
Satu bulan telah berlalu,hubungan Arnam dan anaknya terlihat makin dekat dan akrab,bahkan Sabrina sangat menyukai Arnam,ia tidak pernah berfikir tentang ayah kandungnya lagi,baginya cukup Arnam yang menjadi ayahnya.
Ya walau memang benar Arnam ayahnya,tapi sampai detik ini pun Sabrina tidak mengetahui kebenaran itu.
Sedangkan hubungan Safira dan Arnam,entahlah kadang Safira bersikap seolah membutuhkan Arnam,kemudian ia akan bersikap seakan sangat tidak suka jika Arnam berdekatan dengannya,dan itu sudah terjadi dari 2 Minggu yang lalu.
Tak ayal kadang Arnam harus datang tengah malam hanya untuk memenuhi keinginan istrinya,tapi begitu sampai ia akan di usir dan tidak diizinkan menginap.
Aneh?.Tentu.Jika saja Arnam tidak punya kesabaran ekstra,mungkin saja ia tidak akan menuruti keinginan Safira meskipun hasil akhirnya akan sama.
Seperti halnya hari ini,Arnam kembali datang ke rumah Safira dengan membawa martabak manis yang Safira ingin kan,begitu datang justru Safira malah marah dan menatapnya tajam.
“Kenapa begitu lama?”tanya Safira pada Arnam.
Jelas lama,karena Arnam harus berdandan dulu layaknya mata-mata jika ia ingin keluar rumah,belum lagi ia harus mengantri demi mendapatkan martabak manis di tempat langganan Safira
“Apakah aku tidak ada apa-apa nya dengan pekerjaan kamu”ucap Safira nada suaranya terdengar seolah ia cemburu dengan pekerjaan Arnam.
Padahal jelas-jelas Arnam lebih memprioritaskan dirinya,buktinya di tengah acara meeting perusahaan,ia mendadak menghentikan meeting itu dan langsung pergi demi memenuhi permintaan Safira.
“A..”belum selesai Arnam menjelaskan Safira langsung menyelanya.
“Apakah aku tidak berharga lagi di mata kamu karena aku bukan istri kamu lagi”safira bicara tak jelas.
“Kapan aku menceraikan kamu?”nada suara Arnam kentara ia merasa marah dan tak senang dengan ucapan Safira.
Tiba-tiba Safira merasa tercekat dengan pertanyaan Arnam,ia lupa jika meski mereka berpisah bertahun-tahun,Arnam sama sekali tidak menceraikan nya,ia tidak lebih dari istri yang kabur dari suaminya.
“Mama”panggil Sabrina di tengah suasana tegang itu.
“Papa”sabrina langsung memeluk Arnam.
Melihat itu Arnam hanya bisa meredakan emosi nya,ia menghela nafas.Arnam berjongkok demi mensejajarkan tingginya dengan sang anak.
__ADS_1
Sementara Sabrina yang baru bangun tidur,ia terlihat mengusap matanya dengan satu tangan memeluk leher Arnam.
“Kapan papa datang?”tanya Sabrina terlihat masih mengantuk.
“Barusan,papa bawa martabak untuk mama”ucap Arnam kini terlihat tidak canggung lagi,nadanya terdengar hangat dan lembut.
“Martabak?,Ina mau papa”ucap Sabrina langsung membuka matanya lebar-lebar,ia terlihat senang.
“Padahal papa lihat kamu sangat mengantuk,kenapa tidak tidur lagi,bukankah ini sudah larut malam”tanya Arnam yang langsung menatap anaknya dengan tatapan sayang nya.
“Ina mau maltabak papa”jelas nya membuat Arnam terlihat gemas dengan tingkah nya itu.
“Akan papa belikan lagi besok jika memang kamu menginginkan nya”Arnam mengusap lembut rambut hitam legam anaknya.
“Tidak mau,Ina mau nya sekalang,papa tahu sekalang”ucap Sabrina menekan kata sekarang' yang terdengar cadel tapi lucu.
“Baiklah”Arnam hanya tersenyum lembut walau terkesan sedikit datar.
Tanpa menunggu ajakan dari Safira Arnam langsung masuk dengan menggendong Sabrina menggunakan satu tangan,sementara tangan satu nya lagi ia gunakan untuk memegang martabak yang ia bawa.
Melihat itu Safira hanya bisa menghela nafas,ia sebenarnya masih ingin mencari masalah dengan Arnam,tapi saat sadar jika keadaan nya tadi tidak dalam suasana yang baik,dan justru anaknya lah yang menjadi penyelamat di suasana tegang tadi.
Melihat anaknya sedang memakan martabak dengan lahap,ia hanya bisa berdiri,sedikit masih canggung karena sadar akan ucapan nya tadi yang telah menyinggung Arnam.
“Duduklah”perintah Arnam saat menyadari kedatangan Safira.
Entah setan apa yang merasuki Safira,si gadis keras kepala atau seharusnya di sebut si wanita keras kepala,karena jelas ia sudah tidak gadis lagi,buktinya dia sudah memiliki anak.Salahkan Saja wajahnya yang seolah membuatnya terlihat masih gadis.
Safira duduk di samping Arnam dengan sedikit gugup,sejak kapan Safira punya rasa bersalah?,biasanya ia tipe orang yang tidak mau kalah dari Arnam sekalipun dia yang salah,anggap saja Safira egois,tapi emang itu sifatnya saat bersama Arnam.
“Makan!!”perintah Arnam pada Safira sambil menyodorkan martabak yang telah ia pindah kan ke piring.
“E..em...ok”jawab Safira patuh,sebenarnya Safira tidak menginginkan itu,ia hanya meminta Arnam untuk membawa martabak karena entah kenapa ia ingin mengerjai Arnam,lebih tepatnya membuat Arnam frustasi karena kesal.
__ADS_1
“Mah,ini sangat enak,makanlah!!”ucap Sabrina terlihat antusias dan terus memakan martabak itu,sedangkan Safira hanya tersenyum canggung.
“Baiklah sayang”akhirnya Safira pun memakan martabak itu dengan tak berselera.
Baru mencicipi beberapa suapan,Safira sudah menghentikan kunyahan nya itu.
“Loh kok berhenti?”tanya Arnam,ia sedikit melirik Safira sejenak,lalu kembali fokus pada anaknya dan mengelap mulut anaknya dengan telaten.
“Ya mama,kenapa tidak mama makan martabak nya,itu sangat enak”Tanpa berhenti,Sabrina terus saja memakan martabak itu,dan Arnam membiarkan itu meski wajah anaknya kini kembali belepotan.
Dengan tersenyum yang terlihat di paksakan,Safira sedikit mendorong martabak itu.
“Mama sudah sangat kenyang sayang,mama takut jika terlalu kenyang perut mama akan meledak”ucap Safira beralasan,meski ia masih muat menampung makanan,tapi ia benar-benar tidak ingin memakan martabak.
“Bukan nya tadi kamu bilang sangat menginginkan martabak?”Arnam bertanya dengan nada suara yang terdengar curiga,membuat Safira sedikit gugup.
Apakah Arnam tahu jika ia hanya berbohong?,memikirkan itu Safira tiba-tiba menelan ludahnya sedikit gugup.Jangan salah,Safira jelas punya sedikit rasa takut,sama seperti nya yang tidak suka dibohongi,Arnam pun seperti itu.
“Bukan,aku hanya kenyang saja,mungkin hanya dengan melihat Sabrina memakan makanan nya dengan lahap saja sudah membuatku kekenyangan”jawab Safira berusaha tenang.
“Baiklah”jawab Arnam membuat Safira sedikit menghela nafas lega.
“Jika butuh sesuatu katakan saja padaku,atau mungkin kamu ingin aku datang,katakan saja,tidak perlu berbohong ataupun beralasan”ucap Arnam lagi,perkataan itu sontak membuat Safira sedikit tersinggung,jelas-jelas ia merasa hanya ingin mengerjai Arnam,tapi entahlah kenapa bisa ia merasa tersinggung dengan perkataan itu.
“Jangan terlalu percaya diri,aku tidak pernah berfikir jika aku ingin bertemu denganmu”ucap Safira sinis terdengar tersinggung.
“Apakah tadi aku bertanya?,kenapa kamu marah?, jelas-jelas aku hanya berkata jika' dan itu berarti jika kamu sewaktu-waktu ingin bertemu denganku maka tinggal katakan saja.Lalu mengapa kamu tersinggung?,atau memang kamu merasa?”ucap Arnam yang sontak membuat Safira tertohok,ia merasa malu sendiri dengan pikirannya.
Harus diingatkan jika Safira memang tipe perempuan bergengsi tinggi,untung imut plus Arnam sayang.Kalau Arnam tidak sayang mungkin sudah Arnam tinggalkan dan cari wanita lain.
“Siapa yang merasa,aku tidak merasa sama sekali tuh”safira malu dengan ucapannya tadi.
“Berhenti berbohong,aku tahu itu”ucap Arnam yang membuat Safira mati kutu tanpa bisa membantah.
__ADS_1