
Di taman
Saat ini,Safira dan Arnam sedang berada di sebuah taman yang sering mereka kunjungi,alasanya karena taman itu tidak terlalu jauh dari rumah Safira.
Arnam sengaja mengajak Safira untuk berjalan-jalan dengannya,walau sebenarnya Safira hanya diam karena merasa tidak bersemangat.
Safira pun hanya diam karena sedang membayangkan tentang kejadian sebelum ia datang ke sini.
Flashback.
Saat itu Arnam yang sengaja berkunjung ke rumah Safira.Ia seolah ingin bisa bertemu Safira secara langsung walaupun hanya sebentar.
“Ada apa kamu ke sini?”kata itu yang pertama kali Safira ucapkan.
“Boleh aku masuk?”tanya Arnam seakan mengingatkan Safira jika ia saat ini merupakan seorang tamu.Jadi demi sopan santun Safira pun mengiyakan itu karena ia paham maksud perkataan Arnam.
“Ada apa kamu datang ke sini?”tanya Safira lagi setelah mereka duduk di kursi yang cukup berjarak.
Walaupun Safira masih berkata dengan nada yang terkesan cuek dan sedikit dingin,tapi tidak bisa di pungkiri kalau dirinya sudah mulai mencoba untuk sedikit berdamai dengan Arnam.
“Kebetulan aku ada urusan di sekitar sini,jadi karena itu aku sekalian berkunjung”jawab Arnam beralasan.
Arnam sengaja tidak berkata jujur jika ia sengaja datang ke sini karena sangat ingin bertemu Safira,itu Arnam lakukan karena Safira pasti akan menganggap Arnam sebagai orang yang tidak bertanggung jawab atas pekerjaannya.Padahalkan Arnam berusaha keras menyelesaikan pekerjaan nya lebih cepat dari biasanya,walau sisa pekerjaannya Toni yang urus.
“Oh”jawab Safira singkat,antara percaya dan tidak percaya,ia sedikit susah untuk langsung percaya begitu saja.
“Aku ingin mengajak kamu jalan-jalan,sebentar saja,tidak akan lama”ucap Arnam berusaha mengalihkan topik.
“Ke mana?,kalau di sekitar sini aku sudah sering,karena hampir tiap hari aku dan dokter Amara berkeliling di sekitar rumah”ungkap Safira menjelaskan,ia sering sekali berkeliling di sekitar rumahnya untuk menghilangkan stres dan sumpek yang kadang ia rasakan.
“Tidak,kebetulan ada tempat bagus.Dan aku ingin ajak kamu mengunjungi tempat itu,sekalian jalan-jalan”jelas Arnam.
“Apakah akan lama?”tanya Safira yang tidak ingin berlama-lama dengan Arnam.Mungkin jika sebentar Safira mau,tapi itu pun ada batasnya.
“Tidak,aku tidak akan lama.Setelah kamu bilang ingin pulang maka akan aku antar kamu pulang secara langsung”jawab Arnam dengan nada yakin.Ia bisa mengerti jika Safira masih belum memaafkannya sepenuhnya.
Apa memang sesulit ini mendapatkan maaf dari orang yang ia sayang??
__ADS_1
Walau begitu Arnam akan berusaha mendapatkan maaf dari Safira.Kapan dan bagaimana itu biarlah waktu yang akan menjawab semuanya.
“Baiklah,tapi apakah dokter Amara ikut?”akhirnya Safira setuju dengan ajakan Arnam.
“Hanya kita berdua saja”jawab Arnam seakan mengatakan jika ia hanya ingin berduaan dengan Arnam.
Flashback End
Dan sekarang di sinilah mereka sekarang,di taman yang sering mereka kunjungi itu.
“Bukankah kamu ingin ajak aku ke tempat yang bagus?.Tapi kenapa di sini?,apakah ini tempatnya?”
tanya Safira setelah mereka berdua hanya duduk dalam keadaan hening.
“Tidak,bukan di sini tempatnya,aku mengajak kamu kemari karena mungkin kamu rindu dengan tempat ini”
“Terima kasih pengertiannya”ucap Safira yang tidak tahu harus menjawab apa.Safira merasa sedikit canggung karena hal itu.
“Baiklah,akan aku tunjukkan tempat yang sempat aku janjikan tadi”ucap Arnam yang bangkit dari duduknya.
“Tapi asal kamu tahu,jika apa yang di janjikan aku di tempat ini saat itu,tidak pernah aku lupakan,karena aku telah menepati apa yang telah aku janjikan”ucap Arnam yang terdengar seperti gumaman.
...*****...
Akhirnya Arnam pun mengajak Safira untuk kembali ke dalam mobil.Mereka pun menaiki mobil untuk menuju ke tempat yang di janjikan.
Saat tiba di sebuah restoran,Arnam pun langsung memarkirkan mobilnya dan mengajak Safira turun.
“Ini adalah restoran yang baru di buka.Aku sengaja ajak kamu ke sini karena di sini banyak menu makan yang kamu suka,tentunya enak-enak”ucap Arnam saat mereka telah turun dari dalam mobil.
Safira pun hanya diam sambil terus berjalan di samping Arnam,dengan Arnam yang menggenggam tangannya dengan hangat dan erat.
...*****...
Sedangkan di tempat yang sama dengan Safira dan Arnam.
Ketiga sahabat Safira yaitu Reno,Roni dan Rey.Mereka yang kebetulan berniat untuk makan di restoran yang baru buka dan sudah cukup terkenal karena masakannya yang enak-enak itu,tiba-tiba mereka langsung menghentikan langkahnya karena ucapan Rey.
__ADS_1
“Eh tunggu!,bukankah itu Safira dan Arnam?!”tunjuk Rey yang kala itu mereka baru saja keluar dari dalam mobil yang telah di parkirkan.
“Di mana?”tanya Reno dan Roni kompak,mereka pun langsung menatap ke arah yang di tunjuk Rey.
Baru setelah mereka mengikuti arah yang di tunjuk Rey itu,mereka berdua langsung mengangguk karena yakin jika itu Safira dan Arnam.
“Benar itu mereka”jawab Roni dengan nada yakin.
“Ayo ke sana!”ajak Reno yang hendak menyusul Safira dan Arnam.
Melihat hal itu Rey tiba-tiba menghalangi Reno,sontak hal itu berhasil membuat langkah Reno langsung terhenti.
“Apa yang kamu lakukan?!”tanya Reno dengan nada terdengar tidak sabaran.
“Nanti dulu Ren,kamu nggak ingat apa yang Salma katakan?.Bukankah kita belum bisa menemui Safira untuk saat ini?”ucap Rey terdengar mengingatkan akan pembicaraan nya dengan Salma.
“Apa yang kamu katakan itu aku tidak mengerti!,cepat minggir!!”Reno masih saja berkata dengan nada tidak sabaran,malahan ia sampai berjalan ke sisi lain,tapi sayangnya Rey langsung mencekal tangan Reno.
“Jangan bodoh Ren!,kamu nggak ngerti perasaan Safira.Dia itu sengaja mengatakan itu pada Salma karena dia belum siap bertemu dengan kita,
sedangkan Salma yang juga sengaja memberitahu kita,itu agar kita bisa mengerti dan tidak salah paham nantinya”nasihat Rey dengan nada sedikit tinggi.
Mendengar hal itu Reno pun langsung terdiam.
“Lebih baik kita cari restoran lain untuk makan bersama.Dan satu lagi,kita harus ingat jika kita tidak bisa egois dalam hal ini”ucap Rey masih dengan nada mengingatkan.
Entah mengapa Rey yang biasanya pecicilan dan keras kepala itu bisa bersikap dewasa!!
“Apa yang di katakan Rey ada benarnya,karena kita tidak bisa terus menerus ikut campur urusan Safira,
walau dia sahabat kita sekalipun,mereka juga butuh privasi.Biarkan dia menyelesaikan masalahnya sendiri Ren,karena dia sudah dewasa”ucap Roni yang setuju dengan pendapat Rey.
Walaupun sebenarnya Roni sedikit merasa aneh saat Rey bisa berkata seperti itu.Sejak kapan anak yang sikap nya mirip titisan setan itu bisa bersikap dewasa??,mungkin jika orang lain Roni tidak masalah,tapi ini Rey!!.Tapi meski begitu yang di katakan Rey itu benar.
“Baiklah,ayo kita makan di tempat lain saja”akhirnya Reno pun setuju.
Mereka pun kembali memasuki mobil dan meninggalkan restoran itu.
__ADS_1