
Di atas podium,Arnam tidak mengatakan kata-kata panjang,ia hanya menjelaskan jika ia adalah pemilik perusahaan itu,dan ia juga berkata jika ia akan meningkatkan kualitas kerja bawahan nya menjadi lebih baik lagi.
...*****...
Saat ini.
Arnam terlihat tenang duduk di kursi yang di sediakan khusus untuk nya.Banyak para pengusaha yang hadir dan berusaha akrab dengannya,tapi ia abaikan.Dan akhirnya Toni yang berada di samping Arnam lah menjawab pertanyaan para pengusaha itu.
“Arnam”ucap Rima yang saat itu menghampiri anaknya.Ia melihat sekeliling Arnam yang telah sunyi,karena para pengusaha yang merasa kesulitan untuk mendekati Arnam,hingga akhirnya mereka pun memilih pergi dan mengakrabkan diri dengan yang lain untuk tujuan kerja sama tentunya.
Arnam yang mendengar itu,ia hanya diam dengan tatapan yang terlihat sedikit acuh.Tapi meski begitu,ia tetap menatap ke arah ibunya.
“Rena sini!”panggil Rima pada Rena yang berjarak tak jauh darinya,ia seolah tak peduli dengan sikap abai Arnam,bahkan tatapan yang semakin dingin itu tidak Rima pedulikan.
Rena yang merasa dirinya di panggil itu,ia pun berjalan mendekat ke arah Arnam dan Rima,dengan langkah yang berusaha terlihat anggun dan menawan.
“Ada apa Bu?”tanya Rena pada Rima.
Tanpa menjawab pertanyaan Rena,Rima pun langsung menatap ke arah Arnam.
“Kamu gak berniat untuk memperkenalkan Rena sebagai istri kamu?”tanya Rima dengan nada yang terdengar mendesak.
Rena yang mendengar itu merasa senang,ia tersenyum diam-diam membayangkan dirinya di perkenalkan oleh Arnam.Untuk perayaan ini saja ia telah menyiapkan gaun,tas,sepatu,bahkan hingga riasan yang mahal,tapi rasanya saat mendengar ucapan Rima itu membuat apa yang ia siapkan kini ada gunanya,tapi sayangnya respon Arnam membuatnya mengepalkan tangan karena marah.
“Tidak”jawab Arnam tidak ingin di bantah.
'Bagiku dia bukan istriku,karena aku tidak mengakui itu'pikir Arnam dengan wajah terlihat tenang.
“Kamu gak bisa begitu Arnam,dia itu kan istri kamu!”ucap Rima pelan dengan nada yang terdengar menahan amarah.
Rima rasanya ingin berteriak marah dan memaksa Arnam,tapi sayangnya ini di depan publik dan orang banyak,apalagi banyak reporter dan kamera yang menyorot ke arah mereka,jadi sebisa mungkin Rima menahan emosinya itu
“Aku tidak peduli!.Dan apakah ibu tidak sadar jika saya sudah mulai membatasi pergerakan ibu?”ucap Arnam diakhiri pertanyaan yang membuat Rima terkejut.
“Apa maksud kamu Arnam?”tanya Rima pelan disertai bentakan tak terima.
“Ibu mungkin terlihat jahat,tapi sebenarnya ibu tidak lebih dari orang yang mudah dimanfaatkan”setelah mengatakan itu Arnam pun langsung bangkit,ia sedikit berbisik pada Toni.
Dengan seorang bodyguard di sampingnya,
__ADS_1
Arnam pun berjalan keluar dari pesta perayaan itu,hingga menyisakan Toni dan beberapa bodyguard untuk mengurus acara itu.
Saat melewati sahabat-sahabat Safira yang merupakan sahabatnya juga.Arnam hanya abai dengan berjalan tegap dengan kaki yang melangkah secara lebar karena postur tubuhnya yang tinggi.
...*****...
Saat ini Arnam sudah berada di depan rumahnya.Ia terlihat sedikit gelisah dan khawatir.Alasan tadi Arnam tidak ingin memberi tahu status nya,karena ia tidak ingin membuat Safira semakin marah padanya.Tapi di sisi lain Arnam juga harus mengambil alih perusahaannya untuk membatasi pergerakan ibunya,dan cara satu-satunya adalah dengan mengungkapkan jati dirinya itu.
“Pada akhirnya,aku juga harus menghadapi hal ini secara langsung”ucap Arnam setelah menghela nafas panjang.
Tok tok tok...
Tidak ada balasan dari dalam,hanya keheningan yang terdengar.
Tapi meski begitu,Arnam tidak menyerah dan terus mengetuk pintu hingga akhirnya Safira membukakan pintu untuk Arnam.
Arnam tahu jika awalnya Safira tidak berniat membukakan pintu untuknya,tapi karena ia terus mengetuk pintu,hingga Safira merasa terganggu dan terpaksa membuka pintu untuknya.
Kini Safira hanya diam dengan menatap sinis ke arah Arnam.
“Aku bisa jelaskan ini semua,tolong dengarkan terlebih dahulu”ucap Arnam yang berusaha menjelaskan pada Safira alasan ia menyembunyikan ini semua.
“Tidak perlu,saya tidak butuh penjelasan dari anda,apapun itu anda bebas!”jawab Safira sinis,ia sudah terlanjur sangat marah hingga tidak ingin mendengar penjelasan apapun dari Arnam.
“Dasar pembohong!”ucap Safira terdengar marah.Ia langsung membaringkan tubuhnya dan tertidur karena kelelahan menangis.
Safira benar-benar merasa sangat marah pada Arnam,ia merasa telah di bohongi oleh Arnam dua kali.Pertama,tentang pernikahan Arnam,kedua tentang statusnya.Jadi Safira merasa percuma jika harus mendengar penjelasan dari Arnam,karena ia hanya menganggap itu kebohongan belaka.
...*****...
Keesokan harinya.
Di siang hari.
Arnam yang seharian menunggu Safira di depan pintu kamarnya.Ia tidak tidur sama sekali karena berjaga.Walau merasa sangat mengantuk,karena ia tidak tidur dengan baik selama seminggu karena mempersiapkan acara perayaan perusahaan nya itu,meski kelelahan tapi Arnam tidak bisa tidur begitu saja.Dan bagaimana bisa Arnam tidur dengan keadaan gelisah karena mengkhawatirkan Safira??.
Sudah hampir seharian Safira tidak keluar dari kamarnya.Melihat hal itu,kekhawatiran Arnam bertambah,seakan sudah tidak bisa menunggu lagi,Arnam pun memilih mengetuk pintu.
“Sayang”panggil Arnam sambil mengetuk pintu secara berulang-ulang.Tapi tak ada jawaban,karena cemas Arnam pun akhirnya langsung mendobrak pintu.
__ADS_1
Brakkk...
Pintu pun terbuka dengan sekali dorongan dari Arnam,dengan tenaga yang cukup kuat,hingga menyebabkan pintu yang kokoh itu mengalami sedikit kerusakan.
“Safira”Tanpa memperhatikan arah lain,Arnam pun terus saja berjalan menghampiri Safira.
“Badan kamu panas sekali,kamu demam!”ucap Arnam dengan wajah yang terlihat cemas saat telapak tangannya menyentuh pipi Safira yang terasa panas.
“ughh”gumam Safira seperti lengguhan,ia langsung menepis tangan Arnam dari wajahnya dengan kasar.
“Jangan begitu,aku akan antar kamu ke dokter”ucap Arnam yang hendak mengangkat tubuh Safira,tapi Safira langsung menolaknya.
“Jangan!,aku gak demam”ucap Safira yang merasa enggan untuk ke dokter.Safira tidak suka rumah sakit,mencium bau obat saja sudah membuatnya mual dan pusing.
“Jangan khawatir,ada aku”ucap Arnam yang tahu kekhawatiran Safira.
“Nggak,aku nggak mau!”ucap Safira tegas dengan nada yang terdengar lemah.Kapan terkahir kali Safira makan?,kalau tidak salah Safira telah melewatkan makam malam nya kemarin.
“Baiklah,kalau begitu biar aku siapkan bubur untuk kamu”ucap Arnam yang tidak mendapat jawaban dari Safira,karena Safira hanya diam dan mengabaikan Arnam.
Tak lama setelah kepergian Arnam,ia pun kembali dengan sebuah kompresan dan bubur yang di bawa oleh seorang wanita paruh baya,Bi Airah yang biasanya pulang pergi,kini ia minta untuk tidak pulang dan membantunya merawat sang istri.
“Taruh di sana,biar sisanya saya yang urus”ucap Arnam pada wanita Paruh baya itu.
Bi Airah merupakan salah satu pelayan kepercayaan nya di mansion,Arnam meminta Bi Airah untuk bekerja di sini walau hanya pulang pergi.Tapi sepertinya untuk sementara ini Arnam akan menugaskan Bi Airah untuk menginap di rumahnya.
Setelahnya,sang wanita paruh baya izin pergi untuk mengerjakan tugas lain di rumah.
“Makanlah terlebih dulu,aku tahu kamu pasti lapar”
ucap Arnam lembut,ia terdengar seperti sedang membujuk Safira.
“Nggak,aku gak lapar!”jawab Safira tetap pada pendiriannya,mulutnya kini terasa pahit dan tak berselera untuk makan.
“Cobalah sedikit saja,dengan begitu kamu tidak akan merasa lemas lagi”bujuk Arnam lagi.
“Nggak!,saya bilang nggak ya berarti nggak!!.Kenapa sih kamu ngotot gitu?!”Kesal Safira dengan suara yang lemah.
Entah karena masih marah pada Arnam,atau hanya karena tidak selera makan,tapi yang jelas untuk pertama kalinya Safira membentak Arnam,walau terdengar lemah.Safira tahu ia sedikit keterlaluan,tapi emosinya benar-benar tidak bisa di tahan lagi.
__ADS_1
Arnam yang mendengar itu,ia pun memilih untuk mengompres Safira menggunakan handuk hangat.
*****