
Di ruangan pribadi yang ada di sebuah restoran terkenal,terdapat seorang wanita muda yang terlihat sangat cantik,dengan karakteristik wajahnya yang sangat imut,menjadikan wajahnya terlihat seperti gadis yang masih remaja.
“Sayang”panggil wanita muda nan imut itu kepada sang anak yang berada tak jauh di tempatnya duduk.
Bocah kecil yang merasa terpanggil itu menoleh.Matanya yang bulat,dengan bulu mata hitam yang lentik,tak lupa dengan pipinya yang tembem,menjadikan anak itu terlihat sangat lucu dan menggemaskan.Ia hanya diam dan menatap ke arah wanita yang sempat manggilnya tadi.
“Ke sini sayang!,kamu ingin pesan apa?”tanya wanita itu lagi sambil melihat gambar menu makan di depannya.
“Telselah mamah,aku ikut aja”ucap anak kecil yang berusia sekitar 4 tahun,dengan nada yang masih sedikit cadel.Sepertinya anak kecil itu belum terlalu fasih dalam menyebutkan huruf 'r'.
“Ina sayang,ke sini dulu!.Mamah nggak bisa milih makanan sesuka hati mamah,harus kamu yang pilih!!”ucap wanita itu lagi yang tak lain adalah Safira.Ia berusaha untuk sedikit lebih sabar menghadapi anaknya yang memang sedikit susah untuk di bujuk saat makan.
Anaknya itu bernama Sabrina Putri,kini ia berusia 4 tahun.Anak yang dihasilkan dari pernikahannya dengan Arnam,itu buah hati mereka berdua.Dan terlebih lagi anak itu merupakan anak yang sangat Arnam inginkan.
Karena sebelum mereka berdua menikah,
Arnam pernah mengatakan pada Safira,jika dia sangat ingin memiliki anak perempuan yang sangat mirip dengan Safira.Dan keinginan itu terwujud,tapi sayang Arnam tidak bersama dengan mereka,jadi Arnam tidak tahu jika anak yang berada di kandungan Safira waktu itu adalah seorang anak perempuan yang cantik nan menggemaskan.
Mendengar nada lembut ibunya yang mungkin bisa marah kapan saja.Ia pun langsung berdiri dari duduknya,dan meninggalkan mainannya yang berada di lantai dengan di lapisi karpet lembut.
Karena tempat mereka berada kini adalah sebuah ruangan pribadi,jadi hanya ada mereka berdua yang ada di sana.
“Iya mah...”ucap Ina yang sebenarnya bernama Sabrina,kebiasaan Safira memanggil anaknya dengan panggilan sayangnya yaitu 'Ina'.
“Ayo makan dulu sayang,nanti kalau sudah makan kamu bisa lanjut lagi mainnya”Safira berkata sambil menatap anaknya dengan tatapan sayang,ia membelai rambut anaknya dengan lembut.
Meski awalnya Sabrina tidak mau makan,tapi ia akhirnya setuju setelah Safira membujuknya cukup lama.
Selesai makan Sabrina kembali memainkan mainannya itu.
__ADS_1
Sedangkan Safira yang kini sedang sibuk dengan pekerjaannya itu.Ia kini merupakan seorang wanita yang memiliki karir cukup baik,dan bisa di katakan jika masa depan Safira kini sedang cerah dengan karir yang cukup gemilang.
Safira bekerja di salah satu perusahaan besar yang terkenal di negara itu,ia bekerja sebagai sekertaris.
Meski awalnya Safira tidak yakin dengan pekerjaannya itu,tapi setelah beberapa tahun ia mulai terbiasa.Ia bekerja dengan sangat giat,bahkan ia berhasil membuat keuntungan yang lumayan besar bagi perusahaan itu.
Safira juga kuliah sambil bekerja,dan itu di biayai langsung oleh perusahaan tempatnya bekerja,dan karena ia telah lulus.Ia bisa tenang bekerja dan merawat sang anak.
Kini Safira yang terlihat fokus melihat laptopnya itu,ia sesekali memperhatikan anaknya yang sedang bermain tidak jauh dari tempatnya bekerja.
Ruangan itu merupakan ruang VIP,meski bukan ruangan kelas satu.Di sana terdapat sofa panjang,satu buah meja makan dengan tiga kursi makan,ada sebuah kamar mandi,juga terdapat tempat bermain untuk anak-anak.Meski tempat ini hanya sebuah restoran,tapi jangan salah jika tempat ini sering banyak di kunjungi oleh orang-orang penting.Selain karena tempatnya yang cukup privasi,tempat itu juga sering di sewa oleh orang-orang penting untuk bekerja.
Kebetulan hari ini hari Minggu,Safira sengaja menyewa ruangan itu karena ia ingin mengajak anaknya jalan-jalan sambil bermain,tapi karena ia masih memiliki pekerjaan,ia terpaksa bekerja sambil mengasuh anaknya.
Sebenarnya Safira juga menyewa pengasuh untuk anaknya,tapi karena ia jarang menghabiskan waktu berdua dengan anaknya,alhasil di hari Minggu ini ia ingin mengajak anaknya jalan-jalan berdua.Meski ia sibuk dengan tugasnya karena masih banyak pekerjaan yang di urus,tapi setidaknya ia bisa bekerja sambil mengawasi anaknya sekaligus berlibur.
“Mamah”panggil Sabrina yang terdengar mulai bosan dengan mainannya itu.Ia merasa ingin jalan-jalan keluar,atau ke taman yang penting Sabrina tidak bermain sendiri.
“Ina ingin main,kapan mamah selesai bekeljanya?”ucap Sabrina terdengar menggerutu sekaligus merajuk.
“Seharusnya kan ini waktunya mamah main sama Ina,kenapa mamah malah sibuk bekelja sendili”gerutu Sabrina dengan pelan,seolah ia tidak berani mengatakan itu secara langsung pada Safira,karena Sabrina sedikit mengerti akan kesibukan ibu nya.
Mendengar ucapan anaknya,Safira merasa kasihan sekaligus lucu dengan sikap anaknya.Dengan sabar Safira berusaha memberikan pengertian pada anaknya.
“Ina yang sabar ya..,mamah sebentar lagi selesai.Nih mamah mulai ngebut untuk nyelesain tugasnya”ucap Safira selembut mungkin.Ia memperagakan wajahnya seolah fokus untuk mengerjakan tugasnya dengan sangat cepat.
Meski masih kecil,tapi Sabrina adalah anak yang pintar,dan yang paling penting ia anak yang pengertian.Walau kadang ia sering bersikap kekanak-kanakan,ya tapi namanya anak-anak wajar jika sering mengeluhkan sesuatu hal yang tidak ia sukai.
“Okei,Ina tunggu mamah sebental lagi.Tapi jangan lama-lama...,nanti Ina bakal ngambek dan nggak mau main lagi sama mamah!”ucap Sabrina pengertian.Dengan nada akhir yang terdengar menggerutu sekaligus mengancam,dan itu justru terdengar lucu dan menggemaskan di telinga Safira.
__ADS_1
“Ya,mamah janji hanya sebentar”jawab Safira dengan nada lembut dan sedikit tegas,ia pun kembali melihat laptopnya dan mengerjakan pekerjaannya.
Seperti yang telah Safira janjikan pada anaknya itu,ia berusaha secepat mungkin menyelesaikan pekerjaan itu.
...*****...
Tanpa terasa waktu berlalu.
Meski Safira berjanji untuk menyelesaikan secepat mungkin,tapi karena pekerjaannya memang banyak dan sangat menumpuk alhasil ia tidak sadar jika waktu telah berlalu cukup lama
Saat Safira sudah menyelesaikan pekerjaan nya itu,ia yang tidak mendengar lagi suara anaknya yang biasanya sering berceloteh dengan mainannya itu,ia pun langsung menoleh ke arah anaknya karena penasaran.
Safira sedikit terpaku dengan pemandangan di hadapannya itu,ia melihat anaknya yang sedang tertidur sambil bersandar di sofa panjang,tak lupa boneka mainan yang sedang ia peluk dengan sedikit erat.
Melihat itu Safira pun langsung menghampiri anaknya,ia menyingkap rambut lebat Sabrina dari wajahnya.Anaknya kini sedang tertidur dengan sangat pulas,kelihatan lelah dan sepertinya karena memang benar-benar bosan,akhirnya anaknya itu tanpa sadar ketidur.
Cup...cup...cup...
Safira mencium kedua pipi dan dahi anaknya dengan lembut.Safira tahu,jika anaknya sangat pengertian hingga memilih menunggu hingga akhirnya tertidur karena lelah juga bosan.Dan jujur saja,sebenarnya Safira ingin meluangkan waktunya dua puluh empat jam full untuk anaknya itu,tapi ia tidak bisa,karena ia harus bekerja demi memenuhi kebutuhan dirinya dan anaknya.
“Maafin mamah ina”ucap Safira lembut.Entah ia meminta maaf untuk apa,yang jelas ia bermaksud meminta maaf untuk semua kesalahannya itu.
Walau sebenarnya Safira juga sadar jika ini terjadi karena keegoisannya.Tapi Safira merasa saat itu ia tidak memiliki pilihan lain,karena Safira saat itu benar-benar merasa tidak sanggup untuk terus berada di samping Arnam.Rasanya ia tidak sanggup lagi untuk menanggung cacian dan hinaan serta tatapan sinis dari ibu mertuanya itu,apalagi Safira tidak ingin jika keluarganya terkena imbasnya karena permasalahannya itu.
Dengan perlahan Safira pun mengangkat anaknya,ia dengan lembut menggendong anaknya yang tertidur pulas.Dilihatnya hari yang terlihat masih cerah,
dengan terik matahari yang cukup menyengat saat menembus kulit.
Saat telah berada di luar restoran,ia melihat seorang laki-laki berjas rapi dengan wajah yang terlihat tampan langsung menghampirinya dari arah parkiran begitu melihat ia telah keluar dari restoran.
__ADS_1
“Ayo kita pulang”ajak laki-laki itu pada Safira.