
Saat ini Arnam,Safira beserta anaknya sedang berada di sebuah kedai yang menjual es krim.
Kedai atau yang lebih cocoknya di sebut sebuah restoran itu,menjual berbagai macam jenis es krim.
Terlihat Sabrina sangat senang berada di sana,ia tak henti-hentinya tertawa girang saat bercanda dengan ayahnya,meski wajah Arnam terkesan datar,tapi masih ada kelembutan dimatanya untuk anaknya itu.
“Mamah nggak izinin kamu makan es krim Ina.Kamu bisa saja sakit,apa jamu ngggak ingat kalau kamu itu memiliki pencernaan yang sensitif,mamah nggak mau ya kalau nanti kamu sampai sakit perut terus ke rumah sakit”Mendengar ucapan itu Sabrina langsung menunduk lesu seketika,wajah cerah nya hilang saat itu juga.Sabrina tahu meski ucapan Safira terdengar marah,tapi jelas jika kata-kata itu tersirat kekhawatiran
Arnam yang baru saja hendak mengambilkan es krim,ia sempat menghentikan langkahnya untuk sejenak,lalu kembali melanjutkan langkahnya.
Arnam kembali dengan 2 es krim berukuran sedang,ia dengan santai memberikan es krim itu pada Sabrina.Sedangkan satunya lagi ia berikan pada Safira.
“Hey kamu apa-apaan sih”ucap Safira sewot sambil mengambil es krim dari Sabrina
Safira sengaja tidak memanggil nama Arnam,karena ketenaran Arnam akhir-akhir ini benar-benar luar biasa,bahkan artis internasional di negara itu kalah dengan ketenaran Arnam.
Jangan salah,karena sekarang Arnam sudah sangat terkenal di negara itu,bahkan beberapa negara tetangga,alasannya karena kepintaran Arnam dalam mengurus perusahaan nya serta dalam berpolitik.
Bukan hanya itu,jika ada orang yang memiliki nama mirip dengan Arnam,maka akan menarik perhatian publik,karena berfikir jika itu adalah Arnam,padahal hanya mirip namanya saja.
“Berikan es krim itu!”ucap Arnam pada Safira,ia mengusap kepala anaknya yang berubah menjadi sendu,seolah Arnam berusaha menenangkan kekhawatiran anaknya itu.
“Nggak,kamu gila ya!,kamu nggak ngerti apa-apa tentang Sabrina,aku ibu nya dan aku paling tahu dia“kesal Safira yang merasa tidak terima dengan ucapan Arnam.
Seumur-umur Sabrina tidak pernah memakan es krim,bahkan mencicipi saja tidak pernah,karena Safira akan melarang itu.
"Aku tahu,bahkan aku lebih paham tentang anak ku"jawab Arnam dengan sedikit lebih datar.Jelas tersirat berbagai emosi di wajahnya,antara kesal dan sedikit.
Arnam tahu jika ia tidak bersama Sabrina dan melihat Sabrina dewasa secara langsung.Tapi meski begitu diam-diam Arnam selalu mengutus anak buahnya untuk mengetahui apa saja yang Sabrina lakukan sehari-hari.
__ADS_1
Tentang siapa yang bermain dengan Sabrina,
makanan yang Sabrina suka,bahkan segala aktivitas nya Arnam tahu.Ia bahkan sempat menghukum anak buahnya saat mendengar kabar jika Sabrina masuk rumah sakit karena jajan sembarangan.
Arnam yang benar-benar tak tega saat melihat ekspresi anaknya yang seolah hendak menangis itu,ia pun duduk dan memangku anaknya.
“Ada papah di sini,jangan menangis”Arnam mengelus punggung sabrina dengan lembut.
Seperti nya Sabrina sangat ingin sekali memakan es krim itu,hanya sekali,walaupun Sabrina pikir ia akan sakit setidaknya ia ingin mencoba itu agar tidak penasaran lagi.
“Berikan!”Perintah Arnam pada Safira tapi Safira tetap kekeh pada pendiriannya.
“Berikan!!!”ucap Arnam lagi dengan nada sedikit di tekan tapi Safira tetap kekeh dan malah semakin berani menantang Arnam.
“Nggak,kamu mau tanggung jawab kalau Sabrina kenapa-kenapa,jangan bodoh A..”ucap safira terhenti saat melihat Arnam sedikit menajamkan matanya di balik kacamata hitam nya
Ya! Arnam kini sedang berpakaian selayaknya mata-mata,dengan pakaian serba hitam dan masker yang menutup sebagian wajahnya,jangan lupa topi hitam yang juga ia pakai.Seolah Arnam benar-benar enggan jika publik tahu dia ada di sana.
Bukankah jika bisa memanfaatkan Arnam untuk mengambil es krim sendiri,maka nilai es krim itu akan lebih mahal,karena nilai masyarakat yang tinggi pada Arnam,maka pasti akan membuat apapun yang dilakukan Arnam menjadi luar biasa dan mahal.
“Aku akan tanggung jawab jika terjadi apa-apa pada anakku”ucap Arnam sambil menghela nafas,tidak mungkin juga Arnam berani membentak istrinya itu,yang ada dia sendiri yang akan merasa bersalah.
Masih dengan enggan,Safira diam dan menatap Arnam tajam.
“Awas saja,jika terjadi sesuatu aku tidak akan memaafkan kamu,dan jangan harap bisa bertemu dengan kami”tekan Safira.
Setelahnya Safira memberikan es krim itu pada Sabrina,dan sebelum memakan es krim itu Arnam menyerahkan sebuah obat seperti peremen untuk Sabrina makan.
Sebenarnya pencernaan Sabrina yang sensitif itu juga menurun dari Arnam,ia bahkan ingat saat pertama kali Safira meminta nya mencicipi es krim bersama saat masih berpacaran dulu,saat itu Arnam ingin menolak tapi ia tidak tega melakukan itu,akhirnya ia sering meminum obat agar sistem pencernaan nya menjadi lebih kebal.
__ADS_1
“Enak”
“Ya papa,ini sangat manis dan lembut,ada lagi”sabrina terlihat menikmati obat yang sering Arnam gunakan untuk mengurangi rasa sakit di perut yang sensitif nya itu.Beda nya ini telah diolah kembali untuk mengurangi efek samping dan dibuat seperti permen agar Sabrina menyukai nya.
“Tidak ada,hanya ada ini saja”jawab Arnam,ia hanya akan menggunakan itu pada anaknya untuk saat ini saja,itu Arnam lakukan karena ia tahu betul seberapa ingin anaknya mencicipi es krim.
“Padahal Ina sangat suka itu”ucap Sabrina yang tanpa sadar menyebutkan panggilan khusus ibu nya.
Apakah itu berarti Sabrina telah benar-benar menganggap Arnam seperti ayah kandungnya?,entahlah yang jelas ucapan itu membuat Safira melotot karena terkejut.
Sedangkan Arnam tersenyum penuh kemenangan,entah ia harus mendapatkan hati Sabrina dengan status ayah kandung ataupun ayah gratis' bagi Sabrina,yang jelas Arnam akan melakukan kedua nya.
“Papa,bulan depan Ina ada pentas tali balet,Ina akan ikut itu,mau kah papa hadil di sana?”ucap sabrina di sertai tatapan memohon yang terlihat menggemaskan.
“Baiklah,akan papa usahakan”meski nadanya begitu tapi sudah jelas jika Arnam akan datang.
Sedangkan Sabrina tiba-tiba cemberut dengan wajah yang di tekuk dan terlihat lucu.
“Ina mau papa janji datang,kalau nggak Ina bakal marah”ucapnya menunjukkan wajah serius nya,dan hal itu justru terlihat lucu di mata Arnam.
Arnam akhirnya mengangguk mengiyakan.
“Terima kasih papa”ucap Sabrina yang langsung memeluk Arnam karena senang,tanpa sadar jas hitam Arnam terkena noda es krim dari Sabrina.
Arnam tidak marah,justru ia merasa tak masalah akan hal itu.Dengan telaten Arnam mengelap tangan Sabrina dengan tisu yang ada di hadapannya.
“Apakah sudah puas?”tanya Arnam saat sadar jika Sabrina telah menghabiskan es krim nya,bahkan es krim yang seharusnya di berikan pada Safira pun anaknya makan.
“Iya,Ina sangat puas”ucap sambil tersenyum dan menunjukkan gigi nya yang bersih,tidak ada bekas atau pun noda karena Arnam dengan telaten membersihkan itu.
__ADS_1
“Baiklah,mari pulang”ajak Arnam