
Saat Arnam telah pulang dari rumah Safira,ia yang telah berada di dalam mansion miliknya.Kini Arnam langsung memasuki kamarnya.Tiba-tiba saat Arnam sedang duduk di sofa yang ada di kamarnya,ia mendengar pintu kamarnya di ketuk beberapa kali dari arah luar
Tok tok tok...
Arnam hanya diam seakan menunggu orang yang berada di luar mengatakan sesuatu.
“Sayang ini ibu,kamu belum makan malam kan?,kalau belum ayo kita makan sama-sama,kasihan Rena udah nungguin kamu dari tadi”ucap Rima dengan suara yang sedikit berteriak agar Arnam dapat mendengar nya.
Mendengar itu,Arnam bangkit dari duduknya,ia berjalan menuju pintu kamarnya dengan langkah tegasnya
“Saya sudah makan di luar.Jadi ibu bisa makan dengan Rena langsung”ucap Arnam saat ia telah membuka pintu kamarnya.
“Kamu sudah makan?,dimana?”tanya Rima menyelidik,Arnam jarang sekali makan di luar karena iya memang pemilih dalam makan.
Melihat anaknya yang hendak menjawab,Rima langsung menyela dengan emosi saat tiba-tiba ia berfikir jika Arnam mungkin saja makan di rumah Safira.
“Kamu?!,kamu beneran sudah makan di luar?.Kamu ini gimana sih Arnam?,kamu kan sudah punya istri, jadi tolonglah untuk lebih perhatian lagi kepada istri kamu.Dan kamu juga kamu harus sering-sering ada waktu untuk istri kamu,jangan dengan wanita yang tidak ada hubungannya sama kamu”ucap Rima yang berkata dengan nada tinggi.Jika sudah mengenai Safira,Rima gampang sekali emosi.
“Dia bukan orang lain,dan saya berniat untuk menikahinya”ucap Arnam tanpa menjawab ucapan ibunya itu.Ia malas berdebat dengan sang ibu,dan memilih mengatakan keinginan nya itu.
Sontak saja Rima bertambah semakin emosi saat mendengar itu.
“Ibu nggak peduli”ucap Rima cuek.Lalu Rima hanya diam sambil menatap ke arah Arnam dengan tatapan tajam.
“Bukan nya ibu sudah setuju dengan hal ini?”Arnam berkata seakan mengingatkan akan janji ibunya pada dirinya.
Bukankah memang Rima yang memberikan syarat agar Arnam menikahi Rena,lalu setelah itu ia akan di izinkan untuk menikahi Safira.Lalu kenapa ibu nya berubah pikiran???
“Pokoknya ibu nggak peduli!,lagipula ibu nggak akan mau hadir di acara pernikahan kamu dengan Safira nanti”jawab Rima mutlak dengan nada acuhnya.
“Lalu untuk apa ibu mengizinkan kami menikah waktu itu?”tanya Arnam datar,ia sedikit marah pada ibunya,tapi tetap ia tahan.
Arnam selalu ingat jika wanita yang ada di hadapannya ini adalah ibu nya!!
“Karena ibu melakukan itu agar kamu mau menikah dengan Rena.Ibu juga hanya akan menganggap Rena sebagai menantu ibu,tidak dengan Safira”ucap Rima dengan nada tingginya.
“Ibu!”ucap Arnam dengan amarah yang tertahan.
“Kenapa?,jika memang kamu berubah pikiran dan tidak akan menikahi Safira itu bagus.Karena dengan begitu ibu tidak perlu merasa malu punya menantu seperti Safira”ungkap Rima dengan nada cueknya.
Amarah Arnam langsung naik begitu mendengar ucapan ibu nya,giginya nya saling beradu karena sedang berusaha menahan emosi nya.
“Saya butuh waktu sendiri”Dengan dingin Arnam pun langsung menutup pintu kamarnya.Meski pun Arnam sangat marah akan ucapan ibunya itu.Ia tetap berusaha untuk tidak melampiaskan amarahnya itu kepada ibunya.
Arnam berjalan menuju kamar mandi.Ia akan mengguyur kepalanya dengan air dingin,berharap agar kepalanya menjadi dingin dan emosinya mereda,hingga ia dapat berfikir dengan jernih kembali.
Sedangkan Rima yang berada di luar kamar Arnam.ia pun langsung berjalan pergi begitu saja.
__ADS_1
...*****...
Saat ini Safira yang telah berada di kamarnya.Ia tengah berbaring sambil memeluk bantal guling miliknya dengan erat,ia membalikan tubuhnya ke arah kanan sambil tersenyum,lalu merubah wajahnya menjadi biasa saja,berusaha agar terlihat tak terlalu senang walau hatinya tengah berbunga-bunga.
Merasa tak nyaman Safira kembali berbalik ke arah kiri,tanpa sadar ia tersenyum lagi karena merasa senang,pelukannya pun semakin ia eratkan seolah merasa gemas akan sesuatu.Hal itu terjadi berulang-ulang hingga Safira merasa tak bisa tidur.
“Kayaknya aku nggak bisa tidur deh,aku kepikiran terus sama ucapan Arnam yang ingin ngelamar aku”ucap Safira pada dirinya sendiri dengan sedikit menggerutu,ia juga merasa sedikit malu saat ini entah karena apa.
Merasa rasa ngantuk nya hilang entah kemana,Safira pun bangkit dari duduknya dan keluar dari kamarnya.
Kaki nya mulai melangkah entah kemana,dan begitu berada di ruang makan langkahnya.Safira menggeser salah satu kursi kosong dan duduk di kursi tersebut.
“Duh kebetulan banget aku lagi ingin ngemil,dan untung sekarang ada cemilan yang masih utuh”ucap Safira pada dirinya sendiri.Entah itu cemilan milik siapa,Safira merasa bodoamat.
Padahal jika itu cemilan milik adiknya,bisa saja Rara akan marah-marah tak jelas,lalu merengek untuk minta di ganti.Dan tak tanggung-tanggung Rara jika sudah minta ganti rugi pada sang kakak,bisa sampai sepuluh kali lipat.
Tanpa basa-basi Safira pun langsung memakan camilan itu.
“Kok enak sih camilan nya?,padahal aku sering makan camilan ini tapi rasanya tidak seenak saat ini?”ucap Safira sambil menghentikan sejenak aktivitasnya yang sedang mengunyah.
Apa mungkin suasana hati yang membaik bisa merubah nafsu makan menjadi lebih baik?
“Ah bodoamat lah!,makan ya tinggal makan aja sih,kenapa pakai mikir segala!,dasar Safira”gerutu Safira kesal.
Safira kembali memakan camilannya dengan lahap.
“Ini pasti Rara yang lagi nonton tv,dasar anak itu susah banget sih kalau di omongin!!”kesal Safira dengan nada menggerutu.
“Kamu nggak dengar apa yang kakak katakan ke kamu waktu itu?”tanya Safira kepada Rara saat ia telah sampai di ruang tamu.Tangannya masih memegang camilan yang sengaja ia bawa.
Menoleh pelan,Rara cengengesan saat kakaknya sedang menatap ke arahnya dengan tatapan tajam.
“He...he..,maaf kak.Lagian siapa suruh acara tv nya pada seru-seru,jadi Rara nggak bisa dong lewatin acara tv yang lagi seru ini begitu saja”ucap Rara cengengesan,tangannya menggaruk rambutnya yang tak gatal
“Alasan terus!,pakai tv segala di salahin”Safira mencebik.Ia menghampiri adiknya dan duduk di samping sang adik
“Bawa apa tuh kak,bagi dong”ucap Rara sambil mencomot cemilan yang Safira bawa.
“Dih dasar!,kemarin kamu suruh kakak minta izin sebelum ngambil cemilan!,tau nya kamu juga sama,langsung comot sebelum diizinkan”ucap Safira dengan masih dengan nada menggerutu nya.
“He..he..,oh ya kak,kakak tahu gak kenapa kak Arnam datang ke sini?”tanya Rara penasaran.
“Tau lah,dia kan datang ke sini karena berencana untuk lamar kakak”ucap Safira berusaha cuek.Duh, sebenarnya Safira senang banget saat memikirkan hal itu,tapi ia tidak ingin terlihat terlalu senang hingga membuat dirinya menjadi bahan ledekan sang adik.
Rara yang awalnya sedang fokus menatap televisi di hadapannya itu,ia pun langsung menoleh begitu mendengar kata-kata Safira.
“Beneran kak?”tanya Rara bengong tak percaya
__ADS_1
“Iya,memangnya kenapa?,lagian kamu mukanya biasa aja kali,nggak usah kayak gitu!!.Kayak muka kamu itu ngomong,kalau ada yang mau nikahin kakak itu sebuah keajaiban.Sialan kamu emang !!!”dumel Safira mendengklik tak suka ke arah Rara.
Rara yang mendengar itu,ia seolah mengabaikan ucapan kakaknya itu.Rara pun sedikit bergeser agar lebih dekat dengan kakaknya.Sedangkan Safira hanya diam,sambil menatap heran ke arah Rara.
‘Kenapa nih anak?’ pikir Safira masih dengan tampang wajah yang masih terlihat kesal.
“Kok bisa sih kak?”tanya Rara sambil menatap ke arah Safira.
Tuh kan benar!,kata-kata adiknya itu seolah merujuk ke hal yang membuat Safira kesal.Memang se-luar biasa itu jika ada yang mau menikahinya?,memang setidak laku itu Safira di mata Rara,memikirkan itu Safira jadi kesal bukan main.
“Kok kamu ngomongnya gitu sih?,kamu kayak nggak yakin kalau mas Arnam ingin lamar kakak!”ucap Safira dengan nada tak suka.Safira merasa agak geli saat memanggil Arnam dengan sebutan ‘Mas Arnam’,tapi ayahnya mengatakan jika ia harus membiasakan hal itu karena sebentar lagi ia akan menikah dengan Arnam.
“Ha..ha..,jangan marah dong kak,Rara kan cuman bercanda doang”ucap Rara santai tanpa beban.
Safira yang mendengar itu,ia pun langsung menggerutu tak jelas.
“Eh tunggu kak!,ini cemilan yang ada di ruang tamu bukan ya?,yang pake toples warna biru”ucap Rara yang langsung membuat Safira yang sedang menggerutu menjadi terdiam.
“Bu-bukan,kamu salah kali”jawab Safira sambil menggaruk tengkuknya,ia tak yakin jika itu memang bukan milik Rara.
“Tapi kok toplesnya sama kak,warna biru.Terus isi cemilan nya sama”ucap Rara memperhatikan toples yang telah di letakan di bawah lantai.
Merasa tak mendapat respon dari sang kakak,Rara menoleh.
Kakak nya kini tidak ada di sana,Safira telah kabur dan detik berikutnya terdengar suara pintu kamar di kunci.
“Kakak!!”teriak Rara nyaring.Ia bangkit dan langsung menggedor-gedor pintu kakaknya.
“Ganti cemilan Rara!,itu harganya setara dengan uang jajan Rara.Mana Rara beli nya pakai uang jajan Rara langsung lagi!!”Rara berkata sambil menggedor-gedor pintu kamar kakaknya dengan kesal.
“Iya iya iya”Safira berkata dari dalam kamar dengan nafas tersengal-sengal.Bisa habis kena cakar dia jika masih ada di sana.
“Pokoknya harus sepuluh kali lipat kakak gantinya!,nggak mau tau pokok nya harus!!”ucap Rara kekeh.
“Gila ya kamu!!!,kakak makan cuman beberapa doang loh!!”Safira merasa tak terima harus mengganti sebanyak itu.
“Bodo amat,harus pokoknya nya!!”ucap Rara sambil meninggalkan kamar Safira.
...****...
Sedikit penjelasan...
Arnam itu tipe anak yang sangat menyayangi ibu nya,jadi se-marah apapun Arnam ia tidak akan pernah melampiaskan amarahnya pada ibu nya langsung.
Walau begitu,Arnam juga keras kepala dan akan tetap kekeh pada keinginan nya.Jika ia ingin itu pasti akan ia lakukan segala cara untuk bisa dapatkan hal itu.
itu aja sih...
__ADS_1
Jangan lupa like and vote nya guys😘