AKU ATAU KAMU ORANG KETIGA!!

AKU ATAU KAMU ORANG KETIGA!!
Hamil??


__ADS_3

Safira awalnya menyingkirkan handuk hangat itu dari dahinya,dan langsung melemparkan itu ke arah Arnam.


“Jangan berlagak sok baik!,karena bagi saya kamu itu cuman berpura-pura baik di depan saya”ucap Safira terdengar sinis.


Arnam yang mendengar itu memilih diam dengan tangan yang memegang handuk kecil yang tadi di lempar oleh Safira.


Kemudian Arnam mencelupkan handuk itu ke air hangat,dan memeras nya.Baru setelah cukup kering,Arnam pun kembali meletakkan handuk kecil tadi di dahi Safira dengan hati-hati.Arnam terlihat tidak peduli dengan kebencian Safira padanya,karena yang terpenting baginya saat ini adalah kesembuhan Safira.


“Setidaknya tunggu kondisi kamu membaik,baru setelah itu kamu bisa marah dan memaki aku sepuasnya”Safira akhirnya diam tapi masih dengan tatapan sinisnya saat menatap Arnam.


“Jika kondisi kamu terus begini,mana bisa kamu memaki aku tanpa memikirkan keadaan kamu sendiri”lanjut Arnam sembari terus mengompres dahi Safira dengan lembut.


Tak lama setelah itu,Safira pun tertidur karena kelelahan dan mengantuk.Arnam yang melihat hal itu,ia pun memilih untuk menelepon Toni.


“Iya tuan”jawab Toni saat panggilan telepon telah tersambung.


“Bawakan dokter ke tempat Safira.Ingat harus perempuan!”ucap Arnam yang seolah dapat menebak jika Toni akan memanggil dokter pribadinya yang merupakan seorang laki-laki.


Bukan karena itu dokter miliknya pribadi,jadi Arnam tidak ingin berbagi dengan Safira.Tapi karena dokter itu laki-laki,tentu ia akan merasa cemburu,apalagi saat membayangkan jika dokter itu akan memegang tangan Safira untuk memeriksa kondisinya.


Memikirkan itu saja membuat hati Arnam terasa memanas.


“Baik tuan”jawab Toni patuh.


Setelah itu panggilan terputus.


...*****...

__ADS_1


Beberapa saat kemudian.


Safira yang awalnya tertidur pulas,ia tiba-tiba merasa terganggu saat mendengar percakapan yang terdengar berbisik,tapi masih bisa di dengar olehnya.


“Jadi maksud anda istri saya hamil?”tanya Arnam datar,tapi meski begitu,jauh di dalam hatinya ia merasa sangat senang.


“Ada kemungkinan seperti itu,tapi untuk lebih lanjut anda bisa periksa langsung ke rumah sakit”ucap dokter itu sopan.


“Bukankah anda dokter?,tapi kenapa masih ragu dalam hal ini”ucap Arnam yang berkata dengan nada yang terdengar tak suka.


“Iya tuan,saya memang dokter.Tapi untuk saat ini saya hanya bisa mendiagnosa saja,karena usia kandungan nona ini masih sangat muda.Jadi untuk lebih memastikannya lagi,lebih baik dengan pergi ke rumah sakit karena di sana alat-alatnya lebih lengkap.Dan berdasarkan diagnosa saya selama ini,saya tidak pernah salah dalam mendiagnosa”ucap dokter cantik itu yakin,dengan nada yang masih terdengar sopan dan hormat.Bagaimana pun ia masih menjaga etika nya sebagai dokter.


Sepertinya dokter itu belum tahu siapa Arnam,karena ia datang ke sini atas perintah bawahan Toni.“Kalau begitu saya permisi tuan”pamit dokter itu yang hanya di jawab anggukan oleh Arnam.


Setelah kepergian dokter itu,Arnam pun kembali menelepon Toni.“Siapkan alat-alat untuk pemeriksaan ibu hamil,jangan lupa bawa juga dokter yang lebih ahli,khususnya dokter kandungan.Dan sisanya kamu urus sendiri,cari tahu apa yang di perlukan ibu hamil,semuanya harus kamu cari tanpa terkecuali”ucap Arnam yang langsung di mengerti oleh Toni.


Toni kira Safira hanya sakit biasa,jadi ia hanya membawa dokter umum,tapi meski begitu,dokter tadi cukup tahu tentang tanda-tanda kehamilan.


Arnam yang baru selesai menelepon Toni,ia pun langsung menoleh dan menatap ke arah Safira.


“Kamu sudah bangun?”ucap Arnam terlihat sedikit terkejut,meski begitu ia tetap berjalan menghampiri Safira.


“Belum di pastikan kamu hamil atau tidak.Tapi apa salahnya kita ke rumah sakit untuk berkonsultasi”


ucap Arnam yang langsung di jawab dengan gelengan oleh Safira.


“Nggak!,saya tidak mau pergi ke rumah sakit”jawab Safira cepat.Bukan ia egois,tapi ia benar-benar tidak suka dengan rumah sakit,terlebih bau obat yang menurutnya sangat tidak ia sukai itu.

__ADS_1


“Baiklah”ucap Arnam yang sudah bisa menebak akan jawaban dari Safira.


Untungnya ia telah memerintahkan Toni untuk menyiapkan semua keperluan Safira selama masa hamil.


“Kalau begitu,lebih baik kamu makan bubur itu,walau hanya sedikit tidak masalah,yang terpenting perut kamu terisi.Ingat!,sekarang di dalam diri kamu ada calon bayi yang perlu perhatian dari kamu”ucap Arnam selembut mungkin dan menjeda ucapannya sejenak,berusaha untuk memilih kata-kata yang tidak akan menyinggung atau membuat Safira kesal padanya


“Kamu bisa memaki dan marah padaku,tapi tolong jangan lampiaskan amarah kamu pada calon bayi kita”lanjut Arnam yang dengan tegas mengatakan


'calon bayi kita'karena Arnam tahu,se-benci apapun Safira padanya,ia tidak akan mungkin tega menyakiti darah dagingnya sendiri.


Meski itu belum bisa di pastikan,tapi setidaknya dengan hal itu Safira mau makan untuk saat ini walau terpaksa.


Safira yang tmemakan buburnya itu dengan sedikit tak selera.Ia terpaksa terus mengunyah dan memakan bubur itu,karena ini demi kebaikan calon bayinya,


walau itu belum pasti.Tapi jujur entah kenapa ia sudah merasa peduli pada calon bayi yang belum pasti itu.


Untuk masalah lepas dari Arnam,Safira berusaha mengesampingkan itu terlebih dahulu,karena yang ia pikirkan adalah memastikan kehamilannya itu dulu.Walaupun sebenarnya ia ingin sekali berpisah dari Arnam,tapi ia tidak bisa egois untuk saat ini.


“Biar aku saja yang suapin kamu”


Safira hanya diam sambil menatap ke arah Arnam untuk sejenak.Tanpa berbicara,Safira pun langsung memberikan mangkuk bubur itu pada Arnam,dengan telaten Arnam pun menyuapi Safira.


Sepertinya Safira sekarang sudah mulai paham kenapa waktu itu ia ingin sekali di suapi oleh Arnam.Mungkin itu karena keinginan calon bayinya,padahal pada saat itu Safira masih marah dan belum bisa memaafkan Arnam sepenuhnya.


“Sekarang kamu bisa tidur”ucap Arnam lembut saat telah selesai menyuapi Safira,dengan sedikit enggan,Safira pun berbaring,dan karena mengantuk akhirnya Safira pun tertidur.


Arnam yang duduk di samping Safira,ia pun merasa tenang saat melihat wajah Safira yang tertidur.

__ADS_1


Arnam tahu jika Safira masih berfikir untuk lari darinya.Ia juga tahu jika Safira belum bisa memaafkannya sepenuhnya,tapi Arnam telah bertekad dan berjanji,jika ia akan mencari segala cara agar Safira bisa kembali dan memaafkannya lagi.


Dengan gerakan lembut,Arnam mengambil salah satu tangan Safira dan menggenggamnya dengan hangat.‘Aku mencintai kamu,lebih dari apa yang kamu kira’batin Arnam yang kala itu sedang mencium tangan Safira yang sedang tertidur.


__ADS_2