
Safira yang mendengar ucapan Rima itu,ia tidak menyangka jika ibu mertua nya begitu tidak menyukainya.
Tapi meski begitu ia hanya diam,seolah menunggu apa yang akan di katakan oleh Rima selanjutnya.
“Apa sih yang Arnam lihat dari kamu?!,
cantik kan juga Rena menantu saya,dia itu pintar,pengertian,dan tentu dia itu termasuk dari anak orang kaya raya.Sedangkan kamu apa?,heh?!”
ucap Rima diakhiri dengan senyum sinis seolah menghina.
Safira yang mendengar dan melihat tatapan Rima itu,ia hanya bisa mengepalkan tangannya dengan erat seolah sedang menahan emosinya.
Siapa sih di dunia ini yang ingin di banding-
bandingin?,tentu saja nggak ada kan.Apalagi orang yang dibanding-bandingkan dengan kita itu adalah orang yang seolah-olah lebih baik dari kita.
Seakan-akan kita itu bumi dan orang yang dibandingkan sama kita itu langit!!!
Jelas sekali perbedaan nya!
Meskipun Safira kalah dalam materi,tapi dari segi fisik Safira nggak kalah.Hanya saja karena kini ia sedang berpakaian tomboi,jadi kecantikan yang dimilikinya itu tertutup oleh gaya pakaiannya itu,tapi bagi sebagian orang pasti akan terasa cool dan keren.
“Lagipula kenapa Arnam bisa cinta sama kamu sih?!,padahal Rena itu lebih dari segala-galanya dari kamu.Atau jangan-jangan ini memang keahlian kamu untuk menggoda laki-laki.Siapa sih yang mengajari kamu?,ibu? atau ayah kamu?!”ucap Rima lagi dengan nada yang terkesan semakin merendahkan Safira dan kini justru kedua orang tuanya terbawa-bawa,
membuat Safira tidak bisa menerima itu.
“Cukup!”ucap Safira tegas,tapi tidak terlalu keras dan juga tidak pelan.
Sudah cukup Safira bersabar dan menahan kekesalannya itu,ia merasa sangat marah dan tidak terima saat nama ayah dan ibunya di bawa-bawa.
“Sudah cukup anda menghina saya!,dan saya masih bisa tahan akan hal itu,tapi tidak dengan keluarga saya!.Karena saya gak akan terima jika anda menghina keluarga saya,apalagi kedua orang tua saya!!.Saya mungkin akan bersabar jika anda hanya menghina saya saja,tapi tolong jangan menghina kedua orang tua saya,karena di situlah batas kesabaran saya!!!”ucap Safira tegas.
Meskipun Safira saat ini merasa sangat marah,seakan ia ingin memukul siapa saja yang dilihat nya,tapi meski begitu Safira tetap bersikap sopan,karena itu termasuk didikan ibunya pada dirinya.
'Seberapa pun marahnya kamu pada orang-orang yang menghina kamu,tapi tidak sepatutnya kamu membalas hinaan mereka,apalagi jika orang itu lebih tua dari kamu.Karena satu hal yang perlu kamu tahu,‘orang yang menghina tidak lebih baik dari orang yang di hina’'Itulah kata-kata yang ibunya ajarkan padanya.
Rima yang mendengar ucapan Safira,ia pun langsung mematung karena merasa sedikit terkejut,ia tidak menyangka jika ada orang yang berani membalas ucapannya itu.
__ADS_1
Kenapa Rima bisa angkuh begitu?,tentu saja karena ia sudah di kenal sebagai ibu dari perusahaan milik Arnam,jadi otomatis banyak orang-orang penting yang menjilat dan menyanjung-nyanjung dirinya.Dan meski pun Rima sering menghina orang lain,tapi orang yang ia hina hanya bisa diam dengan mengepalkan tangannya dengan erat.Tapi wanita yang ada di hadapannya ini? dengan berani membalas ucapannya!
“Kamu nanti akan tahu seberapa hebatnya anak saya,tapi ingat kamu sama sekali bukan pasangan yang cocok untuknya!.Sangat jauh dari kata cocok!!”ucap Rima setelah menghilangkan rasa keterkejutan itu,ia berkata seakan tidak ingin kalah dari Safira.
“Kenapa anda terdengar seperti mengatakan jika saya sangat tergila-gila dengan anak anda?,bukankah ini semua seharusnya salah anak anda yang tidak jujur pada saya?.Dan andaikan saja saya tahu hal ini lebih dulu,mana mungkin saya ingin menikah dengan anak anda yang statusnya itu sangat tinggi,atau lebih tepatnya saya tidak selevel dengan anak anda!”balas Safira dengan nada yang terdengar sarkas di telinga Rima.
Rima yang mendengar itu lagi-lagi mematung,ia menggertakkan giginya dengan sangat keras hingga sedikit terdengar bunyi gigi yang saling beradu.
Meskipun perkataan Safira tidak mengandung hinaan,tapi Rima marah karena ucapan Safira itu benar,dan Rima yang saat ini sedang mati kutu,ia hanya bisa diam,karena tidak tahu harus berkata seperti apa.
“Dan ada satu hal yang ingin saya katakan pada anda.Meskipun saya terlahir dari keluarga yang tidak kaya,tapi setidaknya saya merasa bahagia,karena apa?.Karena keluarga saya terutama ayah dan ibu saya memperlakukan saya dengan sangat baik,seolah saya itu harta yang sangat berharga di mata mereka!.Dan itu cukup bagi saya”ucap Safira lagi dengan nada tegas dan penuh penekanan.
Tidak mudah memang hidup terlahir dari keluarga sederhana,hinaan itu seakan biasa,pujian itu seakan istimewa.Tapi bagaimana cara kita berfikir positif dari keadaan itu,maka tentu rasa syukur yang akan di dapatkan.
“Kalau begitu saya permisi”lanjut Safira tanpa berniat untuk menunggu jawaban dari Rima yang hanya diam dengan tangan yang terkepal erat.
“Awas saja kamu,akan saya buat kamu menyesal!”
ucap Rima saat melihat kepergian Safira,ia berkata setelah sadar dari lamunannya itu.Rima merasa tidak terima akan perlakuan Safira tadi,dan ia sangat marah akan hal itu.
...*****...
Safira sedikit melamun.
Safira sebenarnya tidak bermaksud untuk menghina Rima atau membuat Rima marah,ia hanya ingin membela harga diri kedua orang tuanya.Lagipula semua perkataan Safira tidak ada kata yang bermaksud untuk menghina,karena yang ia katakan itu kenyataan.
Dan apakah salah jika Safira membela orang tuanya?,tidak kan!.Kecuali jika orang tuanya yang salah maka Safira akan menasehati orang tuanya,tapi masalahnya ini orang tua nya di hina oleh Rima yang notabenenya masih ibu mertuanya.
Safira juga tahu jika ia berada di keluarga sederhana,dan mungkin saja keluarganya kadang mengalami kesulitan biaya.Mengeluh tentu pernah,dia bukan manusia yang sempurna tanpa mengeluh,tapi saat Safira mengeluh ibunya sering menasehati ‘jika masih ada orang yang hidup lebih menderita tapi tetap semangat menjalani hidup’.
Dulu Safira pernah di tawarkan oleh Reno sahabatnya,ia di tugas kan Reno untuk menggantikannya selama di luar kota,dan Safira menolak itu,alasannya simple,yaitu karena tanggung jawab itu begitu besar,ia takut jika akan membuat perusahaan itu rugi,lagipula masalah utamanya itu karena Safira belum berpengalaman dalam hal itu,ia juga hanya lulusan SMA,sepintar apapun dia Safira tak yakin bisa menerima tugas Reno dengan baik.
Tak lama angkot pun datang dan Safira pun langsung naik.
Sepanjang perjalanan,Safira berusaha mencoba untuk cuek,ia cuek saat melihat tatapan banyak orang yang memandangnya dengan pandangan hina dan jijik.
Selama ini Safira sering berusaha untuk bersikap baik,bukan hanya karena dirinya tak ingin di anggap buruk,tapi karena ia lebih mementingkan perasaan dan nama baik orang tuanya.
__ADS_1
Tentu berita tentang Rena yang melabrak Safira di restoran waktu itu sudah tersebar,hingga para tetangga yang biasanya cukup dekat dengan nya mulai menjauhi nya.
“Nggak nyangka ya,ternyata tetangga baru kita itu, orangnya jahat.Duh untung gak dekat lagi!,takut kena gaet suami saya,ntar dia embat juga”ucap seorang ibu berpakaian hitam.
“Iya,tega banget dia,masa dia bisa sih dengan teganya menghancurkan pernikahan orang lain.Dan coba lihat gayanya itu,seperti seseorang yang nggak punya salah sama sekali,memang dasar ya orang nggak tahu malu tetap gak tahu malu”ucap si ibu satunya lagi yang berpakaian merah.
Safira yang mendengar itu,awalnya ia hanya diam dan berusaha cuek akan hal itu setiap kali keluar rumah.Tapi semakin lama dia diam,maka semakin sering orang-orang yang tidak tahu apa-apa itu menghinanya.
“Ibu-ibu,tolong jaga ucapannya.Ibu-ibu itu bukan siapa-siapa saya,bukan saudara saya,tapi kenapa bicara ibu-ibu seolah sangat tahu dan mengenal saya.Maaf kalau bicara saya ini kurang sopan,tapi tolong ibu jangan bicara sembarangan,karena yang ibu dengar itu belum tentu benar”ucap Safira yang tidak ingin menjelaskan lebih lanjut.Percuma.Karena Safira tahu seberapa banyak ia berkata,maka orang-orang itu belum tentu akan langsung percaya padanya.
“Jangan sampai karena ibu-ibu terlalu memikirkan masalah orang lain,ibu-ibu jadi lupa dengan kehidupan ibu-ibu sendiri”lanjut Safira yang langsung pergi setelah mengatakan itu.
Sementara kedua ibu-ibu yang sedang mengobrol tadi hanya bisa memandang Safira yang sudah berjalan menjauh.
“Cih,sombong banget sih”ucap si ibu berbaju merah.
...*****...
Saat ini Safira telah berada di kamarnya,ia langsung menutup dan mengunci kamarnya.
Safira langsung duduk dan menenggelamkan kepalanya di kedua lututnya.“Kenapa sih harus seperti ini?”ucap Safira dengan badan yang sedikit bergetar,dan tak lama ia akhirnya pun mulai menangis.Padahal air matanya terlalu berharga,ia juga telah berjanji untuk tidak menangis,tapi ucapan ibu-ibu tadi benar-benar menyakiti dan melukai perasaannya.
Bohong! Jika Safira tidak merasa sedih dan marah akan hinaan Rima dan orang-orang tadi.Ia sebenarnya marah,bahkan sangat marah,tapi memangnya ia bisa apa?,ia hanya bisa diam dan menunggu kebenaran bahwa semua yang orang-orang dengar itu tidak sepenuhnya benar.
Safira akui jika ia kini telah menjadi orang ketiga di pernikahan Arnam dan Rena,tapi disisi lain sebenarnya ia hanya korban,korban dari kebohongan Arnam yang terlalu mencintainya!.
Dan sekarang Safira sedang menunggu kedatangan Arnam untuk dimintai penjelasan nya itu.“Sekali ini saja,biarkan aku menangis untuk terakhir kalinya”ucap Safira pada dirinya sendiri,ia ingin menangis dan meluapkan emosi dan kesedihannya itu.
Setelah ini Safira benar-benar berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menangis.Wajah cuek,acuh,dan abai yang Safira tunjukkan pada orang-orang yang menghinanya itu hanya topeng.
Topeng yang Safira gunakan untuk melindungi dirinya agar terlihat lebih kuat.Dan jika Safira menunjukan sisi lemahnya itu,mungkin orang-orang akan merasa senang dan semakin gencar menghinanya.
*****
Hiks hiks sedih lihat Safira sedih.
Jangan lupa like dan vote nya😘
__ADS_1
Ntar juga kebenarannya terungkap dan Safira tahu kebenarannya tapi di season 2