
Sesampainya di rumah.
Arnam yang hendak pergi,tiba-tiba terhenti saat anaknya tiba-tiba memeluk kakinya.
“Pah,jangan pergi,di sini aja temani aku.Lagipula ini sudah malam”ucap Sabrina saat Arnam hendak keluar dari rumah Safira.
Arnam hanya diam,ia berbalik lalu menggendong anaknya.
“Papah harus pulang”Entah kenapa suara yang biasanya terasa datar itu kini terdengar lembut.Sabrina langsung menatap ibunya seolah meminta ibu nya agar membantu ia membujuk Arnam untuk menginap.
“Tapi aku ingin papah tidul di sini,please pah,temani aku sehali aja...”pinta Sabrina dengan tatapan memohon nya.
Arnam tersenyum walau terlihat datar,tapi yang jelas senyum itu sangat tulus,Arnam sebenarnya ingin menginap dan tidur bersama anak sesuai keinginan Sabrina,tapi ia tak yakin Safira akan mengizinkan ia menginap.
“Papah memiliki banyak kerjaan,jadi bisa kah kamu tidur bersama mamah lebih dulu”jawab Arnam beralasan.
Mendengar itu wajah Sabrina berubah menjadi sendu dan lesu,ia sedikit menggembungkan pipinya seolah terlihat kesal.
Melihat itu Safira pun menghela nafas panjang.
“Kalau emang papah sibuk ya sudah kapan-kapan Saja menginapnya ya sayang”jelas Safira memberi pengertian.
“Tapi Ina mau nya sekarang mah,nggak mau nanti-nanti,lagipula kan kalau nanti-nanti kadang jadi lupa,telus(terus) akhilnya ingkal janji”ucap Sabrina seolah menohok Safira.Ucapan Sabrina seakan mengingatkan Safira jika ia sering berjanji pada Sabrina,tetapi pada akhirnya dia sering menunda-nunda karena kesibukannya hingga ia lupa akan janjinya,walau pada akhirnya Safira tepati juga,tapi tetap saja Safira tahu jika anaknya sedikit kesal karena hal itu.
Melihat interaksi itu,Arnam yakin Safira akan membujuk nya,hingga ia pun berpura-pura melihat jam seolah sibuk.
“Bisakah kamu menginap untuk saat ini sehari saja”ucap Safira sambil menatap Arnam,jarang sekali Safira berbicara menatap Arnam bahkan kadang saat bicara dengan Arnam Safira hanya menatap ke arah lain.
__ADS_1
Arnam hanya diam seolah bergeming,ia melirik ke arah Sabrina yang terlihat berharap.Melihat hal itu Arnam kembali menatap Safira,ia berjalan sedikit ke arah Safira.Awalnya Safira ingin mundur,tapi karena sadar ada anaknya di sana,Safira pun memilih diam.
“Emang apa balasan nya jika aku mau menuruti untuk menginap di sini”walau senang Arnam berpura-pura meminta balasan,dan berusaha menggoda Safira.
Mendengar nada bisikan Arnam yang menurutnya terdengar menjengkelkan,Safira pun langsung melotot pada Arnam karena kesal,beruntungnya Sabrina tidak mendengar ucapan Arnam tadi.
“Dia kan anak kamu,masa untuk anak sendiri aja kamu nggak punya waktu”ucap Safira berbisik tapi terdengar tajam saat mengatakan itu.
“Lagipula aku di sini sedang berperan sebagai ayah gratis',bukan ayah sungguhan,jadi mesti ada timpal balik”ucap Arnam santai,masih dengan nada berbisik miliknya.Arnam tahu jika Sabrina sedang memanfaatkan dirinya,ia tidak marah ataupun kesal,setidaknya sifat dan kepintaran dirinya turun pada anaknya,dan itu bisa saja melindungi anaknya dengan kepintarannya itu.
Melihat Safira yang semakin kesal membuat Arnam harus mendatarkan muka agar tidak terkekeh ataupun tertawa.Safira adalah tipe perempuan yang mudah sekali marah,apalagi pada orang-orang tersayang nya,marahnya itu pun hanya karena rasa kesal biasa,bukan benci,dan Arnam sangat merindukan hal itu.
“Kamu minta apa sebagai imbalan agar mau menginap di sini”walau enggan Safira tetap bertanya tentang imbalan apa yang Arnam inginkan.
“Simple,cukup kembali”jawab Arnam dalam artian Safira kembali padanya,dan menerima dirinya kembali.
“Nggak,yang lain”safira kini memasang wajah marahnya,dan akhirnya Arnam memilih melirik ke Arah anaknya lagi.
*****
Keesokan harinya.
Kini Safira dan Arnam beserta Sabrina anaknya,mereka sedang melakukan sarapan bersama.Marni yang merupakan pengasuh serta seseorang yang telah lama bekerja dengan Safira itu,ia terlihat senang melihat pemandangan di depannya.
Awalnya Marni kaget dan bertanya siapa laki-laki itu,dan dengan tidak terduga nya Safira jujur jika itu ayahnya dari Sabrina,walau Marni tidak tahu apa status Arnam dan Safira kini,tapi yang jelas ia berharap mereka kembali bersama.
“Bi,nggak usah makan siang ya,nanti setelah ini kita bertiga akan makan di luar”jelas Safira yang langsung membuat Sabrina menatap ke arah Arnam.Sesekali Sabrina akan menaik turunkan alisnya tanpa sepengetahuan Safira,entah apa yang ingin Sabrina rencana kan,yang jelas hanya Sabrina dan Arnam yang tahu.
__ADS_1
“Apa ibu ingin Jalan-jalan bersama”tanya Marni yang sudah merubah panggilannya,ya! itu karena permintaan Safira.Safira sering mengeluh kesal saat ia disangka masih remaja.Apalagi saat orang-orang mengira jika ia kakak dari Sabrina bukan ibunya,hal itu tidak membuat ia tersanjung atau bangga karena disangka masih muda dan cantik,malah itu dianggap sebuah penghinaan tidak langsung.Kesal itulah yang selalu Safira rasakan hingga ia sering berdandan ala-ala orang dewasa.
Sedangkan Arnam yang mendengar panggilan ibu dari Marni, detik itu juga ia langsung tersedak saat minum hingga sedikit menyembur ke arah Safira.Dan Safira tahu apa yang di pikirkan Arnam,hingga ia langsung mendengklik kesal ke arah Arnam.
Arnam memilih abai dan bersikap santai,ia mengambil tisu yang di berikan anaknya.
“Terima kasih sayang”kini panggilan itu tidak terdengar kaku,karena Arnam telah membiasakan itu,walau datar tapi jelas panggilan itu terdengar lembut.
“Iya pah,tapi papah tidak apa-apa?”tanya Sabrina sedikit khawatir.
Arnam hanya mengelus kepala Sabrina dengan sayang sambil mengangguk seolah menenangkan kekhawatiran anaknya.
Mereka pun kembali makan dengan tenang,walau sebenarnya Safira masih merasa kesal setengah mati.
Baru sehari Safira bersama Arnam,tapi ia sudah ingin mencakar wajah Arnam yang walau datar terlihat tampan.Kemarin ia juga terpaksa menuruti keinginan anaknya yang ingin tidur bertiga,dengan Sabrina yang berada di tengah-tengah antara Arnam dan Safira.Walau enggan ia tetap menuruti itu,tentu karena provokasi dari Arnam yang akhirnya Safira menyetujui itu.
Dan kini,ia yang memang telah berjanji pada Arnam untuk menyetujui keinginan anaknya,tanpa tahu jika keinginan anaknya adalah Sabrina ingin berjalan-jalan bertiga selama seharian.
Kesal,itulah yang Safira rasakan saat membayangkan jika ia akan bersama dengan Arnam seharian.
Walau Arnam sedikit berubah,karena selalu memasang wajah datar pada siapapun,biasanya khusus pada dirinya jika Arnam akan memasang tampang biasa dan lembutnya,tapi kini sikap itu telah hilang seolah terganti dengan sikap Arnam yang datar dan tak tersentuh.
Hanya saja,entah Safira harus senang atau kesal,sikap jahil Arnam yang sering memancing emosinya itu tidak hilang,malah kerap kali memancing emosi Safira,yang memang mudah emosi sejak dulu jika berhadapan dengan Arnam.
“Kenapa lihat-lihat”kesal Safira saat Arnam meliriknya,tapi Safira berusaha meredam emosi nya.
‘Sialan!,apa Arnam ingin meledek,dasar brengsek’kesal Saifra yang menganggap Arnam brengsek,ia masih ingat kejadian pas di bar waktu itu.Dan karena kejadian itu Safira menganggap Arnam brengsek.
__ADS_1
*****
Maaf telat🤧