
Beberapa menit kemudian.
Safira keluar dari ruangan Bram,dan di saat ia telah berbelok melewati lorong perusahaan,ia melihat Farrel sedang berada di depan ruangan kerjanya.
“Kamu tidak kerja?”ucap Safira terdengar sedikit acuh dan datar.Tapi detik berikutnya,ia pun kembali berkata“Maaf atas ucapan saya barusan tuan”lanjut Safira dengan nada sopan.Ia sadar jika kini mereka berada di kantor,dan lagi saat ini Farrel adalah bos nya.Meski kadang Safira berbicara tidak formal dengan Farrel,tapi bukan di sini tempatnya.
Mendengar hal itu,Farrel sedikit tak suka.Tapi ia sadar jika ia tidak bisa melarang hal itu.
“Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengan kamu”ungkap Farrel yang berbicara dengan nada santai.Ia berusaha menenangkan degup jantungnya yang seakan berpacu hebat.Entah apa yang akan ia bicarakan.
“Maaf tuan,saya sibuk.Banyak pekerjaan yang harus saya kerjakan”alasan Safira dengan sopan,matanya tak henti-hentinya menatap pintu yang terhalang oleh tubuh Farrel.
“Saya bos-nya,jadi saya berhak untuk ajak karyawan saya saat saya ingin berbicara hal penting dengannya.Dan sesibuk apapun kamu,itu bisa nanti di kerjakan”tegas Farrel yang langsung mendapatkan helaan nafas panjang dari Safira.
“Baiklah”jawab Safira sedikit menahan kekesalannya karena sifat keras kepala Farrel.
...*****...
Sementara itu di tempat lain.
Kini Arnam sedang berada di sebuah restoran kelas atas.Restoran yang berada di pusat kota,dan terkenal akan makanan khasnya yang lezat dan nikmat,hingga restoran itu banyak di kunjungi dari berbagai negara
“Selamat datang tuan”ucap seorang manajer di restoran itu yang bernama Frans.Ia sengaja menyambut Arnam secara langsung saat mendengar jika orang yang akan datang ke restoran nya itu adalah Arnam,lebih tepatnya restoran orang lain karena saat ini ia bukan pemilik dari restoran tersebut.
Darren yang merupakan rekan bisnis Arnam,ia pun ikut menyambut kedatangannya.
“Selamat datang tuan Arnam”ucap Darren yang langsung mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Arnam.Melihat itu Arnam langsung menjabat uluran tangan itu sebagai bentuk keakraban dan kesopanan, Walau hanya sebentar.
“Terima kasih”balas Arnam dengan nada seperti biasa,yaitu datar dan sedikit acuh.
Meskipun begitu,Darren yang memang sudah tahu jika hal itu memang sifat Arnam,ia hanya membalas dengan senyuman khasnya yang ramah.
“Silahkan tuan,kebetulan saya sudah membooking satu lantai untuk kita”ucap Darren yang merupakan orang yang memang sangat royal jika hal itu berhubungan dengan kepentingan bisnis.
Restoran mewah yang hanya bisa di booking oleh orang-orang kaya,pejabat,ataupun orang yang memiliki kekuasaan tinggi,bahkan orang yang mengunjungi nya itu,bukan sembarangan orang.
Restoran itu memiliki 7 lantai,setiap lantai harga sewanya berbeda-beda karena semakin tinggi lantai nya,maka semakin tinggi pula harganya.Dan kebetulan lantai 7 yang di sewa oleh Darren,dan harganya tentu bukan harga yang murah.Jika harga sewa lantai pertama saja harganya bisa di katakan mahal bagi orang menengah ke atas,apalagi jika lantai yang paling tinggi yang di sewa.Belum lagi Darren menyewa satu lantai,walau hanya satu malam,bisa dibayangkan berapa banyak uang yang harus Darren keluarkan demi menyambut kedatangan Arnam??.
__ADS_1
Tapi hal itu sepadan dengan kerja sama mereka yang bagi Darren sangat penting.
Mendengar itu,Arnam pun langsung mengikuti langkah sang manajer yaitu Frans,dengan di ikuti oleh Darren yang berada di sampingnya.
...*****...
Sesampainya di ruangan yang di sediakan.
Arnam terlihat memperhatikan ruangan itu, yang di kelilingi oleh tembok kaca.Dari dalam Arnam bisa melihat ke arah luar,karena itu terlihat transparan dan tebus pandang,tapi dari luar mereka tidak bisa melihat ke arah dalam,karena itu memang diperuntukkan untuk menjaga privasi.Seberapa rahasia kah pembicaraan mereka??,tentu hanya Arnam dan Darren yang tahu.
Mereka berdua pun duduk,dengan Frans yang masih berdiri.
Arnam pun hanya diam dengan pandangan yang tak lepas dari Frans.
Mengerti dengan tatapan Arnam,Darren pun menjelaskan.
“Oh ya perkenalkan tuan,dia teman saya Frans,yang merupakan manajer di restoran ini”ucap Darren memperkenalkan.
Mendengar itu,Arnam hanya mengangguk.Ia melihat sekeliling ruangan yang bertema terbuka,dengan dinding yang didominasi kaca tembus pandang.Hal itu bisa membuat orang yang menyewanya bisa melihat betapa indahnya pemandangan di atas langit maupun di bawah sana.
“Ini restoran anda?”tanya Arnam langsung pada Frans.
Mendengar jawaban seperti itu,alis Arnam mulai bertaut dan hampir menyatu,seakan ia mengatakan lewat tatapan matanya jika ia bingung dengan jawaban yang Frans berikan.
“Maksud saya,dulu restoran ini memang milik saya,tapi sekarang bukan tuan”jelas Frans yang berbicara lirih di akhir kata.Seakan ia sedih dan tak ingin berbicara lebih lanjut lagi.
Mengerti dengan tatapan temannya,Darren pun berniat membantu.
“Itu karena suatu alasan tuan,mungkin karena sebuah persaingan.Ha..ha..,bukankah hal itu sudah biasa dalam bisnis”ucap Darren sambil menepuk pundak Frans seolah sedang menenangkan.
Frans yang mengerti itu hanya mengangguk.
Itu memang benar,karena sebuah alasan ia harus merelakan restoran miliknya menjadi milik orang lain.Tapi ia hanya bisa berharap agar restoran itu menjadi miliknya lagi.Dan bersyukurnya ia masih bisa bekerja di restoran kebanggaannya itu.Walau ia harus menurunkan harga dirinya,demi memohon pada musuh nya yang kini merupakan pemilik restoran ini.
“Saya akan membantu anda”ucap Arnam tiba-tiba,sontak hal itu membuat Darren dan Frans saling menatap satu sama lain.
Darren yang sudah menduga itu hanya bisa menepuk pundak sahabatnya.Ia sengaja meminta agar sahabatnya menyambut Arnam secara langsung,karena ingin agar Arnam membantu teman sekaligus sahabatnya itu.Meski musuh yang di hadapi sahabatnya sangat berkuasa,setidaknya mungkin Arnam bisa membantu Sahabatnya untuk mendapatkan restoran miliknya
__ADS_1
Mendengar hal itu,Frans merasa terkejut dan sedikit senang.
“Tentu ada sesuatu hal yang harus kamu lakukan”lanjut Arnam seakan mengatakan jika ia tidak akan memberikan bantuan secara percuma kepada Frans,karena Arnam tidak pernah menganggap dirinya baik,dan ia tidak pernah melakukan sesuatu hal tanpa ada tujuan.
“Saya akan mendapatkan restoran ini,dan menggantikannya dengan nama istri saya.Kamu juga akan tetap bekerja di sini,hanya saja orang-orang akan berfikir jika restoran ini adalah milik kamu lagi,dengan hal itu musuh kamu tidak berani meremehkan kamu lagi”ucap Arnam menjelaskan.
Mendengar itu,Frans hanya diam sejenak.Meski terdengar tidak ada bedanya,jelas bantuan Arnam benar-benar sangat berarti,karena ini tentang harga diri.Musuhnya hanya ingin agar ia bisa melihat kehancuran restoran kebanggaan nya.
Tentu Frans tidak bisa merelakan restoran yang ia bangun dari nol harus hancur di tangan musuhnya yang sombong,ia bisa ingat dengan jelas betapa sulitnya ia agar restoran miliknya menjadi sebesar ini,maka dengan itu ia rela memohon,sekalipun hal itu menurunkan harga dirinya,karena restoran ini benar-benar sangat penting untuknya.
Bagi orang lain mungkin itu hanya restoran,tapi bagi Frans ini adalah kerja kerasnya!!
“Terima kasih tuan”ucap Frans sopan dan tulus,ia senang karena setidaknya usaha dan kerja kerasnya tidak akan hancur sia-sia karena sikap iri dari orang yang membencinya,
yang merupakan musuhnya sekaligus mantan teman dekatnya.
“Dan saya akan memberikan 40% dari keuntungan restoran ini untuk kamu”ucap Arnam lagi.Meski nadanya terdengar acuh dan dingin,entah kenapa Frans tetap merasa terharu akan hal ini.
“Itu terlalu besar tuan”ucap Frans sungkan,biasanya ia tidak mendapatkan gaji sebesar ini,ini terlalu besar untuk nya.
“Uang bukan masalah bagi saya”jawab Arnam seakan tidak menerima penolakan.
“Terima kasih tuan,terima kasih”Frana tak tahu harus berkata apalagi.
Walau sedikit sungkan akhirnya ia menerima itu,setidaknya gajinya akan bisa untuk memenuhi kebutuhan anak dan istrinya,karena selama ini gajinya tidak ada bedanya dengan pelayan restoran.Walau bagi orang biasa itu adalah gaji yang besar,tapi tentu sulit bagi keluarganya untuk membiasakan hidup dengan uang segitu, apalagi mereka sudah terbiasa hidup dengan bergelimang harta.
Darren yang ada di sana tentu senang dengan hal itu,ia memang ingin sekali membantu sahabatnya itu.Meski ia sangat kaya,tapi ia tidak mempunyai kekuasaan sebesar itu.
Bukankah di atas langit masih ada langit??.
“Saya senang anda membantu teman saya”ucap Darren yang langsung membuat Arnam menatapnya dengan pandangan datar.
“Kalau begitu mari kita mulai membahas tentang kerjasama kita”lanjut Darren yang bisa menebak jika Arnam tidak ingin berlama-lama.
Tanpa berkata,Toni yang selalu siap di samping Arnam.Ia pun langsung menyerahkan dokumen yang di perlukan pada Arnam.
Setelahnya,mereka membahas tentang kerjasama.
__ADS_1
*****
Jangan lupa like dan vote nya