
Saat ini Sabrina yang telah rapi dengan pakaiannya sekolahnya.
Ia kini telah memasuki Taman kanak-
kanak,sudah dua Minggu yang lalu Safira mendaptarkan anaknya di TK Nusa indah.
Awalnya Safira ragu,karena meski seusia anak TK,tapi kepintaran Sabrina layaknya anak SD.Tapi Safira juga tidak ingin anaknya kehilangan moment kanak-kanak.
“Mah,gimana?,Ina cantik kan?”tanya Sabrina memutar badannya seolah meminta pujian ibunya.
“Ya!,seperti biasa anak mamah selalu cantik”puji Safira mengelus poni anaknya.
“Ina tahu kok mah”Nah kan mulai sikap songong nya, sebenarnya selain sifat pintar,dewasa dan sedikit licik,Sabrina juga memiliki sifat sedikit songong dengan tingkat kepercayaan diri yang cukup tinggi.
“Ini pasti kamu nurun sifat songong dari Tante kamu itu”ucap Safira yang langsung membuat pipi Sabrina dikembung kan karena kesal dengan ucapan ibunya itu.
“Apa-apa Tante Lala(Rara),Ina nggak pelcaya kalau sifat Ina itu nulun dali Tante Lala(Rara),ini pasti kalena Ina nulun sifat dali mamah”ucap Sabrina seakan menohok Safira.
“Ya karena mamah suka kesal sama Tante Rara,jadi mungkin Ina mirip Tante Rara karena mamah terlalu kesal dengan Tante Rara”balas Safira sedikit tak terima,walau ada benarnya juga ucapan Sabrina,ya karena Safira memang sedikit songong pada sahabat-sahabat nya,terutama Roni dan Rey.
“Telselah mamah”Nah,kini Sabrina mulai bersikap dewasa,karena ia tahu jika ibunya sekali berdebat nggak mau kalah.
Sabrina pun hanya diam saat ibunya sedang menata rambutnya.Rambut panjang dan lebat miliknya di kuncir dua dengan poni di depan,semakin menambah kesan imut dan menggemaskan di wajah sabrina.
“Mah”panggil Sabrina yang hanya di balas deheman.
__ADS_1
“Ina tadi telpon papah loh,dia mau antal jemput Ina ke sekolah”ucap Sabrina sambil tersenyum senang.
“Papah yang mana?”tanya Safira yang memang sedikit pelupa.
“Papah glatis Ina,yang ketemu di pasal malam”ucap Sabrina menjelaskan,dan Safira yang mendengar itu hanya diam seolah tidak tahu harus merespon apa.
“Kapan Ina dapat nomor teleponnya?”tanya Safira tak tahu.
“Papah kasih Ina handphone balu,katanya di sana udh ada nomol papah”jelas Sabrina senang bukan main.
“Tapi mamah tenang aja,Ina nggak bakal seling(sering) main handphone kok”ucap Sabrina terdengar sungguh-sungguh.
Lagipula Arnam juga telah memasang alat canggih yang akan memantau anaknya hingga Arnam tahu interaksi anaknya walau handphone itu tidak sedang di mainkan,anggap saja itu seperti cctv.Selain itu,Sabrina hanya bisa memainkan ponsel itu sebentar,karena ponsel itu akan mati dengan sendirinya sesuai jatah Sabrina main dalam sehari,tidak lebih dari 3 jam.Arnam tahu jika tidak baik terlalu sering bermain handphone,jadi ia sengaja memberikan ponsel yang merupakan produk terbaru perusahaannya.Hanya ada 3 yang baru di produksi,awalnya itu hanya sebuah uji coba,tapi karena memang layak jadi Arnam berikan untuk anaknya satu.
Tin... tin... tin...
“Ayo mah,itu pasti papah”ucap Sabrina yang langsung berlari keluar,sedangkan Safira hanya diam.Ia teringat obrolan nya dengan Arnam kemarin
Flas back On.
Sesampainya mobil Arnam di rumah Safira,Safira dan Sabrina pun turun dari dalam mobil milik Arnam,dan Arnam pun ikut turun meninggalkan sang sopir pribadi yang hanya bisa menunggu di dalam mobil sesuai perintah Arnam.
“Kenapa ikut turun?”tanya Safira heran,ia memang di antar oleh Arnam karena desakan anaknya.
Tanpa berkata Arnam pun hanya diam sambil melirik ke arah anaknya dengan sedikit tersenyum lembut.
__ADS_1
“Papah ingin mengobrol dengan mamah kamu,anggap saja saja sebagai bentuk jika papah telah menyerah untuk mengejar mamah kamu”ucap Arnam terdengar lembut walau berbicara sedikit datar.
Sabrina pun mengangguk paham dan langsung masuk lebih dulu meninggalkan ibunya berbicara dengan papah gratis' nya.
Sementara Safira entah kenapa merasa sedikit terusik dengan ucapan Arnam yang seolah tidak ingin memperjuangkan nya lagi,padahal dia sendiri lah yang seakan menjaga jarak dengan Arnam.
Beda halnya dengan Arnam yang memang berkata seperti itu karena masih memainkan drama sebagai papah gratis',yang seolah menyerah mengejar cintanya.
“Jika kamu tidak ingin anak kita tahu kebenarannya,aku tidak masalah.Tapi jangan mencegah kedekatan kami walau mungkin aku hanya dianggap ayah palsu olehnya”ucap Arnam terlihat serius dan bersungguh-sungguh.Lagi-lagi ia harus bekerja lebih keras untuk lebih dekat dengan anak dan istrinya,walau ia sedikit tersinggung tapi Arnam tahu apa yang ditakutkan Safira,jadi ia memahami itu.Tapi Arnam tidak akan tinggal diam jika sampai Safira menjauhkan dirinya dengan anaknya,walau bagaimanapun Sabrina adalah darah dagingnya,tentu Arnam ingin dekat dengannya,entah apa ia akan dianggap Sabrina nanti,yang terpenting adalah ia bisa dekat dengan anaknya.
Flashback end.
Dan alasan itulah yang membuat Safira hanya bisa pasrah,yang terpenting Arnam tidak mengambil Sabrina darinya.
“Mah Ina berangkat ya,dahhh,love You muachh”ucap Sabrina yang terlihat sudah berada di dalam mobil tepat di samping Arnam.
Safira yang melihat itu hanya tersenyum dan membalas ucapan Sabrina.
“Love you too”balas Safira yang masih bisa di dengar.
“Love you to more”ucap Arnam pelan seolah ikut nimbrung di antar percakapan mereka bertiga.
Sopir yang memang mendengar itu hanya diam dan berusaha fokus ke depan,jangan sampai melihat ke arah Arnam meski penasaran.
“Loh pah,kan papah udah bilang nggak bakal kejal mamah lagi”ucap Sabrina yang mendengar ucapan Arnam.
__ADS_1
“Papah berkata seperti itu untuk kamu”balas Arnam yang langsung di jawab anggukan tanda mengerti dari Sabrina