
Di tempat lain.
Kini kedua orang tua Safira baru saja pulang dari sebuah acara yang telah mereka hadiri.Mereka berdua pun terlihat berhenti melangkah saat melihat dokter Amara yang sedang memejamkan matanya di atas kursi panjang.
“Kenapa dokter Amara tidur di situ?”tanya Rina terlihat heran,ia menatap ke arah sang suami dengan pandangan bertanya.
“Coba kamu dekatin,suruh dia tidur di kamar.Pasti gak nyaman jika terlalu lama tidur di sofa”ucap Hadi yang langsung di angguki oleh Rina.Dan akhirnya Rina pun mulai melangkah untuk mendekati Amara.
“Dok,dokter Amara.Kalau anda mengantuk anda bisa tidur di kamar”ucap Rina sedikit menepuk bahu Amara.Tapi sayangnya Amara tidak merespon sama sekali,karena ia terlihat sangat pulas tertidur.
Baru setelah beberapa menit terus berusaha menyadarkan Amara,dan karena Amara tak kunjung bangun,akhirnya Rina pun memilih untuk menghampiri Hadi.
“Sepertinya dokter Amara sangat mengantuk,ia sampai tertidur pulas di sofa.Kalau begitu biarkan saja dia tertidur di sana”ucap Rina yang langsung di angguki oleh suaminya.
Hadi berfikir jika Amara kecapean hingga tertidur pulas,jadi ia langsung setuju dengan ucapan istri nya itu.
Hadi dan Rina pun kembali melangkah menuju kamarnya,tapi saat melihat kamar Rara yang sedikit terbuka,tiba-tiba Rina pun mendekat ke arah kamar milik Rara.
“Kenapa?”tanya Hadi pada istri nya yang hendak memasuki kamar Rara.
“Pintu Rara kebuka,aku khawatir Rara kenapa-napa”jawab Rina yang langsung memasuki kamar Rara.Saat melihat Rara tertidur pulas,Rina pun langsung menghela nafas lega.
“Tumben banget mereka berdua sudah pada tidur”Rina merasa heran akan hal itu.
“Ya tidak masalah,mungkin mereka capek,jadi tidur lebih awal”jawab Hadi yang langsung di jawab anggukan dari Rina.
“Ya udah Bu,ayo kita istirahat!,ibu pasti capek”ajak Hadi pada istrinya,ia paham betul jika istrinya juga merasa capek seperti dirinya setelah menghadiri sebuah acara kecil-kecilan yang di adakan oleh teman kerjanya.
“Eh tapi tunggu dulu yah,ibu masih ingin cek kamar Safira,dia lagi tidur atau belum”ucap Rina dengan langkah kaki yang langsung mendekat ke arah pintu kamar Safira.
Saat memutar knop pintu,ternyata pintu di kunci.Entah itu di kunci dari dalam atau luar, ia juga belum bisa memastikan itu.
“Di kunci yah”beritahu Rina pada sang suami yang tengah memperhatikan interaksi nya itu.
“Ya sudah kita langsung ke kamar saja untuk istirahat,mungkin saat ini Safira sengaja kunci pintu karena tidak ingin tidurnya di ganggu”ucap Hadi berusaha memaklumi.
“Tapi kan yah,nggak biasanya Safira kayak gini.Dan kalaupun dia sedang tidur,kamarnya juga nggak pernah di kunci”ucap Rina merasa aneh.
“Sudahlah,tidak perlu di pikirkan,mungkin memang ia ingin mengunci pintu kamarnya.Ayo kita istirahat!”jawab Hadi yang tidak merasa curiga sama sekali,karena yang kini Hadi rasakan adalah rasa lelah setelah menghadiri acara temannya itu.
Rina pun akhirnya menurut,mereka berdua pun pergi menuju kamar mereka.
Sementara yang terjadi sebenarnya.
Flashback.
Saat itu,Safira yang terlihat rapi mengenakan pakaian yang telah ia beli bersama Salma kemarin.Ia dengan langkah anggun keluar dari kamar.
__ADS_1
“Upss,siapa ini?”tanya Rara dengan nada yang terdengar meledek.
Jujur saja,saat pertama kali melihat penampilan Safira Rara akui ia merasa terpukau sekaligus takjub.
Ternyata kakaknya terlihat sangat cantik saat mengenakan pakaian rapi dengan riasan tipis.Walau Sebenarnya saat bekerja dulu Safira sering memakai pakaian rapi,tapi ia tidak pernah berhias,jadi wajar kan jika Rara merasa takjub?,apalagi pakaian yang di pakai Safira bukan pakaian formal tapi sebuah gaun yang cukup panjang.
“Apaan sih ra,kamu kayak nggak pernah berhias saja”jawab Safira dengan nada tidak sukanya,ia benar-benar merasa kesal dengan ucapan Rara,ia yang telah berusaha sekuat tenaga untuk berhias,tapi karena ucapan Rara itu,ia merasa jika penampilan nya itu sangat jelek.
“Ya pernah sih kak,tapi aku cukup sering,sedangkan kakak?,baru kali ini aku lihat kakak berhias”jawab Rara santai.
“Kakak pernah kok berhias,kan kakak belajar dari Salma,cuman gak pernah kakak praktekin”jawab Safira terdengar membela dirinya sendiri.
“Tapi kan aku nggak lihat,otomatis aku nggak tahu ya kan?”ungkap Rara terlihat semakin gencar meledek Safira.Terbukti dari alisnya yang terlihat bergerak ke atas dan ke bawah.
“Apaan sih kamu ini,bilang kakak cantik kek, setidaknya dengan memuji kakak kamu sudah memotivasi kakak untuk bisa sering-sering berhias”ucap Safira yang terlihat kesal,karena saking kesalnya ia sampai berjalan melewati Rara begitu saja.
“Eh?,enak aja”ledek Rara.Bukan Rara namanya jika bisa memuji kakaknya dengan mudah.Rara itu adalah tipe orang yang memiliki gengsi tinggi,apalagi untuk kakaknya itu,ia tidak akan pernah mau mengalah sama sekali.
Tanpa mendengar ledekan Rara,Safira pun berjalan ke arah Amara yang berada di ruang tamu.
Dari jarak cukup jauh Safira dapat melihat jika Amara sedang menelepon dengan seseorang,bisa di pastikan jika orang yang sedang Amara telepon itu adalah Arnam.
“Aku yakin sih kalau dokter Amara nggak bakal ngizinin aku untuk keluar,terus bagaiman cara aku untuk keluar nantinya?”safira terlihat sedang berfikir,ia berusaha mencari cara agar bisa menghadiri pesta ulangtahun Rena.
“Ah iya”tiba-tiba Safira ingat sesuatu,dan tanpa menunggu lama Safira pun berbalik menuju dapur.
Dan tak lama ia kembali dengan seporsi mie di mangkuk yang ia bawa.
“Ya terus gimana dong?,kalau nggak di makan kan sayang,baru di buat nih.Aku lupa kalau gak boleh makan mie”ucap Safira yang hanya di balas helaan nafas dari Amara.
“Kalau begitu biar saya yang akan habiskan mie itu”ucap Amara pada akhirnya.
“Kamu yakin mau makan mie ini?,bukan nya kata kamu nggak baik ya kalau makan mie?”jawab Safira terdengar memastikan.
“Ini demi anda”jawab Amara seolah menegaskan jika ia tidak punya pilihan lain.
“Oke deh kalau begitu,makasih ya sudah mau berkorban”Safira berkata disertai senyuman.
Melihat Amara yang sedang memakan mie buatannya itu,ia pun langsung meminta izin untuk kembali ke kamarnya.Dan bukannya masuk ke kamarnya,tapi Safira malah melakukan hal yang sama pada Rara.
“Kak!,kakak ingat kan sama yang dokter Amara katakan kan?,kakak itu nggak boleh makan mie,nggak baik untuk kesehatan kakak”ucap Rara saat melihat Safira masuk ke kamarnya dengan membawa semangkuk mie.
“Kakak lupa,maka nya kakak bawa ke sini,siapa tahu kamu mau”jawab Safira yang langsung meletakan mangkuk mie di atas lemari kecil yang berada di samping Rara.
“Kenapa nggak di kasih ke dokter Amara aja?”tanya Rara yang sepertinya tidak tahu apa yang terjadi di ruang tamu.
“Kamu kan tahu dokter Amara itu sangat cinta kesehatan,maka nya kakak bawa makanan ini untuk kamu.Lagipula kakak tahu kamu itu suka mie”ucap Safira sambil tersenyum.Entah apa maksud senyum Safira itu,tapi bagi Rara itu terlihat meledek.
__ADS_1
“Okelah karena kakak memaksa,maka akan aku makan”jawab Rara yang merasa gengsi jika harus mengakui bahwa apa yang Safira katakan ada benarnya.
Saat Rara sedang memakan mie,Safira sedikit basa basi.“Ibu dan ayah keluar ya dek?"tanya Safira pada Rara.
Rara Sebenarnya merasa sedikit heran dengan ucapan Safira,tumben kakaknya memanggilnya dengan sebutan 'dek',ada gerangan apa ini?.Tapi meski begitu Rara berusaha untuk abai akan hal itu.
“Bukan nya kakak sudah tahu kalau ibu dan ayah sedang keluar?,kenapa harus tanya lagi sih”Rara terdengar sedikit jutek saat mengatakan itu.
‘Ishh!,untung adik kandung,kalau bukan sudah aku buang kali ke jalanan’pikir Safira merasa kesal dengan sikap adiknya itu.
“Iya kakak tahu,cuman ingin memastikan aja”
‘Sabar Safira,jangan marah.Kita liat aja nanti apa yang akan terjadi selanjutnya’pikir Safira berusaha menenangkan rasa kesalnya itu.
Beberapa menit kemudian,rencana Safira mulai berjalan.Ia tadi sempat memberikan obat tidur pada makanan adiknya Rara,ia sengaja melakukan itu,karena kalau sampai Rara tahu ia akan menghadiri sebuah pesta pasti adiknya itu tidak akan mengizinkannya.
Safira merasa jika omongan Salma ada benarnya,jika ia tidak hadir bukankah akan di anggap lemah dan takut??,setidaknya Safira hanya berusaha mempertahankan harga dirinya agar ia tidak di rendahkan lagi ataupun di anggap penakut .
Dan akhirnya Safira yang tidak memiliki pilihan lain,ia pun memilih memberi obat tidur untuk adik dan dokter pribadinya.Ia bisa saja memukul tengkuk adiknya hingga pingsan,tapi ia tidak ingin menggunakan cara itu,karena cara itu sama saja dengan dirinya menyakiti sang adik.
“Kak,kenapa kepala aku kayak berat banget ya?,aku merasa kayak ngantuk banget”ucap Rara dengan mata lima Watt,ia terlihat benar-benar mengantuk.
Sudah beberapa kali Rara tahan,tapi rasa kantuknya tak kunjung hilang,karena tidak kuat,akhirnya Rara pun memejamkan matanya dan tak lama ia pun tertidur.
“Akhirnya"ucap Safira sambil tersenyum,dengan senyuman yang terlihat seperti tokoh antagonis jahat.Tapi nyatanya,senyum Safira tidak sejahat itu,hanya saja dia tidak bisa mengondisikan rasa senangnya itu.
“Maaf ya dek,jangan marah.Kakak nggak berniat jahat,hanya saja nggak ada pilihan lain”ucap Safira sambil melihat ke arah Rara yang tertidur sambil mendengkur halus.
“Nak,jangan contoh apa yang ibu lakukan,ini nggak baik”ucap Safira sambil mengelus perutnya yang masih rata.Entah mengapa Safira berkata seperti itu,mungkin ia berfikir jika anak dalam perutnya sedang melihat aksinya itu.
Seperti halnya Rara yang tertidur pulas,dokter Amara pun kini sedang tertidur karena mie yang ia makan itu terdapat obat tidur.
Jika ditanya dari mana Safira mendapatkan obat tidurnya itu,ia tentu sudah memikirkan rencananya dengan matang.Jadi saat membeli baju untuknya,ia juga membeli obat tidur.
Flashback end.
...*****...
Dan di tempat Arnam kini,ia yang telah selesai membahas suatu hal yang penting dengan Toni.
Arnam pun kembali berkutat dengan pekerjaannya itu.
“Tuan”panggil Toni sopan saat memasuki ruangan Arnam.
Arnam yang mendengar itu hanya berdehem sebagai jawaban.
“Ada informasi yang ingin saya katakan kepada anda”ucap Toni yang kini berada di hadapan Arnam.
__ADS_1
“Katakan”ucap Arnam tanpa mengalihkan pandangannya dari dokumen yang ia pegang.
“Saya mendapat kabar jika nyonya Safira di undang ke pesta ulangtahun nyonya Rena”ucap Toni yang sontak saja membuat Arnam langsung menatap ke arahnya.