
Di sebuah kedai makan.
Safira sengaja meminta Salma untuk mengantarnya ke sebuah kedai,walau sebenarnya Salma ingin makan di sebuah restoran yang terasa lebih nyaman,tapi ia tidak bisa menolak permintaan Safira.
“Kenapa harus di sini?,bukankah biasanya kita akan makan di restoran”ucap Salma heran,restoran yang di maksud nya adalah restoran langganan nya.
“Aku udah laper banget,lagipula kita kan sering makan di sini waktu dulu”ucap Safira terdengar mengingatkan.Memang dulu mereka sering makan di tempat itu.
“Arnam tahu kamu makan di kedai?.Maksud aku, mungkin dia akan marah,ya secara! pasti dia ingin memberikan yang terbaik untuk anak yang ada di dalam kandungan kamu itu,kan?”
“Dia nggak tahu,dan kamu juga nggak perlu kasih tahu dia.Ingat!,ini rahasian kita berdua”ucap Safira seolah sedang mengancam Salma.
Sebenarnya Safira juga merasa sedikit rindu akan masa lalunya.Biasanya sepulang sekolah ia akan mampir ke sebuah kedai makan,tapi semenjak kerja ia sering makan di restoran yang dekat dengan kantornya.
“Tapi kan ...”Salma hendak protes,tapi Safira Langsung menyelanya.
“Salma!,kamu nggak tahu ya seberapa keras usaha aku untuk makan di kedai ini.Kamu juga pasti gak tahu sebesar apa usaha aku untuk bisa datang ke sini.Aku sampai susah payah bujuk Amara yang super overprotektif.Belum lagi dia juga harus bujuk Arnam,anggap saja ini upah dari kerja keras aku itu.Lagipula Arnam nggak akan tahu jika kamu tidak memberitahu”ucap Safira panjang lebar,ia menceritakan usaha apa saja yang harus ia lakukan agar bisa makan di tempat kedai itu.
Safira Sebenarnya sedikit bosan dengan makanan rumah yang itu-itu saja,apalagi ia harus sering makan sayur dibandingkan makan pedas.Kalau untuk di restoran ia juga sering,karena beberapa kali Arnam akan mengajak nya makan di restoran saat memiliki waktu luang.
Mendengar nada suara Safira yang terdengar tegas karena kesal,Salma pun hanya bisa diam karena takut Safira akan ngambek.
“Di pikir-pikir apakah aku itu kambing ya!,secara aku di suruh untuk sering-sering makan sayur?”keluh Safira dengan nada kesalnya.
“Ingat Fi,kambing itu makan rumput,sedangkan kamu itu makan sayur yang sehat dan penuh akan manfaat,jadi jangan sama kan kamu sama kambing,
ngerti!”kini giliran Salma yang merasa kesal,ia tidak terima jika Safira menyamakan dirinya sendiri dengan hewan.
“Iya iya maaf”ucap Safira yang langsung menyadari kesalahannya itu.
“Tapi kamu janjikan nggak akan ngomong apa-apa sama Arnam,awas kalau sampai ngadu!”ungkap Safira diakhiri kalimat yang terdengar seperti ancaman.
“Iya iya aku nggak akan ngadu.Lagipula kami nggak sedekat itu”jawab Salma.Mungkin karena masalah Safira waktu itu,Salma yang tadi nya memang tidak terlalu dekat dengan Arnam,kini semakin tidak dekat.
Mendengar hal itu,Safira pun melanjutkan acara makanannya yang sempat tertunda.
...*****...
Selesai Makan
“Kamu gak akan kenapa-napa kan Fi?,soalnya kamu tadi makan pedas banget,aku benar-benar khawatir sama kesehatan dan kandungan kamu itu”ucap Salma memulai kembali pembicaraan.Nada suaranya mengandung kekhawatiran akan keselamatan Safira,ia juga merasa sedikit takut di salahkan jika terjadi sesuatu pada Safira.
“Nggak apa-apa...mungkin”ragu Safira
“Sekali-kali boleh lah makan pedas,lagipula aku gak pernah makan pedas lagi selama hamil”lanjut Safira mengingat-ingat kapan terakhir kali dirinya memakan sambal buatan sang ibu.
“Ya tapi kita nanti beli obat ya,aku khawatir kamu bisa terkena diare”ucap Salma yang masih khawatir dengan kesehatan Safira.
__ADS_1
“Emang nggak apa-apa orang hamil minum obat?”kini Safira giliran Safira yang bertanya,setahu nya kalau ibu hamil itu sangat rentan,dan harus sesuai petunjuk dokter saat akan meminum obat dan tidak bisa sembarang.
“Aku juga nggak tahu sih,ya sudah nanti kamu tanya aja langsung sama dokter kamu.Kan enak punya dokter pribadi,nggak usah terlalu khawatir apalagi ribet ke dokter”ucap Salma terdengar sedikit menyindir.
Safira tahu jika Salma sedang menyindirnya,ia juga tahu jika Salma hanya bercanda dengan sindirannya itu.Tapi bukan Safira namanya kalau nggak bisa membalas sindiran sahabatnya itu.
“Maka nya cepat cari suami dong,kalau bisa seorang dokter,bisa saja nanti kalau ada apa-apa kan kamu bisa minta tolong sama suami kamu langsung”balas Safira yang langsung membuat Salma yang sedang meminum jus nya itu tersedak.
“Uuuhkk”
“Kamu!”Salma kesulitan untuk menjawab apa,
apalagi ia masih merasa jika tenggorokan nya itu sakit karena tersedak.Alhasil Salma pun hanya bisa diam dan berusaha meredakan rasa sakitnya dengan meminum air putih yang tersedia.
Beberapa menit kemudian.
Salma yang tiba-tiba merasa jika perutnya sedikit sakit karena kebelet,ia pun langsung bangkit dari duduknya.
“Aku izin ke toilet dulu”ungkap Salma yang hendak pergi.
“Tunggu dulu!”Safira langsung menghentikan langkah Salma.
“Kenapa?”tanya Salma sambil menatap ke arah Safira,nada suaranya terdengar tak sabar saat mengatakan itu.
“Kamu nggak marah kan?,aku tadi cuman bercanda,nggak ada maksud apa-apa kok.Yakin deh”ucap Safira di sertai nada yang berusaha meyakinkan,ia khawatir Salma akan marah padanya.
“Kamu beneran nggak marah kan sal?,yakin?”tanya Safira lagi.Entah kenapa Safira akhir-akhir ini sering Overthinking.Ia seolah sulit untuk langsung percaya.
“Ya ampun Safira!,kapan aku ke toiletnya kalau kamu tanya terus.Sekali lagi aku ucapkan kalau aku itu nggak marah sama kamu!,jadi puaskan!!”jawab Salma dengan nada yang sedikit di tekan karena kesal.
Safira yang mendengar itu langsung menghela nafas lega,ia pun hendak berkata kembali tapi langsung di sela oleh Salma.
“Aku akan nyewa toilet umum yang agak jauh dari sini,jadi mungkin agak lama”sela Salma,ia pun langsung berjalan pergi meninggalkan Safira yang hanya diam.
Melihat kepergian Salma,Safira pun akhirnya hanya diam.Dan karena merasa bosan,Safira pun langsung membayar makanannya itu.
Saat hendak duduk ke tempatnya lagi,tiba-tiba tangannya di tarik oleh seseorang.Merasa kan hal itu,Safira pun langsung menatap ke arah orang yang menarik tangannya itu.
“Tunggu!”ucap Safira yang langsung menarik tangannya dengan sedikit kasar.
Sontak orang yang berjalan menariknya langsung berhenti,saat menoleh ke belakang Safira sedikit terkejut saat melihat siapa yang menariknya tadi.
“Rena”ucap Safira terkejut.
“Iya ini aku”jawab Rena terdengar biasa,tidak ada nada marah ataupun benci.Ia hanya bersikap santai seolah mereka itu berteman.
“Kamu kaget ya karena aku tiba-tiba tarik kamu?”tanya Rena pada Safira.Sejenak Safira hanya diam,tapi tak lama ia pun menjawab pertanyaan Rena.
__ADS_1
“Tentu aku kaget,siapa juga yang gak kaget saat tangannya tiba-tiba di tarik”jawab Safira jujur.
“Kalau begitu maaf”Rena meminta maaf dengan nada sedikit rendah,seakan ia tulus saat mengatakan itu.
Safira yang mendengar itu tentu kaget,ia sampai tak sadar jika matanya melotot pada Rena karena saking terkejutnya.
Di mana sosok perempuan yang waktu itu menyalahkan diri nya dengan sangat!!
Di mana juga sosok wanita yang mati-matian menghina dirinya seolah-olah Safira adalah wanita jahat yang memang pantas untuk di hina dan di salahkan!!!
“Kamu segitu marahnya sampai gak mau maafin aku ya?”Rena tiba-tiba bicara dengan nada suara yang terdengar semakin rendah.
“Hm?”safira hanya bisa berdehem tak mengerti,entah ia tidak mendengar dengan jelas ucapan Rena atau benar-benar tidak paham dengan maksud Rena itu,yang jelas Safira hanya bisa diam dengan pandangan yang terlihat sedikit heran.
“Ada sesuatu hal yang ingin aku katakan sama kamu,kamu bisa kan ngobrol berdua sama aku?,sebentar saja..”ucap Rena yang lagi-lagi berbicara dengan nada rendah,kini nadanya terdengar sedikit memohon pada Safira.
“Tapi aku masih ada urusan sama Salma,dan sekarang dia sedang pergi,jadi aku harus tunggu dia kembali lebih dulu”jawab Safira yang sebenarnya masih enggan untuk berbicara dengan Rena.
Safira sedikit khawatir jika Rena akan menyakiti nya,dan yang paling di khawatirkan oleh Safira adalah kandungan nya itu.Apalagi Safira hanya berdua dengan Salma,ia tadi sudah membujuk Amara dengan susah payah agar pulang lebih dulu.Dan kalau tahu akan seperti ini mungkin ia akan meminta Amara untuk menemaninya.
“Nggak perlu khawatir,aku gak akan apa-apain kamu.Aku cuman ingin ngobrol dan bicara sebentar”
ucap Rena seolah bisa menebak kekhawatiran Safira.
Mendengar hal itu Safira hanya terdiam,ia pun berfikir untuk sejenak.
“Oke,aku akan ngobrol sebentar sama kamu”ucap Safira setelah hanya diam untuk waktu yang lama.Ia tidak ingin terlihat takut di mata Rena,lagipula Safira juga telah menyadari jika dirinya hanya korban,dan ia tidak terima untuk terus di salahkan,padahal jelas-jelas ia tidak salah.
Atau lebih tepatnya ia tidak tahu apa-apa!!
“Kalau gitu kita ngobrol di tempat yang nyaman.Dan tenang aja,tempat itu cukup ramai kok,jadi kamu nggak usah takut,karena aku gak memiliki niat buruk”ucap Rena yang langsung menarik Safira menuju tempat yang di pikirkan nya.
...*****...
Di sebuah pohon rindang yang terasa cukup sejuk,
dengan banyaknya orang yang berlalu lalang di trotoar.
Kini Safira sedang duduk di samping Rena dengan pohon rindang yang menjadi pelindung dari teriknya sinar matahari.
“Apa yang ingin kamu katakan?”tanya Safira langsung memulai pembicaraan.
Tanpa menjawab ucapan Safira itu,Rena pun langsung mengambil sesuatu di dalam tasnya.
“Ini undangan,lusa nanti aku ulang tahun.Bisakah nanti kamu hadir di acara itu?”Rena berkata sambil menyodorkan sebuah undangan di tangannya itu.
Safira pun hanya diam saat menerima undangan itu.
__ADS_1