
Saat ini entah apa yang telah terjadi pada Safira,ia terlihat meringkuk dengan wajah yang di sembunyikan di balik lututnya yang di tekuk.
Tubuh Safira bergetar,isak-tangis yang seolah menyayat hati itu terdengar pilu.Safira ingin berteriak,tapi ia tidak bisa melakukan itu,jadi yang ia lakukan hanya menangis dengan terisak sedikit keras.
Kenapa cobaan datang kepadanya secara bertubi-tubi?.Safira benar-benar tidak menyangka jika hidupnya akan menjadi seperti ini!!.
Padahal jelas-jelas dulu ia wanita yang kuat,apa karena hormon kehamilannya ia menjadi gampang nangis dan sedih?
...******...
Di saat posisi Safira masih terlihat meringkuk sambil memeluk tubuhnya,tak lama Arnam datang.
Arnam yang melihat tubuh Safira meringkuk dengan badan yang sedikit gemetar,ia langsung menghampiri Safira karena cemas.
“Ada apa?”tanya Arnam lembut,ia hendak mengusap kepala Safira,berusaha untuk menenangkan nya,tapi sebelum itu terjadi Safira langsung menghindar.
“Kenapa?,apa ada sesuatu yang membuat kamu tidak nyaman?.Di mana?,katakan?”tanya Arnam kini dengan raut wajah yang terlihat khawatir.
Tapi sayangnya Safira tetap hanya diam,ia seolah-olah tidak mendengar ucapan Arnam.Ia pun berusaha meredam isakan nya itu.
“Kenapa harus seperti ini...?”gumam Safira pelan hampir terdengar seperti bisikan.Tangannya yang memeluk dirinya sedikit mengepal seolah ia sedang marah entah karena apa.
Arnam yang mendengar itu,ia tentu merasa bingung.Di satu sisi ia ingin menenangkan Safira,tapi setiap kali ia ingin mengusap kepala atau punggung Safira,Safira selalu menghindar,seolah tidak ingin Arnam sentuh.Belum lagi ia masih belum mendapat kejelasan tentang sikap Safira ini.
Akhirnya Arnam hanya bisa diam di hadapan Safira dengan kepala yang sedikit menunduk,ia berusaha untuk melihat raut wajah Safira.Dan Safira yang menyadari itu,ia malah lebih menyebunyikan wajahnya dengan kepala menunduk lebih dalam.
“Aku nggak ingin ada di keadaan ini...,aku benar-benar nggak sanggup!”jelas Safira terdengar bergetar saat mengatakan itu,dengan sedikit emosi kekesalan itu ia luapkan.
“Jangan buat saya khawatir Safira!,jika ada apa-apa langsung katakan saja”jelas Arnam tanpa sadar berkata dengan nada yang terdengar tegas.Ia benar-benar bingung dengan sikap Safira,belum lagi ia masih merasa marah dengan perkataan ibu nya tadi.
__ADS_1
“Maaf”Akhirnya Arnam kembali berkata setelah hanya diam untuk sejenak,seakan ia telah sadar jika ia tidak seharusnya mengungkapkan kekesalannya itu.
“Bisa pergi kamu...!”ucap Safira dengan suara yang terdengar lemah dan gemetar,tapi juga terdengar mengusir,seakan ia tidak ingin melihat Arnam.
“Tolong pergi!,tinggalin aku...,sebentar!!!”lanjut Safira yang sadar jika ia tidak bisa mengusir Arnam secara langsung.
Arnam yang mendengar itu,ia terlihat ragu dan bimbang.Merasa frustasi,Arnam tanpa sadar mengusap wajahnya sendiri dengan kasar.Ia ingin berusaha menenangkan Safira,tapi karena Safira mengusir dirinya,maka Arnam tidak memiliki pilihan lain.
Tanpa berkata,Arnam pun langsung keluar.
Brakk!!.
Mendengar suara pintu di tutup,isak tangis Safira semakin keras.Tapi ia berusaha untuk menenangkan emosi nya itu sambil menghela nafas dengan sedikit susah payah.
Dan tanpa sepengetahuan Safira,Arnam tidak pergi meninggalkan rumah.Melainkan ia sedang berdiri di depan rumah,seolah berusaha untuk menunggu Safira tenang.
Flashback
Safira pikir Rena meneleponnya,tapi ternyata Rena mengirim sebuah rekaman suara untuknya.
“Rekaman?,kenapa dia tiba-tiba mengirim sebuah rekaman suara?”tanya Safira heran.Ia ingin memutar rekaman itu,tapi masih sedikit ragu.
Akhir-akhir ini hubungan Safira dengan Arnam sedikit lebih baik,walau tidak terlalu kentara.Karena Safira hanya bersikap menerima perhatian yang Arnam berikan.Tidak lebih dari itu,meski begitu sesekali Safira akan menjawab pertanyaan Arnam.Dan itu merupakan kemajuan bagi Arnam,karena biasanya Safira hanya mengabaikan atau menjawab pertanyaan nya dengan anggukan.
“Apa aku buka aja ya?”tanya Safira ragu.Safira ingin membuka itu,tapi ia takut jika itu merupakan hal buruk yang akan membuatnya sedih.Akhir-akhir ini suasana hati Safira sedang tidak stabil,ia juga mudah marah,sedih,kesal hanya karena hal sepele.
Tapi bagaimana pun Safira harus menghadapi itu,maka dengan sekuat tenaga ia berusaha menguatkan hatinya untuk membuka rekaman itu.
[“Ada apa?”terdengar sebuah suara yang jelas itu adalah suara Arnam.]
__ADS_1
Sontak Safira yang mendengar itu langsung membesar kan volume dan menajamkan pendengarannya itu.
[“Akhirnya kamu pulang juga,sudah berapa lama ya kamu tidak pernah mengunjungi ibu?.Hanya gara-gara wanita itu?,benar-benar pengaruh buruk!”ucap Rima setelah beberapa saat suasana yang hanya hening untuk sejenak.Nada suaranya jelas terdengar seperti sedang menyinggung dirinya.
Safira yang mendengar itu,ia sempat ingin menjeda sejenak rekaman suara itu,karena ia tidak siap untuk mendengar suara rekaman selanjutnya.Tapi saat mendengar nada tegas Arnam,ia pun membatalkan rencananya itu.
[“Bu!!”ucap Arnam terdengar kesal bercampur sedikit amarah].Safira sedikit senang saat Arnam membelanya,tapi meski begitu ia masih tidak tenang dengan apa yang akan mereka bahas,hingga tanpa sadar Safira menggigit ujung kukunya.
Setiap kata yang terdengar di rekaman tersebut,tanpa sadar membuat ia menggigit kukunya semakin keras dan semakin keras,hingga saking kerasnya kuku nya sampai patah.
Di saat mendengar ucapan Rima berikutnya,tanpa sadar pelupuk matanya basah,saat setetes air mata itu jatuh begitu saja.
“Ibu janji ibu akan mengakui anak Safira sebagai cucu ibu,asalkan kamu mau memiliki anak bersama Rena”ucap Rima tanpa beban.
Sontak Safira yang mendengar itu langsung tertegun.
‘Jadi maksud ibu,ibu nggak akan mengakui anak ini kecuali jika Rena hamil anak Arnam?!!’pikir Safira tak habis pikir.Ia tanpa sadar mengusap perutnya yang sedikit rata dan belum terlihat jelas tonjolan di perutnya.
“Maksudnya,ibu akan memperlakukan dia dengan baik”Lanjut Rima lagi.
Belum selesai Safira berusaha untuk menenangkan suasana hatinya itu,tapi kemudian ucapan Rima itu malah membuat air matanya mengalir semakin deras.Ia menangis dengan sebuah emosi yang tidak bisa di ungkapkan.Ada rasa marah,tidak terima,tidak percaya,kecewa,dan masih banyak lagi emosi yang tidak bisa Safira sebutkan.
Untuk selanjutnya,Safira langsung mematikan rekaman suara tersebut.Ia tidak peduli dengan jawaban Arnam selanjutnya.Tapi yang jelas Safira benar-benar merasa sakit hati,hingga ia tidak sanggup untuk mendengar isi rekaman itu lagi.
Kata-katan Rima yang mengatakan akan 'memperlakukan anak Safira dengan baik jika Rena juga hamil' seolah membuat nya semakin marah,jadi jika Rena tidak hamil anak Arnam apakah ibu dari Arnam itu akan memperlakukan sang cucu yang merupakan anaknya dengan buruk??
Dan akhirnya setelah itu Safira pun menangis dengan emosi yang tak bisa di ungkapkan.Safira berusaha agar tidak berteriak,karena ia tidak ingin ada yang tahu jika kini ia sedang menangis.
Flashback End
__ADS_1
*****