
Saat laki-laki itu sampai di hadapannya,Safira pun langsung menghentikan langkahnya itu.Rasanya ia ingin menghindar dari laki-laki itu,mungkin Safira akan memutar balik atau bersembunyi jika laki-laki itu tidak melihat atau menyadari kehadirannya.
“Aku dengar Sabrina sakit?,gimana kondisinya?”tanya Farrel dengan raut wajah khawatir dan cemas.Ia langsung melihat ke arah Sabrina yang berada di gendongan Safira.
“Sudah lebih mendingan”jawab Safira singkat dengan nada sedikit dingin dan acuh.
“Kenapa kamu nggak bilang langsung sama aku,kalau kamu bilang pasti akan aku antar kamu ke rumah sakit”ucap Farrel dengan kalimat yang terdengar perhatian.
Biasanya Farrel akan mendekati Safira secara perlahan dan tidak terlihat agresif,tapi itu dulu.Sedangkan sekarang ia seolah bersikap tidak lagi menyembunyikan tujuannya yang ingin dekat dengan Safira,bahkan ia ingin hubungan dirinya dengan Safira lebih dari sekedar pertemanan.Entah Farrel sadar atau tidak jika sikapnya telah membuat Safira tak nyaman,terlebih lagi Safira bisa saja telah sadar akan tujuannya itu.
“Nggak perlu,lagi pula kamu juga pasti sibuk”jawab Safira semakin terdengar sopan tapi masih dengan nada acuhnya.Ia benar-benar merasa kesal sekaligus risih dengan perhatian Farrel,itu terlihat sangat terang-terangan,hingga membuatnya sangat jengkel.
Saat Safira hendak melewati Farrel,tapi tiba-tiba Farrel langsung berdiri di depan Safira,seolah menghalangi Safira untuk pergi.
“Mingggir!”ucap Safira pelan dengan nada sedikit tegas.Jika saja ia sedang tidak membawa anaknya itu,sudah di pastikan ia akan menyuruh Farrel pergi dengan lebih tegas lagi,bila perlu ia akan berteriak marah karena kesal.Tapi sayangnya,kini ia sedang bersama dengan anaknya yang sedang terlelap di pelukannya.
“Aku nggak akan mingggir sebelum kamu setuju untuk di antar sama aku!”Farrel dengan tegas menjawab seolah tidak menerima bantahan.
Mendengar itu Safira pun hanya bungkam dengan mata yang sedikit melotot karena kesal.Andai saja Farrel tahu jika Safira benci dengan pemaksaan,pasti ia tidak akan berbuat hal yang akan membuat Safira semakin kesal dan tidak menyukai dirinya.
Bahkan Arnam pun tidak berani memaksa Safira jika Safira tidak ingin,tetapi jika hal itu demi kebaikan Safira Arnam mungkin akan melakukan itu,walau Safira akan marah dan kesal padanya nanti.
“Oke”jawab Safira singkat dengan nada yang terdengar pasrah dan menahan kesal.
Safira pun melangkah mengikuti Farrel menuju mobilnya dengan Marni yang juga ikut berjalan di belakangnya.Kebetulan hari ini Safira tidak memakai mobil miliknya,jadi ia tidak memiliki pilihan selain mengikuti kemauan Farrel.
...*****...
Sementara itu di tempat yang sedikit jauh dari sana,terlihat seseorang yang mengenakan pakaian hitam dengan di lengkapi topi dan penutup wajah yang berwarna senada dengan topi dan pakaian nya.Dan yang terlihat,hanya mata dan alisnya saja,karena dahinya tertutupi oleh topi.
Mata yang terlihat tajam dan sedikit runcing,dengan bola mata yang hitam pekat itu,ia terlihat menatap pemandangan di depannya itu dengan tatapan rumit,seolah orang yang melihatnya akan sulit untuk mengartikan tatapannya itu.
...*****...
Dan kini Safira yang telah berada di depan rumahnya itu,ia terlihat menyerahkan Sabrina pada Mirna untuk di bawa masuk.
“Kamu bisa masuk lebih dulu,ada sesuatu hal yang harus kami bicarakan di sini”perintah Safira yang langsung di angguki oleh Mirna.
Mirna pun langsung membawa Sabrina masuk untuk mengistirahatkan Sabrina di kamarnya.
“Kamu nggak ajak aku masuk?”ucap Farrel terdengar jail,biasanya emang sifat Farrel itu jahil,tapi walau jahil ia tidak pernah bersikap keterlaluan pada Safira.
Mendengar itu,Safira hanya diam dengan pandangan yang lurus menatap ke arah Farrel untuk waktu yang cukup lama.Dulu memang dia suka sekali dengan sikap jahil Farrel,yang seakan sangat menghiburnya,
tapi entah kenapa sekarang justru perkataan itu terdengar menyebalkan di telinga Safira.
__ADS_1
“Saya nggak terima tamu kalau sudah malam”alasan Safira terdengar klasik.
Mendengar itu,Farrel langsung menatap ke atas.Jelas terlihat jika langit masih cerah,dengan warna awan putih yang bercampur dengan cahaya orange,karena saat ini hari masih sore.Tapi dalam waktu kurang dari setengah jam,langit bisa dalam sekejap saja berubah menjadi gelap.
Meski tahu maksud perkataan Safira,Farrel berpura-pura tidak mengerti.Memang dari dulu sifat Safira pada Farrel sedikit dingin dan acuh,jadi ia sudah mulai terbiasa dengan alasan dan penolakan Safira.
“Bukankah ini masih sore,mungkin setidaknya ada waktu sebelum langit berubah menjadi gelap dan hari berubah menjadi malam”ungkap Farrel sambil menatap ke arah Safira.
“Cih,bukankah perkataan saya tadi sudah jelas.Nggak mungkin kan kamu nggak ngerti dengan maksud dari perkataan saya tadi?”Safira terdengar sinis saat mengatakan itu.
Mendengar nada sinis dari Safira,Farrel hanya diam.Ia tahu betul jika Safira kini sedang menyindir nya,tapi ia tidak marah akan hal itu.
Dan suasana pun menjadi hening untuk beberapa saat.
“Bisakah kita kembali seperti dulu,aku rasa hubungan kita dulu terlihat lebih akrab dan terasa lebih hangat dibandingkan saat ini”pinta Farrel dengan tatapan yang tiba-tiba memelas.Ia menatap ke arah Safira dengan tatapan penuh harap.Biasanya meski dulu Safira sering menolak kehadirannya dirinya,dan seringkali bersikap dingin dan acuh padanya,tapi entah mengapa sikap Safira kini justru jauh lebih tidak bersahabat,hingga ia merasa ada sesuatu hal yang salah.
Sebelum berbicara,Safira menghembuskan nafasnya dengan sedikit kasar.
“Apa bedanya sikap saya sekarang dengan dulu,bukankah sama saja?.Atau...itu hanya perasaan anda saja?,bisa saja sikap anda yang berubah yang membuat saya sedikit tak nyaman,pak Farrel??.”
ungkap Safira sambil menatap Farrel.Ia berkata dengan nada yang terasa lebih formal,seolah-olah mereka berdua adalah orang asing.Walau Safira jelas sering berkata sedikit formal pada Farrel,tapi kini jelas terdengar lebih formal lagi.
“Lagipula bagaiman bisa Anda meminta saya agar kita bersikap seperti dulu,sedangkan perasaan anda pada saya apa masih sama seperti dulu?”lanjut Safira menatap sinis.Ia berharap Farrel akan sadar dengan maksud perkataan nya itu,yang seakan menegaskan jika dirinya tak nyaman dengan sikap Farrel akhir-akhir ini.
Lagi-lagi Farrel diam,tapi kali ini ia tidak berkata apa-apa lagi.Seakan ia bingung harus menjawab seperti apa.Ia tidak bisa mengelak ucapan Safira,ia juga tidak bisa mengangguk tanda setuju,karena pasti Safira akan lebih menjauhinya.Entah mengapa Farrel berharap jika Safira tidak menyadari akan perasaannya itu,karena ia ingin jika Safira bisa menerima kehadiran dirinya,sebelum Safira tahu akan perasaannya.
Dan hal itu justru membuat Farrel merasa terluka,seolah-olah ucapan Safira dan kata-katanya seakan menegaskan bahwa ada jarak diantara mereka.Tapi,Farrel bukan orang yang lemah,ia adalah orang yang tidak gampang menyerah.Farrel yakin suatu hari nanti Safira akan menerimanya karena kegigihannya.
“Saya tahu,jika tanpa saya jelaskan anda pasti melihat pertemuan antara saya dan ayah anda.Jadi memang sebaiknya kita menjaga jarak demi kebaikan bersama”lanjut Safira lagi.
“Aku nggak peduli,aku akan perjuangin kamu,sekalipun ayah aku nggak setuju”Setelahnya,
Farrel langsung berbalik pergi meninggalkan Safira yang hanya diam
‘Dasar keras kepala’batin Safira seakan ingin menggerutu.
...*****...
Keesokan harinya.
Safira yang kini sudah siap dengan pakaian kerjanya itu,ia langsung keluar dari kamarnya.Saat mendengar suara bel berbunyi,Safira pun langsung menuju ke arah pintu.
“Mis Mona”panggil Safira sedikit terkejut.
“Bu Safira”sapa Mona yang merupakan guru les Inggris pribadi yang biasa mengajar Sabrina.Dan kadang juga mengajarkan Sabrina membaca dan menulis.
__ADS_1
Safira sengaja tidak menyekolahkan anaknya karena belum genap berusia empat tahun,mungkin beberapa
minggu ke depan usia Sabrina baru empat tahun.Padahal bisa saja Sabrina sekolah di taman kanak-kanak dengan fasilitas bagus,karena jujur saja Sabrina anak yang sangat cerdas.Kepintarannya melebihi anak seusianya.Tapi entah kenapa Safira tidak tega,ia hanya khawatir pada anaknya itu.
Seandainya bukan karena keinginan Sabrina yang terus meminta untuk belajar,maka Safira mungkin tidak akan menyediakan guru les pribadi.Tapi ini benar-benar atas permintaan anaknya.Jadi Safira tidak bisa menolak itu,sekalipun ia harus membayar guru les itu sedikit lebih mahal,ia rela karena kerja kerasnya selama ini hanya untuk anaknya.
Walau begitu Safira tetap memantau perkembangan anaknya itu,ia meminta guru les Inggris untuk mengajarkan kosa kata dari kata-kata yang mudah dan paling mendasar terlebih dulu.
“Ada apa mis Mona kemari?,bukankah jadwal les Sabrina itu siang?”tanya Safira heran,memang biasanya jadwal belajar Sabrina itu siang hari sekitar jam sembilan pagi.Dan ini masih pukul setengah tujuh kurang,dan kebetulan ia akan berangkat ke perusahaan jam tujuh pas,karena jarak rumahnya dengan perusahaan cukup dekat.
“Sebenernya siang nanti saya akan keluar kota karena ada acara.Jadi saya minta maaf jika jadwal mengajarnya untuk hari ini di ganti pagi,apakah tidak masalah?”ucap Mona terdengar merasa bersalah.
“Baiklah tidak masalah,kalau begitu silahkan masuk”ajak Safira ramah.
“Sekali lagi saya benar-benar minta maaf karena ini mendadak”ucap Mona penuh rasa bersalah.
“Ya tidak apa-apa.Kira-kira berapa lama anda akan keluar kota?”tanya Safira masih dengan nada ramahnya,ia mempersilakan Mona untuk duduk.
“Sekitar dua hari,kebetulan jadwal mengajar saya selanjutnya tiga hari lagi”jelas Mona sambil tersenyum sopan.
Safira hanya mengangguk tanda mengerti saat mendengar itu.
“Kalau begitu saya panggilkan anak saya dulu”ucap Safira yang langsung di jawab anggukan.
...*****...
Sesampainya di kamar,Safira berusaha untuk membangunkan anaknya,tapi karena memang Sabrina sulit untuk bangun saat pagi hari,maka dengan kesabaran ekstra Safira pun berusaha membangunkan anaknya.
“Sayang bangun,ada Mis Mona”ucap Safira menepuk pipi anaknya dengan lembut.
Mendengar itu,Sabrina pun terpaksa membuka matanya.
“Sehalusnya mis Mona datang siang mamah...,tapi kenapa mamah bilang ada mis Mona?.Mamah aneh-aneh aja”gumam Sabrina yang menganggap ucapan Safira hanya sebuah candaan agar ia terbangun.Sambil tersenyum,Sabrina pun kembali memejamkan matanya karena mengantuk.Ia membelakangi Safira dengan memeluk bantal guling erat-erat dan melanjutkan acara tidurnya itu.
Sikap Sabrina benar-benar terlihat seperti seorang anak remaja yang tidak percaya akan candaan temannya.
Melihat itu Safira merasa gemas sendiri,rasanya ia kesal sekali melihat tingkah anaknya itu,itu benar-benar terlihat mirip dengan adiknya Rara yang sangat sulit saat di bangunkan.
‘Apa jangan-jangan karena aku sering kesal pada sikap Rara,jadi Sabrina menurunkan sikapnya itu dari Rara?.Sial!,jangan sampai itu terjadi!’pikir Safira yang tiba-tiba teringat akan sikap Rara yang menurutnya sangat menjengkelkan.
“Sabrina!”Safira terus saja berusaha membangunkan Sabrina walau sering Sabrina abaikan karena rasa kantuknya itu.
Note: Anggap aja ini Visual Farrel ya
__ADS_1
*****
Emmm... Kira-kira yang tadi merhatiin Safira dari jauh dengan tatapan tajam itu siapa ya??🤔🤔