
Mata Safira yang awalnya terpejam,kini mulai terbuka perlahan.Ia menatap ke arah sekelilingnya,dan ternyata ia kini sedang berada di sebuah kamar.
Apalagi kamar itu sangat luas dan hanya memiliki penerang yang sangat minim,hingga Safira langsung merasa waspada karena ia tidak bisa melihat dengan jelas sekelilingnya.
Terlebih lagi saat dirinya melihat sebuah bayangan seseorang,hal itu semakin membuat nya lebih waspada lagi.
Safira pun bangkit dari kasur,ia melangkah ke arah bayangan itu,semakin lama ia melangkah,semakin dekat pula dengan sosok bayangan itu.Sontak saat Safira sudah lumayan dekat dan hanya berjarak lima langkah,ia langsung terkejut saat melihat orang yang ada di hadapannya saat ini.
Orang-orang yang jelas-jelas Safira hindari,dan orang yang Safira benci!.
Kini orang itu sedang menyenderkan badannya dengan mata yang terpejam,entah sedang tertidur atau hanya memejamkan mata saja,Safira jelas tidak bisa menebak itu.
“Arnam”panggil Safira lirih saat ia yakin dengan orang yang ada dihadapannya kini,ia mengatakan itu dengan nada benci sekaligus rindu tanpa Safira sadari.
Ya! Orang itu memang benar-benar Arnam!.Tapi entah ia mendengar atau tidak ucapan Safira tadi,yang jelas Arnam hanya diam dengan mata yang masih terpejam.
Nafasnya yang tidak teratur seolah sedang berusaha ia tenangkan
“Kamu!,kenapa bisa ada di sini?!!”teriak Safira kesal,dengan sedikit tidak percaya.
Mendengar teriakkan Safira yang jelas-jelas semakin mengusik dirinya,Arnam pun langsung membuka matanya.
Pada saat itu pandangan mereka bertemu.
“Ya ini aku,apakah kamu tidak rindu?”ucap Arnam dengan nada pelan yang seakan sulit di tebak maksudnya.
Mendengar itu,Safira langsung merasa marah dan kesal saat berfikir jika orang yang sudah menculiknya adalah Arnam.Ia benar-benar merasa tidak menyangka akan hal itu.
“Jadi orang yang menculik aku itu adalah kamu?,kamu orang yang tega bawa aku kemari dengan tidak hormat?!!”marah Safira tidak terima.
“Apanya yang diculik?,bukankah kamu istriku?,sejak kapan seorang suami tidak boleh membawa istrinya jika ia mau?”ucap Arnam datar.Dan hal itu sontak membuat nafas Safira tercekat karena marah.
“Ingat Arnam!.Aku sudah meminta kamu untuk bercerai!,dan hanya tinggal menunggu tanda tangan kamu saja!,setelah itu kita akan menyerahkan hal itu pada pengadilan,biarkan perceraian ini berjalan dengan lancar”ucap Safira panjang lebar dengan nada yang masih terdengar marah.
Mendengar ucapan Safira yang membuat suasana hatinya merasa panas,ekspresi Arnam langsung berubah seketika,dengan raut wajah yang berubah mengeras dan rahang yang mengetat,seolah ia berusaha menenangkan amarahnya itu.
__ADS_1
“Ingat Safira!,aku tidak akan pernah menceraikan kamu!,sampai kapan itu!.Tidak tidak akan!!.Lagipula apakah kamu tidak ingat dengan janji kamu dulu saat ditaman waktu itu?.Bukankah kamu mengatakan tidak akan berpisah dariku kecuali aku yang melepaskan kamu?”ucap Arnam dengan kalimat yang diakhiri dengan nada datar dan sedikit sinis.Ia benar-benar marah dan tidak suka saat Safira mengatakan perpisahan dengannya.
Sedangkan Safira yang mendengar ucapan Arnam itu,ia tiba-tiba langsung bungkam,karena apa yang Arnam katakan seolah mengingatkan dirinya akan janjinya dulu.
‘Kenapa aku bisa mengatakan itu sih!!’pikir Safira merutuki dirinya sendiri.
Safira berfikir jika rekaman itu bisa menjadi senjata Arnam agar ia tetap terjerat dengan Arnam!!.Apalagi Arnam bukan orang sembarangan,bisa saja kan rekaman itu akan menjadi penyebab ia sulit lepas dari Arnam!!.
“Kalau begitu aku minta kamu untuk cerai denganku!!”ucap Safira dengan nada berani.
Arnam pun hanya menyeringai samar,otak nya yang cerdas seakan meledek Safira.
“Aku telah merekam apa yang dulu kamu katakan,apa kamu ingin dengar?”ungkap Arnam terdengar seperti ledekan bagi Safira.
“Dengan rekaman itu,aku hanya perlu menyerahkan itu pada pengadilan,dan dengan satu kata dari ku,yang mengatakan tidak ingin bercerai,maka kamu tidak akan bica bercerai dariku,selamanya!!”lanjut Arnam tenang,hal itu sontak membuat Safira murka.
Dengan langkah cepat Safira langsung menghampiri Arnam seolah ingin menerjang nya.“Sialan!!,dasar licik”untuk pertama kalinya Safira mengutuk kepintaran serta kelicikan Arnam,ia bahkan tidak menyangka jika Arnam akan berbuat licik padanya.
“Menjauh lah!!”perintah Arnam saat Safira sudah sangat dekat dengannya.
“Dengar Arnam!,aku katakan kalau kita akan bercerai,karena aku sudah muak dengan ini semua!;”ucap Safira tepat di hadapan Arnam,wajahnya dan wajah Arnam terlihat sangat dekat dan hanya berjarak beberapa sentimeter,bisa ditebak jika sedikit saja Arnam maju,maka bibir mereka akan bersentuhan langsung.
“Diam!!”tegas Arnam terdengar datar,ia berkata dengan nada pelan seolah sedang menahan sesuatu.Dan matanya ia tutup seolah enggan menatap ke arah Safira.
“Kamu!”ucap Safira lagi yang tak tahu harus merespon seperti apa.Padahal jelas-jelas ia sedang mengancam Arnam,tapi entah kenapa Arnam justru berkata seolah tidak peduli dengan apa yang sedang ia katakan.
“Sudah aku katakan untuk diam”tegas Arnam lagi,tapi bukannya diam Safira justru kembali berbicara.
“Memangnya kamu siapa! sampai menyuruh aku untuk diam!”teriak Safira yang seolah ingin mengusik ketenangan hati Arnam lagi dan lagi.
Arnam yang mendengar itu,ia langsung membuka matanya.Mata yang awalnya tertutup,kini terbuka lebar,ia menatap Safira dengan pandangan yang sedikit sengit dan tajam.
“Aku suami kamu!”jawab Arnam yang membuat Safira mematung,ucapan Arnam itu memang benar!.
Karena mereka belum resmi bercerai.
__ADS_1
Dirasa otak Safira seakan kosong,ia hanya diam tanpa tahu jika Arnam telah bangkit dari duduknya.Arnam mulai berjalan ke arahnya dengan tatapan intimidasi bercampur dengan tatapan yang membuat Safira merinding.
Entah itu tatapan apa,yang jelas bukan tatapan sinis,hanya saja Safira tidak mengerti kenapa ia bisa semerinding ini.
“Bukankah sudah seharusnya aku menghukum istri yang melarikan diri?,hm?”ucap Arnam dengan suara sedikit bergetar entah karena apa.
Safira yang mendengar itu menjadi semakin merinding,dan tanpa sadar ia terus mundur ke belakang hingga punggungnya mentok di sisi ranjang.Jelas-jelas ranjang itu berada jauh dari tempat Arnam duduk tadi,tapi entah kenapa,ranjang itu terasa sangat dekat saat Safira sadar jika ia tidak bisa mundur lagi.
Dulu Safira sempat terbayang bagaimana jika nanti ia bertemu dengan Arnam,seperti apa pertemuan nya itu nanti??.
Apakah Safira akan bertemu Arnam yang telah bahgian dengan Rena?,atau apakah ia akan bertemu Arnam saat Arnam sedang menggendong anaknya bersama Rena?,tapi Safira benar-benar tidak pernah menyangka jika pertemuan mereka akan seperti ini.
Apakah ini ungkapan marah dan kecewa Arnam karena ia pergi begitu saja?.
Atau Arnam kini telah membencinya dan ingin balas dendam padanya?,yang jelas Safira tidak tahu!!.
Dan kini yang Safira pikirkan adalah bagaimana ia keluar dari tempat ini,rasanya Safira kini berada dalam bahaya,meski ia yakin jika Arnam tidak akan menyakitinya,tapi entah mengapa Safira merasa jika ia harus keluar dari tempat itu.
Pada saat Safira hendak melangkah,ia mulai merasa ada sesuatu hal berbeda yang ia rasakan dalam tubuhnya.Tapi Safira tetap berjalan,hingga rasa tak nyaman dalam tubuhnya semakin menjadi.
Sebelum Safira berjalan menghindari Arnam,langkahnya langsung terhenti saat tangan kekar Arnam mencekalnya.
“Mau kemana?”tanya Arnam yang berbicara dengan sangat pelan,seolah ia sedang berbisik.Nafasnya pun terasa hangat,dan hal itu semakin membuat Safira merasa tak nyaman juga takut.
‘Ada apa ini?’ucap Safira yang tidak mengerti dengan situasi saat ini.
Detik berikutnya sebuah pikiran yang berusaha Safira sangkal muncul.
‘Tidak mungkin kan Arnam akan berbuat serendah ini?’pikir Safira tak percaya.
Safira yang sadar akan pikirannya itu,ia pun hendak bertanya,tapi terlambat karena Arnam langsung mendorong tubuhnya hingga ia berbaring terlentang di kasur.
*****
Nah loh kok mas Arnam kayak gitu ya😳😳
__ADS_1
Tapi tenang aja nanti ada penjelasannya kok, kira-kira kenapa bisa ya mereka berdua ada di kamar yang sama?🤔