AKU ATAU KAMU ORANG KETIGA!!

AKU ATAU KAMU ORANG KETIGA!!
Keberadaan Arnam


__ADS_3

Saat ini di sebuah ruangan yang sangat luas,terdapat seorang laki-laki yang sedang duduk di kursi kebesarannya itu.


Arnam,dia lah orang yang selama ini Safira cari-cari.


Arnam yang beberapa hari ini sangat sibuk dengan pekerjaan nya itu,ia terlihat masih sangat sibuk dengan berkas-berkas yang harus ia tanda tangani.


“Huffh”Arnam menghela nafas panjangnya saat ia memikirkan Safira.


Arnam pun langsung menyandarkan kepalanya di kepala kursi yang sedang ia duduki.Sudah lebih dari seminggu Arnam tidak menghubungi Safira,itu semua ia lakukan karena ponsel yang ia bawa sudah di titipkan pada Toni.


Arnam juga sempat berpesan kepada Toni jika Safira menelepon maka harus langsung memberitahukannya,tapi setiap kali Arnam bertanya,maka Toni hanya mengatakan jika Safira tidak menelepon nya sama sekali.


“Apakah benar dia tidak pernah meneleponku sama sekali?,memangnya dia tidak merindukan ku?”tanya Arnam dengan kedua mata yang terpejam.


Arnam ingin sekali menelepon Safira langsung,tapi jangankan menelepon Safira.Berfikir jika ia mendengar suara Safira saja,maka rasanya ia ingin langsung pulang dan menemui Safira.Maka dari itu,Arnam pun berusaha untuk tidak menelepon Safira hingga tugasnya selesai.


Beda halnya jika Safira menelepon duluan,pasti Arnam akan langsung menerima sambungan telepon itu,karena ia tidak ingin Safira khawatir


Tiba-tiba Toni datang dan menghampiri Arnam.


“Tuan”ucap Toni pada saat berada di hadapan Arnam.


Arnam yang sedang menutup matanya itu,ia pun langsung membuka matanya perlahan,dan langsung menatap ke arah Toni.


“Ada apa?”tanya Arnam dingin.


Arnam benar-benar merasa muak dengan semua pekerjaannya itu,ia ingin sekali bertemu dengan Safira saat ini.


“Ini berkas-berkas terakhir yang saya bawa,dan setelah ini selesai,kita baru bisa langsung pulang tuan”ucap Toni memberi penjelaskan.

__ADS_1


Arnam yang mendengar itu.Rasanya ia seperti orang yang merasa sangat haus karena sudah lama tidak minum,dan akhirnya ia bisa minum dengan leluasa,Arnam merasa senang akan kabar itu,tapi meski begitu wajahnya tidak berubah.


“Apakah Safira menelepon saya?,atau mengirim pesan pada saya?”tanya Arnam entah itu ke berapa kali ia ucapkan pada Toni,karena hampir setiap jam Arnam akan mengatakan itu.


Toni hanya diam lalu menatap ke arah berkas-berkas yang ia bawa.Tatapan matanya itu mengandung rasa bersalah,walau ekspresi wajah tetap datar,tapi jika Arnam melihatnya ia pasti akan bisa melihat itu.Sayangnya Arnam tidak bisa melihat itu karena Toni langsung menunduk dan menatap ke arah berkas-berkas yang ia bawa.


“Tidak tuan,nanti jika nyonya menelepon melalui ponsel anda,saya pasti akan langsung memberitahu”


ucap Toni sopan dan langsung menyerahkan berkas yang telah ia rapikan ke arah Arnam.


Yang dimaksud nyonya disini adalah panggilan untuk Safira'.


“Kamu yakin?”tanya Arnam memastikan,ia ingin melihat apakah Toni berbohong padanya.Tapi sebelum sempat Toni menatapnya,ponselnya tiba-tiba berdering.


Triling triling triling


Toni pun langsung mengambil ponselnya dan menatap ke arah Arnam.


ucap Toni yang ingin hendak undur diri.Arnam yang melihat itu,akhirnya ia mengangguk karena ia ingin langsung menyelesaikan pekerjaan agar bisa menemui Safira.


Lalu Toni pun langsung berjalan keluar dari ruangan Arnam.


Saat telah berada di ruangan miliknya,Toni langsung mengangkat sambungan telepon itu.


“Hallo nyonya besar”ucap Toni saat menerima panggilan itu.


“Apa sudah kamu laksanakan tugas yang saya berikan kepada kamu?”tanya sebuah suara yang sepertinya milik seorang perempuan.


“Sudah nyonya besar.Saya sudah menutup dan mematikan ponsel milik tuan Arnam seperti yang anda perintahkan pada saya”ucap Toni menjelaskan.

__ADS_1


Ia sudah mematikan ponsel Arnam dan memutus jaringan telepon.


Ya! Toni langsung mematikan ponsel Arnam tepat di saat Safira mengetahui kebenaran tentang Arnam,itu semua ia lakukan atas perintah dari Rima.Tapi sebenarnya Toni tak mengetahui dengan jelas mengapa ia di perintahkan untuk mematikan telepon itu.Dan untuk informasi tentang Safira pun ia tidak mencari tahu kecuali atas perintah Arnam,karena Arnam melarangnya,ia tidak suka jika informasi pribadi Safira di diketahui,cukup mengirim penjaga mata-mata untuk menjaga Safira itu rasanya sudah cukup bagi Arnam saat ini.


“Bagus,kamu memang pantas berada di samping Arnam.Tapi ingat!,jangan pernah panggil Safira dengan sebutan nyonya di hadapan saya,walau itu melalui telepon sekali pun!”ucap Rima dengan nada tegas dan terdengar keras karena marah akan panggil Toni pada Safira.


“Baik”jawab Toni singkat.


Setelah itu panggilan pun terputus.


“Semoga tuan tidak akan murka pada saya”ucap Toni karena ia merasa tidak memiliki pilihan lain.


Sementara itu di tempat Arnam saat ini.


Arnam terlihat sangat sibuk dengan pekerjaannya itu,ia sangat fokus dan telaten dalam membaca setiap laporan yang ia terima,lalu setelah itu ia bubuhkan tanda tangannya dengan sangat rapi.


Waktu berlalu begitu cepat hingga hampir setengah hari ia hanya fokus menatap ke arah berkas-berkas yang harus ia tanda tangani itu.


Karena tinggal sedikit,dan ia juga mulai merasa jika ia butuh istirahat.Arnam pun menghentikan aktivitasnya untuk sejenak.


“Tinggal sedikit rupanya”ungkap Arnam sambil menatap ke arah berkas yang mungkin akan selesai dalam waktu kurang dari setengah jam.


Arnam langsung bangkit dari duduknya,ia berjalan ke arah kaca besar yang ada di hadapannya.


Dari kaca besar itu,Arnam dapat melihat bangunan-bangunan kota yang menjulang tinggi.


Ruangan milik Arnam berada di lantai paling tinggi,dengan berlatar belakang hampir sembilan puluh persen kaca.Kaca itu berwarna hitam jika dilihat dari luar,tapi dari dalam Arnam bisa melihat jika itu terlihat sangat bening hingga bisa melihat aktivitas orang-orang melalui jendela itu.


“Bagaiman keadaan kamu sekarang?.Aku selama ini selalu merindukan kamu,aku harap kamu selalu dalam keadaan baik di sana”ungkap Arnam,entah kenapa selama ia di sini ia selalu merasa tidak tenang dan ingin langsung pulang untuk menemui Safira.

__ADS_1


Tapi Arnam harus bertanggung jawab atas pekerjaannya itu,karena ia tidak bisa menjadi pemimpin yang abai pada tugasnya


*****


__ADS_2