
Beberapa Minggu kemudian.
Sudah satu bulan lebih telah berlalu,semenjak hari itu,Safira tidak pernah bertemu dengan Arnam lagi.
Entah kemana pergi nya Arnam,yang jelas kepergiannya seolah menjadi misteri,ia datang tanpa di undang,dan pergi tanpa kabar.
Dan Safira pun berusaha untuk fokus menjalankan tugasnya,walau kadang ia juga merasa ingin bertemu dengan Arnam,seolah ia merasa bersalah atas sikapnya saat itu.
Sudah beberapa hari ini,Safira kini sering sekali lembur dan pulang larut malam,ia bahkan jarang sekali ketemu dengan anaknya, walau mereka tinggal di rumah yang sama,itu tak lain karena kesibukannya ini.
Seringkali Sabrina meminta Safira untuk berlibur di hari Minggu,tapi sayangnya hari libur yang seharusnya ia gunakan untuk refreshing,malah harus ia gunakan untuk bekerja karena kesibukannya itu.
“Tuan,ini dokumen yang anda minta”ucap Safira yang langsung menyerahkan sebuah dokumen pada Farrel yang sedang duduk di kursi kerjanya.
Melihat ke arah Safira sekilas,Farrel pun langsung menerima dokumen tersebut dan membacanya untuk sejenak.
“Buat ulang,ada beberapa bagian yang harus kamu perbaiki”ucap Farrel yang langsung melemparkan dokumen itu dengan sedikit kasar ke arah Safira.
“Boleh saya tahu bagian mana yang harus saya perbaiki?”tanya Safira sopan.
Farrel yang mendengar itu langsung menatap ke arah Safira dengan pandangan sedikit dalam.
“Saya katakan untuk buat ulang!,kenapa masih bertanya”ucap Farrel terdengar menekan.
“Tapi tuan,ini sudah hampir kesepuluh kali anda menyuruh saya untuk membuat ulang dokumen ini,dan saya merasa tidak ada kesalahan sama sekali dalam dokumen ini”ucap Safira seolah bertanya letak kesalahan dalam dokumen itu.
__ADS_1
“Saya hanya ingin kamu buat ulang dokumen itu,lagipula kamu kurang teliti dalam mengerjakan dokumen”ucap Farrel beralasan.Hal yang sebenarnya Farrel lakukan adalah,ia ingin berduaan dengan Safira di satu ruangan yang sama.
Walau Safira sibuk mengerjakan tugasnya,tapi Farrel hanya diam dan hanya memperhatikan Safira hingga Safira merasa sedikit risih karena hal itu.
“Tapi kenapa harus buat ulang jika bisa di perbaiki.Anda bisa langsung bilang pada saya apa saja yang perlu di perbaiki,nanti akan saya perbaiki secepat mungkin agar cepat selesai”protes Safira dengan nada yang masih terdengar sopan.Ia tahu apa tujuan Farrel,dan hal itu yang membuat ia semakin kesal dan jengah akan sikap Farrel itu.
“Tidak!,saya ingin kamu buat ulang berarti harus buat ulang,jangan membantah!!”ucap Farrel dengan tegas.
“Tapi tuan,itu akan membuat pengerjaannya menjadi lebih lama lagi”protes Safira lagi dengan menekan kata’tuan’,seolah ia berfikir jika harus nya ia memanggil Farrel dengan sebutan ’pak’,tapi Farrel menolak itu karena ia beranggapan jika panggilan itu terlalu tua untuknya.
“Saya tidak peduli,kerjakan dan jangan protes lagi!”ucap Farrel tetap kekeh.
Dengan menahan kesal yang seolah hampir menaikin ubun-ubun,Safira pun mengambil dokumen tersebut dan keluar dari ruangan Farrel.Ia memilih mengerjakan di ruangan nya dari pada harus berada satu ruangan dengan Farrel hingga membuatnya merasa tak nyaman.
“Di sini!,saya ingin kamu mengerjakan dokumen itu di sini!!”perintah Farrel terdengar memaksa,hingga Safira pun terpaksa kembali ke tempatnya tadi.
Melihat hal itu,Farrel pun hanya diam dengan pandangan dalam seolah sedang menerawang.
Flashback.
Malam itu
Di sebuah ruangan gelap,terdengar seorang lelaki yang termenung sesekali tertawa.Tidak ada cahaya bulan atau cahaya lampu yang menyinari ruangan sunyi itu.
Ruangan itu benar-benar gelap dan terasa mencekam,seakan siapa saja yang berada di sana akan merasa sesak seolah tidak bisa bernafas.
__ADS_1
Lelaki tersebut terus begumam dan berkata dengan tidak jelas.
“Ayah bisa membantu mu nak,kamu ingin mendapatkan Safira bukan?”ucap laki-laki paruh baya yang berjalan masuk dan langsung menyala
kan lampu kamar.
Suasana yang awalnya gelap gulita kini berubah menjadi terang benderang.
Farrel yang ternyata adalah orang yang berbicara tak jelas karena mabuk itu,ia memicingkan matanya karena merasa sedikit silau.
“Kenapa?,bukankah ayah tidak merestui hubungan kami?,kenapa bisa tiba-tiba berubah pikiran?”Farrel berkata dengan nada terdengar tidak percaya.
“Ayah berubah fikiran,ayah ingin membantu kamu karena sepertinya kamu sangat mencintai nya”Bram tersenyum samar di balik kata-katanya itu.
Farrel yang mendengar itu,ia sedikit menatap curiga ke arah ayahnya.
“Apa alasan ayah berubah fikiran?”tanya Farrel yang berusaha untuk bangun dengan tubuh yang tak stabil dan sedikit sempoyongan saat berjalan ke arah ayahnya.
“Ayah hanya ingin membantu kamu saja,apa kah itu salah?,bukankah seharusnya kamu berterima kasih pada ayah kamu ini”ucap Bram sambil menatap Farrel yang juga menatap ke arahnya.
Mendengar ucapan ayahnya,Farrel hanya tersenyum dingin.
“Bukankah selama ini ayah selalu memaksakan keinginan ayah?,bukankah selama ini juga ayah hanya ingin aku menjadi anak penurut tanpa membangkang?!!.Ayah juga tidak pernah merubah keputusan yang sudah ayah putuskan?,lalu kenapa berubah secara tiba-tiba?”ucap Farrel sambil menatap ayahnya dengan tatapan curiga.
Tanpa di sangak maju seseorang yang benar-benar tidak pernah Farrel pikirkan.
__ADS_1
“Hallo,apa kabar?”ucap orang tersebut dengan nada ramah,di sertai sebuah senyuman