
Keesokan harinya.
Safira yang sudah seharian terlelap,ia pun mulai membuka matanya secara perlahan.
Dan pada saat Safira telah terbuka matanya dengan sepenuhnya,ia sedikit kaget saat melihat Arnam menatapnya dari jarak yang sangat dekat.Bahkan hembusan nafas Arnam itu seolah menerpa wajah Safira.
Dan secara refleks Safira pun mundur ke belakang.
“Akkhh”teriak Safira kaget saat ia hampir terjatuh dari ranjang karena ia sudah berada di pinggir ranjang,tapi untungnya sebelum ia jatuh,Arnam yang sudah menebak Safira akan terkejut saat bangun.Ia dengan sigap menahan tubuh Safira.
“Hati-hati”ucap Arnam lembut dengan suara yang sangat pelan,bahkan terdengar seperti hembusan nafas.
Arnam kemudian memposisikan tubuh Safira dengan aman,ia mendudukkan Safira dengan kepala menyender ke kepala ranjang.
“Kamu lapar?”tanya Arnam saat menatap wajah Safira dengan tatapan dalam.
“Tidak”jawab Safira langsung sambil memalingkan wajahnya seakan tidak mau menatap ke arah Arnam.
Dan entah karena gengsi untuk memakan makanan buatan Arnam,atau memang karena masih marah pada Arnam,saat mengatakan itu,ia berkata dengan tegas dan acuh.
Tapi yang namanya perut,mana bisa di bohongin,karena selesai Safira mengatakan itu,perutnya berbunyi dengan sangat keras.
Kruyukkkkk...
Bunyi perut Safira seolah sedang berdemo minta diisi.
Safira yang mendengar suara perutnya itu,ia merasa sangat malu dan seakan ingin mengubur dirinya hidup-hidup.‘Bisa tidak sih perut ini untuk dia ajak kompromi’pikir Safira dengan pipi sedikit memerah karena malu.Apalagi saat mendapatkan tatapan Arnam yang seolah sedang meledeknya,hal itu makin membuatnya marah dan malu seakan ia ingin langsung mencolok mata Arnam itu.
__ADS_1
“Ekhm”kemudian Safira terbatuk pelan untuk menetralkan rasa malunya itu.
“Saya bilang kalau saya yang nggak mau makan,bukan perut saya”ucap Safira mengelak dengan nada yang masih terdengar lumayan formal.
“Jadi?”tanya Arnam seolah meminta Safira melanjutkan perkataannya.
“Jadi?”beo Safira mengulangi ucapan Arnam,ia lumayan paham akan maksud Arnam,tapi hanya bisa melanjutkan ucapannya dalam hati.
‘Jadi tolong ambilkan saya makan’batin Safira yang enggan mengucapkan itu secara langsung.
“Oke,akan saya ambilkan”ucap Arnam tiba-tiba seakan ia bisa mendengar ucapan Safira yang berkata di dalam hati.
Safira yang melihat Arnam berjalan keluar dari kamarnya itu,ia sedikit melongo.“Apa dia bisa dengar apa yang aku katakan di dalam hati tadi?”gumam Safira seakan tak percaya jika Arnam punya kemampuan seperti itu.
Tak lama Arnam datang dengan membawa makanan beserta minuman untuk Safira.“Ayo makan!”ucap Arnam terdengar seperti perintah di telinga Safira,ia mengatakan itu saat sudah meletakkan makanan dan minuman itu di atas nakas tepat di samping Safira.
Safira yang melihat itu,ia dengan enggan menatap makanannya.Lalu setelah itu,Safira dengan malas menatap ke arah Arnam.
‘Bodoh!,ada apa dengan pemikiran memalukan ini'pikir Safira merutuki keinginan nya itu.
Arnam hanya diam dengan pandangan memperhatikan.Tapi saat ia melihat Safira hanya diam tanpa berniat memakan makanannya itu,akhirnya Arnam pun buka suara.
“Kenapa tidak makan?”tanya Arnam sambil menatap ke arah Safira yang berjarak cukup jauh darinya,Arnam berfikir Safira tak ingin berada dengan jarak yang dekat dengannya.
“Saya tidak lapar”ucap Safira masih dengan alasan yang sama.Padahal sebenarnya perutnya itu sangat lapar hingga berbunyi berkali-kali.
“Perut kamu nggak bisa bohong,aku bisa dengar itu”ucap Arnam dengan wajah penuh peringatan,kini Arnam tidak bicara formal lagi.
__ADS_1
Biasanya jika Safira tidak mau menuruti perintah Arnam,ia akan menghukum Safira dengan hal-hal konyol,dan anehnya hal itu membuat Safira jera.Dan mungkin sesekali Arnam juga akan menggunakan bujukannya untuk membuat Safira patuh,tapi itu tidak seefektif saat dirinya mengancam Safira.
“Tapi saya tidak lapar,dan tidak mau makan”ucap Safira kekeh.
Arnam yang mendengar itu,ia pun menghela nafas panjang untuk meredakan kekesalannya itu,entah kenapa saat ini Arnam merasa sifat Safira sedikit berubah.Safira seperti ingin bersikap manja padanya?,terbukti dari cara Safira yang melirik ke arah makanan serta ke arahnya secara bergantian.
Tapi benarkah Safira ingin bersikap manja padanya?
Arnam yakin ini tidak ada hubungannya dengan kemarahan Safira atas kebohongan dirinya saat itu.Tapi kenapa?,itulah yang menjadi pertanyaan Arnam.
‘Masa dia nggak peka sih?’batin Safira sedikit menggerutu.
Safira sebenarnya merasa aneh pada dirinya sendiri,ia jelas masih marah,bahkan sangat marah pada Arnam,tapi entah apa yang merasuki dirinya,
hingga ia ingin Arnam memperlakukan nya dengan lembut dan penuh perhatian.
“Biar aku yang suapin kamu”ucap Arnam pada akhirnya,ia bangkit dari duduknya dan berjalan mendekat ke arah Safira.
Arnam mengambil piring berisi makanan dan ia duduk di samping Safira.Dengan sedikit ragu,karena takut Safira masih akan menolaknya,Arnam pun menyendokkan makanan itu dan mengarahkannya ke mulut Safira dengan hati-hati.
Sementara Safira yang melihat sendok berisi makanan yang ada di depan mulutnya itu,ia masih menutup bibirnya dengan rapat,dan menatap Arnam dengan tatapan dingin.
“Makanlah!”perintah Arnam dengan nada lembut.
Safira yang mendengar itu,entah kenapa ia langsung menurut dan menerima suapan itu.
Arnam yang melihat itu,ia tersenyum kecil secara diam-diam karena merasa senang saat Safira patuh pada perkataanya.Akhirnya Arnam terus menyuapi Safira dengan sabar dan telaten,walau sesekali Safira akan mengeluh jika makanannya tidak enak,dengan sabar Arnam akan membujuk dan menanyakan tentang keinginan Safira walau tidak mendapatkan jawaban dan hanya di balas dengan cibiran pedas.
__ADS_1
Dan siapa yang tidak akan merasa kesal dan marah saat makanan yang di buat dengan susah payah di katakan tidak enak?.Tapi Arnam dengan kesabaran yang entah ia dapat dari mana,ia hanya membalas keluhan Safira dengan senyuman kecil sambil berkata'Aku akan belajar memasak lebih baik lagi'itu yang Arnam ucapkan berkali-kali hingga rasanya bibirnya mati rasa karena terus tersenyum sementara hatinya ingin sekali melampiaskan rasa kesalnya itu.
‘Ya tuhan'batin Arnam seakan ingin memukul kepalanya sendiri.