
Setelah itu..
1 tahun lebih pun berlalu kembali...
Dan baru setelah itu Arnam datang ke negara yang mana tempat Safira tinggal saat ini,yaitu negara A.Ia pergi ke negara itu dengan alasan berbisnis,dan karena ilmu dalam berpolitik nya sangat hebat dan mahir,banyak pejabat di negara tersebut yang menghormatinya.
“Tuan,ini informasi yang anda inginkan”ucap Toni saat mereka hendak turun dari pesawat pribadi milik Arnam.
Arnam langsung membaca informasi itu sambil berjalan dengan langkah tegas yang terlihat berwibawa,sesekali ia tersenyum saat membaca apa yang tertera di dalam dokumen tersebut.
“Istriku memang hebat”puji Arnam terkesan datar,tapi nada suara dan tatapan nya terlihat tulus saat memuji istrinya itu.
Toni yang mendengar itu hanya mengangguk,ia sedikit mengakui kemampuan Safira walau sebenarnya Arnam lah yang paling berjasa dibalik kesuksesan dan keberhasilan Safira.
“Menurut informasi,ada sebuah perusahaan yang sangat sulit untuk di ajak kerja sama oleh nyonya Safira,ia menolak dengan sangat keras tawaran dari pihak nyonya Safira.Padahal jelas-jelas perusahan dari pihak nyonya rela memberikan keuntungan yang sangat besar pada perusahan itu”ucap Toni membeberkan informasi yang ia dapatkan.
“Sepertinya karena perusahaan itu adalah perusahaan raksasa,hingga ia dengan sombongnya menolak kerja sama dari pihak nyonya yang merupakan perusahaan yang kecil baginya”lanjut Toni menjelaskan.Mungkin perusahaan tempat Safira termasuk perusahaan yang kaya dan maju,tapi tanpa kekuasaan itu bukan apa-apa.
Ujung mata Arnam langsung menatap ke arah Toni,dengan sedikit sinis Arnam berkata secara datar“Setidaknya perusahaan dia masih terlalu jauh di bawahku”ucap Arnam datar dan terkesan sombong.Ia benar-benar tidak suka dengan perusahaan itu karena telah bersikap sombong pada Safira dengan menolak kerja sama tersebut.
Kamu tahu apa yang harus kamu lakukan?”ucap Arnam lagi yang tidak butuh jawaban dari Toni,
karena yang Arnam butuhkan adalah hasil dari apa yang ia minta kini.
Tanpa berkata Toni langsung mengangguk.
...*****...
Keesokan harinya.
Di tempat Safira kini berada,ia yang terlihat masih tidur dengan nyenyak,tiba-tiba merasa terganggu dengan panggilan telepon.
__ADS_1
Dengan malas Safira langsung mengambil handphone miliknya,ia mengangkat panggilan itu tanpa melihat siapa peneleponnya.
“Hallo”Safira berkata dengan nada suntuknya,karena ia kelelahan bekerja.
Saat mendengar suara yang meneleponnya,Safira sontak langsung duduk dan membuka matanya lebar-lebar.
“Iya pak Ronald,maaf atas ketidaksopanan saya tadi”ucap Safira yang tiba-tiba berkata sopan saat tahu yang meneleponnya adalah ceo dari perusahaan besar yang ditawari kerja sama oleh perusahaannya.
‘Sial,ini kan tamu penting’pikir Safira sambil melihat ke arah jam yang ternyata masih pukul enam pagi.Ini sesuatu hal yang aneh menurut Safira,kenapa orang sepenting itu bisa meneleponnya di jam seperti ini.
“Sa,saya ingin mengatakan bahwa saya menerima kerja sama yang anda ajukan”ucap Ronald sedikit terbata-bata dan langsung pada intinya.
“Tapi pak...”Safira hendak bertanya kenapa Ronald bisa berubah pikiran secepat ini,padahal kemarin jelas-jelas Ronald menolak kerja sama dengan perusahaannya secara mentah-mentah sekalipun tawaran yang perusahaannya ajukan adalah keuntungan yang sangat besar untuk Ronald,
sedangkan untuk perusahannya hanya mengambil sedikit keuntungan.Hal itu lah yang membuat Safira bingung dan tidak menyangka!
Ronald pikir Safira akan menolak kerja sama itu,dengan cepat ia pun langsung menyelanya.
“Saya harap anda menerima tawaran saya tanpa banyak berfikir.Sekalipun perusahaan anda akan meraih keuntungan yang lebih besar dari perjanjian kemarin,tetap akan saya terima kerja sama ini”ucap Ronald dengan terburu-buru saat bicara.Seakan dalam ucapannya itu,ia tidak menerima penolakan.
Setelah panggilan itu berakhir,Safira hanya diam dengan sedikit melamun.Ia merasa tidak mengerti dengan hal ini,bukankah ia telah berusaha untuk bisa bekerja sama dengan perusahaan milik Ronald dengan susah payah,tapi karena perusahaan itu terkenal sombong dan sulit untuk di ajak kerja sama,hingga ia berusaha secara mati-matian agar kerja samanya di terima,karena berhasilnya proyek besar yang di jalankan perusahaannya sangat bergantung pada perusahaan Ronald yang cukup berpengaruh.
Dan sekarang di saat Safira merasa pesimis dengan kerja sama antar dua perusahaan besar itu,tiba-tiba berita baik yang tak terduga datang menghampirinya.
“Tak peduli apa sebabnya hingga pak Ronald berubah pikiran,tapi yang jelas keberhasilan ini perlu diberitahukan pada pak Farrel langsung”ucap Safira yang langsung menuju kamar mandi untuk mandi,karena ia berniat berangkat ke perusahaan lebih pagi dari biasanya.
Flashback end.
Meskipun Safira mungkin tak tahu tentang keberadaan dan apa yang sedang Arnam lakukan.
Tapi tidak dengan Arnam yang selalu memantau dan melindungi Safira dan anaknya secara diam-diam melalui orang-orang khusus yang ia pilih.
__ADS_1
...*****...
Setelahnya beberapa hari pun berlalu.
Di tempat Safira kini,ia masih tertidur pulas.
Tiba-tiba Sabrina datang dan berteriak keras.
“Mamah bangun!!”teriak Sabrina sambil melompat-lombat di atas kasur empuk milik Safira.
Merasa terganggu Safira pun membelakangi anaknya,ia menutup telinganya dengan bantal dan tetap menutup matanya seolah masih mengantuk.
“Mamah selalu bilang kalau Ina itu sulit di bangunkan,tapi nyatanya itu kalena Ina menulunkan sifat dali mamah bukan Tante lala”ucap Sabrina yang memang sering mendengar cerita tentang Rara dari Safira.
Safira sering mengatakan jika sifat Sabrina yang susah saat di bangunkan itu,menurun dari sikap Rara yang susah dibangunkan saat tidur.
Mendengar hal itu,Safira pun langsung membuka matanya,ia bangun dan berusaha duduk dengan tegak,walau sebenarnya ia masih sangat mengantuk karena habis begadang,karena ia harus menyelesaikan tugas kantornya.
“Kata siapa?,mamah sudah bangun dari tadi kok ina,kan mamah tadi hanya pura-pura masih tidur,karena ingin lihat respon Ina”ucap Safira terdengar mengelak.
Tentu Safira tidak mau jadi contoh buruk untuk anaknya,walau ia bukan ibu yang baik,tapi ia berusaha terlihat baik dan berusaha agar mencontoh anaknya dengan hal-hal baik.
Mendengar itu,Sabrina hanya menggembungkan pipinya dan menatap ke arah Ibunya dengan sedikit malas.
“Lalu kenapa mamah belum mandi?”tanya Sabrina seolah sebuah skatmat untuk Safira.
Dengan sedikit cengengesan Safira langsung menjawab.“Ini mau mandi kok Ina sayang”.Setelah mengatakan itu,Safira langsung berjalan ke arah kamar mandi dengan sedikit terburu-buru.
Safira yang berjalan cepat menuju kamar mandi,
ia sedikit menatap ke arah anaknya sambil tersenyum dengan sedikit cengengesan.Sedangkan Ina hanya diam sambil melihat ke arah ibunya itu yang terlihat sedikit konyol.
__ADS_1
*****
Maaf nggak author lanjutin di sini,tapi author bakal lanjutin di apk lain