
Keesokan harinya.
Di sore hari.
Safira yang kini sedang duduk di meja rias,ia terlihat sibuk menelepon seseorang,wajahnya terlihat khawatir dan sedikit cemas,di bandingkan sibuk merias dirinya,ia malah fokus dengan sambungan telepon yang tidak kunjung di angkat.
“Salma mana sih?,kenapa telepon aku gak di angkat-angkat?!”kesal Safira terdengar menggerutu.
Sudah kesekian kali Safira menelepon sahabatnya itu,tapi belum kunjung juga di angkat.
“Ini yang terakhir”ucap Safira yang berniat menelepon Salma untuk terakhir kalinya,Safira berjanji jika Salma tidak menerima sambungan telepon nya itu,maka ia menyerah untuk menelepon Salma.
“Sudahlah,biar aku merias wajah aku sendiri,lagipula aku sedikit ingat cara merias”putus Safira sedikit menghela nafas.
Sebenarnya niat awal Safira menelepon Salma karena ia ingin Salma untuk merias dirinya,karena hari ini Rena mengirim pesan jika acara ulangtahun nya di adakan malam ini,dan jam yang awalnya di janjikan justru di percepatan.Tentu awalnya Safira kaget,tapi untung saja ia sudah membeli baju bersama Salma kemarin.Walau Sebenarnya Rena juga sempat memberikan baju untuknya,tapi entah kenapa tidak Safira pakai.
Safira bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kamar mandi untuk cuci muka lebih dulu.Safira sengaja melakukan itu agar wajahnya bersih dan terlihat fresh.
Selesai melakukan hal itu,Safira pun kembali duduk di meja rias.Ada beberapa macam kosmetik yang Salma pilihkan untuknya kemarin.
Sebenarnya Safira tidak terlalu pandai merias diri,tapi ia cukup bisa memakai make-up,walau tidak tidak terlalu ahli juga.Itu semua sempat ia pelajari dari Salma.Sahabat nya itu,walau juga sempat tomboy sepertinya dirinya,tapi kini sudah terlihat lebih feminim.
__ADS_1
Kini Safira pun mulai merias diri dengan hati-hati.
“Lebih baik aku memakai riasan yang tipis saja,aku terlalu tidak percaya diri kalau memakai riasan yang tebal.Tapi...apa iya hasilnya akan bagus?”Safira terlihat ragu saat merias dirinya sendiri,tapi meski begitu Safira tetap melanjutkan aktivitasnya itu.
2 jam kemudian.
Setelah di rasa cukup baik,Safira pun berhenti merias diri.“Kayaknya ini sudah cukup deh”ucap Safira berkata pada dirinya sendiri dengan nada tidak yakin.
Bukan tanpa alasan Safira lama untuk berhias diri,itu semua Safira lakukan karena ia sempat beberapa kali menghapus makeup nya tadi,mungkin karena menurutnya make-upnya tadi terlihat berlebihan.
“Oh iya,jam berapa sekarang?”ungkap Safira yang langsung menoleh ke arah jam.
Selepas memakai baju yang sempat ia beli bersama Salma,Safira pun langsung berjalan ke arah kaca,ia bercermin untuk sejenak,melihat penampilan dirinya di cermin dengan teliti.
“Cantik”entah kenapa Safira langsung memuji dirinya sesaat setelah melihat penampilan nya di cermin.Biasanya Safira bukan orang yang seperti itu,ia anti berhias apalagi bersikap percaya diri,tapi mungkin karena di sebabkan oleh hormon kehamilan,ia jadi sedikit suka berias dan kadang bersikap terlalu percaya diri,walau sikap percaya dirinya itu hanya akan ia tunjukkan di hadapan adik dan orang-orang tertentu.
“Eh,bukannya tadi aku sempat beli sepatu ya?”mengingat itu,Safira pun langsung berjalan menuju sebuah kotak yang berisi sepatu heels.
Saat membuka itu,terpampang lah sebuah sepatu yang senada dengan bajunya.Walaupun sepatu itu menurut Safira cukup tinggi,tapi tidak lebih tinggi dari 7 cm.Itu sengaja Salma pilihkan,karena hanya itu yang paling pendek di antara sepatu heels yang lainnya.
“Aku coba latihan sebentar deh”ucap Safira sambil memakai sepatu heels itu.
__ADS_1
Sebenarnya baru kali ini Safira memakai sepatu setinggi itu,biasanya ia hanya akan memakai sendal yang tingginya sekitar 3 cm.
Saat mencoba itu,awalnya kaki Safira sedikit gemetaran karena kaku dan belum terbiasa.
“Issh!,ternyata susah juga ya”ucap Safira sedikit gemetaran saat berjalan,sampai Safira pun harus memegang dinding agar tidak terjatuh.
Safira berulang kali bolak balik sambil memakai sepatu heels itu.Saat merasa sudah cukup terbiasa,akhirnya Safira melepaskan pegangannya itu dari dinding,ia berniat untuk berjalan menuju ke arah ranjang.
Satu... dua... tiga... Safira terlihat tenang saat melangkah,dan saat akan sampai di tepi ranjang,tiba-tiba kakinya sedikit bergetar dan hampir saja Safira terjatuh,beruntungnya kedua tangannya langsung menahan tubuhnya agar tidak terjatuh.
“Huh,hampir saja”safira berucap dengan jantung yang berdegup kencang karena takut.Hampir saja perut Safira menyentuh pinggir ranjang yang cukup keras karena sisi ranjang itu terbuat dari besi,Safira yakin jika ia sampai terjauh mungkin saja janinnya akan kenapa-napa.
“Bisa-bisa aku yang akan di salahkan karena keteledoran ini”ucap Safira sambil membayangkan jika Arnam mungkin akan menyalahkan dirinya,dan tentu ia akan merasa sangat bersalah jika calon bayinya kenapa-napa.
“Apa aku ganti dengan sepatu yang lebih pendek saja?,tapi bukankah nanti akan terlihat kurang feminim ya?”ucap Safira bingung,ia terlihat menerka-nerka antara mengganti sepatu itu atau tetap memakainya.
“Memang kenapa kalau tidak feminim,setidaknya yang terpenting adalah keselamatan anakku ini”akhirnya Safira memilih memakai sepatu biasa yang hanya sekitar 3 cm.
*****
Okey jangan lupa like dan vote nya ya guys 😘
__ADS_1