
Di dalam mobil Arnam.
Suasana terasa cukup sunyi,karena Arnam sedang fokus pada laptop nya yang ia letakkan di pangkuannya.Sebenarnya Arnam sangat sibuk,banyak pekerjaan yang harus ia urus,tapi karena Sabrina meminta ia untuk mengantarnya jadi Arnam pun mengantar Sabrina sekolah sambil bekerja,dan akhirnya ia bekerja di dalam mobil.
“Pah”panggil Sabrina sambil mengeluarkan ponsel yang merupakan pemberian Arnam.
“Boleh ajarin Ina cara mainkan handphone ini nggak?”tanya Sabrina yang memang tak mengerti dengan banyaknya fitur,jangan salah itu kan ponsel canggih,dari perusahaan Arnam langsung lagi,bahkan tidak ada perusahaan yang berani menciptakan handphone sama seperti yang Arnam produksi,alasanya simple karena ponsel itu tidak bisa ditiru.
“Jangan salah paham ya pah,Ina bawa ponsel karena takut nanti berguna buat telepon mamah jika papah nggak bisa jemput ina”jelas Sabrina tidak ingin Arnam salah paham padanya.
Arnam hanya mengangguk sambil mengusap kepala Sabrina sayang.
“Ya papah tahu”
“Akan papah ajari nanti saat pulang sekolah nanti”lanjut Arnam.
Sabrina hanya mengangguk paham dengan semangat,ia tidak berbicara lebih lanjut karena tahu Arnam sedang bekerja.
Sesampainya di Tempat Sabrina sekolah,Arnam pun hanya diam sambil melihat ke arah Sabrina yang telah turun dari mobil.
“Kemana tidak masuk ke dalam?”tanya Arnam karena Sabrina hanya diam dan menatap ke arahnya dengan keadaan pintu mobil yang masih terbuka.
“Pah”cicit Sabrina terlihat bingung antara mengatakan itu atau tidak.Pasalnya Arnam kini sedang sangat sibuk,tapi di sisi lain ia ingin mengajak ayah gratis' nya itu untuk masuk.Ia ingin memamerkan Arnam pada teman-teman nya,terlebih pada anak yang bernama Icha,teman sebaya dengannya.
“Kenapa?”Tanya Arnam terdengar lembut dengan wajah yang memang terlihat datar.
“Nggak jadi,kalau gitu Sabrina masuk dulu ya pah”ucap Sabrina sedikit takut saat melihat wajah Arnam yang terkesan datar.
Arnam yang tahu itu langsung merilekskan wajahnya dan sedikit tersenyum datar,mungkin karena terlalu lelah Arnam baru sadar dengan raut wajahnya yang terlalu serius hingga Sabrina merasa sedikit takut.
“Katakan!,akan papah dengarkan”jawab Arnam entah mengapa terdengar menenangkan walau nada datar itu tak pernah hilang.
__ADS_1
“Em...ehm... Bo..boleh nggak jika papah ikut antar aku masuk”ucap Sabrina sedikit menunduk,ia mencengkram tas ransel dengan sedikit kuat karena gugup.Ternyata memanfaatkan ayah gratis' tidak semudah itu,emang pasalnya selain menurunkan sifat licik dari ayahnya,Sabrina juga ternyata mempunya sifat tidak enakan yang menurun dari ibunya.
“Apakah ada yang bersikap kurang ajar padamu?”tanya Arnam terkesan serius,ia benar-benar tidak akan membiarkan anaknya terluka.
“Tidak papah,aku hanya ingin memamerkan papah pada teman-teman”jawab Sabrina jujur,dengan wajah polos yang menjadi andalannya,dan tentu hal itu selalu berhasil membuat Arnam luluh.
“Baiklah”
Mereka pun masuk ke dalam taman kanak-kanak yang merupakan salah satu TK favorit karena memang itu sekolah bagus.
“Apakah kamu suka sekolah di sini?”tanya Arnam yang masih memperhatikan sekeliling,ia menilai-nilai tentang sekolah Sabrina.
“Iya pah,ini termasuk sekolah TK favorit dan aku sangat suka”ucap Sabrina terdengar bangga.
“Jika ingin sekolah di tempat lain,katakan saja,kamu layak mendapatkan yang lebih baik”ucap Arnam sambil terus berjalan sambil bergandengan tangan.
Mereka berdua tidak sadar jika kini mereka sedang menjadi pusat perhatian,terutama di kalangan ibu-ibu yang sedang mengantar anaknya sekolah di tempat itu.
“Ya ampun,ada artis,gila cakep bener!!”ucap ibu-ibu berbaju abu-abu.
“Hot Dady,duda bukan ya?”timpal ibu-ibu berbaju hijau.
“Ya mana saya tahu,emang kalau duda mau apa?”balas ibu berbaju merah,entah kenapa terdengar sengit.
“Ya kali aja dia mau sama saya”balas ibu berbaju hijau tak kalah sengit.
“Mana ada laki-laki yang mau sama situ,situ kan janda gatel”sinis ibu-ibu berbaju merah.
“Ya kali nggak mau sama saya,secara saya kan cantik gini,suami ibu aja hampir kecantol sama saya”songong ibu berbaju hijau.
“Itu karena situ janda gatel”balas ibu berbaju merah yang kini mulai tersulut emosi dan hendak memukul ibu berbaju hijau,tapi untungnya di tahan oleh ibu berbaju abu-abu.
__ADS_1
“Sudah Bu tenang,ingat suami ibu masih di rumah.Ibu Leli juga,ingat ya ibu udah menikah bulan kemarin”ucap ibu berbaju abu-abu yang mengingatkan ibu berbaju hijau,yang bernama Leli.
Si ibu berbaju hijau yang merasa namanya di sebut langsung diam.
“Lihat wajah ganteng aja boleh,tapi ingat! jangan sampai lupa dengan suami yang ada di rumah”ucap ibu berbaju abu-abu tadi yang melenggang pergi.
Seketika mereka berdua pun bungkam karena merasa perdebatan mereka tak ada gunanya.
“Hai Sabrina,siapa itu?”tanya anak kecil yang memakai bando,pakaian yang memang terlihat ramai dengan banyak aksesoris menempel di seragam nya membuat Sabrina membuang muka ke arah lain.
‘Dasar tukang pamer’kesal Sabrina pada anak kecil di hadapannya yang bernama Icha.
“Kamu kol diam aja pas di tanya?,jawab dong”
“Ini papah aku”balas Sabrina sedikit malas,tapi tiba-tiba ia tersenyum karena teringat rencananya.Maklum Sabrina kadang suka malas jika lihat orang tukang pamer,belum lagi teman nya yang namanya Icha ini sedikit menjengkelkan menurut Sabrina.
Icha sering mengejek Sabrina karena Sabrina tidak fasih dalam mengatakan r'.Alasan utama Icha sering meledek Sabrina karena Sabrina jauh lebih pintar darinya.
“Setahu aku kamu nggak punya papah tuh”ucap Icha dengan tangan yang sedikit di gerakan seolah sedang pamer pada Sabrina jika ia sudah membeli jam tangan baru.
“Papah balu,emang nggak boleh”kesal Sabrina dengan sifat Icha.
“Oh gitu,ternyata kamu juga punya papah baru toh,kirain papah kandung”terdengar jelas ledekan dalam ucapan Icha.
“Om tahu kalau Sabrina ini sangat bodoh di kelas,dia bahkan tidak bisa mengatakan huruf R dengan jelas”adu Icha menjelek-jelekkan Sabrina.Nyatanya justru ia yang paling bodoh di kelas,walau sudah fasih dalam melafal huruf R.Karena jelas dia sedikit lebih tua dari Sabrina.
“Emang kenapa kalau aku nggak bisa ngomong l(r)”sabrina kesulitan saat mengatakan R hingga terdengar jelas jika itu di paksakan.
Tiba-tiba terasa usapan lembut di kepala Sabrina seolah sangat menenangkan untuknya.
“Tidak masalah,biar aku ajari dia sampai pintar”ucap Arnam seolah menenangkan kekesalan Sabrina.
__ADS_1
Awal nya Arnam hanya diam karena tidak tahu harus merespon seperti apa perdebatan kecil anak-anak,jika yang menyakiti anaknya adalah orang dewasa sudah dipastikan Arnam tidak akan membiarkan itu.
“Pah,dia meledekku kalena cadel”ucap Sabrina mengadu dengan ekspresi terlihat sedih.