
Sementara itu di tempat lain.
Kini Salma yang sedang berada di ruangan nya itu,ia terlihat sedang mengerjakan tugasnya dengan sedikit melamun.
“Bu,ada tamu yang mencari ibu”ucap seorang pegawai wanita yang bekerja di butik miliknya.
“Kenapa kamu tidak mengetuk pintu terlebih dahulu?”tanya Salma sambil menatap ke arah pegawai yang menurutnya tidak sopan.
“Maaf Bu,kebetulan pintunya terbuka jadi saya langsung menghampiri ibu karena tamu itu berkata jika ia memiliki urusan yang mendesak dengan ibu”ucap pegawai itu menjelaskan,dengan nada bersalahnya itu.
“Baiklah,untuk kali ini saya maaf.Tapi ingat kamu harus bisa jaga etika,dan jangan ulangi kesalahan ini lagi”ucap Salma yang langsung di angguki oleh si pegawai.
“Iya Bu,kalau begitu saya pamit”ucap pegawai itu sambil menunduk dan langsung berjalan pergi.
Tak lama setelah itu masuklah Rey bersama dengan Roni ke ruangan Salma.Si playboy cap kapak' julukan yang Safira dan Salma berikan untuk Rey,juga sang dokter tampan yang memakai jas putihnya itu,mereka terlihat sedikit buru-buru menemui Salma.
“Apa kamu telah mendengar kabar tentang Safira?”tanya Rey yang langsung duduk tanpa di persilahkan.
“Nggak sopan"gerutu Salma mengomentari perilaku Rey yang tidak ada sopan-sopannya itu.
“Maaf,lain kali nggak akan kayak gini lagi he..he..,tapi nggak janji”ucap Rey sedikit cengengesan.
“Silahkan duduk Ron”mengabaik ucapan Rey,Salma langsung mempersilahkan Roni untuk duduk.
Dan tidak lama mereka bertiga pun duduk di tempat mereka masing-masing.“Ya,aku sudah mendengar berita tentang Safira.Dan aku yakin jika berita itu tidak sepenuhnya benar”jawab Salma dengan nada yakin.
Salma jelas mengenal Safira dengan cukup dalam,karena ia adalah sahabat perempuan satu-satunya bagi Safira.Mereka berdua kadang sering berbagi cerita,entah itu rahasia atau hanya kehidupan sehari-hari biasa.
“Iya aku pun begitu,karena meskipun kita bertiga tidak mengenal Safira lebih dalam jika di bandingkan dengan kamu,tapi aku yakin Safira tidak akan melakukan hal bodoh seperti itu”ucap Roni yakin,ia jarang menimpali ucapan sahabatnya itu,tapi hari ini ia ikut menimpali lebih dulu,yang dimaksud dengan kita bertiga adalah Roni,Rey,dan Reno.
“Yang Roni katakan benar,atau jangan-jangan masalah ini di sebabkan oleh Arnam,mungkin saja Safira tidak tahu jika Arnam sudah menikah.Bahkan kita juga tidak mengetahui jika Arnam sudah menikah,karena kehidupan nya sangat tertutup dan misterius”kini giliran Rey yang kembali buka suara.
“Opini kalian masuk akal,aku juga menebaknya seperti itu”jawab Salma yang terlihat sedang berfikir.
“Oh iya,kamu sudah berusaha untuk menghubungi Safira kan?”tanya Rey langsung
“Sudah,aku sudah berusaha menelepon Safira,tapi saat itu dia mengatakan jika dia butuh waktu sendiri,maka aku tidak bisa memaksa untuk datang ke sana,kalian berdua pasti tahu bagaimana sifat Safira jika sedang marah atau terkena masalah”ungkap Salma sambil menatap ke arah Rey dan Roni secara bergiliran.
__ADS_1
Rey dan Roni yang mendengar itu langsung mengangguk kompak.Karena mereka tahu di saat Safira sedang dalam masalah,ia hanya butuh waktu untuk sendiri,karena jika mereka memaksa untuk mendekati dan memaksa agar Safira menjelaskan,
yang ada mereka yang akan menjadi sasaran kemarahan Safira.Oleh karena itu,mereka akan memberikan waktu beberapa hari untuk Safira menenangkan diri,baru setelah Safira tenang maka Safira akan berbicara dan menceritakan masalahnya dengan sendirinya.
“Tapi setidaknya ini sudah cukup lama,dan walaupun Safira tidak menceritakan ini pada kita,tapi kan kabar ini sudah tersebar cukup luas”ungkap Rey lagi.
Sudah bisa di pastikan dengan jelas jika kabar itu akan sampai ke telinga mereka,karena perumahan tempat Safira tinggal itu berada di desa yang berada tepat bersebelahan dengan pusat kota,dan sahabat-sahabatnya itu kebetulan tinggal di pusat kota.
“Iya kamu benar juga.Bukankah lebih baik jika kita segera mengunjungi Safira dan menghiburnya?”
ungkap Salma yang langsung bangkit dari duduknya.
“Tapi tunggu!”ucap Rey menghentikan,dan langsung mendapatkan tatapan penasaran dari Roni dan Salma.
“Kenapa?”bukan Salma yang bertanya,melainkan Roni yang sedang duduk di samping Rey.
“Kita harus menghubungi Reno dulu,
mungkin dia akan marah pada kita jika kita tidak mengabarinya”ucap Rey mengingatkan.
“Benar juga,kalau begitu biar aku saja yang menelepon dia”ucap Salma yang hendak mengambil ponselnya dan menelepon Reno,tapi sebelum itu tiba-tiba sebuah suara menyelanya.
“Oh rupanya kamu sudah mendengar berita ini juga,padahal baru juga kita ingin mengabari kamu”ucap Rey sambil berjalan mendekat ke arah Reno.
“Tidak usah banyak bicara,ayo kita langsung menemui Safira saja”jawab Reno tegas.
Salma dan Roni yang mendengar itu,mereka berdua pun langsung mengangguk setuju.
Setelah itu mereka bertiga pun langsung berjalan ke arah parkiran.
“Aku lupa jika tadi mobilku ada di bengkel karena sedang di servis,jadi bisakah kita menggunakan mobil milik Roni saja sekalian Reno juga ikut dengan kita”ucap Salma yang dapat menebak jika kini mungkin emosi Reno tidak stabil karena marah saat mendengar berita tentang Safira.Bagaimanapun,rasa suka dan sayang Reno masih terlihat jelas di mata Salma dan yang lainnya,hanya saja cuman Safira yang kurang peka dan tidak sadar akan itu.
“Baiklah"jawab Roni setuju.
...*****...
* Di dalam mobil.
__ADS_1
Kini mereka yang sudah berada di tempat duduk masing-masing dengan Roni yang mengemudikan mobil,suasana pun hanya hening selama perjalanan.
“Aku sangat percaya jika Safira tidak mungkin melakukan hal itu,karena aku yakin jika dia bukan orang yang seperti itu”ucap Reno memulai pembicaraan di dalam mobil,matanya menatap lurus seakan sedang menerawang.
Reno mengatakan itu bukan karena rasa cintanya saja pada Safira,tapi karena ia sudah mengenal Safira dengan cukup baik.
Sifat Safira yang sopan saat menghadapi orang yang lebih tua darinya,juga sikap penyayang nya yang sering Safira tunjukkan pada orang-orang yang lebih muda darinya,itu lah yang selama ini selalu Reno perhatikan secara diam-diam.Hanya saja Safira sangat acuh dan dingin pada laki-laki,bahkan ia juga kesulitan hanya untuk menjadi teman dekat Safira.
“Iya aku yakin,ini semua pasti salah si Arnam itu.Andai dia ada di sini,pasti akan langsung aku hajar habis-habisan dia karena sudah membuat Safira berada di kondisi Safira seperti ini!”tegas Rey percaya diri disertai nada sombongnya,seakan ia mengatakan ia berani melawan Arnam.
Mendengar itu Salma langsung mendengklik ke arah Rey,jangankan menghajar! melihat Arnam saja Rey sudah penakut
“Menghajar?,heh!,yakin?,bukannya saat melihat tatapan dingin Arnam kamu sudah ketakutan,apalagi sampai menghajar dia.Tapi kalau memang kamu benar-benar berniat menghajar dia,akan aku katakan langsung pada Arnam agar kalian bisa duel satu lawan satu”ucap Salma si sertai nada sarkas dan mengejek saat mengatakan itu.
Tiba-tiba Rey yang mendengar itu,nyalinya itu langsung menciut seketika itu juga,ia langsung teringat dan merasa takut dengan tatapan tajam Arnam yang bisa membuat siapa saja ketakutan,
bahkan dirinya sedikit gemetaran saat membayangkan itu.
Karena jangan salah,bukan hanya laki-laki yang memiliki wajah galak saja yang mempunyai tatapan menakutkan,tetapi Arnam yang memiliki wajah rupawan juga bisa membuat orang ketakutan dengan tatapan matanya yang dingin dan datar saat marah.
“Jangan begitulah Sal,itu nggak baik,kamu nggak boleh mengadukan hal ini karena takutnya Arnam dan aku akan ribut,kita berdua kan sahabat,jadi nggak baik jika sahabat sampai ribut-ribut”ucap Rey beralasan dengan tatapan memohon nya.
“Heh?!,bilang aja kamu takut”ucap Salma sinis disertai nada ejekan miliknya.
“Nggak,aku nggak takut,siapa juga yang takut sama dia,aku kan pemberani”jawab Rey cepat disertai nada yang sedikit sombong,bisa jatuh harga dirinya di depan Salma kalau tahu jika dia itu sebenarnya penakut,atau lebih tepatnya ia paling takut pada Arnam dan tatapan tajam nya itu.Tapi sebisa mungkin Rey berusaha untuk terlihat berani,walau tangannya sudah gemetaran saat mengatakan itu.
Salma yang melihat ekspresi wajah Rey itu,ia rasanya ingin tertawa keras untuk meledek Rey lagi,tapi kasihan juga jika terus memojokan Rey yang sok berani.
“Iyain aja deh biar senang”jawab Salma terdengar seperti ledekan di telinga Rey.
Rey yang mendengar itu,ia hanya bisa mendengus.
“Tapi aku berani menghadapi Arnam,sekalipun harus masuk rumah sakit”timpal Reno yang duduk di samping Roni,ia juga tahu seberapa hebat Arnam dalam ilmu bela diri,walau tidak tahu pasti kehebatannya Arnam itu.
Meski Rey dan Salma tidak bisa melihat ekspresi Reno,tapi saat mendengar ucapan tegas Reno mereka yakin jika Reno benar-benar serius saat mengatakan itu.Karena tidak peduli seberapa kuatnya Arnam,ia masih mampu melawan Arnam.Mungkin itu yang di pikirkan Reno saat dirinya merasa jika dia punya kekuasaan untuk membantu Safira.
****
__ADS_1
Jangan lupa like nya dan vote nya 😘