
Tak terasa waktu berjalan begitu cepat,sudah seminggu lebih Safira berusaha untuk menghubungi Arnam,tapi tetap saja handphone Arnam masih tak kunjung aktif.Dan entah bagaimana kabar Arnam saat ini,yang jelas Safira tidak tahu.
Kini Safira yang sedang duduk di sofa itu,ia hanya diam dengan wajah yang terlihat melamun karena bingung dan sedih.
Safira benar-benar tidak tahu harus bersikap seperti apa,ia ingin meminta penjelasan dari Arnam,tapi tidak bisa,karena handphone Arnam saja tidak pernah aktif.
“Gimana ini?,kapan Arnam pulang?”ucap Safira dengan wajah terlihat gelisah bercampur rasa kesal,Safira juga menyebut nama Arnam secara langsung.Rasanya Safira tak Sudi sekedar memanggil Arnam dengan sebutan Mas'
“Aku benar-benar sudah gak peduli dengan keadaan dia,tapi yang aku inginkan saat ini adalah penjelasan dari dia”gumam Safira terdengar yakin,seolah ia memang sudah tidak akan peduli lagi tentang Arnam,mungkin karena rasa sakitnya dibohongi tanpa kejelasan,hingga membuat hatinya seakan mati rasa.
Empat hari berat ia lalui dengan hati yang miris,matanya selalu sembab saat bangun tidur,tidur nya pun tak teratur,bahkan ia makan dengan seadanya,apapun yang tersedia di kulkas Safira makan.
Tiba-tiba lamunan Safira itu pun buyar saat mendengar ponselnya berdering.
Triling triling triling
Safira yang mendengar itu,ia pun langsung mengambil ponselnya,dan mengangkatnya tanpa melihat siapa yang menelepon.
“Hallo”ucap Safira dengan nada yang terdengar tidak semangat.
Saat tak ada jawaban Safira berfikir jika itu telepon dari Arnam,ia pun diam sejenak dan memikirkan kata-kata yang akan ia ucapkan untuk memaki Arnam.
Tapi belum sempat Safira bicara,suara di sebrang sana mulai terdengar.“Pulang ke rumah hari ini,secepatnya!”ucap sebuah suara yang terdengar seolah tidak memiliki ekspresi.
Safira yang mendengar itu,ia pun langsung mematung.Dan tanpa menunggu lama Safira pun langsung melihat siapa yang sedang meneleponnya.
'Rara'itu lah nama yang tertera di ponsel Safira.Tapi yang membuat Safira mematung adalah,suara yang keluar dari ponselnya itu bukan suara Rara ataupun ibunya,melainkan suara ayahnya.
“Ayah”gumam Safira dengan pikiran yang terlihat kalut.
“Iya ini ayah,kamu harus ingat untuk pulang ke rumah secepatnya,bila perlu sekarang”ucap Hadi dengan nada nada mutlak.
Setelah itu Hadi langsung mematikan ponselnya dengan sepihak tanpa menunggu jawaban Safira.
Safira yang mendengar itu,ia pun hanya bisa diam,
pikiran yang awalnya kalut kini bertambah kalut dan gelisah.
__ADS_1
“Apa ayah tahu tentang permasalahan yang aku alami ini?”gumam Safira pelan terdengar gelisah
“Benar juga,pasti ayah sudah tahu masalah ini,apalagi perkampungan tempat ayah dan tempat aku tinggal itu bersebelahan”gumam Safira lagi dengan nada yakin.
Bukan tanpa alasan Safira yakin akan hal itu,karena kejadian saat Safira dipermalukan oleh Rena sudah menyebar hampir satu kampung.Maka dari itu,selama ini Safira hanya bisa diam di rumah miliknya dan hanya beberapa kali keluar rumah untuk membeli keperluan miliknya.
“Lebih baik aku temui ayah saja,karena cepat atau lambat masalah ini harus aku hadapi.
Setelah mengatakan itu,Safira pun bangkit dari duduknya,ia berjalan ke kamar untuk ganti baju.
...*****...
* Di rumah Hadi.
Safira yang kini sudah sampai di depan rumah ayahnya itu,ia pun awalnya ragu untuk mengetuk pintu,tapi setelah cukup lama hanya diam ia pun akhirnya mengetuk pintu.
Tok tok tok
Tak butuh waktu lama pintu langsung terbuka,seolah tahu jika ia akan ke sini.Rara yang membuka pintu untuknya itu,ia terlihat memandang Safira dengan tatapan rumit,lalu setelah itu ia langsung memeluk Safira dengan erat.
“Kak”panggil Rara.
Safira yang mendengar itu,ia hanya menghela nafas panjang,ia sudah menduga jika keluarganya sudah tahu akan permasalahannya,tapi tetap saja Safira tak tahu harus mengatakan apa nanti nya
Rara yang melihat Safira hanya diam,ia pun kembali mengeratkan pelukannya itu.“Rara tahu kakak bukan seperti orang yang di rumorkan,Rara juga tahu kakak itu pasti di bohongi oleh dia',yang jelas Rara percaya pada kakak sepenuhnya,karena Rara sangat mengenal kakak dengan baik”ucap Rara yakin dengan kata-kata seolah-olah memberi kekuatan positif untuk Safira agar bisa kuat.
“Terima kasih Ra”ucap Safira pelan,ia tidak tahu harus berkata seperti apa,karena ia bukan orang yang suka menangis di hadapan orang lain,jadi sekuat tenaga ia berusaha untuk kuat.
“Ayo masuk”ucap Rina tiba-tiba.
Safira yang melihat Rina berdiri di depan pintu,ia diam untuk sejenak,ibunya seolah enggan untuk menatapnya,membuat hati Safira merasa sakit dan terluka,tapi tepukan Rara seakan menyadarkan nya,ia dan Rara pun langsung berjalan masuk saat mendengar perintah Rina.
...*****...
* Di ruang tamu.
Kini Safira yang telah sampa di ruang tamu itu,ia pun hanya diam saat melihat ayahnya hanya diam.
__ADS_1
“Apa kamu adalah seseorang yang tak tahu malu Safira?!”ucap Hadi tanpa memandang ke arah Safira.
Safira yang mendengar itu,ia hanya diam dengan posisi berdiri.Jangankan untuk duduk,untuk bergerak saja Safira tak berani.
“Bukankah ayah pernah bilang ke kamu,seorang wanita adalah dia yang bisa menjaga martabatnya!.
Dan apa yang kamu lakukan ini adalah sesuatu hal yang memalukan!!,sangat memalukan”sinis Hadi lagi dengan nada yang terdengar menusuk.
Safira yang mendengar itu,lagi-lagi ia hanya diam dengan tangan mengepal erat,bukan karena marah,tapi karena ia tidak ingin menangis saat mendengar ucapannya ayahnya itu.
“Dan bukannya ibu kamu juga pernah menasehati kamu agar tidak menyakiti sesama wanita.Karena wanita yang baik tidak akan pernah tega untuk menyakiti perasaan wanita lain.Dan kamu sungguh sangat mengecewakan ayah dan ibu!,kamu sungguh tak tahu malu dan tega!,kenapa kamu terima Arnam jika dia sudah menikah?!!”ucap Hadi penuh penekanan.
“A.ayah,Safira benar-benar nggak tahu kalau dia sudah menikah,dan kalau pun Safira tahu,mana mungkin Safira akan menikah dengan dia”ucap Safira sedikit bergetar,ia berkata dengan tangan yang mengepal semakin erat.
Orang ketiga!!
Sebutan yang menurut orang terdengar buruk bagi siapa yang di anggap orang ketiga.
Selain si orang ketiga itu yang malu',orang tua, saudara,kerabat,mereka juga ikut menanggung malu.Itu sebabnya Safira tak suka di sebut orang ketiga.
Atau bahasa kasarnya itu Pelakor'
Safira terlihat sangat sedih karena ayahnya sudah terhasut dengan isu tak benar,dan di saat bersamaan Safira juga merasa marah karena Arnam membohongi dirinya.
“Kalau memang kata-kata kamu itu benar,bawa Arnam ke sini,dan biarkan dia menjelaskan secara langsung”ucap Hadi yang tidak langsung mempercayai ucapan Safira.
Setelah mengatakan itu,Hadi pun langsung berdiri,ia berjalan menuju kamarnya tanpa menatap ke arah Safira.
Safira yang melihat itu,ia semakin terlihat sedih dan tak berdaya.
Rani yang melihat Safira yang terlihat sedih itu.Ia pun merasa tak tega untuk ikut mengabaikan sang anak,ia pun langsung berjalan ke arah Safira dan memeluknya.
“Ibu percaya dengan kamu nak,kamu pasti tidak akan tega melakukan itu.Dan yang harus kita lakukan saat ini adalah menunggu emosi ayah kamu agar reda,karena saat ini ayah kamu sedang merasa bimbang dan malu akan gosip ini”ucap Rani menjelaskan dengan nada menenangkan.
Safira yang mendengar itu,ia pun dapat mengerti kecurigaan ayahnya itu,ayahnya seakan dapat melihat dirinya yang begitu menyayangi dan mencintai Arnam meski tak di tunjukkan secara langsung.Hal itu membuat ayahnya berfikir buruk tentangnya,tapi meski begitu Safira benar-benar yakin jika ia tak akan menikah dengan Arnam saat tahu jika Arnam telah menikah.
*****
__ADS_1
Jangan lupa like dan vote nya guys.
Bantu Safira yang lagi di fitnah ini dengan like dan vote kalian🙈🤣🤣