
Safira yang mendengar ucapan Arnam itu,ia langsung bungkam.Safira akui jika Arnam pasti kecewa akan kepergian nya itu.Padahal jelas-jelas Arnam akan selalu membelanya di depan Rima sekalipun.
Safira ingat jika Arnam selalu bersikap baik,dan sabar dalam menghadapi sikapnya.Meski Safira selalu menyalahkan Arnam atas pernikahan nya dengan Rena saat itu,padahal jelas-jelas ia belum tahu dengan jelas dan belum meminta penjelasan pada Arnam sama sekali.
“Aku akui aku salah dalam hal ini,tapi mungkin kalian akan mengerti alasan aku pergi saat kalian mendengar cerita ini”ucap Safira terlihat serius,ia pun mulai menceritakan alasannya pergi.
Flashback.
Saat itu,Safira yang telah bertemu dengan Rima secara langsung,ia akui jika ancaman Rima tidak berpengaruh besar padanya.
Safira pikir jika ia menjauhi Arnam,ia pasti akan jauh dari keluarganya,secara jika ia pergi menjauh dari Arnam ke tempat yang mungkin ia pikir Arnam tidak akan pernah menemukan nya,otomatis ia akan berada jauh dari keluarga dan sahabatnya.
Tiba-tiba ponsel Safira berdering,saat melihat ternyata Rara adiknya yang menelepon.
“Iya Ra,ada apa?”tanya Safira begitu sambungan terjawab.
“Kak ayah kecelakaan,tadi ada motor yang membawa motor secara ugal-ugalan hingga ayah tertabrak”ucap Rara terdengar khawatir,ia sedikit terisak karena takut terjadi sesuatu pada Hadi ayah dari Safira dan Rara.
“Kamu tenang Ra,sekarang kamu dimana? Oh iya ayah ada di rumah sakit mana?”ucap Safira yang berusaha menenangkan adiknya,tapi justru ia juga tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya itu.
“Akan aku kirim alamatnya lewat pesan”Sambungan pun berakhir,dan dengan langkah terburu-buru Safira menuju alamat rumah sakit yang di kirim adiknya.
Begitu sampai Safira langsung bertanya pada salah satu suster.
“Sus maaf,apa anda tahu pasien dengan nama tuan Hadi?”tanya Safira,dan sang suster yang kebetulan tahu langsung menunjukkan tempat Hadi di rawat.
“Ibu kemana Ra?”tanya Safira begitu memasuki ruangan rawat ayah nya.Ia melihat ke arah ayahnya yang masih belum sadarkan diri.
“Ibu lagi pergi keluar,katanya mau ambil tabungan buat berobat ayah”jelas Rara yang hanya diangguki sebagai tanggapan dari Safira.
Safira berjalan ke arah ayahnya,ia menggenggam salah satu telapak tangan ayahnya dan menciumnya.
Safira berpikir jika ini ada hubungannya dengan ancaman Rima,tapi saat dipikirkan ulang ia berusah menepis itu dan beranggapan jika itu hanya kebetulan saja.
Dan tanpa di duga Safira mendapat pesan dari nomor yang tak di kenal.
__ADS_1
0853*****
Puas?,tapi sepertinya kamu belum merasa jera dengan pelajaran yang saya berikan,kalau begitu tunggu kejutan selanjutnya,di akhiri dengan emot senyum sinis.
Saat mendapat pesan itu,Safira terkejut dan dengan cepat membalas pesan dari orang misterius itu.
Safira~
Siapa kamu?,makasud kamu apa?,saya benar-benar tidak mengerti dengan apa yang kamu katakan.
Begitu Safira mengirim pesan itu,tak lama muncul jawaban.
0853*******
Saya orang yang tadi bertemu dengan mu?,apa kamu lupa telah bertemu dengan mertuamu?.Oh memang pantas kau tidak pernah ku anggap menantu.
Balasan itu seolah membuat Safira yakin dan tidak mengelak jika itu Rima,dan kejadian yang terjadipum karena Rima.
“Hallo bu”ucap Rara yang tiba-tiba mengangkat sebuah panggilan.
“Ra gimana ini,tabungan yang tadi ibu ambil tiba-tiba di jampret orang”ucap Rina ibu dari Safira dengan suara yang terdengar terisak,disertai ringisan pelan.
“Ibu jangan khawatir masalah uang,biar itu menjadi urusan Safira”jawab Safira ikut bicara melalu sambungan telepon.
“Maaf kan ibu,ini salah ibu yang tidak menjaga uang dengan benar”ucap Rina terdengar menyalahkan.
“Tidak perlu di pikirkan.Sekarang ibu dimana?,ibu baik-baik saja kan?”tanya Safira dengan khawatir karena ia ingat jika ibunya terdengar meringis.Safira berharap tidak terjadi hal buruk pada ibunya.
“Ibu baik-baik saja,ibu akan kesana segera”jawab Rina berusaha menenangkan putrinya.
“Hati-hati di jalan bu”setelah itu sambungan pun berakhir.
“Kak,beneran kakak ada uang buat bayar biaya berobat ayahkan?.Rara bukan nya tidak percaya tapi masalahnya Rara belum kerja dan belum bisa menghasilkan uang”pertanyaan Rara hanya di jawab anggukan singkat dari Safira.
Safira sebenarnya tidak memiliki uang sebanyak itu,ia yakin jika ayahnya kan memerlukan banyak uang untuk berobat,tapi Safira ingat jika Arnam pernah memberikannya uang dan sebuah kartu yang Safira sendiri tidak tahu berapa batas limit nya.Dan uang yang Arnam berikan itu ia simpan,beserta kartunya,karena ia merasa jika uang yang Arnam berikan padanya terlalu berlebihan dan Safira takut saat akan memakainya.Tapi begitu tahu tentang status Arnam,akhirnya Safira sadar dan ia tahu jika hal yang Arnam berikan belum seberapa dari harta kekayaan Arnam sendiri.
__ADS_1
Melihat anggukan dari kakaknya Rara pun merasa tenang.
Semenjak kejadian itu,banyak terjadi kecelakaan yang tak lain ulah dari Rima,entah itu menimpa ayahnya ataupun sahabat dan kerabat dekat Safira.
Dan hal itu membuat Safira sadar jika ia harus pergi demi menghilangkan rasa tertekan nya itu.
Flashback end.
Mendengar hal itu,Salma,Rey,Reno,dan Roni hanya diam dan tak menyangka,jika Safira menghadapi ancaman sebesar itu.Belum lagi alasan Safira pergi demi melindungi mereka dan bisnis mereka yang memang mengalami masalah karena ulah Rima.
Sementara Arnam,ia tak kalah diam,ekspresi wajahnya terlihat datar dengan wajah yang mengeras seolah menahan amarah.
“Aku pergi”ucap Arnam yang langsung bangkit dan pergi keluar dari mansion.
Melihat hal itu,Safira belum bereaksi sama sekali.
Di saat Safira hendak bangkit,Salma mencegahnya dengan menarik tangan Safira lembut.
“Biarkan saja,aku yakin Arnam tidak mungkin hilang kendali”ucap Salma lembut,kini ia terlihat menatap Safira dengan raut wajahnya yang merasa bersalah.
“Tidak perlu merasa bersalah,ini bukan salah kamu juga”ucap Safira di jawab anggukan oleh Salma.
“Kami tidak menyangka jika kamu mengalami hal seperti itu”ucap Roni berkomentar,si dokter tampan itu seolah merasa kasihan dengan keadaan Safira saat itu.
“Bukan masalah,aku kuat.Buktinya aku dan anakku baik-baik saja”jawab Safira santai dan justru hal itu membuat Roni terasa tertohok.Ia ingat jika ia sempat mengatakan pada Safira jika Safira itu 'kekanak- kanakan'.Dan kini justru ia merasa bersalah telah mengatakan itu,Roni sadar jika Safira hanya berusaha melindungi,bukan menghindari.
“Maaf”ucao Roni tiba-tiba.Ia mengakui kesalahannya itu.
“Sudah ku katakan itu bukan masalah,jadi tidak perlu di pikirakan”jawab Safira sedikit tersenyum menenangkan.
“Seharusnya aku tida-”ucap Roni terhenti begitu Safira menyelanya.
“Jangan merasa bersalah,aku sudah tidak memikirkan kejadian yang telah berlalu”ucap Safira entah mengapa ia terlihat seperti malaikat pemaaf di mata Roni.
Sedangkan Salma,Rey dan Reno hanya diam tak mengerti dengan apa yang terjadi.
__ADS_1
*****
Maaf,kayak nya cerita ini bakal nggak di lanjut,atau mungkin pindah tempat