
Sementara saat ini di tempat Rena.
Rena yang kini telah sampai di depan mansion tempat ia tinggal bersama Rima.Pada saat telah turun dari mobil,dengan keras Rena langsung membanting pintu mobilnya hingga berbunyi.
Brukkk..
“Sialan!,apa sih kurangnya aku di bandingkan wanita kampungan itu”teriak Rena marah tidak terima,ia teringat saat Arnam lebih membela Safira di bandingkan dirinya.
“Aku itu cantik,aku itu kaya,dan aku lebih segala-galanya dari pada dia,tapi kenapa harus dia yang lebih Arnam bela!”marah Rena sambil berjalan dengan langkah cepat menuju kamarnya.Hancur sudah harga dirinya jika terus mendapatkan penolakan dari Arnam.
...*****...
* Di dalam kamar.
Rena pun langsung berjalan ke arah meja riasnya,ia berkaca di depan cermin dan memperhatikan penampilannya yang terlihat sempurna,sesekali ia akan memutar badannya dengan anggun.
Setelahnya,Rena berhenti dan menatap cermin dengan tatapan tajamnya.
“Apa lebihnya dia di bandingkan aku,dia itu jelek!,kampungan!,miskin!.Nggak ada cantik-cantik nya sama sekali!.Tapi kenapa Arnam bisa cinta sama dia?!!”marah Rena yang terus mengungkapkan emosinya itu di depan cermin.
“Sialan!!”maki Rena yang langsung mengambil sebuah botol,dan memukulkan botol parfum miliknya itu ke arah kaca dengan sangat keras.
Brak.....
prangg...
brakkk....
pranggg ....
brakkkk.....
prangggg....
Seperti orang kesurupan,Rena tanpa merasa lelah terus memukul kaca itu dengan keras dan semakin keras.
Baru setelah sadar jika tangannya tanpa sengaja terkena pecahan kaca,ia pun berhenti melakukan itu.
“Apa kurangnya aku di bandingkan dia!.Apa Arnam tidak bisa membedakan mana permata! dan mana remahan!,jelas-jelas dia bisa memiliki batu permata,tapi kenapa harus remahan itu yang Arnam pilih!!!”teriak Rena marah-marah.Ia mengaggap dirinya itu batu permata,ia lebih cantik!,lebih kaya!,lebih glamor dan lebih-lebih segalanya di bandingkan Safira yang ia anggap hanya remahan.
__ADS_1
Rena seolah tidak pernah sadar jika dirinya itu tidak seindah batu permata.Tapi karena ia selalu membangga-banggakan kecantikannya itu,seakan dirinya menganggap ia lebih tinggi di bandingkan siapapun tanpa terkecuali Safira,dan menurutnya hanya dirinya yang pantas berada di samping Arnam yang sempurna itu!!
Belum pernah ada orang yang bisa menandingi kecantikan Rena,sekalipun ada maka orang itu akan berakhir dengan tragis hingga kecantikan orang tersebut tidak berharga lagi.
“Tapi tunggu!,bukankah aku menikah dengan Arnam karena sebuah tujuan,dan kalau ayah tahu jika aku telah mencintai Arnam,bisa-bisa aku akan di siksa oleh ayah”ucap Rena yang mulai khawatir,emosi yang ia rasakan telah berkurang karena telah ia luapkan.
Kini yang jadi permasalahannya adalah Rena telah menyadari perasaannya untuk Arnam,dan itu tidak menguntungkan baginya,walaupun ia pernah berkata pada ibunya jika ia senang bisa menikah dengan Arnam,tapi ibunya tidak mungkin menebak kalau itu adalah cinta.Lagipula jika pun ibunya tahu jika ia telah mencintai Arnam,mana mungkin ibunya akan mengadukan itu pada ayah nya.
Tapi yang jadi beban pikirannya adalah,rasa cinta Rena pada Arnam serasa seperti obsesi,dan hal itu akan mudah di ketahui oleh ayahnya.
“Sialan! sialan! sialan!”umpat Rena yang terus saja berteriak tidak jelas.
“Rena”panggil suara yang Rena kenali.
Sontak hal itu langsung membuatnya membeku.
“Ibu”panggil Rena terkejut pada Rima yang kini mematung sambil menatap ke arahnya.
‘Sial!,apa dia dengar apa yang aku katakan tadi!'pikir Rena khawatir.
“Aku akan jelaskan ini semua...”ucap Rena yang tidak tahu harus berkata apa,ia pun memikirkan alasan yang tepat,tapi sebelum ia melanjutkan kata-katanya itu Rima langsung menyelanya.
“Tapi bu,aku...”ucap Rena yang ingin berkata tapi terpotong lagi oleh Rima.
“Ibu sudah dengar berita itu”ucap Rima cepat.
“Maksud ibu apa?"tanya Rena yang terlihat tidak mengerti.Masih dengan kekhawatiran dan kegugupan yang berusaha ia sembunyikan agar Rima tidak curiga.
“Ibu sudah lihat pertengkaran kamu dengan Safira si anak sialan itu!”ucap Rima yang menunjukkan rekaman berisi video pertengkaran Rena dan Safira.
“Ibu bisa mengerti perasaan kamu saat ini”ucap Rima yang langsung berjalan ke arah Rena.Rima duduk di samping Rena dan langsung memeluknya dengan erat.
“Kamu pasti sedih kan karena Arnam tidak membela kamu sama sekali,dan malahan dia lebih membela si anak sialan itu!!”ucap Rima yang terdengar sangat membenci Safira.Ia menatap Rena dengan raut prihatin dan iba nya itu.
“I..iya bu”jawab Rena sedikit terbata,entah ia harus bersikap sedih atau senang,yang jelas ia merasa beruntung karena sepertinya Rima baru saja datang dan tidak mendengar ucapannya tadi.
“Tenang saja nak,ibu sayang banget sama kamu,jadi ibu nggak akan biarkan kamu menderita seperti ini”ucap Rima dengan nada lembutnya.
“Jadi apa yang akan ibu lakukan untukku?"tanya Rena dengan wajahnya yang terlihat murung dan sedih di mata Rima.
__ADS_1
“Bulan depan adalah hari di mana Arnam akan memimpin perusahaan secara resmi,dan nanti pasti akan ada banyak media yang memberitakan hal itu”ucap Rima memberi tahu dengan pandangan yang terlihat sedang menerawang.
“Lalu apa rencana ibu?”tanya Rena tidak mengerti.
“Di saat berita itu akan di publikasikan,maka ibu akan mengirim seseorang tentang status Safira,dengan begitu dia tidak hanya di caci di satu desa,tapi juga satu negara”ucap Rima dengan tersenyum sinis,ia terlihat sangat senang hanya dengan membayangkan hal itu.
Rena yang mengerti maksud Rima itu,ia pun langsung tersenyum senang.“Terima kasih bu,ibu sudah seperti ibuku sendiri karena sangat peduli padaku”ucap Rena terdengar menyanjung.
“Tidak perlu berterima kasih sayang,ibu senang jika bisa membantu kamu”jawab Rima masih dengan nada lembutnya.
“Sepertinya kamu terluka,biar ibu bantu obati luka kamu”lanjut Rima saat melihat luka di tangan Rena.
...*****...
Sementara saat ini
Safira yang telah bertemu dengan dokter pribadinya itu.Mereka kini sedang berbicara berdua.
Safira yang merasa bersalah,ia pun mencoba meminta maaf.“Maafkan aku,aku hanya ingin jalan-jalan sebentar.Aku benar-benar tidak pernah berfikir jika kamu akan se-khawatir ini,padahal kan kamu tahu kalau aku cukup pandai dalam bela diri”ucap Safira yang tidak berbicara dengan formal,karena ia merasa sudah cukup dekat dengan Amara.Meski kadang Safira juga akan berbicara formal pada Amara
Sang dokter pribadi yang awalnya hanya diam karena tidak berani mengungkapkan rasa kesal dan khawatir nya itu,ia pun akhirnya buka suara setelah mendengar permintaan maaf dari Safira.
“Saya tidak marah nyonya,saya hanya khawatir.Sudah sepantasnya saya khawatir kepada anda,meskipun anda pandai bela diri,tapi anda sedang hamil,dan mungkin anda tidak akan bisa menggunakan ilmu bela diri dengan mudah saat sedang hamil”
Safira yang mendengar itu hanya diam untuk sejenak.
“Walaupun ucapan kamu itu ada benarnya,tapi aku masih bisa menjaga diriku dengan baik,jadi kamu tidak perlu menyalahkan diri kamu”Safira berusaha menenangkan Amara atas kesalahan yang Safira sendiri tidak merasa jika Amara salah.
Rara yang kebetulan berada di ruang tamu,ia hanya diam sambil memperhatikan ekspresi kakaknya yang terlihat tidak enak.Sesekali kakaknya akan meminta maaf lagi karena rasa bersalahnya itu,dan si dokter hanya akan diam karena tidak berani mengungkapkan rasa kesal bercampur khawatirnya itu.
Melihat hal itu Rara sedikit tersenyum,dan tanpa sadar Safira melihat itu.
‘Sialan!,ini pasti kerjaan si Rara'pikir Safira terlihat kesal.Safira berfikir jika kekhawatiran si dokter yang berlebihan mungkin karena olok-olok dari sang adik.
Meski lumayan sulit membujuk sang dokter yang sering diam itu,tapi pada akhirnya sang dokter itu pun memaafkannya.Hanya saja mulai sekarang Safira di jaga lebih ketat lagi,karena jika ada sesuatu hal yang penting dan jika dokter itu memang harus pergi.Maka karena takut jika Safira akan kabur,si dokter itu kadang meminta bantuan pada Rara untuk menjaga Safira.
Tentu hal itu membuat Rara entah kenapa merasa senang dan bangga.Rara akhirnya bisa merasakan memiliki adik.
Atau lebih tepatnya kakak rasa adik!!
__ADS_1