
Dan di saat perbincangan serius antara Arnam dan Safira.Tiba-tiba datanglah Rara yang berjalan ke arah Safira.
“Gimana kabar kakak?,masih baik-baik saja kan?”tanya Rara seolah memiliki maksud tersembunyi.Ia akhir-akhir ini jarang melihat sang kakak makan bersama,karena kakaknya itu selalu bangun kesiangan.Tapi sekalinya ketemu di meja makan,Rara langsung meledek Safira.
“Baiklah.Kakak malah merasa sangat baik hari ini”jawab Safira cuek,ia menjawab dengan nada sedikit kesal karena tahu ke arah mana adiknya berbicara.
“Oh begitu.He..he,dari mana juga nggak baiknya ya,kakak kan sekarang nggak tidur sendiri karena ada yang temani.Dan pasti kalau kakak kedinginan ada yang peluk,belum lagi...”ucap Rara yang tidak melanjutkan perkataannya saat melihat Safira menatap ke arahnya dengan tatapan tajam seolah mengatakan agar Rara diam.
Rara bungkam seketika itu juga.
“Kamu habis dari mana?.Apa kamu barusan ikut sama yang lain untuk jemput bibi dan pamannya di terminal?”tanya Safira berusaha mengalihkan topik pembicaraan.
“Iya kak,aku habis dari...”ucapan Rara lagi-lagi terhenti saat Selin dan Anton berjalan melewatinya, dan mendekat ke arah Safira.
“Safira apa kabar?.Sudah lama sekali paman belum bertemu denganmu”ucap Anton yang hendak memeluk Safira yang merupakan keponakannya itu.
Tapi sayangnya Arnam langsung bangkit dan memeluk pinggang Safira erat.
Anton yang melihat itu hanya diam,kini ia tahu siapa yang sedang memeluk Safira tanpa harus di jelaskan.Lelaki bermata tajam yang tengah menatapnya itu tak lain tak bukan adalah suami Safira.Awalnya Anton tak percaya begitu Hadi menceritakan jika ia memiliki menantu yang sangat posesif,tapi begitu melihat langsung ia akhirnya percaya.
“Maaf paman,saya hanya mengizinkan istri anda untuk memeluk istri saya”ucap Arnam berusaha sopan dengan nada datarnya itu,ia tidak suka bahkan jika itu paman nya Safira sendiri,entah mengapa ia merasa semakin gampang cemburu,karena sekalipun orang yang akan memeluk safira adalah keluarga nya,Arnam tetap tak rela dan langsung cemburu.
“Ha..ha..ha..."Anton hanya bisa tertawa menutupi kecanggungan itu,sedangkan Safira hanya pasrah tanpa berkomentar.
Sedangkan Selin langsung memeluk Safira,Arnam pun sedikit mengendur tangan nya dari pinggang Safira,merasa pelukan dari bibi nya itu,Safira pun balas memeluknya.
“Maaf ya sayang,bibi nggak bisa datang kesini pada saat pernikahan kamu.Kamu juga tahu kan kalau kami berdua sangat sibuk mengurusi toko,walau itu hanya toko kecil-kecilan tapi hanya kami berdua yang melayani pelanggan di toko kami itu”ucap Selin yang memeluk Safira dengan erat.
“Iya bibi,gak apa-apa,Safira bisa ngerti kok”jawab Safira sambil tersenyum,ia berkata seolah memenangkan bibi dan pamannya yang merasa tidak enak karena tidak hadir di acara keponakannya sendiri.
__ADS_1
Dan karena ada beberapa masalah,baru beberapa hari kemudian mereka bisa berkunjung.
“Terima kasih sayang sudah mau mengerti dengan keadaan kami.Oh iya kami bawakan hadiah untuk kamu,semoga kamu suka ya”ucap Selin langsung menyerahkan satu kado berukuran sedang kepada Safira.
“Terima kasih bi”jawab Safira tersenyum senang.
Walau sebenarnya Safira merasa sedikit kecewa kepada bibi dan pamannya karena tidak menghadiri acara pernikahan nya.Tapi Safira tahu jika itu terjadi karena paman dan bibinya memiliki hutang yang cukup besar,jadi mereka tidak bisa bersantai-santai dan harus segera melunasi hutang tepat waktu.
Setelah nya,mereka bertiga pun berbincang-bincang seolah sedang melepas rindu.Sedangkan Arnam hanya diam,tapi tetap berada di samping Safira sambil memperhatikan interaksi mereka bertiga.
Hadi dan Rina beserta yang lainnya datang,dan menghampiri tempat Safira yang sedang berbincang dengan bibi dan pamannya itu.
“Ayah kenapa ayah nggak ajak Safira untuk ikut jemput paman dan bibi?”tanya Safira sedikit menggerutu.
“Ayah juga pernah muda nak.Jadi tak usah ayah katakan ayah juga sudah ngerti tentang keadaan kamu bukan”ucap Hadi di sertai nada candaan.
Safira langsung menundukkan malu mendengar itu.
“Ayah,Safira dan mas Arnam sudah sepakat untuk tinggal di rumah yang telah mas Arnam beli untuk kami”ucap Safira dengan nada yang lumayan pelan.
Safira merasa sedih jika harus mengatakan ini,padahal Safira masih ingin tinggal dengan kedua orang tuanya.Tapi Safira juga berfikir jika ia harus bisa bersikap dewasa dan hidup mandiri.
Hadi yang mendengar itu,ia hanya bisa menghela nafas panjang.Lagipula ini juga demi kebaikan anaknya yang ingin hidup mandiri,jadi ia tak bisa egois ataupun memaksa anaknya untuk tinggal bersama dengannya.
“Kalau itu memang sudah keputusan kamu,maka ayah tidak bisa berbuat apa-apa.Tapi ingat pesan ayah,ayah ingin kamu menjadi istri yang baik dan patuh terhadap suami kamu”ucap Hadi dengan nada sedih yang tidak bisa di tutupi.
Hadi sebenarnya tak rela jika harus berpisah dari anak kesayangannya itu,tapi ia juga tak bisa terus menahan anaknya untuk tinggal dengannya,itu juga telah menjadi keputusan mereka.
“Lalu kapan rencananya kamu pindah ke rumah baru kamu itu?”tanya Hadi mengalihkan topik.
__ADS_1
“Mungkin Minggu depan Safira akan pindah ke rumah baru Safira dengan mas Arnam”jawab Safira dengan tersenyum,ia berusaha untuk tidak bersedih meski baru kali ini ia akan tinggal berpisah dari kedua orang tuanya.
Arnam yang dari tadi hanya diam saja itu,ia pun mulai angkat suara
“Jika ayah ingin agar kami tinggal lebih lama di sini,akan kami turuti”ucap Arnam berusaha mengerti akan perasaan Hadi dan Safira.
“Tidak nak,itu memang sudah seharusnya kalian lakukan,lebih cepat lebih baik.Ayah memang merasa sedih harus berjauhan dengan anak ayah ini,tapi ayah bisa mengerti kalau ini memang yang terbaik untuk kalian berdua.Dan mungkin dengan begini Safira bisa lebih dewasa lagi”jawab Hadi dengan nada yang terdengar tenang.
“Ayah”ucap Safira langsung memeluk ayahnya.
“Jika nanti kami jarang berkunjung ke rumah ayah karena kesibukan kami berdua.Safira harap ayah mengerti,dan jika ayah ingin berkunjung,maka kabarin Safira ya yah,karena dengan begitu Safira akan menyambut ayah dan ibu sebagai tamu istimewa kami”ucap Safira yang masih berada di pelukan ayahnya itu.
“Tamu yang paling di nanti”tambah Arnam mendapatkan senyuman dan anggukan dari Safira.
“Iya ayah,benar apa yang mas Arnam katakan!!”
Hadi tersenyum senang lalu mengelus sayang kepala anaknya itu.Sedangkan Rina yang melihat itu,ia hanya tersenyum sambil memeluk Rara yang ada di samping nya.Sebagai ibu ia juga merasa sedih,tapi tak bisa berkomentar banyak,karena ia tahu ini juga demi kebaikan mereka berdua.
“Ekhmm”Terdengar sebuah deheman yang ternyata itu berasal dari Anton.
Sontak mereka semua yang ada di sana langsung mengalihkan pandangannya dan menatap ke arah Anton.
“Sebelumnya kami berdua ingin minta maaf sekali lagi pada Safira dan nak Arnam,karena ada suatu kendala hingga kami tidak bisa hadir di acara pernikahan kalian berdua”ucap Anton meminta maaf.
“Tidak apa-apa paman”jawab Safira cepat
“Dan besok pagi-pagi sekali,kami semua akan langsung pulang.Maaf karena kami tidak bisa lama di sini”ungkap Anton lagi disertai nada yang seolah merasa bersalah.
Hadi,Rina,Rara,Safira,dan Arnam yang mendengar itu,mereka hanya bisa mengangguk tanda mengerti tentang kesusahan Anton.
__ADS_1
Hadi dan keluarganya juga tahu tentang hutang Anton.Dan mereka juga memberikan bantuan semampu mereka,tapi itu masih belum cukup untuk melunasi hutang Anton dan Selin.Lagipula jika Hadi kembali memberi uang untuk melunasi hutang Anton,maka Anton akan langsung menolak itu,karena tidak ingin terlalu bergantung pada keluarga kakaknya.