
Safira yang kini sudah berada di sebuah restoran yang sama dengan Arnam.
Hanya saja Safira kini sedang berada di lantai 4.Terlihat Safira merasa sedikit canggung dan tidak nyaman berada di sana.Ia memang pernah menyewa restoran ini sesekali saat bekerja sambil membawa anaknya.Tapi itu hanya berada di restoran lantai dua,dan tidak sebesar dan semewah ini.Di tambah lagi dengan keberadaan Farrel yang duduk di hadapannya,itu semakin membuatnya tak nyaman.
“Sekarang langsung ke intinya saja,apa yang ingin kamu bahas?”tanya Safira langsung.
Farrel hanya diam,ia menatap Safira lekat-lekat.Seolah,ia sangat menikmati pemandangan yang ada di hadapannya saat ini.Farrel tak berkedip bahkan ia tidak melirik ke arah lain sekalipun,seakan ia tidak ingin menyia-nyiakan sedetik saja moment untuk menatap Safira.
Menyadari tatapan tak biasa dari Farrel,Safira pun langsung berdehem untuk menghilangkan suasana tak nyaman yang ia rasakan.
“Ekhmm”berharap dengan dehemannya itu Farrel bisa sadar,atau setidaknya menoleh ke arah lain untuk sedetik saja.
“Farrel”panggil Safira,tapi Farrel hanya diam.
“Tuan”ucap Safira yang kedua kalinya dengan nada sedikit keras,dan akhirnya Farrel mengedipkan matanya.Ia menunduk,dan mendongakkan kepalanya menatap safira dengan tatapan tak suka.
“Bukankah sudah ku katakan jika kamu bisa langsung memanggil namaku saat kita tidak sedang di kantor”ucap Farrel mengungkapkan ketidaksukaannya itu.
“Bisa langsung keintinya saja?,aku buru-buru”balas Safira sedikit acuh,ia malas meladeni Farrel.
Dulu memang Safira baik pada Farrel,ia juga selalu bersikap ramah pada Farrel,tapi semenjak tahu akan perasaan Farrel,entah kenapa rasa kesal dan marah dalam dirinya muncul
Bukankah dulu Safira pernah memperingati Farrel agar tidak menyukainya,apalagi berharap lebih!,karena hal itu bisa membuat hubungan mereka renggang.
“Kamu tahu kalau aku menyukai kamu”ucap Farrel entah itu pertanyaan atau pernyataan,
yang jelas sulit untuk Safira bedakan karena intonasi Farrel yang tidak jelas saat Farrel mengatakan itu.
“Bukankah sudah aku peringatkan agar tidak ada kata 'suka' atau 'cinta' dalam pertemanan ini.Karena saat hal itu terjadi,maka pertemanan kita akan berakhir”ungkap Safira sedikit acuh dengan nada tak suka.
Mungkin memang hal manusiawi dalam mencintai seseorang,tapi ini tidak berada dalam keadaan yang tepat.Apalagi mereka terlalu nyaman dalam pertemanan,hingga bagi Safira menyukai dan mencintai Farrel adalah hal tidak mungkin!,benar-benar tak mungkin!!.
Bagaimana bisa Safira mencintai Farrel sedangkan ia saja masih memikirkan Arnam?,walau ia juga tak tahu bagaimana perasaannya saat ini untuk Arnam!.
Apakah rasa marah dan kecewanya masih lebih mendominasi daripada rasa percayanya pada Arnam?
Atau rasa kecewanya itu tidak lebih besar daripada rasa cintanya untuk Arnam?.
“Tapi aku benar-benar cintai sama kamu,aku tulus sayang dan suka sama kamu.Kamu kan tahu jika kita tidak bisa mengatur perasaan agar suka pada seseorang yang kita inginkan,walau aku tahu ini tidak tepat”Farre mengatakan itu sambil menatap ke arah Safira.
__ADS_1
“Aku tahu itu,tapi bukankah mencintai tak harus memiliki!,karena nggak semua orang bisa memiliki keduanya!!.”ucap Safira seakan menegaskan jika Farrel bisa mencintainya,tapi ia tidak bisa memilikinya!.
Karena Safira sadar ia tidak bisa melarang Farrel untuk tidak mencintainya.Bukankah hal itu adalah hal yang bisa terjadi pada siapapun!!?.
“Tapi aku benar-benar ingin selalu ada di samping kamu,menemani kamu bercerita atau apapun itu,asal ada kamu aku pasti akan senang.Please!,terima aku,aku akan terima kamu apa adanya”ucap Farrel dengan nada memohon.
“Kamu gila!!”umpat Safira dengan kesal,ia paling tak suka untuk di paksa.Bayangkan saja,saat Arnam dulu mengejar Safira,ia bahkan butuh waktu hampir sepuluh tahun untuk meluluhkan hati Safira,bisa di bayangkan betapa niat dan kukuhnya Arnam untuk mendapatkan Safira??.
Walau dulu Safira sering mengumpat dan menyumpah serapahi Arnam yang menurutnya aneh.Karena saat itu Arnam seolah memiliki sifat ganda,ia bisa tersenyum dan tertawa dengan Safira,tapi saat di depan orang lain ia akan bersikap acuh dan datar seolah yang tertawa dan tersenyum di hadapan Safira adalah orang lain.
Menakutkan!!.Mungkin kata itu yang Safira pikirkan tentang Arnam Lima tahun yang lalu.Karena Safira tidak sadar jika Arnam telah menyukainya sepuluh tahun lamanya.
“Ya,aku gila!,bukankah ini karena kamu!!”ucap Farrel sedikit berteriak,hingga beberapa orang yang ada di sana menoleh ke arahnya.
“Jangan buat aku marah Farrel!,apalagi jika aku sampai mengumpat dan menyumpah serapahi kamu,karena aku nggak ingin jadi ibu yang buruk bagi Sabrina”kesal Safira dengan bibir terkatup menahan amarah.
“Aku akan menerima kamu apa adanya,aku akan menganggap Sabrina seperti anakku sendiri,bahkan jika kita memiliki anak,aku akan lebih menyayangi Sabrina daripada anak kita nanti”ucap Farrel dengan kata-kata penuh janji.
“Benar-benar nggak masuk akal!,kamu nggak akan bisa menjadi ayah yang baik!.Dan selain aku nggak mau terima cinta kamu.Aku sekarang takut jika anak kamu nanti akan mendapatkan ayah yang buruk,aku nggak bisa bayangkan itu!”ucap Safira sengaja tidak ingin menyebut 'anak kita'.Lagipula Safira tidak berniat menikah apalagi memiliki anak dengan Farrel.Dan Safira hanya berfikir betapa kurang beruntungnya anak Farrel dan wanita yang akan menikahi Farrel nanti,jika Farrel masih saja tetap terobsesi padanya.
“Selama itu anak kita,aku pasti akan menyayangi dia lebih dari aku menyayangi diriku!”ungkap Farrel yakin.
“Benar-benar orang nggak waras!!”gerutu Safira yang benar-benar merasa muak dan tidak tahan untuk mengumpat.
“Dasar Farrel sialan,gara-gara dia usaha aku untuk tidak mengumpat jadi gagal.
Sialan! sialan! sialan!.”umpat Safira meluapkan rasa kesalnya itu,tapi detik berikutnya ia langsung berusaha untuk menenangkan diri,ia berhenti berjalan untuk sejenak.
Safira benar-benar tidak ingin jika rasa kesalnya akan terus berlanjut hingga ia berada di rumah.
Saat Safira terdiam,ia tanpa sengaja melihat laki-laki yang di kenalnya menuju toilet.Deg' jantung nya berdetak cepat karena kaget dan syok,ia tidak menyangka jika orang yang ia hindari ada di tempat yang sama dengannya.
“Arnam”pekik Safira kaget.
Dengan terburu-buru Safira melangkah kan kaki nya itu,ia berlari!,tapi bukan menjauh melainkan mendekat ke arah sosok yang dikenalinya itu.
Seharusnya Safira menjauh atau sembunyi agar Arnam tidak menemukan keberadaan
nya!.Tapi,entah kenapa ia malah berniat menghampiri orang itu,ia penasaran dan ingin memastikan jika orang yang ia lihat sekilas adalah Arnam.Sekalipun orang itu melewati lorong Safira tetap mengejarnya.
__ADS_1
“Arnam”teriak Safira dan langsung menepuk punggung laki-laki yang membelakanginya.
Saat laki-laki itu berhenti melangkah,jantung Safira kembali berdegup semakin kencang,
entah karena efek berlari atau karena gugup,yang jelas Safira tiba-tiba berubah pikiran,ia ingin sembunyi dan menjauh saat laki-laki itu hendak menoleh ke arahnya.
Kenapa dia langsung mengejar Arnam?!
Bukankah seharusnya ia berlari menjauh dan bersembunyi?!!.
“Dasar bodoh!”gumam Safira mengutuk dirinya sendiri.
“Iya siapa?”tanya laki-laki itu saat berbalik.
Mendengar nada suara yang beda,Safira pun langsung mendongkak kan kepalanya ke atas,dan ternyata orang itu bukan Arnam.
“Eh? em..em,maaf salah orang”jawab Safira canggung dan sedikit cengengesan sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Tanpa menjawab laki-laki itu kembali melangkah dan mengabaikan Safira.
“Sialan!,ternyata bukan Arnam”gumam Safira yang lagi-lagi terus mengumpat.
“Padahal aku yakin itu jelas-jelas Arnam,tapi kenapa itu bukan sih"kesal Safira.Detik berikutnya Safira merenung.
“Sial,kenapa aku kayak kelihatan kecewa sih, seharusnya aku senang karena itu bukan Arnam.Dengan begitu aku bisa tenang,karena itu berarti Arnam tidak bisa menemukan kami”ucap Safira sambil menepuk pipinya.
“Ini bukan kamu Safira!,kamu nggak mungkin kan mengharapakan agar Arnam menemukan kamu dan Sabrina?,apakah kamu berfikir jika Arnam akan membawa kalian pulang?,heh!jelas-jelas itu tak mungkin!”Safira terus berbicara pada dirinya sendiri,sesekali ia memukul kepalanya seakan menghilangkan pikiran yang menurutnya tak berguna.
“Lagipula kamu yang ninggalin Arnam,dan wajar jika dia kecewa dan tidak mencari kamu”lirih Safira yang langsung berbalik dan berjalan keluar restoran dengan wajah yang entah kenapa berubah menjadi tak semangat.
Safira kini berusaha menerima jika Arnam tidak mencarinya,lagipula Arnam tak tahu jika ia di usir oleh Rima.
...*****...
Malam hari.
Di sebuah ruangan gelap,terdengar seorang lelaki yang termenung sesekali tertawa.Tidak ada cahaya bulan atau cahaya lampu yang menyinari ruangan sunyi itu.Ruangan itu benar-benar gelap dan menakutkan,seakan siapa saja yang berada di sana akan merasa sesak seolah tidak bisa bernafas.
“Sayang...,sayang...,sayang...”laki-laki itu terus berceloteh dengan suara yang tidak jelas,
__ADS_1
karena lelaki itu sedang mabuk.Ia termenung, dan sesekali meminum alkohol,lalu tertawa tanpa alasan seolah ia sedang memikirkan sesuatu yang membuatnya bahagia.