
“Bisakah kalian saling berhadapan satu sama lain?”aba-aba dari seorang laki-laki yang merupakan seorang fotografer.Itu terdengar seperti sebuah permintaan juga perintah.
Arnam yang melihat Safira terlihat enggan untuk berinisiatif mengikuti instruksi sang fotografer,ia tahu jika Safira merasa malu untuk melakukan itu.Maka itu,tanpa menunggu lama,Arnam pun langsung berjalan lebih dekat ke arah Safira,ia berinisiatif lebih dulu untuk mengikuti permintaan sang fotografer.
Arnam langsung melingkarkan salah satu lengannya yang kokoh di pinggang ramping Safira,sedangkan tangan satunya lagi ia gunakan untuk menggenggam salah satu tangan Safira dengan sedikit posesif,lalu tangan Safira ia arahkan ke pundaknya.
Safira yang di perlakuan seperti itu,ia sempat menjerit kecil karena kaget,tapi ia pun langsung diam dan bungkam saat tatapan mereka bertemu.
“Pegang pundak aku dengan erat”ucap Arnam saat menyadari jika Safira hendak menarik tangannya dari pundak Arnam.
“I..iya”jawab Safira gugup saat merasakan nafas Arnam menerpa kulitnya.Harum mulut beraroma mint dapat Safira rasakan saat Arnam membuka suaranya.
Safira pun meletakkan salah satu tangannya di pundak Arnam dengan erat.Sementara tangan satunya lagi kini sudah berada di Cengkraman Arnam,lalu pegangan itu di arahkan ke wajah Arnam.Sang fotografer awalnya tidak berfikir tentang pose itu,tapi karena itu sangat bagus ia pun mengambil gambar di pose itu beberapa kali.
‘Luar biasa’pikir si fotografer.
“Bagus,sangat bagus.Posisi ini lebih bagus dari apa yang saya harapkan”ucap fotografer itu dengan nada kagumnya begitu melihat hasil jepretannya.
Dengan gugup Safira pun berusaha untuk tetap tersenyum dan mendongakkan kepalanya menatap ke arah Arnam.
“Rilexs,kamu nggak usah gugup atau tegang,ada aku di sini”ucap Arnam lembut dengan nada menenangkan nya.Ia kini tengah menundukkan kepalanya dan menatap ke arah Safira.
Arnam tahu jika Safira tidak terbiasa dengan itu semua,apalagi saat ini ada banyak tamu laki-laki dan perempuan yang belum pulang dari pesta pernikahan.Mereka yang hadir terlihat sedang memperhatikan sang tokoh utama malam ini.
Dan tanpa sepengetahuan Safira,sebenarnya para tamu yang masih ada di sana itu merupakan bawahan milik Arnam.
Arnam sengaja mengirim bawahan miliknya untuk menyamar menjadi tamu,dan mereka bertugas untuk mencegah agar tidak terjadi keributan,dan dalam satu tatapan tajam dari Arnam,para bawahan yang menatap ke arah nya juga Safira langsung menunduk dan menatap ke arah lain.
__ADS_1
...****...
Rena yang telah keluar dari dalam mobil hitam mewah miliknya itu.Ia pun langsung berjalan dengan langkah cepat menuju pesta pernikahan Arnam dan Safira diadakan.
“Aku nggak akan biarkan pernikahan mereka berjalan dengan lancar,karena aku nggak terima itu”ucap Rena dengan langkah cepat.Ia menjadi tak tahu diri,dan seolah terobsesi dengan Arnam karena penolakan Arnam yang terus menerus Rena pun menjadi nekat.
Di saat Rena telah berada di jarak yang lumayan dekat dari pesta pernikahan Safira berada.Ia menghentikan langkahnya sejenak dan tersenyum sinis ke arah tempat pesta itu berada.
“Heh!,jangan mimpi untuk bisa bahagia,karena sampai kapanpun aku gak akan biarkan kalian bahagia.Apalagi wanita yang bernama Safira itu,aku akan membuat dia malu di acara pernikahannya sendiri!!”ucap Rena menatap ke tempat yang terlihat seperti hotel itu dengan tatapan permusuhannya.
Tapi di Rena hendak melangkah kan kembali kakinya,dari belakang ada orang yang membekap mulutnya.
“Hmmm”Rena mencoba berusaha untuk lepas dari bekapan itu.Ia meronta,memukul,dan menendang ke arah belakang,tapi tetap saja bekapan itu tak juga lepas.
Karena sapu tangan yang di gunakan untuk membekapnya tercium bau obat bius,Rena pun pingsan.
“Bawa dia ke tempat yang tuan perintahkan”ucap seorang laki-laki kepada anak buahnya yang kini sedang membekap Rena.
Tak terasa waktu berlalu begitu cepat hingga acara pernikahan pun berakhir.
Rima yang melihat acara telah selesai,ia langsung pulang ke mansion miliknya tanpa berniat menginap di hotel yang Arnam pesan.
*Di kamar hotel.
Safira dan Arnam,mereka berdua kini tengah duduk di kasur dengan keadaan sedikit canggung karena tidak ada yang memulai pembicaraan.
Sebenarnya Safira ingin bertanya dari mana Arnam memiliki uang untuk menyewa pernikahan di hotel,dan berapa biaya yang dikeluarkan Arnam untuk menyewa kamar hotel.
__ADS_1
Kebetulan keluarga nya telah kembali ke rumah,sedangkan ia kini sedang berada di hotel bersama Arnam.
Arnam sebenarnya ingin menyewa kan hotel untuk keluarga Safira,tapi lagi-lagi Arnam khawatir jika mereka akan curiga.
“A..aku ganti baju dulu ya”ucap Safira dengan sedikit terbata-bata.
“Iya silahkan”jawab Arnam langsung.
Tanpa menunggu waktu lama,Safira pun ke kamar mandi dengan membawa pakaian untuk salin.
Melihat Safira telah menutup pintu kamar mandi,ponsel milik Arnam tiba-tiba berbunyi.Ia pun langsung mengangkat sambungan telepon itu.
“Ya?”tanya Arnam langsung begitu tahu jika anak buah nya yang meneleponnya.
“Tuan,nyonya Rena hampir membuat kekacauan di tempat pernikahan anda.Tapi untunglah ada beberapa anak buah yang menyadari itu,dan sekarang nyonya Rena telah berada di tempat yang aman,karena kami telah membawa nyonya Rena kembali ke mansion”ucap Toni menjelaskan.
Arnam langsung marah begitu mendengar hal itu,padahal ia telah memenuhi semua kebutuhan materi Rena dengan sukarela.Ia tak peduli berapa banyak yang harus ia keluarkan,yang terpenting baginya Rena tidak mengusik orang yang ia sayang,dan itu Safira.
“Sepertinya kamu harus secepatnya mencari tahu apa motif sebenarnya keluarga Rena mendekati ibu saya.Dengan begitu saya bisa segera bebas dengan pernikahan ini”ucap Arnam dengan nada dinginnya.
“Informasi yang baru saya tahu saat ini adalah alasan nyonya Rima menikahkan anda dengan nyonya Rena,karena nyonya Rima pernah di selamatkan oleh ibu dari nyonya Rena.Dan mungkin itu awal pertemuan mereka,hingga mereka menjadi sahabat dan sepakat menikahkan anda dengan nyonya Rena”ucap Toni memberitahu informasi yang baru ia dapatkan.
“Ha..ha..,menyelamatkan?!,saya tidak yakin jika kejadian itu seperti yang terlihat,saya ingin agar kamu menyelidiki masalah ini lebih dalam lagi tanpa terlewatkan sedikit pun”ucap Arnam dengan nada mutlak.
Arnam langsung mematikan ponselnya secara sepihak saat melihat Safira keluar dari kamar mandi.
“Kenapa?”tanya Arnam heran saat ia melihat Safira masih mengenakan pakaian pengantin,dengan pakaian sedikit berantakan.
__ADS_1
*****
Note: jika kalian pembaca baru,author hanya ingin beri tahu jika ada sedikit beberapa perubahan.