
Keesokan harinya.
Safira yang tersadar dari tidurnya itu,ia pun sedikit melenguh.
“Eugh”lengguhnya saat Safira merasakan lehernya pegal karena ia seharian tertidur dengan posisi kepala yang menunduk dengan kedua tangan yang memeluk tubuhnya sendiri.
“Ternyata aku tertidur seharian dengan posisi seperti ini”ucap Safira dengan nada paraunya.Matanya sembab dan penampilan nya sangat kacau,Safira yakin jika kini dirinya terlihat sangat menyedihkan,
bahkan untuk melihat penampilan nya di depan kaca Safira takut dan tak berani.
Rasanya ia hancur!!!
Sangat hancur!!!
Membangun kepercayaan itu sulit,dan gak mudah,gak semua orang juga bisa di percaya.Safira benar-benar tak menyangka jika ia berada di posisi seperti ini.
Kenapa bisa?..
Kenapa?....
Pertanyaan itu seolah-olah berputar-putar di otaknya dengan kekecewaan yang mendalam.
Safira pun sedikit mengibaskan kedua tangannya yang terasa kebas,lalu ia memijat tengkuk lehernya yang terasa pegal dan sakit.
Bayangkan seharian di posisi seperti itu,bagaimana bisa tidak sakit dan pegal.
Tak berapa lama,saat Safira merasa mulai membaik,ia pun hanya diam dengan kepala yang bersandar di dinding kamar nya.Rasanya ia lapar,tapi bahkan untuk sekedar bangkit saja Safira tidak memiliki tenaga.
Safira hanya diam sambil menatap lurus ke depan,seakan ia sedang mengingat hal yang baru saja menimpanya kemarin.
Tes tes tes
Tak terasa air matanya kembali luruh seketika,ia menangis tanpa suara.Dan semakin lama air matanya itu semakin mengalir dengan deras,terdengar pula suara isa kan yang terdengar parau keluar dari mulutnya.
“Kenapa harus seperti ini sih?!”ucap Safira dengan suara bergetar,seakan ia kini sedang meratapi nasibnya.
“Kalau saja aku tahu dia sudah menikah,
__ADS_1
mungkin aku gak akan menikah dengan dia”gumam Safira terdengar sangat parau,rasanya suaranya habis setelah kemarin ia menangis hampir semalaman.
Safira tiba-tiba kembali teringat jika ia harus menghubungi Arnam untuk meminta penjelasan.Ia pun berusaha menelpon Arnam kembali,tapi saat Safira menelepon Arnam,lagi-lagi ponsel Arnam tidak aktif.Dan karena kesal ia terus menelepon Arnam hingga berkali-kali,tapi tetap tidak tersambung karena handphone Arnam sedang tidak aktif.
“Lebih baik aku kirim pesan saja,agar jika nanti ponsel miliknya aktif,ia bisa langsung baca pesan aku”gumam Safira dengan nada yakin.
Safira pun mulai mengetik pesan untuk Arnam,entah apa pesan yang ia tulis tapi yang jelas wajahnya terlihat serius,setelah pesan terkirim,Safira pun langsung meletakkan ponsel itu tepat di sisinya.
Kembali merenung,seakan-akan ia kini menjadi orang yang banyak merenung dan melamun,tatapan matanya pun ia layangkan ke arah langit-langit kamar dengan posisi kepala menyender ke dinding,bahkan jika tidak ada dinding mungkin Safira tak sanggup untuk sekedar duduk.
Tanpa sadar Safira pun menutup matanya sejenak sambil menghela nafas panjang.
Triling triling triling
Terdengar ponsel Safira berbunyi,dengan cepat Safira pun langsung membuka matanya dan langsung mengambil ponselnya itu.
Safira seakan bersiap-siap untuk memarahi dan memaki-maki Arnam jika yang meneleponnya itu Arnam.Tapi saat ia melihat siapa yang menelepon nya itu,ia pun langsung menghembuskan nafas dengan berat.
“Iya Ra”ucap Safira saat mengangkat telepon yang ternyata itu dari Rara adiknya.
“Baik”jawab Safira dengan nada setenang mungkin.Padahal suaranya rasanya telah habis,tapi ia semaksimal mungkin berusaha agar suaranya terdengar normal.
“Kak,maaf ya pagi-pagi begini aku sudah ganggu kakak.Ini semua karena ibu ingin bicara dengan kakak”ucap Rara dengan nada tak enaknya.Ia sedikit curiga dengan suara kakaknya yang sedikit serak,tapi karena ibu nya terus mengganggu nya Rara pun tak fokus.
“Gak masalah”jawab Safira cepat.
Meskipun Safira berkata seperti itu,tapi jauh di lubuk hatinya ia merasa sangat khawatir dan gelisah.Takut mereka tau lalu khawatir,ia tidak ingin mereka ikut sedih.
‘Apakah ibu sudah mendengar masalah aku’pikir Safira tak karuan.
“Hallo sayang”ucap Rina memulai pembicaraan saat ia telah mengambil alih telepon Rara.
“Iya Bu?”tanya Safira berusaha sekuat tenaga agar tidak menangis dan terisak saat mendengar suara ibunya.
Walaupun Safira adalah perempuan kuat yang jarang menangis,tapi di posisi saat ini,ia merasa ingin terus menangis karena merasa di bohongi oleh Arnam.Safira merasa sakit hati dengan kebohongan Arnam,apalagi ia benar-benar sayang dan telah percaya sepenuhnya dengan Arnam.
Sikap jutek nya pun tak pernah Safira tampil kan lagi di depan Arnam,walau ia keras kepala dan gengsian tapi perasaan sayangnya itu tulus.
__ADS_1
“Ibu baik-baik aja,dan bagaimana kabar mu di sana?”ucap Rina balik bertanya.
“Baik”jawab Safira singkat,ia menjauhkan ponselnya dan membesarkan volume nya,Bibirnya yang mengeletup karena bergetar tak bisa ia tahan.Safira berharap di kondisinya saat ini ibunya segera mengakhiri panggilan telepon nya itu.Ia kini sedang berada di posisi terendah,dan bukan berarti ia tak menganggap mereka,tapi Safira kini butuh waktu sendiri untuk menenangkan.
“Maaf ya kalau ibu sudah mengganggu kamu.Ibu menelepon kamu hanya karena ibu ingin bicara sama kamu,ibu ingin dengar suara kamu,karena sudah lama kamu nggak ke sini lagi.Dan kalau bisa ibu ingin kamu sering-sering berkunjung ke sini”ucap Rina dengan suara keibuan miliknya.
Rina merasa sangat rindu pada anaknya,karena biasanya Safira sering berkunjung kerumahnya,tapi sudah seminggu yang lalu ia jarang berkunjung lagi.
“Iya bu”ucapnya masih dengan isakan yang ia tahan.
Safira memang jarang berkunjung karena ia harus menyelesaikan tugasnya sebelum ia mengundurkan diri.Itu sebabnya ia sering lembur,karena memang Safira tidak bisa mengundurkan diri begitu saja.
“Ibu senang dengarnya,dan sebenernya bukan hanya itu yang ingin ibu katakan.Saat ini entah mengapa ibu merasa perasaan ibu tidak enak,jadi ibu minta Rara agar telepon kamu karena ibu khawatir sama kamu”ucap Rina menjelaskan.
Safira yang mendengar itu,ia kembali terisak,air mata yang ia tahan itu kembali jatuh seketika.
“Kenapa nak?”tanya Rina khawatir saat mendengar isak tangis Safira.
“Nggak Bu,Safira nggak kenapa-napa,hanya terharu dengan ucapan ibu aja”jawab Safir cepat seolah menenangkan kegelisahan ibunya.Untung itu alasan yang terdengar logis saat ia tanpa sadar terisak sedikit keras.
“Oh begitu,karena kamu baik-baik saja,maka ibu tutup dulu telepon nya,karena ibu masih banyak pekerjaan rumah yang harus ibu selesaikan.Dan sepertinya Rara juga akan berangkat ke sekolahnya”ucap Rina terdengar menjelaskan.
“Iya”jawab Safira,dan setelah itu panggilan pun terputus.
Safira yang melihat panggilan telepon telah berakhir,ia pun langsung menghela nafas lega.Tapi isakan dan tangisan itu tidak berhenti justru semakin menjadi.
Entah kenapa Safira merasa jika ibunya memiliki ikatan batin yang sangat kuat dengannya.Dan itu terbukti,karena di saat ini ia sedang mengalami masalah besar,dan ibunya seolah tahu tentang masalah yang sedang ia hadapi saat ini,meski sebenarnya mereka tak tahu keadaan yang hancur saat ini.
****
Makasih udh membaca🤗
Maaf kalau bikin kalian sedih dan nangis🤧
Di episode ini author pernah nangis karena ngebayangin posisi Safira.
jangan lupa like dan vote nya ya biar author nggak nangis juga kayak Safira 🤧🤭🤭
__ADS_1