


__ADS_3

POV 3 (Author)


Sejak Bu Sri menghina di hari dimana Nada masih merasakan luka akibat kuret, tidak ada lagi Bu Sri datang ke rumah Elang. Damai rasanya dunia ini bagi Nada. Dia bisa sedikit tertawa dan ceria lagi. Namun kesedihan lain muncul yaitu Nada yang belum kunjung hamil. Padahal ini ini sudah hampir 3 bulan pasca operasi.


Elang melihat Nada sangat begitu sedih, namun Elang selalu berusaha menghibur Nada. Di sisi lain Elang juga merasa tidak enak hati dengan keadaan mamanya yang sudah hampir 3 bulan tidak pernah Elang tengok, ada rasa bersalah dalam dirinya. Satu sisi ingin menjaga hati Nada sang istri, sisi lain Elang merasa bersalah tidak bisa mendamaikan keduanya. Elang untuk sementara hanya bisa menahan diri untuk tidak mempertemukan Mamanya dengan Nada. Terbukti Nada selalu kelihatan happy.



Hari ini Elang mendapat undangan pernikahan kolega bisnisnya. Tidak disangka disinilah awal terjadi kembali pertengkaran antara Elang dan Nada.



"Ayo sayang... wawww cantiknya kamu sayang....!" puji Elang seraya meraih pinggang Nada lalu merapatkan tubuhnya.



"Kamu pandai ya berdandan... rasanya Mas ingin di sini saja berdua denganmu yang cantik ini," puji Elang kembali seraya mencium pipi sedikit chubby milik Nada. Nada menepis ciuman Elang yang hampir menyentuh bibirnya yang sudah merekah.



"Jangan dong Mas, kita kan mau ke pesta. Nanti dandanan Nada aut-autan!" cegah Nada.


"Ck... setiap kamu akan Mas ajak pergi ke pesta selalu menggairahkan. Mas jadi tidak kepengen pergi, habisnya kamu bikin Mas betah!" decaknya sedikit ngedumel.


"Ayo Mas, nanti Sya melihat kelakuan Papanya yang manja. Mas ternyata lebih manja dari Sya," ejek Nada seraya melintasi Elang yang terpaksa melepaskan cengkramannya pada Nada. Elang nampak cemberut. Pipinya yang dulu sempat tirus kini berisi lagi, dan ketampanan kini dua kali lipat bertambah dari hari biasanya. Nada tersenyum tipis saat melewati Elang, lalu meraih tangan Sya dan menuntunnya menuju ke bawah.Dia merasakan getaran yang sama seperti yang Elang rasakan saat ini.



Mereka bertiga keluar kamar dengan baju couple warna kuning emas. Elang dan Sya memakai batik bermotif burung merak berlapiskan serat-serat emas dengan dipadupadankan celana jeans berwarna hitam. Nampak semakin tampan, tidak kalah dengan Oppa-Oppa Korea.



Sedangkan Nada, membuat Elang berdecak kagum dan merasa enggan melangkahkan kaki keluar dari kamar ini. Longdress berbahan dasar tile dipadupadankan dengan brukat berwarna kuning emas, juga berlapiskan serat-serat emas membalut sempurna tubuh ramping Nada. Semakin terangkat kecantikannya. Makin paripurna sajalah kecantikan Nada di mata Elang. Ingin rasanya Elang memeluk dan tidak melepaskan Nada di sore ini.



"Sayang, kamu cantik banget... tidak salah Mas memilih kamu dalam hidup Mas, tidak pernah mengecewakan!" Nada tersipu malu mendapatkan pujian yang membuat hatinya jadi berdebar-debar. Di hadapannya seolah-olah Sang Pangeran sedang memuji dan memujanya.



"Cium sedikit....!" rayu Elang, namun Nada menjauhkan wajahnya karena di depan mereka ada Sya yang sedang berjalan dengan gagahnya. Kini Sya sudah sembuh benar, kaki kanannya sudah tidak tertatih lagi.


"Cantik banget Nada malam ini, tidak akan malu aku membawanya. Juga tidak akan jadi bulan-bulanan Mama jika melihatnya," bisik hati Elang.


"Mas Elang sangat tampan, rasanya ingin dipeluk saja tidak ingin pergi ke pesta pernikahan ini," bisik hati Nada saat dia menatap sekilas wajah tampan yang selalu membuat dirinya terpesona.

__ADS_1


Perjalanan ke gedung pesta pernikahan kolega bisnisnya Elang, menyita waktu kurang lebih setengah jam. Elang dan Nada serta Sya memasuki gedung yang sudah disulap menjadi sebuah perhelatan perta pernikahan yang begitu mewah.



Elang diikuti Nada dan Sya dibelakangnya yang dituntun Nada. Diikuti para tetamu lain yang sama-sama akan menyalami kedua mempelai. Sebelum beranjak Elang berbasa-basi dahulu dengan kedua mempelai.



"Tampan dan cantik kalian malam ini, akhirnya Rudi yang super usil ini menikah juga. Hati-hati, malam pertama jangan buru-buru, pelan-pelan saja," bisik Elang menggoda kedua mempelai yang kebetulan merupakan kolega bisnis di bidang kuliner. Kedua mempelai saling melempar senyum dan tersipu malu.



"Pasanganmu juga cantik Bro... masih baru juga kan....?" ujar Rudi menggoda balik Elang.


"Masih dong Bro, masih hangat dan akan selalu hangat....!" balas Elang. Nada di sampingnyapun tersenyum malu-malu.


Acara dilanjutkan ke sesi foto pengantin, setelah itu semua tetamu dipersilahkan menikmati hidangan makan secara prasmanan.



"El... apakabar?" Segerombolan orang perempuan dan laki-laki dewasa menghampiri Elang sembari menenteng makanan di tangannya masing-masing dan menyapa Elang. Mereka sangat akrab dan terlihat saling menumpahkan rindu. Dari obrolannya mereka merupakan teman-teman Elang saat kuliah dan sekolah dulu.



"Elang... mana istri kamu dan anak kamu?" Salah seorang teman perempuan Elang menanyakan keberadaan anak dan istri Elang. Elang langsung memanggil Nada yang tadi sedikit tersisih karena teman-teman Elang yang datang bergerombol.




"Halo Sya... anak tampan... makin tampan mirip Papanya banget sih.... !" Dita salah satu teman perempuan Elang langsung menyapa Sya dan menoel pipi Sya juga menyapa Nada, yang disambut senyuman ramah Nada.



"Wahh... Elu ganti bini ya, atau ini *spare part* elu Lang? Dulu tiga tahun yang lalu bukan ini. Ini lebih muda dan....!" ucapan salah seorang teman Elang terputus, mulut usilnya menganga seakan takjub melihat penampakan Nada yang disebut Elang sebagai isterinya.



"Alah... Lu itu Bro, ketinggalan berita. Si Elang kan sudah menikah lagi, dan ini bini barunya. Yang dulu sudah terhempas oleh badai perselingkuhan....!" ujar Remon salah satu teman Elang yang mulutnya sedikit ember. Yang lain melongo mendengar ucapan Remon, seakan tidak percaya.



"Maksudnya, elu nikah lagi dan ini bini elu yang kedua?" tuding Arman penasaran.


"Bukan begitu Cuy, Elang itu menikah lagi dan ini istri yang kedua kalinya bukan istri kedua. Kan sudah gua bilang, bini Elang yang dahulu sudah terhempas bersama perselingkuhannya," terang Jarot bersungut-sungut.

__ADS_1


"Jadi begitu ya... tidak sia-sia Lu dihempas bini pertama, ini menang banyak dong. Lebih bening dan belum turun mesin *spare partnya*," canda Gito sambil nyengir. Sementara Nada mengatupkan kedua tangannya pada teman-teman laki-laki Elang, dan menyalami teman-teman perempuan Elang. Semua dibuat takjub dan tidak percaya dengan kehadiran Nada sebagai istri baru Elang.



"Gila lu, emang bini Si Elang onderdil motor," timpal yang lain seraya tertawa merasa lucu. Nada yang menjadi bahan guyonan merasa malu dan sedikit menunduk. Nada tahu mereka tidak bermaksud apa-apa, dan Nada tahu itu hanya sekadar guyonan.



"Guys... Gua makan dulu ya. Kalau ngeladenin kalian, ghibahnya bisa-bisa kemana-mana. Gua kasihan anak bini gua kelaparan," elak Elang menghindar dari guyonan lain dari teman-teman masa kuliah dan sekolahnya dulu.


"Ok Bro... selamat menikmati....!" seru gerombolan heboh itu hampir bersamaan.


"Ayo Sayang... kita makan dulu!" ajak Elang sembari menuntun lengan Sya menuju meja prasmanan.


Saat Elang mengantri mengambil makanan untuk dirinya dan Sya, dari kejauhan Elang sudah melihat Ibunya, Bu Sri. Rupanya Bu Sri juga termasuk tamu undangan di pernikahan koleganya Elang ini. Bagaimana tidak, kedua mempelai ini merupakan anak dari teman arisannya. Kehadiran Bu Sri membuat rasa rindu Elang membuncah.


Sejak kejadian Bu Sri dipergoki Elang menghina Nada pasca kuret, Bu Sri sudah tidak pernah menampakkan batang hidungnya lagi ke rumah Elang. "*Maafkan Elang, Ma. Elang sudah* *mencegah dulu Mama untuk ke rumah Elang*. *Elang bukan bermaksud memutuskan silaturahim* *antara Elang maupun Nada, namun Elang sengaja* *menghindarkan kalian bertemu hanya untuk* *menghindarkan luka hati Nada semakin* *mengangga, dan agar Mama bisa introspeksi diri*. *Tapi sejujurnya Elang rindu sama Mama*." Elang berbicara di dalam hatinya sambil menatap jauh ke arah Mamanya.



Elang, Nada dan Syapun serta tetamu lainnya menikmati hidangan pesta itu dengan lahap. Sementara Elang, sesekali menggulirkan matanya ke sana ke mari untuk sekedar memantau kehadiran ibunya. Elang berniat menyalami ibunya saat Bu Sri mendekat.



"Sayang... tunggu di sini dulu ya bersama Sya, Mas mau menemui seseorang. Jika kamu ingin mencari makanan yang lain, carilah! Tidak perlu malu-malu, semua orang di sini hampir semua teman-teman Mas."


"Papa, Sya ikut....!" rengek Sya yang diangguki Elang. Elang dan Syapun meninggalkan Nada yang masih menghabiskan sisa makanannya.


"Mas, jangan lama ya!" peringat Nada yang di. iyakan Elang. Elangpun pergi mencari Bu Sri di balik kerumunan para tetamu pesta pernikahan.



Sementara itu, setelah Nada menghabiskan makanannya, dia tiba-tiba merasa kebelet. Ingin buang air kecil dan sedikit mulas. "*Harus segera* *ke kamar mandi nih*," bisiknya dalam hati lalu segera bergegas ke kamar mandi.



Nada berjalan melewati orang-orang tetamu yang masih lumayan banyak. Sekilas di depan dia melihat ibu mertuanya sedang bercengkrama bersama teman-temannya. Nada berniat menghindar, namun untuk ke toilet tidak ada jalan lain selain menuju kerumunan ibu mertuanya.


"Aku pura-pura saja tidak melihat ibu ya, maafkan Nada, Bu...! Nada jahat dan masih trauma bertemu ibu. Lagipula Nada takut ibu kembali mencemooh Nada jika Nada menegur ibu di depan teman-teman ibu." Nada berkata-kata dalam hatinya seraya buru-buru melewati kerumunan ibu mertua serta teman-temannya.


"Eh Jeng Sri, bukankah yang barusan adalah Nada menantu Jeng Sri. Kok dia tidak menegur Jeng Sri sih? Wihhh... dia makin cantik dan berisi ya, jangan-jangan dia sedang hamil. Wahh... bakal dapat cucu satu lagi dong....!" Salah satu teman Bu Sri mengomentari kepergian Nada yang melewati kerumunan mereka.



"Iya, itu si Nada menantu saya. Tapi kayaknya dia tidak melihat saya. Biarkan saja Jeng, saya tidak sedang mencari dia. Saya hanya ingin bertemu cucu dan anak saya. Di mana Elang ini," tangkis Bu Sri.

__ADS_1



"Tapi masa iya, menantu Jeng Sri dari ujung sana tidak melihat Jeng Sri sih, dari jarak 20 meter saja Jeng Sri yang ngejogrog dengan emas-emasnya yang berkilau ini masa iya tidak kelihatan? Apakah Jeng Sri masih belum baikan sama menantunya? Haduhhh... kalian ini mertua sama menantu masih tidak akur... terus!" celoteh salah satu teman Ibu Sri yang sedikit nyinyir mengomentari hubungan Bu Sri sama Nada menantunya.


__ADS_2