
Arnam saat ini telah sampai di depan mansion miliknya.Ia langsung berjalan masuk ke dalam mansion.
“Arnam”panggil Rima secara tiba-tiba.
Arnam pun berbalik dan menatap kearah ibunya yang sedang duduk bersama dengan seorang wanita.
Wanita itu terlihat memakai pakaian yang seksi dan ketat.Arnam yang melihat penampilan wanita sekilas,ia pun kembali menatap lurus ke arah ibunya,seakan merasa tak suka saat menatap wanita itu yang kini menatapnya dengan tatapan memuja.
“Sini sayang,ibu kenalin kamu sama anak sahabat ibu.Namanya Rena”ucap Rima dengan wajah berseri-seri.
Arnam berjalan mendekat kearah Rima dengan langkah yang terasa berat.Ia hanya diam tanpa berkata apapun,seolah Sangat enggan untuk hanya berbicara satu kata saja.
“Kamu di sini dulu,duduk di samping Rena,kalian bicara dulu baik-baik untuk saling mengenal”ucap Rima terlihat senang.Ia pun langsung bergeser kearah samping,dan mempersilahkan Arnam untuk duduk di samping Rena.
Beda halnya dengan Rima dan Rena yang terlihat senang,justru Arnam hanya berdiri dan diam saja.Ia hanya menatap kearah ibunya dengan tatapan datar,tapi meski begitu ia tetap menyayangi ibunya itu.
“Kenapa diam aja?,ayo duduk! kamu tidak mendengar ucapan ibu”ucap Rima menatap Arnam dengan tajam.
“Saya masih ada urusan lain”ucap Arnam merasa sangat enggan untuk duduk di samping Rena,di saat Arnam hendak berbalik dan melangkah pergi,Rima tiba-tiba berteriak marah“Arnam,kamu berani bantah ibu?”
Rena yang melihat hal itu,ia hanya diam saja.Rena sebenarnya sudah tahu tentang Arnam yang memiliki kekasih,tapi karena ia awalnya tergiur dengan harta dan kekayaan Arnam yang jauh lebih kaya dari orang tuanya itu,membuatnya bertekad untuk membuat Arnam mencintainya.Walau sebenarnya ia juga telah memiliki kekasih.
“Bukankah sudah saya katakan,jika hanya Safira yang akan menjadi istri saya!!”ucap Arnam datar dengan nada rendahnya,karena ia masih menghormati ibunya.
“Arnam kamu?!,sini ikut ibu!,ada yang ingin ibu katakan ke kamu”ucap Rima,ia langsung berjalan pergi melewati Arnam.
Melihat hal itu,akhirnya Arnam pun langsung berjalan mengikuti ke arah mana ibunya melangkah.
__ADS_1
Setelah mereka cukup lama berjalan,akhirnya mereka sampai di sebuah kamar milik Rima.Rima pun duduk di sebuah sofa yang ada di kamarnya
“Arnam sudah ibu bilang berapa kali,kamu jangan pernah bantah ibu!.Waktu itu kan kamu kan hanya diam,berarti kamu harus mengikuti ucapan dan kemauan ibu!”tekan Rima.
Arnam yang tadi hanya berdiri saja,ia pun mulai melangkah dan duduk di sofa.Dan posisi mereka saat ini saling berhadapan dan hanya di batasi oleh sebuah meja.
“Bukankah sebelum itu saya mengatakan jika hanya akan menikahi Safira,lalu mengapa ibu bisa menyimpulkan jika saya menyetujui perjodohan ini?”tekan Arnam masih kukuh dengan keinginan nya.
“Pokoknya ibu gak peduli,ibu mau kamu untuk terima perjodohan ini,ibu gak terima bantahan”ucap Rima sambil menatap kearah Arnam.
“Tapi Saya berniat untuk menikah dengan Safira”ucap Arnam yang mengungkapkan keinginannya untuk menikahi Safira.
“Ibu gak akan setuju akan hal itu,karena ibu akan kasih tau kepada Safira bahwa status kalian itu berbeda.Dengan begitu Safira akan menyerah dan tinggalin kamu!!”ucap Rima kini dengan nada mengancam.
“Jangan pernah ibu lakukan hal itu!!,karena kalau ibu berani untuk melakukan itu,saya akan pergi!”ucap Arnam mengancam balik.
“Ibu,Apakah ada sesuatu yang selama ini belum anda dapatkan?.Bukankah saya selalu mengabulkan apapun keinginan anda sesulit apapun itu,jadi mengapa hanya untuk permintaan ini anda tidak bisa mengabulkan keinginan saya?”ucap Arnam dengan datar tapi nada suaranya terdengar mulai melunak.
‘Apa yang telah anak itu lakukan hingga membuat anak saya begitu mencintai nya’ batin Rima marah dan tak terima,ia semakin tak menyukai Safira karena berfikir Arnam melawan nya.
“Oke,ibu akan setuju kamu menikah dengan Safira,tapi...”ucap Rima menjeda sejenak ucapannya itu dan menatap ke arah Arnam yang terlihat merespon perkataan nya itu.
Rima belum pernah melihat ekspresi anaknya yang seperti itu,ini yang pertama kalinya ia melihat anaknya terlihat tertarik dan merespon perkataan nya dengan baik.
Tapi meski begitu,ia tetap akan mengatakan sebuah syarat yang akan membuat Arnam merubah ekspresinya.
“Tapi kamu harus tetap menikahi Rena lebih”ucap Rima masih kukuh dengan niatnya.
__ADS_1
“Ibu!”ucap Arnam dengan wajah yang mulai mengeras dan amarah yang tertahan.Ia berusaha keras untuk tidak marah kepada ibunya sendiri.Tangannya mulai mengepal dengan erat,seakan menahan emosinya yang mulai naik.
“Kenapa?,kalau kamu tidak terima ibu akan kasih tau Safira yang sebenarnya!”ucap Rima masih dengan ancaman yang sama.Ancaman yang menjadi alasan ketakutan Arnam selama ini,hingga Arnam rela menutup rapat-rapat identitas nya itu.
“Dan ingat jangan berani-beraninya kamu pergi dari rumah ini!.Kamu memangnya tega tinggalin ibu sendirian?,kamu harus ingat Arnam!.Hanya ibu yang kamu miliki saat ini!!”ucap Rima lagi dengan penuh penekanan.
“Kalau begitu Arnam pergi dulu,Arnam masih ada urusan”ucap Arnam bangkit dari duduknya setelah ia hanya diam mendengar ucapan ibunya tadi.
“Arnam kamu temui Rena terlebih dahulu,ibu mohon dan tolong terima syarat ibu tadi,jika memang kamu berniat menikahi Safira”ucap Rima tiba-tiba dengan nada memohon.Wajahnya terlihat putus asa dan tak tahu harus berbuat apa lagi,ia juga tak tahu harus membujuk Arnam dengan cara apa.
Arnam yang melihat hal itu,ia hanya diam untuk sejenak,tapi ia juga merasa sedikit tak tega.Dan pada akhirnya hatinya Arnam sedikit demi sedikit luluh.Apalagi Arnam mengingat jika kini hanya ibu nya satu-satunya keluarga nya,dan nasehat dari orang itu' juga mengatakan jika ia harus membahagiakan ibu nya,entah mengapa pada akhirnya Arnam pun mengangguk setuju.
Rima yang melihat itu,tiba-tiba ia langsung tersenyum senang.
‘Sekarang aku tahu bagaimana caranya agar Arnam luluh’. batin Rima sambil tersenyum senang.Seakan ia baru saja memiliki cara lain agar Arnam luluh dan menurut padanya.
Arnam pun langsung keluar dari kamar ibunya,ia pun berjalan menuju ruang tamu dengan terpaksa.Dan sekarang Arnam tidak memiliki pilihan lain selain menerima pernikahan itu.
Di saat Rena melihat kedatangan Arnam,ia yang tengah memainkan ponselnya,langsung mematikan dan memasukan ponselnya ke dalam tas miliknya
“Arnam kan?”tanya Rena berbasa-basi,ia hendak berdiri dari duduknya,tapi kata-kata Arnam berhasil membuat niatnya terhenti.
“Duduk!!”ucap Arnam dingin.
Arnam yang sadar jika Rena hendak bangkit untuk menghampirinya,oleh karena itu,ia langsung mencegah hal itu.
Arnam pun duduk di salah satu sofa kosong yang paling jauh dari tempat Rena duduk.Rena yang melihat itu hanya dapat diam,dengan tangan terkepal menahan amarah.
__ADS_1
Rena merasa sedikit tersinggung melihat Arnam yang terlihat enggan duduk apalagi melihat kearahnya.