
Orang itu yang kini sedang di tanya dan di tatap dengan tajam oleh Arnam.Tubuhnya sedikit gemetar karena takut,tapi walau begitu ia masih bisa bertanya dengan lancar.
“Kesalahan saya apa tuan?”tanya orang itu yang bernama Dodo,ia merupakan orang suruhan Arnam.
Dodo adalah orang yang selama ini memperhatikan Safira dari jauh,ia di tugaskan oleh Arnam untuk mengawasi dan memastikan Safira agar tetap aman.
Arnam yang mendengar Dodo yang tidak mengerti akan pertanyaan nya itu,ia dengan dingin dan terdengar malas langsung mengatakan maksudnya.
“Kenapa selama ini kamu tidak mengabari saya tentang keadaan Safira,dan kenapa kamu tidak mencegah kejadian itu agar tidak terjadi?”tanya Arnam,ia berkata seperti itu karena setidaknya jika handphone miliknya mati,maka Dodo bisa meneleponnya langsung di telepon perusahaan.
“Maaf,maafkan saya tuan,nyonya Rima melarang saya”jawab Dodo cepat,ia tentu tak ingin di salahkan hingga langsung mengatakan dengan jujur.
Lagi-lagi Arnam di buat marah hingga merasa frustasi pada sikap ibunya itu.Walau Arnam hanya diam dengan wajah tenangnya,tapi justru di balik wajah tenang itu,tersimpan amarah yang sedang ia tahan mati-matian.
“Lalu kenapa kamu tidak berusaha agar Rena tidak mempermalukan istri saya?!!”tanya Arnam dengan menatap Dodo tajam.
“Nona Rena juga istri anda tuan,ia bahkan istri pertama anda,apa anda lupa?”ucap Dodo polos,ia berkata sesuai apa yang di pikirkan nya tanpa melihat raut wajah Arnam yang telah berubah.
‘Sialan’rutuk Arnam entah di tunjukkan untuk siapa.
Arnam benar-benar seperti sudah lupa jika Rena adalah istrinya,tapi sebenarnya ia hanya tidak ingin membahas jika Rena itu adalah istrinya,meski begitu Arnam tetap menahan emosinya itu.
“Setidaknya kamu berusaha mencegah hal itu terjadi”ucap Arnam datar dengan tatapan rumit yang di layangkan pada Dodo.
“Kalau saya mencegah itu,lalu saya harus membela siapa?,bukankah mereka adalah istri-istri anda?”ucap Dodo dengan nada memelas,ia terlihat gugup saat mendapatkan tatapan rumit dari Arnam.
Tolonglah,Dodo itu hanya manusia biasa,ia tidak tahu harus berbuat apa karena Dodo tahu jika mereka sama-sama istri Arnam.Jadi ia merasa bingung harus membela siapa,Dodo juga tidak tahu jika Arnam menikah dengan Rena secara terpaksa,
dan hanya beberapa orang yang tahu hal itu,
__ADS_1
Rima,Toni,dan kedua orang tua Rena yang tahu akan hal itu.
Dodo kini sedikit merasa ketakutan saat melihat Arnam yang menatapnya dengan tatapan yang lebih tajam.Dodo akui jika ia penakut,maksudnya mudah takut kalau ia akan membuat tuannya marah hingga menghukumnya.
“Keluar!,jalanan kan hukuman kamu seperti biasa”ucap Arnam datar dan dingin,ia berkata seolah mengatakan jika tanpa ia beritahu,Dodo sudah tahu hukuman apa yang harus diterimanya.
“Tuan,apa salah saya?,kenapa saya bisa di hukum?”tanya Dodo terlihat polos dan tidak mengerti.
Diantara para bawahan dan anak buah Arnam yang lain,maka Dodo lah yang paling polos,atau lebih tepatnya tidak mudah peka.Entah kenapa Arnam bisa memerintahkan Dodo untuk menjaga Safira,mungkin karena Dodo adalah salah satu orang yang ia percayai,dan alasan utama Arnam memilihnya karena kemampuan Dodo yang cukup baik di antara para bawahan lain.
Arnam ingin memerintah bawahan-bawahannya yang lain yang masih banyak dan jauh lebih unggul di bandingkan Dodo,tapi tentu pekerjaan yang harus di jalani bawahannya itu sangat sulit,sedangkan untuk menjaga Safira itu bukan pekerjaan sulit,jadi Arnam memilih Dodo yang cocok untuk menjaga Safira.
“Kamu jalani hukuman kamu dua kali lipat mulai sekarang!”perintah Arnam mutlak,nada suaranya terdengar seolah mengatakan jika Dodo berkata kembali,mungkin ia akan menambah hukuman itu.
“Baik tuan”jawab Dodo pasrah.
Setelah kepergian Dodo,Arnam hanya diam dengan tatapan menerawang.Untuk masalah Dodo ia sudah secara langsung menghukumnya,dan untuk Rena ia punya cara sendiri untuk membalas orang licik itu.
...*****...
Sementara itu.
Kini Safira yang sedang berada di sebuah restoran yang sering ia kunjungi,ia langsung memesan menu makanan yang akan ia makan,dan menu makan itu adalah menu yang sudah lama tidak pernah ia cicipi lagi.
Safira yang saat itu terlihat sangat menikmati makanannya itu,ia terlihat puas saat merasa perutnya telah kenyang.
“Huh,bagaiman kabar Salma dan yang lainnya ya?,kenapa mereka belum juga memberi kabar?”ucap Safira sedikit mengeluh,ia ingin menghubungi sahabatnya itu,tapi ia takut jika sahabatnya kini sedang sibuk,apalagi ini waktunya bekerja.
Safira pun memilih bangkit dari duduknya dan langsung membayar makanannya itu.
__ADS_1
Saat Safira berjalan keluar,ia melihat ada orang yang menatapnya tajam.Ia yang merasa di tatap langsung menatap balik.Meski begitu,sepertinya orang itu tidak berani menatapnya sinis atau menghina.
Saat beberapa menit mereka saling bertatapan,Safira pun memilih memalingkan wajah ke arah lain.Jika orang berfikir ia tak tahu malu,maka biarkan saja,karena apa yang mereka pikirkan tidak sepenuhnya benar.
...*****...
Di luar restoran.
“Sial,kenapa jalanan sepi sih,nggak ada angkot atau kendaraan lain kah?!”ucap Safira sedikit menggerutu.Rasanya Safira kini mudah marah,kesal,
nangis dan tidak menentu dalam suasana hatinya itu.
Sepanjang perjalanan,ia terus melihat ke kanan dan ke kiri.Hingga di perempatan jalan,Safira tidak sadar jika ada mobil dari arah depan yang melaju dengan kecepatan di atas rata-rata sedang menuju kearahnya,
itu karena ia kini hanya fokus ke arah lain.
Husss...
Bagai suara angin,beberapa detik saat Safira hampir tertabrak,untung ada tangan seseorang yang langsung menariknya ke arah samping dengan sedikit kasar hingga membuat Safira kaget.
Mereka berdua terjatuh secara bersamaan.
“Kamu ingin mati ya?!!,dasar bodoh!”maki orang itu yang marah akan keteledoran Safira.
Safira yang saat ini masih syok karena kaget sekaligus merasa sedikit ketakutan dan ngeri saat membayangkan jika ia hampir saja tertabrak.Ia pun dengan gugup menjawab“Ma..maaf”ucap Safira dengan sedikit bergetar.
“Kenapa harus meminta maaf padaku?,harusnya kamu minta maaf pada diri kamu sendiri!,karena kamu hampir saja menyakiti diri kamu sendiri!!”ucap orang itu dengan nada marahnya.
Safira yang kini sudah mulai tenang,ia pun langsung menatap ke arah orang yang menolongnya,dan apa yang Safira lihat di depannya itu,ia terlihat terkejut hingga hanya diam dan mematung.
__ADS_1