
Beberapa hari kemudian.
Seperti yang telah di rencanakan oleh Arnam,Toni telah menyiapkan semua yang Safira perlukan.
Hingga kini Safira memiliki dokter pribadi untuknya.
“Sial!,aku sudah mulai merasa sangat bosan terus menerus di rumah”ungkap Safira dengan nada yang terus menggerutu tak suka.
Triling triling triling...
Tiba-tiba ponsel Safira berbunyi dengan keras.Safira sontak langsung melihat siapa yang meneleponnya.
“Hallo”ucap Safira saat sambungan telepon telah tersambung.
“Kak...”panggil Rara yang ternyata adalah orang yang menelepon Safira.
“Ada apa Ra?”tanya Safira langsung saat mendengar nada suara cemas dari Rara.
“A,ayah sakit kak,dia ingin bertemu sama kakak”ungkap Rara memberi tahu.Ia berkata dengan nada yang terdengar sedikit ragu dan terbata-bata.
“Sejak kapan?,kenapa baru memberitahunya sekarang?”tanya Safira dengan nada yang berubah menjadi khawatir.
“Ayah jatuh sakit semenjak melihat berita tentang kak Arnam”ucap Rara yang sepertinya tidak bisa terlalu lama membenci Arnam.Karena Rara pernah bertemu Arnam dan mendapatkan permintaan maaf dari Arnam beberapa kali.Arnam bahkan beberapa kali mencoba berkunjung dan meminta maaf langsung,hanya saja ayahnya dengan tegas menolak itu.
“Itu kan sudah lumayan lama,tapi kenapa kamu baru memberi tahu kakaknya sekarang?!”terdengar Safira merasa sedikit kesal akan hal itu.
“Pertama-tama kakak harus tenang dulu.Ayah hanya sakit demam biasa,mungkin karena ia terlalu khawatir pada kakak,itu saja kok”ungkap Rara berusaha menjelaskan.
“Ya tapi kan tetap aja,kakak ini anaknya ayah,kakak tentu khawatir dengan keadaan ayah,memangnya kalian gak anggap kakak keluarga lagi gitu?”ucap Safira yang terdengar merasa tersinggung,seolah ia merasa terabaikan.
“Maaf kak,kami benar-benar gak berfikir seperti itu.Kami hanya khawatir dengan keadaan kakak,
karena kami tahu kakak juga sedang ingin sendiri”
ucap Rara yang sudah paham akan sifat kakaknya itu.
“Ya sudah,kakak akan langsung ke sana.Kalau gitu kakak tutup dulu teleponnya”ucap Safira mengakhiri sambungan telepon itu.
Safira bangkit dari duduknya,ia pun langsung mengganti baju dan mulai merapikan barang-barang yang ia butuhkan.
Sepertinya dokter pribadi miliknya masih berada di luar kamar,dan belum tahu tentang rencananya ini.
__ADS_1
“Mau kemana?”tanya Arnam saat melihat Safira hendak keluar kamar.
Kebetulan saat itu Arnam baru saja menyelesaikan urusannya,ia sengaja langsung pulang ke rumah untuk mengecek keadaan Safira.
“Aku ada urusan penting”jawab Safira sedikit acuh.
“Urusan apa?,bukankah kondisi kamu sekarang sangat rentan dan mudah kelelahan.Sebaiknya kamu istirahat di rumah saja!”perintah Arnam terdengar overprotektif.
Begitu mendengar ucapan Arnam,Safira langsung memandang ke arah Arnam dengan tatapan rumit.
“Memang kenapa jika aku hendak keluar?,toh aku tidak sedang merepotkan kamu”cuek Safira dengan nada yang terdengar acuh
Meskipun Arnam telah berusaha untuk menjelaskan pada Safira,tapi karena emosi Safira yang masih tinggi,hal itu membuatnya merasa enggan untuk mendengar penjelasan dari Arnam.
“Kamu jangan egois,karena yang harus kamu perhatikan bukan cuman kesehatan kamu saja”tegas Arnam yang seolah mengatakan jika Safira perlu memperhatikan janin yang di kandungnya.
Ya! setelah di periksa lebih lanjut Safira memang sedang hamil,itu pun usia kandungannya masih sangat muda dan sedikit rentan terhadap keguguran.
“Aku bisa jaga diri aku dengan baik,dan kamu jangan berkata seolah aku itu tidak bisa hidup tanpa kamu!”dengus Safira dengan nada yang terdengar kesal karena di remehkan.
“Bukan begitu,apa kamu tidak ingat tentang kejadian waktu itu saat kamu hampir jatuh”ungkap Arnam mengingatkan akan keteledoran Safira yang hampir jatuh saat hendak ke kamar mandi,tapi untungnya Arnam datang dan menyelamatkan Safira tepat waktu.
Safira yang mulai ingat akan kejadian itu,ia mulai sadar akan kesalahannya waktu itu.“Itu kan karena aku sempat teledor,tapi sekarang aku akan lebih berhati-hati lagi”jawab Safira yakin.
Akhir-akhir ini Arnam akan bersikap tegas jika hal itu berhubungan dengan kesehatan dan keselamatan Safira dan anaknya,maka jika Arnam sudah berubah tegas begini,Safira pun tidak bisa melawan,karena ia tahu jika Arnam sangat peduli pada keselamatan janinnya.
“Aku ingin berkunjung ke rumah ayah,dia sedang sakit”akhirnya Safira terpaksa jujur,walau sebenarnya ia sedikit enggan untuk mengatakan itu.
Arnam pun mulai mengerti saat mendengar perkataan Safira,tentu ia ikut khawatir dan cemas,tapi meski begitu wajahnya masih terlihat tenang,hingga membuat Safira sedikit salah paham.
“Kenapa hanya diam?,kalau kamu gak ingin mendengar berita itu,aku juga merasa gak masalah”ucap Safira kembali acuh.
“Baiklah,biar aku yang antar kamu”putus Arnam pada akhirnya.Ia sendiri berniat untuk mengantar Safira hingga sampai rumahnya,dengan sedikit enggan,Safira pun mengangguk setuju.
...*****...
Tak lama mobil Arnam pun berhenti tepat di pinggir jalan.
“Aku akan ke rumah ayah sendiri saja”ungkap Safira yang hendak turun dari dalam mobil.
Karena mobil tidak bisa masuk ke jalan kecil menuju rumah Safira,maka Arnam harus memarkirkan mobil di tempat lain.
__ADS_1
“Tidak!,tunggu aku sebentar,aku akan memarkirkan mobil ini di tempat yang dekat!”Ia berkata seakan masih khawatir pada keselamatan Safira dan anaknya.
‘Lagi-lagi berkata dengan tegas’pikir Safira yang merasa sedikit kesal dengan ketegasan Arnam.
“Baiklah,tapi jangan lama-lama,karena jika kamu lama,lebih baik aku masuk lebih dulu”ancam Safira yang berkata sambil turun dari dalam mobil.
Safira pun hanya diam menunggu Arnam datang,beberapa menit kemudian Arnam pun akhirnya datang.
“Ayo!”ajak Safira saat melihat Arnam datang,ia langsung berjalan terlebih dahulu dengan Arnam yang mengikutinya dari belakang.
...*****...
Saat telah sampai di depan rumah,belum sempat Safira mengetuk pintu,pintu itu sudah lebih dulu terbuka lebar.
“Kakak”ucap Rara yang langsung menghamburkan pelukannya ke arah Safira.
“Manja banget sih kamu”sindir Safira terdengar meledek Rara,tapi meski begitu ia tetap membalas pelukan adiknya itu.
“Gimana keadaan ayah sekarang?”tanya Safira saat melepaskan pelukannya itu.
“Ayah sudah lumayan mendingan kok,tapi mungkin saat ini ayah ingin sekali bertemu dengan kakak”jawab Rara yang langsung menatap ke arah Safira.
“Ya sudah ayo kita masuk!”ajak Safira pada adiknya.
“Tunggu dulu kak!”
Langkah Safira pun terhenti,mendengar suara adiknya.
“Kenapa?”
“Kenapa ada kak Arnam?”tanya Rara dengan nada berbisik,ia sedikit melirik matanya ke arah Arnam yang berada di belakang Safira.
“Biarkan saja,nggak usah di pedulikan.Ayo kita masuk!”jawab Safira sedikit acuh.
Rara yang mendengar hal itu,ia pun mengangguk setuju dan mulai menuruti perkataan kakaknya itu.
Sedangkan Arnam yang melihat mereka masuk,ia pun memilih untuk mengikuti Safira dari belakang.
Bukan Arnam tak tahu malu,ia hanya ingin melindungi Safira,sekaligus ingin menjelaskan situasi nya pada Hadi.
*****
__ADS_1
Maaf baru bisa up sekarang.