
“Ughh”ucap Safira saat membuka mata.
“Di mana ini?”tanya Safira pada orang yang sedang menggenggam tangan nya dengan erat.Telapak tangan orang itu terasa dingin seolah gugup,meski wajahnya datar tetap saja tidak bisa menyembunyikan jika ia khawatir.
“Di rumah sakit”jawab Arnam datar.
“Kenapa bisa?”tanya Safira seakan sedikit lupa dengan kejadian tadi.
“Pingsan”jawab Arnam singkat.
Mendengar itu Safira pun mulai mengingat kejadian tadi,dan ia tiba-tiba termenung seolah bingung?,sejak kapan ia selemah ini,hanya karena mendengar perdebatan kecil ia pingsan.
Tak lama masuk seorang dokter wanita yang menghampiri Safira.
“Bagaimana keadaan anda nyonya?,sudah tidak lemas lagi kan?”tanya wanita yang menurut Safira sedikit familiar.
“Kamu?”tanya Safira sedikit tak percaya.
“Iya nyonya”ucap dokter yang sempat menjadi dokter pribadi saat Safira hamil dulu.Sekarang ia sudah menjadi dokter terbaik di negara nya,negara tempat Safira dan Arnam tinggal dulu.
“Kenapa kamu ada di sini?”tanya Safira dan dokter itu hanya tersenyum ”Saya di panggil tuan Arnam untuk menjadi dokter pribadi anda lagi”jawabnya sambil tersenyum.
“Malsudnya?”ucap Safira tak mengerti.
“Anda hamil,dan kehamilan anda sudah menginjak 3 minggu”jawba nya yang membuat Safira kaget,hingga tanpa sadar Safira menggenggam tangan Arnam yang kebetulan masih menggenggam tangan nya.
Safira tak sadar jika kuku-kukunya yang sedikit panjang telah menggores kulit Arnam,hingga darah segar sedikit mengalir dari telapak tangan Arnam.
“Ha..hamil?”tanya Safira terdengar syok.
__ADS_1
'Mana mungkin' Safira masih mengingat kejadian dimana ia menganggap Arnam brengsek dan bajingan,dan hal itu membuatnya seakan membenci Arnam,tapi tak Safira pungkiri jika ia masih mencintai Arnam,hanya saja ego nya yang terlalu tinggi seakan belum memaafkan Arnam.Belum lagi Safira masih belum mendapat kejelasan dari Arnam saat ia mendengar jika Arnam telah menikah dengan wanita lain sebelum dirinya.
“Iya anda sedang hamil nyonya,tolong di jaga kesehatan nya.Jangan sering memakan makanan yang terlalu pedas,dan jangan sering begadang,juga tolong di atur pola makan nya agar teratur”jelas sambil tersenyum.
“Kalau begitu saya permisi keluar”lanjutnya yang tahu jika ada yang tidak beres diantara Arnam dan Safira,jadi ia tidak berani ikut campur.
Melihat hal itu Safira langsung menatap ke arah Arnam,tatapan nya yang tajam disertai pandangan penuh luka ia tunjukkan pada Arnam.
“Puas?,puas kamu sudah buat aku hamil.Ini kan yang kamu mau?,kamu ingin aku terjerat dan terikat sama kamu terus”ucap Safira terdengar emosi dan mengungkapkan pemikirannya itu.
“Iya”Bukan nya mengelak Arnam malah langsung menjawab,mungkin yang di katakan Safira ada benarnya juga,Arnam ingin Safira terus bersama dengannya,dan Arnam akan mencoba berbagai cara agar Safira tetap bersamanya.
“Brengsek!!,laki-laki mata keranjang!!!,bajingan!”ucap Safira yang terus saja mengumpat Arnam.
Mendengar hal itu entah kenapa Arnam ingin tertawa,tapi ia tahan karena tak mungkin ia tertawa di saat atmosfer nya yang tidak pas.
“Sialan!!,berhenti tertawa,tidak ada yang lucu di sini!!”kesal Safira seakan meradang.
“Pada dasarnya laki-laki keranjang itu memang tidak cukup dengan satu wanita,kenapa?,apakah kurang puas hanya dengan satu istri?”ledek Safira seakan membahas Rena yang merupakan istri pertama Arnam,atau lebih tepatnya istri Arnam dalam pikiran Safira.
“Bukankah banyak wanita yang rela menyerahkan tubuhnya untukmu?,tapi mengapa harus aku yang menjadi salah satunya juga?”Marah Safira yang seolah tidak henti-hentinya mengucapkan keluh kesahnya.Akhir-akhir ini Safira sering melihat berita jika setiap hari akan keluar wanita yang berbeda-beda di kamar hotel Arnam,entah artis,model,ataupun pengusaha.Dan hal itu membuat Safira geram dan berfikir jika kesibukan Arnam itu hanya dalih dari sifatnya yang bermain-main dengan wanita.
“Ingat,musuh wanita adalah pemikiran nya sendiri”jawab Arnam tetap berusaha terlihat tenang dan datar,meski ia sadar jika kulitnya mungkin telah terkelupas karena cengkaraman Safira yang sangat kuat.
“Maksud kamu apa?,jadi kamu berfikir jika itu hanya pemikiran ku saja?.Buktinya sudah jelas,banyak berita tentang sifat kamu itu,bahkan aku sampai hafal wanita favorit kamu yang bernama Febri yang tak lain model internasional”ucap Safira yakin,ia memandang jijik dan marah pada Arnam.
“Apakah kamu sudah meminta penjelasan langsung dari orangnya?”tanya Arnam yang hanya dibalas senyum sinis dari Safira.
“Buat apa?,bisa-bisa aku di tipu lagi oleh kamu seperti dulu.Ingat Arnam aku bukan Safira yang bodoh seperti dulu”ucap safira penuh penekan.
__ADS_1
Memang benar,jika hampir sebulan ini banyak sekali rumor tidak enak tentangnya,dan Arnam tahu itu.Sebenarnya Arnam memiliki alasan untuk tidak menghilangkan rumor itu,dan jika pun Safira ingin tahu pasti akan Arnam jelaskan.Sekali Arnam harus bisa memaklumi sifat istrinya yang menurut adalah wanita yang paling keras kepala selain ibu nya.
“Lantas apa yang kamu inginkan saat ini?”tanya Arnam yang membuat mata Safira sedikit berkilat karena berbinar senang.
“Pergi jauh dan jangan pernah berani temui aku,apalagi Sabrina”ucap Safira yang langsung mendapat respon berupa tatapan dari Arnam.
Raut wajah Arnam terlihat mengeras dan marah.
“Dalam mimpi”ucap Arnam acuh.
Cupp...
Arnam langsung membungkam mulut Safira dengan bibirnya saat sadar jika Safira hendak protes.
Safira merasa terkejut hingga ia hanya diam dan mematung,seolah pikiran nya kosong dan tak tahu harus merespon apa.
Sementara Arnam yang merasa tidak mendapat respon yang sama dari Safira,ia tetap mencium Safira seolah menuntut agar Safira membalas ciuman nya.
Sayangnya bukan ciuman yang Arnam dapat,melainkan pukulan keras di dada Arnam saat Safira telah kembali pada kesadaran nya.
“Brengsek!!”maki Safira saat ciuman itu berhenti.Safira berusaha meraup nafas nya sebanyak-banyaknya.
“Sudah aku putuskan,mulai saat ini kalian berdua akan tinggal denganku”ucap Arnam tegas tanpa di bantah.
Arnam langsung keluar dari ruangan sebelum Safira hendak menolak.
Sepertinya Arnam kini telah berubah pikiran,ia merasa jika Safira tidak akan pernah mau Kembali jika tidak di paksa,dan biarkan saja Safira berfikir jika dirinya pemaksa,yang jelas Arnam ingin melindungi istri dan anaknya.
“Dasar brengsek!!, jelas-jelas dia sudah bahagia dengan istri pertama nya,tapi kenapa harus mengganggu kehidupan kami sih”ucap Safira terdengar pilu dan sedih.Karena pemikiran itulah safira seolah enggan memperbaiki hubungan nya dengan Arnam,meski begitu ia tetap membiarkan Arnam berhubungan dengan anaknya,karena anaknya layak merasakan sosok dari ayahnya,meski hanya Arnam dan Safira yang tahu jika Arnam adalah ayah kandung Sabrina,karena jelas Sabrina masih berfikir jika Arnam itu ayah gratis' nya.
__ADS_1