
Keesokan harinya
Safira kini terbangun dalam keadaan letih,tubuhnya seakan remuk redam karena kejadian semalam.Ia sedikit memandang ke arah seseorang yang ada di sampingnya.
Arnam,laki-laki itu kini sedang tertidur pulas.
Mungkin ia juga letih karena apa yang mereka lakukan semalam.
Melihat hal itu,Safira merasa kesal dan marah di
saat bersamaan.Ia tak menyangka jika Arnam akan bersikap sebrengsek itu,rasa nya,Safira merasa jika dirinya seperti pelacur yang bisa ditiduri seenaknya.
Meski ia tahu jika statusnya masih istri Arnam,tapi yang jelas ia tetap marah karena Arnam bersikap seenaknya padanya.
“Brengsek”Maki Safira yang langsung bangkit dari duduknya,ia mengenakan pakaiannya dan berjalan keluar dengan langkah kesulitan.
Sedangkan Arnam yang merasa jika Safira telah keluar,ia yang awalnya memang sudah bangun.
Tapi ia berpura-pura tertidur,karena ia tidak tahu bagaimana caranya menghadapi Safira untuk saat ini.
Arnam bangkit dari tidurnya,ia menarik ujung rambutnya kasar.Rasa bersalah dan frustasi kini sedang di rasakan nya.
“Sialan!”Maki Arnam marah.Ia tidak menyangka, jika dirinya bisa dengan mudah masuk jebakan seseorang.
“Paman,saya pasti akan membalas mereka.Keadilam untuk mu itu memang sudah sepantasnya,biarkan musuhmu mendekam di penjara”Arnam menatap udara kosong dengan tatapan yang tidak bisa di tebak,yang jelas,ucapan dan tatapan nya itu penuh tekad dan keyakinan yang kuat.
...*****...
Safira yang kini sudah sampai,ia langsung membaringkan tubuhnya di sofa.Rasanya Safira
saat ini tidak mampu untuk melangkah lagi,bahkan satu langkah pun ia tidak yakin bisa.Seluruh tubuhnya terasa tak nyaman.
__ADS_1
“Mamah”panggil suara yang berhasil membuat Safira terkejut.Rupanya anaknya,“Sayang”balas Safira dengan wajah yang sedikit tak bersemangat.
Meski begitu raut wajah tersenyum tetap ia tunjuk
kan.Sabrina terlalu menggemaskan,hingga siapapun tidak tega membuatnya sedih apalagi khawatir.
“Mah,kenapa mamah tidak tidul baleng di kamal Ina.Mamah habis ke mana?”tanya Sabrina yang langsung memeluk Safira.Ia bertanya saat menyadari ketidakhadiran ibunya begitu ia bangun dari tidurnya.
Dengan senyuman yang masih tersemat,Safira bersikap tenang“Mamah banyak kerjaan Ina,jadi mamah nggak bisa temani kamu.Maafin mamah ya nak”Lalu ia mengelus pucuk kepala anaknya.
“Oh gitu”jawab Sabrina mengangguk,seolah mengerti.
Sebenarnya Safira bisa saja berbohong,dan mengatakan jika ia menemani Sabrina dan bangun pagi-pagi sekali,tapi Safira tidak ingin mengatakan itu,karena meskipun kata itu bisa membuat Sabrina senang,tetap saja itu hanyalah kebohongan,dan bisa saja Sabrina akan tahu kebohongan dan kecewa padanya.Walau apa yang ia katakan juga termasuk kebohongan,tapi ini adalah alasan yang lebih masuk akal.
“Sayang,sepertinya bibi cariin kamu deh”Safira dapat mendengar baby sister yang biasa mengurus Sabrina sedang memanggil nama anaknya.
“Oh iya,sepeltinya gulu les Ina sudah datang”angguk Sabrina.Ia mengerti jika ini waktunya sang guru datang.
“Iya mah”Lagi-lagi Sabrina mengangguk,ia berbalik dan merentangkan tangannya,meminta untuk di gendong.
Paham dengan keinginan nona nya,sang baby sister langsung menggendong sang nona muda.
“Belajar yang pintar ya sayang”ucap Safira di jawab dengan senyum semangat.
Sabrina anak yang unik,jika anak lain selalu ingin bermalas-malasan.Justru ia sebaliknya,terlihat penasaran dan penuh ambisi dalam segala hal,bahkan guru yang biasanya mengajarinya,sering kewalahan dengan rasa penasarannya.
'Kenapa ini seperti ini'
'Kenapa hasil nya seperti ini'
'Bagaimana bisa jadi seperti ini'
__ADS_1
Kalimat-kalimat yang sering sabrina ucapkan,saat belajar matematika.
Melihat mereka telah pergi,Safira hanya bisa menghela nafas panjang,dengan hawa nafas yang terdengar berat.
Safira tidak tahu harus berbicara apa,rasa kesal dan marah yang awalnya redam,kini kembali muncul.
“Sialan!!”Maki Safira dengan sangat pelan,bahkan nyaris terdengar seperti helaan nafas.Safira merasa hari ini ia sangat sial,dan kesialannya itu terus saja datang,hingga ia merasa ingin terus memaki,seolah ia berharap amarahnya akan redam,seiring keluarnya umpatan itu.
...*****...
Sementara di tempat Arnam.
Arnam kini sedang berada di ruangannya bersama dengan Toni.
“Apa tidak sebaiknya anda katakan yang sebenarnya pada istri anda”Toni yang tahu akan kebenaran yang terjadi,hanya saja,ia juga merasa bersalah karena kejadian itu tidak bisa ia cegah.
“Tidak perlu”Arnam dengan pandangan menerawang jauh,seolah ia bisa berfikir jauh
lebih ke depan di bandingkan siapapun.
Mendengar itu Toni memilih bungkam,ia tidak tahu pasti apa yang tuan nya pikirkan.Tapi,ia yakin tuan nya jauh lebih tahu apa yang harus di lakukan.
“Kalau begitu saya akan mengurus yang lainnya”
pamit Toni sedikit membungkuk hormat.
Arnam hanya menjawab dengan anggukan,lalu kembali menatap laporan yang sempat Toni berikan.
Di sana terdapat beberapa bukti musuh dari paman nya,hanya saja,itu tidak lengkap dan belum bisa membuat si musuh masuk jeruji besi.Ia sedikit berfikir tentang apa yang harus ia lakukan.Seharusnya,ia menemui Safira setengah tahun ke depan,tapi karena mendesak,ia terpaksa menemui Safira demi bisa menyelamatkan kan nya.Seandainya Arnam tidak datang tepat waktu,mungkin saja Safira telah di sentuh oleh orang lain.
Membayangkan hal itu saja membuat Arnam tak tahan,seakan ia ingin menghancurkan apa saja dihadapannya.
__ADS_1
“Sepertinya,harus ku rubah rencana yang telah berantakan ini”Arnam berbicara pada dirinya sendiri,pandangan menerawang,yang hanya menatap udara kosong,seakan menegaskan jika kini Arnam tengah berfikir dalam.