
Saat ini Arnam sedang duduk di ruang tamu bersama dengan Rima yang juga duduk disampingnya.Rima hanya diam sambil melihat kearah sekeliling rumah yang sedang ia kunjungi.Yaitu rumah Safira.
‘Sangat kecil dan sempit'pikir Rima seolah menghina.
Tak lama setelah itu,Safira pun datang dengan membawa minuman di tangannya.
“Maaf Tante,Arnam,saya hanya bisa menyajikan minuman yang sederhana ini”ucap Safira yang langsung menyajikan beberapa minuman dan camilan di atas meja.
Arnam yang mendengar itu,ia hanya mengangguk sambil tersenyum.
“Dimana ayah kamu?”tanya Rima langsung dengan nada malasnya.Terlihat jelas jika ia enggan berada di sana untuk waktu yang lama,tapi sayangnya Safira tak memperhatikan itu.
“Ayah masih bekerja Tante,tapi tadi ibu udah telepon ayah dan suruh ayah pulang.Dan lagi pasti sebentar lagi ayah juga akan sampai”ucap Safira diakhiri dengan sebuah senyuman yang bertujuan untuk menutupi rasa canggung dan gugupnya saat ini.
‘Aku harus tenang dan jangan gugup'pikir Safira menguatkan.Safira tak menyangka jika akan merasa se-gugup dan se-canggung ini saat bertemu dengan orang tua Arnam untuk pertama kalinya.Meski begitu Safira berusaha untuk tetap terlihat tenang dan sopan di depan Rima.
Rima yang melihat itu.Ia tahu jika Safira saat ini sedang gugup,tapi sayangnya ia tak peduli akan hal itu.
“Ibu”panggil Arnam saat melihat ibunya hendak bicara.Arnam seakan tahu apa yang akan ibu nya katakan,hingga ia berusaha untuk mencegah ibunya jika berkata buruk.
Sedangkan Rima langsung bungkam,ia pun hanya diam dengan tangan yang terkepal erat.Rima seolah membayangkan kejadian kemarin yang membuat ia terpaksa datang ke sini.
Flashback.
Saat itu,di suasana pagi hari yang cerah.
Rima yang sedang duduk di ruang santai,ia terlihat sedikit bersandar sambil menyesap tehnya dengan anggun.
“Kenikmatan yang sungguh patut untuk di nikmati”ucap Rima setelah menyesap teh yang ia pegang.
Rima pun menaruh cangkir teh itu dengan hati-hati,dan ia langsung mengambil majalah yang ada di hadapannya.
“Ibu”panggil Arnam sambil berjalan ke arah ibunya.
Rima yang mendengar itu,ia hanya fokus menatap majalah yang sedang ia baca.
“Kenapa?”tanya Rima tanpa menatap kearah Arnam.
“Besok saya akan ke rumah Safira untuk melamar Safira”ucap Arnam memberitahu.Ia berkata dengan nada yakin,dan terdengar mutlak seolah tak ingin di bantah.
Sontak Rima yang mendengar itu,ia pun langsung menatap ke arah anaknya dengan mata yang melotot tajam.
__ADS_1
“Apa kamu bilang?”tanya Rima memastikan.
“Saya akan melamar Safira besok”ucap Arnam lagi dengan nada yang lebih yakin.
Brakkk....
Rima melempar majalah itu dengan kasar saat ia mendengar ucapan yakin Arnam.
“Sudah berapa kali ibu bilang,ibu nggak pernah setuju dengan hubungan kalian!.Kenapa sih kamu masih tetap mempertahankan hubungan kamu itu?!!”ucap Rima dengan marah,wajah terlihat sangat emosi saat mengatakan itu.Rasanya kedamaian nya hancur seketika saat sang anak membahas nama wanita yang menurut nya pembawa malapetaka untuknya.
Meski mendengar hal itu,Arnam hanya diam dengan wajah tenang.Seolah ucapan ibunya tak bisa mempengaruhi ucapannya tadi.
Satu hal yang membuat Rima marah dan benci kepada Safira dengan pasti,yaitu karena Arnam akan berubah keras kepala jika hal itu berhubungan dengan Safira.
Dan Rima tak menyukai itu!!!
“Bukankah ibu sudah berjanji untuk merestui hubungan kami asalkan saya menikahi wanita pilihan ibu”ucap Arnam datar dengan wajah tenangnya.
Arnam seolah mengingatkan kepada ibunya tentang janjinya dulu sebelum ia menikahi Rena.
“Tapi ibu tetap nggak setuju!.Dan bukannya kamu itu sudah mendapatkan Rena.Dia itu sepuluh kali lebih baik di bandingkan perempuan itu”ucap Rima dengan nada angkuh.Bahkan menyebut nama Safira saja ia pun enggan.
“Kamu!”ucap Rima yang tak tahu harus berkata seperti apa.Rasanya karena terlalu marah ia sampai sulit untuk berkata-kata.
“Ibu,apakah anda akan mengingkari janji yang telah di buat?.Jangan lupa!,jika anda mengingkari janji itu,maka saya juga akan menjadi orang yang mengingkari janji,seperti yang anda lakukan saat ini”ucap Arnam yang membuat wajah Rima sedikit menegang.Kata anda' sengaja ia tekan seolah mereka memang dekat tapi terasa asing.
‘Jika aku benar-benar mengingkari janji,dan dia melakukan seperti apa yang dia katakan,lalu apa yang bisa aku lakukan agar Arnam bisa menuruti semua kemauanku?.Dan lagi hal itu pasti akan berdampak buruk pada masa depanku nanti.
Sial!’pikir Rima yang seolah sedang menimang-
nimang.
“Baiklah,ibu akan ikut dengan kamu untuk melamar Safira”akhirnya Rima berkata dengan enggan.
‘Walau aku tidak bisa memberi tahu tentang status kami,tapi nanti akan aku tunjukkan kesombonganku ini agar dia berfikir dua kali sebelum menikahi Arnam’. batin Rima sambil tersenyum.
Arnam yang melihat ibunya tersenyum secara diam-diam itu,ia seakan mengerti dan tahu pikiran ibunya itu.
“Jangan pernah ibu mengatakan apapun,apalagi bersikap sombong pada mereka,karena yang perlu ibu katakan hanya tentang acara lamaran saja”ucap Arnam di sertai sedikit ancaman.
‘Sial!’pikir Rima saat tahu Arnam seolah bisa menebak jalan pikirnya.
__ADS_1
Setelah mengatakan itu,Arnam pun langsung bangkit dari kursinya.
“Ada beberapa tugas yang harus saya urus.Dan tentang persiapan lamaran,ibu tidak perlu tahu cukup saya saja yang tahu itu”ucap Arnam seakan pamit,ia masih berkata dengan nada dingin dan datarnya.
Setelahnya,Arnam pun langsung meninggalkan ibunya yang sedang terlihat marah dan tak terima.
“Sial!,acara santai ku jadi berantakan!”ucap Rima dengan nada marah di sertai nada tak suka miliknya.
Flashback End.
Dan sekarang kembali ke tempat Safira.
Rima yang sudah tak kuat untuk menunggu,ia pun hendak bangkit,tapi sebelum itu tiba-tiba Hadi datang dengan wajah yang sedikit letih,dan terlihat ngos-ngosan karena berlari.
“Ayah”panggil Safira dengan nada khawatir saat melihat ayahnya yang terlihat sedikit kelelahan.
“Tidak apa-apa nak,ayah hanya sedikit berlari saat datang ke sini”jawab Hadi berusaha menenangkan kekhawatiran anaknya.
‘Ha?,berlari?!,seberapa miskinnya mereka hingga datang ke sini dengan berlari’pikir Rima tersenyum sinis.
“Harusnya ayah nggak usah lari,kenapa nggak pinjam motor atau naik kendaraan umum saja untuk datang ke sini sih?”ucap Safira sambil menuntun ayahnya untuk duduk.
“Nggak apa-apa,lagipula dekat kok”ucap Hadi sambil tersenyum menenangkan.
Hadi pun mengalihkan pandang menatap kearah Arnam yang sedang berdiri,dengan Rima yang hanya duduk diam di samping Arnam.
“Oh ternyata ini ibu dari Arnam,maaf sudah menunggu lama”ucap Hadi saat telah duduk,nada ramah dan sopan ia ucapkan,tapi Rima hanya menatap itu dan tak berkata apa-apa.
Safira pun ikut duduk di samping ayahnya.
“Ayah harusnya anda tidak perlu terburu-buru untuk datang kemari.Karena bagaimanapun kami pasti akan menunggu dengan tenang”ucap Arnam datar,
tapi meski begitu terdapat nada kekhawatiran dari perkataannya itu.
“Terima kasih nak Arnam”jawab Hadi sambil tersenyum karena kekhawatiran Arnam itu
Sedangkan Rima jelas langsung menatap ke arah Arnam karena memanggil Hadi dengan sebutan ayah'.Melihat kedekatan itu jelas Rima semakin tak suka akan hal itu.
“Oh iya ada tujuan apa kalian datang kemari?”tanya Hadi mengalihkan topik.Meski ia merasa sedikit tak nyaman dengan sikap Rima yang hanya diam dan terlihat acuh menurut nya,tapi seolah itu ia abaikan untuk saat ini.
“Seperti yang waktu itu saya katakan,saya berniat melamar Safira,dan sebagai bukti ketulusan saya,saya telah meminta ibu saya untuk datang dan membicarakan rencana pernikahan kami”jawab Arnam dengan tenang dan yakin.
__ADS_1