
Safira yang kini telah selesai bekerja,ia sengaja mampir ke sebuah minimarket untuk berbelanja kebutuhan rumah.
Seperti biasa,Safira akan membeli kebutuhan sehari-hari,karena ia memang sering berbelanja sendiri,anggap saja sebuah refreshing.
“Ini udah,ini udah,ini belum,di mana ya?”ucap Safira yang kala itu sedang mencetang barang-barang yang sudah ia beli.
Safira terus saja berjalan menyusuri rak-rak berisi barang-barang keperluan dirinya itu,ia berjalan sambil melihat apa saja yang perlu ia beli.
“Oh ya,bulan kemarin aku baru selesai datang bulan,dan kebetulan stok pembalut sudah habis,apa aku beli langsung aja ya buat bulan depan?”gumam Safira yang seolah sedang berfikir,ia ingat jika beberapa hari sebelum kejadian ia dan Arnam tidur bersama,ia baru saja menyelesaikan masa haidnya.
Tanpa bicara lagi Safira pun mengambil beberapa merek pembalut untuk bulan depan,meski itu masih lama tapi Safira memang tipe orang yang menyiapkan kebutuhan sesegera mungkin.
Sementara di tempat yang sama..
Di depan mini market,Salma yang kebetulan memiliki keperluan barang yang ingin ia beli,Salma pun turun dari mobil yang telah
ia parkiran.Saat ia hendak melangkah maju,tiba-tiba ponselnya berdering.
“Rey?”Salma yang langsung menerima sambungan telepon tersebut.
“Iya kenapa Rey?”tanya Salma langsung.
“...”
“Iya sebentar aku masih ada keperluan yang ingin di beli,kamu tunggu sebentar ya,ini juga aku mau beli persediaan buat nanti kita liburan”ucap Salma menjelaskan,saat Salma mendongkak kan wajahnya ke depan,tanpa sadar ia melihat orang yang mirip dengan sahabat yang selama ini ia rindukan.
__ADS_1
“Safira?”gumam Salma tak percaya.
“Hallo sal?,kamu dengar aku kan?”tanya Rey yang merasa terabaikan.Sedangkan Salma yang memang tidak mendengar suara Rey karena ia hanya terpaku dengan sosok,yang kini sedang pergi menjauh darinya.
“Iya iya aku tutup dulu teleponnya ya,dahhh”putus Salma yang langsung mematikan sambungan teleponnya itu.
Dengan segera Salma langsung memasukan ponselnya itu,ia berlari dengan terburu-buru pada orang yang menurutnya adalah orang yang ia kenal.
“Safira!”tepuk Salma pada seorang wanita bergaun biru.Tapi pada saat menoleh ia adalah wanita yang berbeda.
“Iya anda siapa?”tanya wanita itu yang jelas-jelas tidak mengenali Salma sama sekali.
“Maaf sepertinya saya salah orang”jawab Salma dengan senyum canggungnya.
Wanita yang mendengar itu langsung berbalik dan berjalan menjauh.
Sementara Safira yang kini sedang berada di balik tembok seolah bersembunyi dari Salma,ia hanya diam saat seseorang memeluk tubuhnya dari belakang dengan erat,seolah sedang melindungi dirinya.
Melihat Salma telah pergi menjauh,orang yang memeluk Safira itu,ia langsung melonggarkan pelukannya itu.
“Kamu baik-baik saja?”tanya orang tersebut yang tidak lain adalah Arnam.
Safira yang mendengar itu hanya diam dan menatap ke arah Arnam dengan tatapan tajam seolah merasa kesal sekaligus benci.
“Kamu apa-apa sih!,kenapa tiba-tiba tarik aku dan ajak bersembunyi?!!”tanya Safira dengan nada sedikit tinggi karena marah.
__ADS_1
Arnam yang mendengar itu hanya diam, sebenernya Arnam sengaja menyembunyikan Safira dari Salma karena ia tahu jika saja mereka bertemu,mungkin Safira akan merasa tertekan.Sama seperti halnya Roni yang tanpa sebab menyalahkan Safira tanpa tahu apa sebabnya,mungkin Salma akan lebih dari hal itu,Arnam hanya mencoba melindungi Safira sesuai instingnya saja.
Meski Sebenarnya Arnam juga tidak tahu alasan Safira pergi,tapi ia sadar karena pertemuan nya dengan Safira waktu itu,tidak memungkinkan dirinya untuk bertanya alasan Safira pergi,karena yang harus ia lakukan adalah agar emosi dan rasa marah Safira karena kejadian itu reda.
Bisa saja Arnam mengatakan kejadian sebenarnya pada Safira saat itu,tapi Safira pasti tidak akan percaya,karena ia belum memiliki bukti yang cukup,ditambah lagi setelah kejadian di mana Safira tahu tentang status Arnam,hal itu menambah ketidakpercayaan Safira pada Arnam.
Dan mungkin jika Arnam mengatakan alasannya sekarang,maka Safira akan menganggap Arnam hanya mengada-ngada.
“Apakah anda tuli?”ucap Safira dengan nada yang sedikit lebih tinggi lagi,tapi Arnam tetap hanya diam dengan wajah yang sedikit datar dengan raut wajah yang sedikit mengeras.
Arnam jelas sedang menahan rasa kesalnya karena ucapan Safira itu,jelas sekali ia merasa tersinggung akan hal itu,karena selama ini belum ada orang yang memperlakukan Arnam layaknya Safira memperlakukan dirinya saat ini.
“Atau memang anda bisu hingga tidak bisa bicara?”lanjut Safira dengan nada yang terdengar sinis,merasa tak terima dengan ucapan Safira yang menurutnya sudah sangat keterlaluan,Arnam pun hendak buka suara,tapi tiba-tiba telepon nya berbunyi.
Arnam akhirnya memilih mengangkat telepon nya di bandingkan meladeni rasa kesal Safira padanya.
“Aku ada urusan”pamit Arnam pada Safira setelah mematikan ponselnya.
Melihat kepergian Arnam yang seperti itu, Safira tiba-tiba merasa perasaannya campur aduk,antara rasa marah yang belum tuntas, atau rasa sedih akan sikap Arnam itu.
Safira sadar jika ucapannya keterlaluan,ia bahkan tidak percaya bisa bicara sekasar ini,padahal pada orang lain Safira tidak pernah berbicara kasar sama sekali,kecuali orang itu benar-benar menyebalkan baginya.
Tapi yang membedakannya saat ini adalah,ia kini sedang berbicara kasar pada Arnam.
Padahal,Safira tahu jika Arnam memiliki harga diri yang tinggi,meski pernah Safira tolak cinta nya,tapi ia tidak pernah berbicara buruk saat menolak Arnam.
__ADS_1
Dan salah satu alasan yang membuat Arnam semakin yakin mengejar cinta Safira dulu,ya karena memang harga diri Arnam tinggi, hingga ia tidak bisa gampang menyerah, apalagi menerima kenyataan bahwa cintanya di tolak begitu saja.