
Di malam hari.
Saat ini Arnam dan Toni tengah berada di atas balkon kamar milik Arnam.
Arnam terlihat hanya diam dengan cermat dan mendengarkan apa yang sedang Toni katakan.
“Kemungkinan perlu waktu 6 bulan lagi agar anda bisa bertemu dengan istri anda secara langsung.
Karena jika saat ini anda bertemu dengannya,bisa saja keselamatan istri dan anak anda sedikit berbahaya”ucap Toni menjelaskan.
Meski pun posisi Arnam saat ini sudah bisa di katakan aman dan tidak goyah,tapi musuh-musuh Arnam adalah orang-orang hebat dan bukan orang sembarangan,di tambah lagi Arnam harus lebih hati-hati dengan musuh dari orang itu.
Arnam yang mendengar itu hanya diam,dengan pandangan lurus dan alis yang sedikit bertaut seolah sedang berfikir secara dalam.
“Meski jika dalam enam bulan nanti kalian bertemu,dan situasi belum sepenuhnya Aman,tapi setidaknya tidak seberbahaya saat ini”ucap Toni menjelaskan.
Mereka benar-benar harus berfikir jauh dan cermat,seolah nyawa mereka bisa saja hilang jika tidak berhati-hati.Meski tidak semudah itu jika musuhnya menginginkan Arnam mati,tapi setidaknya Arnam harus berhati-hati agar musuhnya tidak mengincar kelemahannya,yaitu istri dan anaknya.
Mendengar penjelasan Toni,raut wajah Arnam sedikit berubah,ia kembali bersikap tenang dengan wajah datar yang terlihat sedang berfikir.
“Kamu bisa pergi”ucap Arnam yang langsung di patuhi oleh Toni.
Menunduk sedikit,sebagai bentuk hormat,setelah itu Toni baru pergi meninggalkan Arnam yang hanya diam.
“Jika bukan untuk kebaikan kalian berdua,mungkin aku tidak akan menunggu selama ini”ungkap Arnam dengan suara datarnya yang berkata dengan nada rendahnya,bahkan terdengar seperti gumaman.
...*****...
Sementara itu di tempat Safira saat ini.
Safira kini sedang berada di ruang keluarga,ia sedang menonton film kesukaannya,dan tentu yang menjadi tokoh utama adalah artis favoritnya.
Hachi.. hacih..hachi..
Safira tiba-tiba bersin beberapa kali.
__ADS_1
“Mamah flu?”tanya Sabrina khawatir.
“Tidak sayang,ini hanya bersin biasa,mungkin ada yang kangen sama mamah”ucap Safira percaya diri,dan sedikit tersenyum ke arah anaknya.
Mendengar itu,Sabrina merasa sedikit malas dengan tingkah kepedean mamahnya itu,ia yang memang sudah terbiasa dengan itu hanya bisa memutar bola mata nya jengah.
“Ya ya ya ya,telserah mamah”ucap Sabrina yang membuat Safira semanki tersenyum lebar melihat tingkah anaknya itu.
Melihat Sabrina kembali pada aktivitas nya dan mengabaikan dirinya,Safira pun kembali fokus pada acara yang ia tonton.
“Kenapa bisa ada orang yang baru bangun tidur tapi tetap tampan sih”gumam Safira terdengar memuji,
dengan nada suaranya yang terdengar lebay bagi Sabrina.
Bisa saja karena terlalu lama sendiri mungkin efeknya jadi seperti ini!.Safira kadang sering bertingkah lebay, teriak-teriak nggak jelas begitu melihat aktor yang menurutnya tampan,terlebih aktor favorit nya Arnold.
Sedangkan Sabrina yang melihat tingkah lebay ibunya langsung menimpali.
“Mah,itu kan wajar.Meleka kan cuma pula-pula tidul dan bukan tidul benelan”gerutu Sabrina yang berada di samping Safira,ia yang kini sedang mengunyah cemilannya itu terlihat mencebik.
“Ishh,dasar!” Safira yang merasa sedikit kesal sekaligus gemas dengan perkataan anaknya yang memang sebetulnya benar,hanya bisa mendengus pelan.
Pasalnya ini bukan sekali dua kali Sabrina memaklumi itu.Mungkin karena bosan dengan ucapan ibunya yang selalu memuji artis favoritnya itu,hingga Sabrina akhirnya berkomentar.
Memang semenjak melahirkan Sabrina,sifat Safira sedikit berubah,atau bahkan banyak berubah.
Contohnya saat ini,biasanya Safira tidak pernah menyukai acara tv,apalagi pemerannya.Tapi kini ia bisa menyukai setiap acara tv yang dibintangi oleh artis favoritnya,yaitu Arnold.Alasan kenapa ia bisa begitu menyukai Arnold,karena kisah hidupnya hampir mirip dengan Safira tapi beda versi.Terdengar simple kan alasan Safira itu?,tapi yang lebih Safira kagumi adalah akting Arnold yang begitu terampil dan hebat dalam memainkan peran.
“Kenapa mamah harus belkata sepelti itu,padahalkan sudah bisa ditebak jawabannya.”Sabrina kembali berkata dengan disertai nada malasnya.Matanya tidak menatap Safira sama sekali,malahan ia hanya menatap cemilan yang ia makan.
“Sabrina bisa tidak sih kamu tidur duluan sekarang!,ini kan sudah malam nak”Safira tidak tahu harus mengatakan apa selain kalimat yang hampir sepuluh kali Safira ucapkan itu.
Entah kenapa Safira merasa kesal dengan Sabrina hari ini,ia yang memang sering memuji Arnold,dan biasanya Sabrina hanya diam saja,tapi kini Sabrina justru berkomentar seolah mengajaknya untuk berdebat.
Atau itu karena Sabrina terlalu membela penyelamat
__ADS_1
nya?,hingga jika Safira memuji Arnold maka Sabrina akan lebih memuji penyelamatnya itu,seolah si penyelamat itu jauh lebih hebat dari Arnold.
“Mamah kan belum tidul,jadi Ina nggak bisa tidul dong kalau mamah belum tidul”jawab Sabrina yang pandai sekali menjawab.
“Mamah lagi nonton televisi sebentar nak,kamu bisa kan tidur sendiri?,biasanya nya kan kamu udah tidur jam segini”Safira melirik jam dinding yang menunjukkan pukul setengah sembilan malam.
“Lalu kenapa mamah nggak tidul?,mamah nggak kelja kah?”tanya Sabrina lagi,ia kini menatap Safira dan melepaskan toples camilan yang awalnya ada di pangkuannya itu.
Sabrina menaruh toples yang berisi setengah camilan itu ke atas meja.
“Besok mamah libur,jadi mamah ingin nonton televisi sampai malam,lagian kenapa kamu ada di sini kalau nggak berniat nonton televisi”Safira tidak mengerti,perasaan sepanjang ia nonton televisi anaknya hanya menatap ke arah cemilannya dan sesekali menimpali ia yang sedang berbicara,atau lebih tepatnya seperti tadi saat dirinya memuji Arnold.Anaknya itu akan membalas dengan nada yang kentara tidak suka saat ia memuji Arnold.
“Kalau gitu Sabrina juga nggak akan tidul dan mau temani mamah di sini!”Sabrina terdengar kukuh saat mengatakan itu.
Safira yang mendengar itu hanya bisa menghembuskan nafas beratnya dengan sedikit kasar.Padahal ia jarang sekali bisa menantikan acara televisi kesukaannya itu,meski di tayangkan setiap hari,tapi ia sibuk bekerja dan sering pulang larut malam.Meskipun begitu ia juga tidak bisa egois,
karena ia akan lebih memilih untuk menemani anaknya tidur.
“Kalau begitu kita tidur sajalah,kebetulan mamah sudah ngantuk”alasan Safira yang sontak membuat Sabrina mengalihkan pandangannya ke arah ibunya.
“Kenapa nggak tunggu sampai selesai?”tanya Sabrina polos dan tidak mengerti,ia memang sedikit tidak suka saat ibunya memuji artis kesukaannya secara berlebihan.Tapi ia merasa tidak keberatan jika ibunya menonton televisi hingga malam,karena Sabrina hanya ingin menemani ibunya,jarang sekali Safira berada di rumah jam segini,biasanya ia akan pulang dari kantor saat Sabrina telah tidur.
Lagipula Sabrina kini hanya ingin bersama ibunya.
“Nggak,mamah sudah ngantuk,bukankah Sabrina juga ngantuk?”ucap Safira dengan ekspresi meyakinkan.Safira memang sedikit letih setelah seharian berlibur dengan anaknya,jadi ia lebih memilih tidur daripada harus melihat anaknya begadang.
Dengan jujur Sabrina langsung mengangguk,seolah mengatakan ia juga merasa mengantuk.
“Kalau begitu kita tidur sekarang”Safira langsung bangkit,ia mengulurkan kedua tangannya ke arah anaknya,seperti hendak menggendong anaknya.
Dan tanpa menolak Sabrina pun langsung masuk ke dalam gendongan Safira.
Setelah mematikan televisi Safira berjalan ke kamar sambil menggendong anaknya.
*****
__ADS_1
Bisa minta tolong nggak,kalau kalian suka cerita ini,please ya kalau udh baca minimal tinggalkan jejak melalui like,vote juga nggak apa-apa.Kasih hadiah juga author malah senang🙈🙈
Love you all😘😘