
Hari di mana Sabrina mengatakan jika ia ingin agar Arnam menghadiri pentas ballet di taman kanak-kanak nya,kini hari itu pun tiba.
Sabrina yang kini sedang di rias di oleh ibu nya sendiri,yang tak lain adalah Safira sendiri.Ya!,bisa dikatakan jika Safira kini pandai dalam urusan make up,jangan salah,empat tahun lebih tanpa Arnam membuatnya berlatih banyak hal,termasuk belajar make up.
Safira menggunakan keterampilan nya itu,bukan semata-mata hanya agar terlihat cantik,tapi ia juga belajar dalam skill make up agar wajahnya terlihat lebih dewasa.
Memiliki wajah imut yang menurut nya adalah sesuatu hal yang mengesalkan,karena dengan wajah nya itu ia mendapat pujian,ledekan,
bahkan hinaan dari orang-orang yang membenci dan iri padanya.
Dan hal itu mungkin tidak lebih parah dibandingkan saat ia disangka kakak dari sabrina,bukan ibunya.Mengesalkan!!,tentu saja karena hal itu membuatnya sering mendapat godaan atau kata-kata gombal dari laki-laki yang baginya tidak lebih dari seorang buaya darat.
“Mah,apakah sudah selesai?”tanya Sabrina yang tak sabar untuk melihat penampilan nya.
Safira yang melihat betapa antusiasnya anaknya,ia hanya tersenyum dan mengangguk.
“Ya,sudah selesai,apakah kamu sudah tidak sabar untuk melihat penampilan kamu saat ini?”safira sedikit kagum dengan jarinya yang seolah membuat anaknya terlihat menggemaskan dan lucu.
“Ya mamah,Ina sudah tidak sabar melihat penampilan Ina yang pastinya akan telihat cantik”masih dengan nada sedikit cadel,tidak membuat kata-kata semangat dan antusias Sabrina terasa kaku,tapi justru itu terlihat lucu di mata Sabrina.
Saat Safira hendak buka suara,Sabrina langsung berlari menuju kaca di kamarnya,ia berputar-putar dengan senang.Baju nya yang memiliki panjang selutut dan sedikit mengembang serta melingkar saat ia berputar,menambah kesan sempurna akan penampilan nya kini.
“Mah,Ina cantik”ucapnya senang.
“Sejak kapan anak mama ini punya tingkat kepedean yang sangat tinggi?”safira berkata dengan nada meledek dan tersenyum senang saat melihat anaknya yang terlihat bahagia.
“Dali mama Ina mendapat sifat itu”ucap Sabrina yang langsung membuat Safira merasa tertohok.
“Sejak kapan mama seperti itu?”safira tidak merasa jika ia menurunkan sikap kepedean nya pada anaknya.
“Ah sudahlah,Ina tidak ingin beldebat dengan mama”ucap Sabrina yang langsung mengambil ponsel miliknya yang merupakan pemberian dari Arnam.
__ADS_1
Dengan kata sandi yang hanya ia dan ayahnya yang tahu,Sabrina langsung membuka ponsel dan hendak berfoto ria.
“Ina,kenapa mama tidak di beri tahu sandi dari ponsel itu?”tanya Safira sedikit cemburu,pasalnya hanya Arnam yang tahu sandi dari ponsel yang sedang sabrina pegang,sedangkan ia tak tahu sama sekali.
“Ini lahasia Ina sama papa,mama tidak di izinkan untuk tahu”jawab Sabrina yang langsung melayangkan kamera ke arahnya,beberapa kali ia berfoto dengan sendiri,tapi nyatanya foto yang ia ambil tidak ada yang bagus
“Mah,bantuin Ina dong”ucap Sabrina dengan tatapan memohon dan sedikit cengengesan lucu.
“Foto aja sendiri,katanya di situ ada rahasia kamu dengan papa,kenapa mama harus bantu pegang ponsel itu,kami nggak takut jika nanti rahasia kamu nanti ketahuan”ucap Safira panjang lebar, terdengar jelas jika ia merajuk pada anaknya.
“He..he..he..”Sabrina hanya menampilkan gigi putih nya.
“Iya deh,Ina kasih tahu deh lahasia Ina ke mama,tapi sedikit ya”ucap Sabrina bernegosiasi.
“Ya katakan”ucap Safira terdengar penasaran.
“Tapi nanti ma,Ina minta mama bantu fotoin Ina dulu”jawab Sabrina masih dengan senyum menggemaskan yang membuat Safira tidak bisa menolak.
Akhirnya Safira pun hanya bisa bersabar dan menghela nafas panjang.
Saat itu Sabrina sedikit menjauh dan berfose,rambutnya yang di Cepol dua menampah kesan manis di wajahnya,dengan terduduk dan tersenyum Sabrina telah siap untuk di potret.
Tapi nyatanya karena rasa penasaran itu, Safira pun mencoba membuka aplikasi lain,dan lagi-lagi harus menggunakan sandi,melihat itu Safira pun merasa kesal dan gemas sendiri.
“Mah udah?”tanya Sabrina hendak bangkit.
Menyadari itu safira langsung tersadar dan buru-buru kembali ke beranda dan menyentuh kamera,bersiap akan memfoto anaknya.
Ckrek Safira terburu-buru mengambil gambar secara sembarangan.
“Ina seperti nya kurang bagus gambar nya,kita coba sekali lagi ya sayang”ucap Safira beralasan.
__ADS_1
Sedangkan Sabrina langsung menurut dan kembali pada fose tadi,hingga beberapa kali jepretan menampilkan foto Sabrina.
“Sudah selesai”ucap Safira kini tiba-tiba merasa kagum pada hasil jepretan gambar yang ia ambil.
’Apakah aku berbakat di bidang fotografer ya’ pikir Safira.Entah ia yang ahli atau karena penampilan Sabrina yang terkesan sempurna yang membuat hasil potretan nya justru terlihat indah.
“Nanti kirim foto kamu ke ponsel mama,biar mama simpan dan jadikan wallpaper layar depan”ucap Safira yang langsung di angguki sebagai jawaban.
“Ya mama”karena terlalu senang Sabrina membuka sebuah aplikasi di depan Safira.
“Kamu main itu?”tanya Safira terkejut,pasalnya anaknya seolah telah menjadi seorang selegram,pengikutny saja sudah hampir 500rb lebih,dan yang menyukai postingan nya pun banyak.
“Ina,sejak kapan kamu bermain aplikasi itu?”tanya Safira terdengar marah yang langsung membuat Sabrina ketakutan.
“Ina bermain ini sudah hampir sebulan mah”cicit Sabrina takut,wajahnya menunduk tak ingin melihat ibu nya yang sedang marah.Ini sebenarnya salah satu rahasia dirinya,ia bermain aplikasi yang seharusnya tidak ia mainkan.
“Siapa yang mengajari kami bermain itu?”Safira jelas marah,dan Sabrina yang ingin menjawab pun menjadi takut.
“Jawab Ina,mama sedang bertanya pada kamu”Meski sudah hampir mencapai batas kesabaran nya,Safira tetap berusaha untuk sabar.
Jelas-jelas Sabrina masih balita,tapi kenapa bisa anaknya memainkan aplikasi yang jelas-jelas untuk orang dewasa dan remaja.Dan Safira seolah tak sadar dengan kepintaran anaknya yang seolah jauh dari usia sebayanya.
“Papa”jawab Sabrina takut-takut,sebenarnya Sabrina tidak melakukan apapun di aplikasi itu,ia hanya tahu tentang beranda nya sendiri,seperti hanya tahu cara mengupload foto-foto nya dan mengecek berapa yang menyukai postingan nya,untuk pengikut atau followers jelas ia tak peduli.
“Arnam??,laki-laki brengsek itu!!”kesal Safira yang merasa Arnam telah membawa pengaruh buruk untuk Sabrina.
“Mah,mama jangan salahkan papa.Papa nggak salah apa-apa”bela Sabrina yang justru membuat Safira semakin kesal dan marah.
Tidak tahu kah anaknya,jika dunia Maya itu tidak seenak dan seindah yang terlihat,meski ia tahu anaknya mempunyai banyak follower dan banyak sekali yang menyukai postingan nya,tapi tetap saja Safira khawatir,ia tahu jika mungkin saja ada yang merasa iri dan tidak menyukai anaknya hingga bisa saja membuat anaknya sedih akan komentar dan kritik pedas dari para pembenci.
“Ma,Ina hanya ingin jika nanti Ina menjadi model,Ina suka selfie,dan Ina mau wujudkan keinginan Ina itu”ucap Sabrina terdengar takut-takut saat mengatakan itu.
__ADS_1
Sedangkan Safira tidak menjawab,ia merampas ponsel anaknya.
“Hari ini nggak ada pentas,kamu mama hukum dan tidak boleh keluar kamar.Bibi akan bawakan makan ke kamar jika kamu lapar”ucap Safira yang langsung keluar dari kamar anaknya