AKU ATAU KAMU ORANG KETIGA!!

AKU ATAU KAMU ORANG KETIGA!!
Hadiah


__ADS_3

Seminggu berlalu.


Beberapa hari belakangan Arnam dengan rutin mengirim Safira barang-barang dan makanan yang sepertinya memang Safira inginkan.


“Itu apalagi kak?”tanya Rara saat melihat ada sebuah kotak yang sepertinya di kirim oleh Arnam untuk Safira.


“Nggak tahu”jawab Safira cuek sambil membawa kotak itu ke dalam.


Safira pun meletakkan kotak itu di atas meja,dan ia pun mulai membuka kotak itu.Rara yang kebetulan duduk di samping Safira hanya diam,karena ia terlihat penasaran dengan isi kotak itu,ia terus memperhatikan kotak yang sedang berusaha di buka oleh kakaknya.Dan ternyata isi dari kotak itu adalah sepuluh batang coklat dengan dua jenis rasa yang berbeda.


“Ya ampun kak,itu kan coklat mahal.Bagi satu dong”pinta Rara dengan nada kagum di sertai kalimat yang terdengar membujuk.


“Tunggu dulu!”ucap Safira yang langsung membuat Rara yang awalnya ingin mengambil coklat itu menjadi terhenti.


“Kenapa sih kak,pelit banget!!”gerutu Rara dengan sedikit mencebik.


Tanpa menjawab kekesalan Rara,Safira pun memilih mengungkapkan isi pikirannya saat ini.


“Tadi pagi kakak memang ingin banget coklat,tapi kenapa bisa Arnam langsung kirim coklat?”ucap Safira dengan wajah yang terlihat bingung.


Sudah mulai jadi kebiasaan Safira jika ia akan memanggil Arnam tanpa embel-embel mas,dan ia merasa terbiasa dengan panggilan langsung itu.


“Mas kak,kak Arnam itu sudah jadi suami kakak.Jadi coba di biasakan berkata dengan sopan”ucap Rara terdengar mengingatkan,nadanya terdengar sama seperti Safira menasehati Rara.Hal itu membuat Safira sedikit kesal saat sadar jika Rara menganggap nya seperti seorang adik.


“Iya iya dasar bawel!”gerutu Safira kesal.


Walaupun Rara masih belum bisa memaafkan Arnam sepenuhnya,tapi sekarang ia tidak se-marah dulu,karena kadang ia akan menyebut Arnam dengan sebutan kakak,atau kadang ia akan menyebut mas karena terpengaruh dengan sebutan Safira pada Arnam.


“Ra,menurut kamu mas Arnam punya mata-mata di sini kah?,perasaan aku nggak pernah minta sama dia deh”ungkap Safira yang lagi-lagi mengungkapkan kebingungannya itu.

__ADS_1


“Gimana kak Arnam nggak tahu,orang kakak kalau ingin apa-apa pasti sering menggerutu tak jelas”jawab Rara cuek.


“Maksud kamu apa sih?!”tanya Safira tidak mengerti.


“Kakak kan kalau ingin sesuatu pasti ngomong gini,‘andai ada yang belikan aku coklat’atau misalkan kakak ingin beli topi pasti kakak akan bilang kayak gini,‘musim ini panas banget ya,kayaknya bagus deh kalau beli topi baru’.Itu kan yang kakak sering katakan kalau ada mau nya”ungkap Rara sambil memperagakan gaya bicara Safira,meski tidak mirip sama sekali sih,karena nada bicara Rara sedikit di lebihkan hingga membuat Safira kesal.


“Kakak nggak gitu ya ngomongnya”dengus Safira tak terima.


“Lagipula waktu kakak ingin topi kakak bilang musim panas,padahal kan saat itu jelas-jelas sedang musim hujan”Rara langsung menatap pada Safira dengan tatapan yang seolah sedang meledek.


“Yah... Kakak kan ngomong kayak gitu,karena kakak pikir kamu mau beliin buat kakak”jawab Safira cuek.


“Enak aja!,Rara kan masih sekolah,belum bisa cari duit sendiri.Lagipula kalau Rara cari duit yang ada nanti ibu marah”jawab Rara langsung.


“Ya sudahlah kalau memang kamu nggak niat untuk beliin buat kakak!.Tapi siapa ya yang jadi mata-mata di sini?”


“Maksud kakak apa?”tanya Rara kini ia tidak mengerti.


Rara yang mendengar itu ia pun mengerti akan maksud.“Siapa lagi kalau bukan dokter pribadi kakak”jawab Rara cuek.


Sontak Safira yang mendengar itu langsung sadar jika dokter yang selalu berada di sampingnya adalah orang suruhan Arnam,ia sampai lupa karena sudah akrab dengan si dokter itu.Rasanya Safira punya teman dekat sekaligus teman curhat jika sudah mengobrol dengan Amara.


“Oh iya,kamu benar juga”jawab Safira mengangguk mengerti.


...*****...


Di tempat Arnam saat ini.


Arnam terlihat tenang saat mendengar kan informasi dari Toni.Dan sesekali Arnam akan tersenyum saat mendengar informasi itu.

__ADS_1


“Itu informasi hari ini yang saya dapatkan dari dokter pribadi nyonya Safira tuan”ucap Toni menjelaskan.


Dan informasi yang sempat di bacakan oleh Toni tidak lain adalah tentang Safira.Arnam sedang mendengarkan akan ekspresi Safira yang terlihat kebingungan atau senang saat menerima hadiah darinya,itu Toni dapatkan dari penjelasan Amara langsung yang merupakan orang suruhan Arnam sekaligus dokter pribadi Safira.


“Kemungkin sekarang nyonya telah sadar jika yang memberitahu kan semua keinginannya itu adalah dokter pribadinya sendiri”


“Ya tidak masalah”jawab Arnam sedikit tersenyum saat membayangkan ekspresi Safira saat senang bercampur rasa bingung.


Toni yang melihat Arnam sedikit tersenyum,ia bukannya merasa senang tapi justru merasa aneh.Karena selama ini ia belum pernah melihat Arnam tersenyum,dan mungkin karena saat ini suasana hati Arnam yang kini sedang baik,jadi tanpa sadar ia tersenyum kecil di depan Toni.


“Jangan menatap saya seperti itu”ucap Arnam yang kembali datar saat sadar jika Toni menatapnya aneh.


Biasanya Arnam tidak akan pernah tersenyum pada siapapun,tapi saat ini ia sedang senang karena Safira,hingga tanpa sadar dirinya tersenyum di hadapan orang lain selain Safira.


Jangankan untuk tersenyum,jika marah saja Arnam hanya bisa menunjukkan pada Toni,dan itu tentu di sebabkan oleh Safira.


Meskipun Arnam telah berjanji jika hanya akan menunjukkan semua ekspresi nya di depan Safira saja,tapi saat ini karena Safira juga ia bisa menunjukkan sedikit ekspresi wajahnya di depan Toni,hingga Toni merasa sedikit merinding karena hal itu.


“Baik tuan”jawab Toni yang langsung menjawab dengan patuh.


“Apakah ada informasi tentang Rena dan orang tuanya?”tanya Arnam mengalihkan topik.


“Saya telah menemukan beberapa petunjuk penting tentang mereka,dan kemungkinan sedikit demi sedikit bukti akan bisa di temukan”jawab Toni menjelaskan.


“Terus cari tahu hingga tuntas,dan jangan sampai memberikan celah sedikitpun!”ungkap Arnam mutlak yang hanya di jawab dengan anggukan oleh Toni.


“Tuan”panggul seorang laki-laki yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan tanpa permisi.


Toni yang melihat siapa orang itu,awalnya ia ingin marah karena laki-laki yang tiba-tiba masuk itu sudah bersikap tidak sopan,karena sepenting apapun itu,Toni selalu mendidik bawahannya untuk tetap sopan,dan kebetulan laki-laki yang tak sopan itu adalah salah satu bawahannya yang bekerja untuk Arnam.Tapi sebelum ia angkat suara,Arnam sudah lebih dulu buka suara.

__ADS_1


“Kamu bisa pergi Toni,aku ada hal penting yang harus di bicarakan”.Toni yang mendengar itu,ia pun langsung patuh dan meninggalkan ruangan itu.


Hingga kini Arnam pun mulai berbicara penting dengan laki-laki itu,dan pembicaraan mereka terdengar sedikit rahasia.


__ADS_2